//AL-QURAN MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN

AL-QURAN MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN

AL-QURAN MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN

Oleh : Aa Hakim Dan Ahmad Wandi

 

LEMBANG (HAYAATUNAA.COM)- Penyimpangan dan kesesatan kaum muslimin dalam memahami Al-Quran saat ini sudah sangat mengkhawatirkan, namun sayang mereka tidak mengetahuinya. Lebih parah lagi, mereka sebagian besar kaum muslimin sudah sangat jauh dan tak kenal lagi apa itu Al-Quran, atau apa dan bagaimana isi Al-Quran itu ? Padahal Al-Quran adalah kitab suci sebagai landasan islam yang utama dalam berbagai persoalan kehidupan. Karena sebenarnya hanya orang kafirlah yang menolak kebenaran Al-Quran. Begitu pula, hanya orang kafir, fasik dan dzalimlah yang tidak berhukum dengan hukum Al-Quran !

 

BAGAIMANA SIKAP KITA TERHADAP AL QURAN ?

Al-Quran adalah kitab suci umat Islam yang fungsi utamanya adalah untuk dikaji dan diambil hikmah-hikmahnya. Allah berfirman (Qs. Shaad: 29) : “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran”.

Berbeda dengan sikap kebanyakan umat Islam yang kontras dengan fungsi utama al-Qur’an. Mereka hanya menjadikan Al-Quran sebagai barang pajangan, penghias lemari atau etalase, hanya dijadikan hiasan kaligrafi, jimat atau dibaca pada acara-acara ritual tertentu seperti, acara kematian (yasinan), mengusir jin atau setan, dan dilombakan pada even Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ).

Padahal bukan itu tujuan utama diturunkan Al-Quran. Akan tetapi tujuan utama dari diturunkannya Al-Quran adalah sebagai petunjuk bagi manusia ke jalan keselamatan, khususnya bagi orang-orang yang bertakwa. Sebagaimana firman Allah swt: “Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus …”(Qs. Al-Isra’: 9) dan pada surat Al-Baqarah : 2, Allah berfirman: “Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”.

Sungguh umat Islam telah terlalu jauh meninggalkan Al-Quran. Mereka telah keluar dari tujuan utamanya yang agung. Dan sebagai akibatnya, mereka terperosok kedalam jurang kebodohan dan kesesatan yang sangat dalam. Padahal dulu umat Islam pernah jaya karena mereka konsisten terhadap ajaran-ajaran Al-Quran, kini harus berpindah tangan ke musuh-musuh Islam sebagai akibat pengabdian mereka terhadap ilmu-ilmu Al-Quran. Untuk meraih kembali kejayaan tersebut tidak ada jalan lain melainkan kita harus kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah.

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata: “Tidak akan jaya umat islam sekarang kecuali dengan apa yang telah membuat jaya umat Islam dahulu”. Ketangguhan al-Quran dalam menjawab tantangan zaman tidak dapat diragukan lagi karena Allah swt telah melegelisirnya dan memberinya  jaminan keamanan dari segala bentuk usaha yang akan merubah keabsahan dan keauntentikan naskahnya sampai hari kiamat. Firman Allah: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”(QS. al-Hijr: 9)

Salah satu bukti, seiring dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai dengan berbagai penemuan ilmiah, maka semakin membuktikan kebenaran kemukjizatan al-Quran sebagai kitab suci yang terpelihara. Lalu mengapa kaum muslimin sebagai orang yang berhak berbangga dengan al-Qur’an ini lantas meninggalkannya. Mereka enggan mempelajari isinya, merenungkan makna, kandungan dan hikmah-hikmahnya? Jawabannya adalah karena kebodohan telah meliputi mereka.

Lihatlah fakta sekian banyak umat islam di dunia khususnya di Indonesia, berapa persen yang dapat membaca Al-Quran? Dari yang dapat membaca al-Quran, berapa persen yang mengetahui maknanya? Dari yang mengetahui maknanya, berapa persen yang mengamalkan ajaran-ajarannya? Tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, setiap kaum muslimin pasti sudah tahu jawabannya.

