//Adakah Dzikir Setelah Shalat Wajib Ketika Safar (Jamak Qashar)?

Adakah Dzikir Setelah Shalat Wajib Ketika Safar (Jamak Qashar)?

Lembang-hayaatunaa.com

Oleh: Muslim Nurdin, S.Pd.I

Pertanyaan jama’ah:

Ada salah seorang Ustadz menerangkan bahwa tidak ada wirid/dzikir ketika selesai shalat jamak qashar, dengan argumennya sebagai berikut;

“Tidak ada dalil yang menerangkan bahwa Rasulullah saw dzikir setelah shalat jama’ qoshor ketika safar. Sedangkan qaidah menyebutkan “menetapkan suatu hukum itu dituntut adanya dalil” dikarenakan tidak ada dalil yang menerangkan hal tersebut, maka dzikir setelah shalat jama’ qoshor ketika safar tidak ada.
Dalam praktek shalat yang dijamak-qoshor setelah shalat yang pertama tidak dilakukan dzikir, tetapi langsung dilanjutkan shalat yang kedua. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam shalat safar tidak ada dzikir setelahnya.
Ada beberapa hadits yang mengindikasikan tidak adanya dzikir setelah shalat fardu ketika safar, yaitu sebagai berikut

عبد الله بن عمر – رضي الله عنهما – :«أن رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- صلَّى المغربَ والعشاءَ بالمزدلفة جميع زاد البخاري في رواية «كلَّ واحدة منهما بإقامة ، ولم يُسبِّحْ بينهما ، ولا على إثر واحدة منهما». (رواه البخاري و مسلم و الدارقطنى و أبوداود و الترمذى والنسائى)

Dari Abdullah bin Umar ra. Sesungguhnya Rasulullah saw shalat maghrib dan ‘isya dijama’ di Muzdalifah. Ada tambahan pada riwayat Al-Bukhari, Masing-masing dari keduanya dengan satukali iqomah dan tidak bertasbih antara keduanya dan juga pada salah satu dari keduanya. (HR Al-Bukhari, Muslim, Ad-Daraquthni, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i)”

Apakah keterangan ini bisa dipakai? lantas bagaimana penjelasan lengkapnya? terima kasih..

Jawaban:

Islam adalah satu-satunya agama wahyu yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul yang kemudian disempurnakan setelah diutusnya Nabi Muhammad saw sebagai “khotamun-Nabiyyin” (penutup para nabi dan rasul). Sebagaimana tergambar dalam  ayat hukum terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, Allah swt berfirman:

”Pada Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan Aku cukupkan bagimu nikmat-Ku, dan Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS 5:3).

Nabi Muhammad saw selain diperintah untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada seluruh ummat manusia, juga berkewajiban untuk memelihara dan menjaganya agar tidak terjadi tahrif (perubahan-perubahan) sebagaimana yang telah terjadi pada ajaran nabi-nabi sebelumnya. Setelah beliau wafat, penjagaan terhadap agama wahyu ini kemudian dilanjutkan oleh para shahat dan para ulama setelahnya, baik salaf maupun khalaf. Sehingga dibukukanlah Al-Quran pada masa sahabat dan As-sunnah pada masa-masa setelahnya dan disusun berbagai fan ilmu yang berkaitan dengan Al-Quran dan As-Sunnah yang bertujuan agar orang-orang muslim tidak keliru dalam memahami ajaran-ajaran Islam.

Seorang sahabat yang bernama ‘Irbadh bin Saariyah menuturkan, Rasulullah saw pernah melaksanakan shalat shubuh mengimami kami (para sahabat) kemudian setelahnya menghadap kepada kami dan memberikan nasihat yang membuat hati-hati kami gemetar dan mata kami berlinang, Salah seorang sahabat berkata: “Ya Rasulullah!  Seolah-olah ini nasihat perpisahan, apa yang hendak engkau sampaikan kepada kami?” Maka Beliau bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ »

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk selalu bertakwa kepada Allah, serta memperhatikan dan ta’at kepada-Nya walaupun yang memimpin kalian seorang hamba sahaya, dan sesungguhnya barangsiapa yang hidup setelahku, maka dia akan melihat perbedaan yang banyak. Hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur-Rasyidun yang mendapatkan petunjuk dan peganglah dengan kuat-kuat. Hati-hatilah kalian terhadap hal-hal baru dalam urusan agama karena sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat”  (HR Abu Daud, Ibnu Majah dan Ad-Daraquthni dan hadits ini lapadz beliau).

