//ADAKAH TAKBIR DALAM SUJUD TILAWAH?

ADAKAH TAKBIR DALAM SUJUD TILAWAH?

Oleh : Ahmad Wandi

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ  : كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقْرَأُ عَلَيْنَا اْلقُرْآنَ فَإِذَا مَرَّ بِالسَّجْدَةِ كَبَّرَ وَسَجَدَ وَسَجَدْنَا مَعَهُ

Ibnu umar berkata, “Rasulullah Saw. pernah membacakan al-Quran kepada kami, apabila sampai ayat sajdah, beliau takbir dan sujud, dan kami pun sujud bersamanya.” (HR. Abu Daud)[1]

Muhammad Syamsu al-Haq dan Abu Sulaiman al-Khathabi berkata, “Dalam hadis tersebut jelas bahwa menurut sunah menganjurkan untuk takbir ketika hendak sujud, dan ini sesuai dengan pendapat mayoritas ahli ilmu, demikian pula takbir ketika bangkit.”[2]

Hadis di atas diperbincangkan di kalangan para ulama. Namun berkaitan dengan adanya takbir dalam sujud tilawah, terdapat hadis lain yang menjelaskannya.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكَبِّرُ فِي كُلِّ خَفْضٍ وَرَفْعٍ ، وَقِيَامٍ وَقُعُودٍ ، وَأَبُو بَكْرٍ ، وَعُمَرُ.

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Rasulullah saw. bertakbir dalam setiap turun, bangkit, berdiri, duduk, demikian pula Abu Bakar dan Umar.” (HR. al-Tirmidzi)[3]

Abdu al-Muhsin al-‘Abbad berkata, “Apabila seseorang (sujud tilawah) dalam shalat, maka perintah dalam hal tersebut sudah jelas, ia bertakbir ketika hendak sujud, dan bertakbir ketika hendak berdiri, berdasarkan keumuman hadis yang datang dari Nabi saw., bahwa beliau bertakbir dalam setiap turun dan bangkit di dalam shalat. Dan ini termasuk turun dan bangkit di dalam shalat.”[4]

Lebih tegas lagi Mahmud Abdu al-Latif ‘Awidhah berkata, “Tidak diriwayatkan dari sahabat, bahwa beliau meninggalkan takbir atau memerintahkan untuk meninggalkan takbir ketika sujud tilawah.”[5]
Hasil gambar untuk SujudPelajaran dari hadis di atas, bahwa dalam sujud tilawah terdapat takbir -dengan tidak mengangkat kedua tangan-, padanya tidak ada tasyahud dan salam, Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf telah meriwayatkan dari al-Hasan, ‘Atha’, Ibrahim al-Nakha’i dan Sa’id bin Jubair, “Bahwasanya mereka tidak melakukan salam dalam sujud tilawah.” Dan berkata sahabat kami, “Takbir pertama untuk sujud, kemudian apabila bangkit takbir pula, berdasarkan riwayat Ibnu Abi Syaibah dengan sanadnya, dari al-Hasan ia berkata, ‘Tidak, apabila seseorang membaca ayat sajdah, maka takbirlah apabila bangkit, dan apabila sujud’.[6]

Kesimpulan :

  • 1 Disyariatkan takbir ketika turun dan bangkit dalam sajud tilawah di dalam shalat.
  • 2 Sujud tilawah bagi makmum tergantung imam karena makmum wajib mengikuti imam.

Wallahu a’lam bi al-shawwab !

[1] Sunan Abi Dawud 1/532 no. 1415. Menurut Syaikh al-Albani, “Penyebutkan kalimat takbir pada hadis tersebut adalah munkar, tafarud-nya (menyendiri) Abdullah bin Umar –al-Umari al-Mukabbir- ia rawi dhaif sebagaimana dalam al-Taqrib. Al-Dzahabi dalam al-Mizan berkata, ‘Shaduq, dalam hafalannya terdapat sesuatu.’  Menurutku, ‘Dalam hadis ini ia melakukan kekeliruan, yakni terdapat tambahan takbir, menyalahi saudaranya Ubaidullah –al-‘Umari al-Mushaghghar- ia tsiqah hujjah, tidak menyebut kalimat takbir. Demikian pula riwayat al-Shaikhan dan yang lainnya melalui beberapa jalur darinya, sebagaimana telah lewat dalam kitab (pembahasan) yang lain’.” (Dhaif Abu Dawud 2/77-78)

Muhammad Hamid al-Faqqi (Tahqiq Bulugh al-Maram, hal. 71) dan al-Shan’ani (Fathu al-Ghafar 1/503) menyatakan, “Hadis ini diriwayatkan pula oleh al-Hakim melalui saudaranya, yaitu Ubaidullah (al-Mushaghghar), ia rawi tsiqah. Al-Hakim berkata, ‘Sesuai syarat Bukhari Muslim’.”

Abdu al-Muhsin al-‘Abbad berkata, “Hadis tersebut dengan sanad ini tidak shahih, tetapi al-Hakim meriwayatkannya melalui jalur ‘Ubaidullah, dan di sana menyebut kalimat takbir, al-Hafiz (Ibnu Hajar) menjelaskannya dalam al-Talkhis, dan mengikutinya sebagian ahli ilmu, namun Syaikh al-Albani menjelaskan, bahwa al-Mustadrak tidak menyebutkan adanya kalimat takbir, di sana hanya disebut kalimat sujud. al-Shan’ani, al-Syaukani dan yang lainnya mereka mengikuti al-Hafizh dengan menyebutkan adanya takbir. Dengan demikian, apabila tidak ada (kalimat takbir pada riwayat al-Hakim) kecuali hadis ini yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, yang pada sanadnya terdapat Abdullah bin Umar al-Mukabbir, maka adanya takbir tidak kuat. Namun barangkali al-Hafizh Ibnu Hajar telah melihat naskah (al-Mustadrak) yang padanya terdapat kalimat takbir, dan cetakan al-Mustadrak yang ada kebanyakan keliru, maka (solusinya) mesti merujuk kepada naskah asli (manuskrip) al-Mustadrak untuk mengetahui apakah ada kalimat takbir atau tidak, karena al-Hafizh berkata demikian berdasarkan penelitian dan ilmu. Apabila ternyata dalam naskah asli tidak ada kalimat takbir, maka hal tersebut  merupakan kekeliruan dari al-Hafizh. Dengan demikian maka urusan ini tidak akan jelas sebelum melihat langsung naskah asli al-Mustadrak.” (Syarah Sunan Abi Dawud ½)

[2] Aunu al-Ma’bud 4/202, Mu’alim al-Sunan 1/249.

[3] Sunan al-Tirmidzi 1/337 no. 253. Menutut Imam al-Tirmidzi, “Hadis Abdullah bin Mas’ud adalah hasan shahih.” Syaikh al-Albani berkata, “Shahih.”(Shahih Wa Dhaif Sunan al-Tirmidzi 1/253). Syaikh Syu’aib al-Arna’uth, “Shahih.” (Tahqiq al-Musnad 6/174)

[4] Syarah Abu Dawud ½.

[5] al-Jami’ li Ahkam al-Shalat 3/129.

[6] Syarah Abu Dawud 5/318.