Merupakan kewajiban setiap muslim memelihara dan menjaga ajaran-ajaran Islam agar tidak terjadi perubahan padanya baik dengan dikurangi ataupun ditambah. Dasar pemikiran inilah kiranya yang melatar belakangi pembahasan ADAKAH DZIKIR PADA SHALAT WAJIB KETIKA SAFAR?

Sebelum memaparkan beberapa pendapat tentang masalah ini terlebih dahulu kita perhatikan penjelasan qaidah-qaidah ushul yang berkaitan dengannya.

Menetapkan Suatu Hukum

Dalam syari’at Islam suatu hukum dapat diterima dan diberlakukan jika diketahui bersumber dari “Al-Haakim” yaitu Allah dan Rasul-Nya (yang hakikatnya dari Allah juga)  artinya ketika seseorang menetapkan suatu hukum dituntut adanya bukti (dalil) bahwa ketetapan hukum tersebut benar-benar ada. Dalam kitab Irsyadul Fuhul, Imam As-Syaukani menjelaskan

لا خلاف أن المثبت للحكم يحتاج إلى إقامة الدليل عليه

Tidak ada pebedaan pendapat (dikalangan ulama) bahwa menetapkan adanya suatu hukum itu membutuhkan kepada adanya dalil.

Ibnu Abi Mulaikah adalah seorang qhadi di Thaif, beliau mengirim surat kepada Ibnu Abbas dan menerangkan kisah dua orang wanita (yang satu menggugat yang lainnya), lalu Ibnu Abbas membalas suratnya dan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:

لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ لاَدَّعَى رِجَالٌ أَمْوَالَ قَوْمٍ وَدِمَاءَهُمْ وَلَكِنَّ الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِى وَالْيَمِينَ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ. رواه البيهقي

Kalaulah manusia diberi kebebasan untuk melakukan pengakuannya, maka dipastikan orang-orang akan mengakui harta dan darah suatu kaum akan tetapi (diwajibkan menghadirkan) bukti bagi yang mengakui  dan sumpah bagi yang mengingkari. HR Al-Baihaqiy

Hadits tersebut jelas menerangkan bahwa kewajiban menghadirkan bukti itu hanya bagi orang yang menggugat atau dengan kata lain mutsbit, sedangkan yang mengingkari atau manfi hanya diperintah untuk bersumpah.

Menafikan suatu hukum

Ketika dituntut adanya dalil untuk menentukan adanya suatu hukum, maka ketiadaan dalil menentukan tidak adanya hukum; artinya menafikan suatu hukum cukup dengan tidak ditemukannya suatu dalil karena berpegang kepada “Asal pada sesuatu itu nafi dan tidak ada”.

Akan tetapi sebagian Ulama berpendapat bahwa menafikan suatu hukum pun dituntut adanya dalil karena pengakuan itu tidak hanya itsbat tetapi juga nafi, dalam Al-Quran Allah berfirman:

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ } [البقرة: 111]

Dan mereka berkata: “Tidak akan masuk surga kecuali Yahudi atau Nashrani” Itulah angan-angan mereka. Katakanlah olehmu Muhammad “datangkanlah bukti-buktimu jika kalian termasuk orang-orang yang benar!” (QS Al-Baqarah: 111)

Dalam ayat diatas Allah menuntut burhan atau bukti kepada orang-orang yang mengakui bahwa selain Yahudi atau Nashrani tidak akan masuk surga, jika diperhatikan pengakuan tersebut berbentuk nafi, artinya menafikan sesuatu pun dituntut adanya dalil.

Dr. Ahmad Al-Busyikhi dalam kitabnya “Tarbiyah Malakatil-Ijtihad min khilali Bidayatil-Mujtahid libni Rusyd” mengkomparasikan kedua pendapat di atas dengan mempertimbangkan istishab (hukum yang telah ada/berlaku) ;

jika istishabnya ada, maka ketiadaan dalil yang menafikan menentukan mutsbit (adanya hukum)

dan jika istishabnya tidak ada, maka ketiadaan dalil mutsbit menentukan nafi (tidak adanya hukum)

Kesimpulan:

  1. Menafikan suatu hukum tidak dituntut adanya dalil jika istishabnya ‘adamul hukmi (tidak ada hukum).
  2. Menafikan suatu hukum dituntut adanya dalil jika istishabnya wujudul hukmi (ada hukum).

Pendapat Adanya Dzikir Setelah Shalat Shafar

Syari’at adanya Dzikir setelah shalat fardu berdasarkan hadits-hadits berikut;

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: جاء الفقراء إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقالوا: ذهب أهل الدثور من الأموال بالدرجارت العلا والنعيم المقيم: يصلون كما نصلي، ويصومون كما نصوم، ولهم فضل من أموال، يحجون بها ويعتمرون، ويجاهدون ويتصدقون قال: (ألا أحدثكم بأمر إن أخذتم به، أدركتم من سبقكم، ولم يدرككم أحد بعدكم، وكنتم خير من أنتم بين ظهرانيه، إلا من عمل مثله؟ تسبحون وتحمدون وتكبرون، خلف كل صلاة، ثلاثا وثلاثين) [رواه البخاري برقم 807 باب الذكر بعد الصلاة]

Dari Abu Hurairah “semoga Allah meridloinya” ia berkata: Orang-orang fakir datang kepada Nabi SAW, mereka berkata, “Orang-orang yang dikaruniai harta mendapatkan derajat yang tinggi dan kenikmatan yang … ; mereka melaksanakan shalat sama seperti kami, mereka melaksanakan shaum sama seperti kami, akan tetapi mereka memiliki kelebihan dari hartanya sehingga mereka melaksanakan haji, umrah, ikut berjihad dan mengeluarkan shadaqah. Rasulullah bersabda, “maukah aku terangkan kepada kalian dengan suatu perkara jika kalian melaksanakannya, kamu akan melampaui orang yang mendahului kamu, dan tidak akan ada seorang pun yang dapat mendhuluimu setelahnya, dan kamu lebih baik dari yang lainnya antara kedua tulan punggungnya, kecuali orang yang melakukan sepertinya; yaitu kalian bertasbih, bertahmid dan bertakbir setiap kali selesai shalat (wajib) 33 kali. (HR Al-Bukhari no. 807 Bab Dzikir setelah Shalat)

عن وراد، كاتب المغيرة بن شعبة، قال: أملى علي المغيرة بن شعبة، في كتاب إلى معاوية:
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول في دبر كل صلاة مكتوبة: (لا إله إلا الله وحده لا شرك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير اللهم لا مانع لما أعطيت، ولا معطي لما منعت، ولا ينفع ذا الجد منك الجد) [رواه البخاري برقم 808 باب الذكر بعد الصلاة]

Hadits diterima dari Warid juru tulisnya Al-Mughirah bin Syu’bah, ia berkata: Al-Mughirah bin syu’bah mendiktekan kepada saya pada suatu surat yang ia kirim untuk Mu’awiyah, sesungguhnya Nabi saw membaca pada setiap selesai shalat wajib : Lailaha illalahu …. (HR Al-Bukhari no. 808 Bab Ad-Dzikri ba’da as-Shalat)

Hadits-hadits di atas dan hadits-hadits lainnya yang menerangkan tentang dzikir setelah shalat fardu bersifat umum, artinya tidak diterangkan pelaksanaannya baik ketika muqim atau safar. Oleh karena itu berlaku qaidah bahwa dalil umum tetap berlaku menyeluruh sehingga ada dalil yang mengkhususkannya.

Pendapat tidak ada Dzikir Setelah Shalat Shafar

Sebenarnya kami belum berkomunikasi langsung dengan orang-orang yang berpendapat tidak ada dzikir setelah shalat fardu ketika safar, dan belum kami temukan pula ulama-ulama terdahulu yang berpendapat seperti ini, hanya ada beberapa informasi dan kemungkinan argumentasi yang melatarbelakangi pendapat tersebut, antara lain:

  1. Tidak ada dalil yang menerangkan bahwa Rasulullah saw dzikir setelah shalat jama’ qoshor ketika safar. Sedangkan qaidah menyebutkan “menetapkan suatu hukum itu dituntut adanya dalil” dikarenakan tidak ada dalil yang menerangkan hal tersebut, maka dzikir setelah shalat jama’ qoshor ketika safar tidak ada.
  2. Dalam praktek shalat yang dijamak-qoshor setelah shalat yang pertama tidak dilakukan dzikir, tetapi langsung dilanjutkan shalat yang kedua. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam shalat safar tidak ada dzikir setelahnya.
  3. Ada beberapa hadits yang mengindikasikan tidak adanya dzikir setelah shalat fardu ketika safar, yaitu sebagai berikut

عبد الله بن عمر – رضي الله عنهما – :«أن رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- صلَّى المغربَ والعشاءَ بالمزدلفة جميعا» زاد البخاري في رواية «كلَّ واحدة منهما بإقامة ، ولم يُسبِّحْ بينهما ، ولا على إثر واحدة منهما». (رواه البخاري و مسلم و الدارقطنى و أبوداود و الترمذى والنسائى)

Dari Abdullah bin Umar ra. Sesungguhnya Rasulullah saw shalat maghrib dan ‘isya dijama’ di Muzdalifah. Ada tambahan pada riwayat Al-Bukhari, Masing-masing dari keduanya dengan satukali iqomah dan tidak bertasbih antara keduanya dan juga pada salah satu dari keduanya. (HR Al-Bukhari, Muslim, Ad-Daraquthni, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i)

عن عبد الله بن عمر – رضي الله عنهما – : قال : «صحبتُ النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- ، فلم أرَه يُسبِّح في السَّفرِ ، وقال الله تعالي : { لَقَد كانَ لكُم فِي رَسُولِ الله أُسْوة حسنة } [ الأحزاب : 21]». رواه البخاري و مسلم

Dari Abdullah bin Umar ra. Ia berkata: Saya menyertai Nabi saw, maka tidak pernah melihat beliau bertasbih ketika safar, Allah swt berfirman : ((Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik)) QS. Al-Ahzab :21) (HR Al-Bukhari dan Muslim)

عن يزيد بن زريع قال مرضت فجاءني ابن عمر يعودني فسألته عن السبحة في السفر فقال صحبت رسول الله {صلى الله عليه وسلم} في السفر فما رأيته يسبح ولو كنت مسبحاً لأتممت. رواه البخاري و مسلم

Dari Yazid bin Zurai’ ia berkata: saya pernah sakit lalu Ibdu Umar datang menjengukku, saya bertanya kepadanya tentang subhah ketika safar lalu beliau menjawab, “Saya menyertai Rasulullah saw pada saat safar, maka tidak pernah melihat beliau bertasbih, kalaulah saya mau bertasbih pasti saya tamkan shalat (tidak qashar). (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Tanggapan

  1. Hadits-hadits riwayat Al-Bukhari pada Bab Dzikir setelah shalat cukup sebagai “mutsbit” yang menetapkan adanya dzikir setelah shalat fardu, baik ketika safar maupun muqim karena diungkapkan dengan lafadz umum. Dengan demikian yang mesti dituntut untuk menghadirkan dalil adalah yang menafikannya, karena hukum yang telah ada dan berlaku adalah adanya dzikir, sedangkan menafikan hukum yang telah mutsbit dituntut adanya dalil.
  2. Dalam sebuah hadits riwayat An-Nasai yang diterima dari Tsauban Maula Rasulullah saw dia berkata:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا انصرف من صلاته استغفر ثلاثا قال اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والاكرام الذكر بعد الاستغفار السنن الكبرى للنسائي – (ج 1 / ص 397)

Sesungguhnya Rasulullah saw apabila selesai dari shalatnya istighfar 3 kali dan membaca Allahumma antassalam … dan membaca dzikir setelah istighfar. (HR An-NAsai)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa dzikir itu dilakukan ketika “inshirafus-Shalah” (selesai melaksanakan shalat), sedangkan shalat jama’ itu selesainya setelah dilaksanakan kedua shalat yang dijama’ tersebut.

  1. Hadits-hadits diatas yang menggunakan lafadz “yusabbihu” tidak bisa diartikan dzikir setelah shalat fardu, dengan alasan:
  2. Hadits-hadits tersebut disimpan oleh para Mukhorrij dalam bab mengenai shalat sunnat ketika safar.
  3. Lafad “yusabbihu” diartikan dengan shalat sunnat berdasarkan dalil-dalil berikut

عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ بَيْنَهُمَا(المغرب و العشاء) بِالْمُزْدَلِفَةِ صَلَّى كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بِإِقَامَةٍ وَلَمْ يَتَطَوَّعْ قَبْلَ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا وَلَا بَعْدُ

مسند الصحابة في الكتب التسعة – (ج 14 / ص 135)

Dari Salim dari Ayahnya sesungguhnya Rasulullah saw menjama’ antara shalat maghrib dan ‘isya di Muzdalifah dengan iqomah pada masing-masing shalatnya dan tidak melaksanakan shalat sunnat sebelum dan sesudah masing-masing shalat tersebut. (Musnad As-Shahabah fi Kutubi-Tis’ah)

عن حفص بن عاصم قَالَ صَحِبْتُ ابْنَ عُمَرَ فِى طَرِيقٍ – قَالَ – فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَقْبَلَ فَرَأَى نَاسًا قِيَامًا فَقَالَ مَا يَصْنَعُ هَؤُلاَءِ قُلْتُ يُسَبِّحُونَ. قَالَ لَوْ كُنْتُ مُسَبِّحًا أَتْمَمْتُ صَلاَتِى يَا ابْنَ أَخِى إِنِّى صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى السَّفَرِ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَصَحِبْتُ أَبَا بَكْرٍ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَصَحِبْتُ عُمَرَ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَصَحِبْتُ عُثْمَانَ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَقَدْ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ ).

(سنن أبو داود برقم 1225 باب التطوع فى السفر)

Dari Hafsh bin ‘Ashim ia berkata: Saya menyertai Ibnu Umar di perjalanan lalu beliau shalat mengimami kami lalu menghadap kepada kami dan melihat orang-orang berdiri. Beliau bertanya, “ Apa yang mereka lakukan?” Saya menjawab, “Mereka melakukan shalat sunnat”. Lalu beliau berkata, “Kalaulah aku melaksanakan shalat sunnat, pasti aku taam kan shalat, wahai keponakanku sesungguhnya aku menyertai Rasulullah saw dalam safar dan beliau tidak pernah lebih dari 2 raka’at sampai beliau wafat, lalu aku menyertai Abu Bakar, beliau pun tidak pernah lebih dari 2 raka’at sampai wafatnya, lalu menyertai umar, beliau pun tidak pernah lebih dari 2 raka’at sampai beliau wafat, dan aku menyertai Utsman, beliau pun tidak pernah lebih dari 2 raka’at sampai beliau wafat, sedangkan Allah swt berfirman {{ Sungguh telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik}} (Sunan Abu Dawud no.1225 Bab Tathawwu’ fis-Safar)

  1. “yusabbihu” pada hadits-hadits tersebut masdarnya bukan “tasbih” tapi “subhah” yang artinya shalat sunnah. Hal ini tergambar dari pertanyaan Yazid bin Zurai’ kepada Ibnu Umar.

فسألته عن السبحة في السفر

  1. Lafadz “yusabbihu” sering digunakan untuk menerangkan shalat sunnat ketika safar diantaranya hadits berikut:

عن ابن عمر رضي الله عنهما : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يسبح على ظهر راحلته حيث كان وجهه يومىء برأسه وكان ابن عمر يفعله

(رواه البخاري)

Dari Ibnu Umar ra, Sesungguhnya Rasulullah saw melaksanakan shalat sunnat di atas kendaraannya kemana saja kendaraannya menghadap beliau mengisyaratkan dengan kepalanya dan Ibnu Umar melaksanakannya. (HR Al-Bukhari)

Kesimpulan

  1. Dzikir setelah shalat wajib ketika safar disyari’atkan
  2. Yang berpendapat tidak ada dzikir setelah shalat wajib ketika safar, mesti menghadirkan dalil

 

Admin: Zaenal Mutaqin