Hal itu sekaligus membuktikan, bahwa sebagian besar Umat islam telah mewarisi sifat ahli kitab (Yahudi dan Nasroni) yang disampaikan Allah dalam al-Quran, yaitu mengabaikan ajaran-ajaran kitab sucinya : “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.”(QS. Al-Jumu’ah: 5)

Maimun bin Mihran berkata, “Keledai itu tidak mengetahui apakah yang di punggungnya itu kitab-kitab atau barang yang lain, maka demikianlah perumpamaan orang Yahudi.” Imam Ibnu Katsir berkata, “Pada ayat ini Allah memperingatkan kepada siapa saja yang telah diberi kitab, supaya mereka mempelajari makna-maknanya dan mengetahui kandungannya sehingga tidak mendapat kehinaan sebagaimana kehinaan yang menimpa orang Yahudi.”

Umat islam sekarang ibarat unta yang kehausan di tengah padang pasir yang tandus, kering tak berair, sementara kantong air berada dipunggungnya. Kehinaan yang dirasakan umat islam sebenarnya telah lama membuat mereka sibuk mencari solusi, sementara mereka tidak sadar bahwa al-Qur’an yang ada ditangan mereka adalah solusi untuk keluar dari Lumpur kehinaan tersebut. Apakah mereka tidak yakin tentang kemampuan al-Quran dapat mengangkat derajat mereka? Bukankah al-Quran ini berasal dari Allah swt, Dzat yang telah menciptakan manusia dan yang paling tahu tentang kebutuhan manusia ? Ataukah mereka masih ragu?.

Mari dengan sadar kita mengakui bahwa kita termasuk orang yang jauh meninggalkan al-Quran. Semoga kesadaran tersebut mendorong kita untuk kembali kepadanya, mempelajari cara membacanya, terjemahan dan maknanya, kemudian berbondong-bondong mengamalkannya.

MEREKA MENGHINA DAN MENGHUJAT AL QURAN !

Pada tanggal 9 mei 2005, majalah Newsweek menyiarkan berita, bahwa interagator Amerika Serikat telah melakukan pelecehan dan penistaan besar-besaran terhadap kitab suci Al-Quran, yaitu dimana Al-Quran ditendang, dikencingi, disimpan dan dimasukkan ke dalam kloset …na’udzu billah

Namun dalam skala dan bentuk yang berbeda, kini di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim, telah terjadi gugatan dan hujatan terhadap Al-Quran yang dilakukan oleh kaum liberalis. Seperti tertuang dalam buku “Rekontruksi Sejarah Al Quran, Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan” karya Akhsin Widjaya dan buku “Lobang Hitam Agama” karya Sumanto Al Qurthuby.

Akhsin Widjaya menyatakan, “Setelah kita kembalikan wacana islam Arab ke dalam dunianya dan melepaskan diri kita dari hegemoni budaya Arab, kini saatnya, kita melakukan upaya pencarian pesan Tuhan yang terperangkap dalam mushaf Utsmani, dengan suatu metode dan pendekatan baru yang lebih kreatif dan produktif. Tanpa menegaskan besarnya peran yang dimainkan mushaf Utsmani dalam mentransformasikan pesan Tuhan. Kita terlebih dahulu menempatkan mushaf Utsmani setara dengan teks-teks lain. Dengan kata lain, mushaf itu tidak sacral dan absolut, melainkan profan dan fleksibel. Yang sacral dan absolut hanya pesan tuhan yang terdapat  di dalamnya, yang dalam proses pencarian. Karena itu kita diperkenankan bermain-main dengan mushaf tersebut tanpa ada beban sedikitpun, beban sakralitas yang melingkup perasaan dan pikiran kita.”

Sumanto Al Qurthuby menyatakan, “Al-Quran bagi saya hanyalah berisi ‘spirit ketuhanan’ yang kemudian dirumuskan redaksinya oleh Nabi. Seandainya (sekali lagi seandainya) Pak Harto berkuasa ratusan tahun, saya yakin Pancasila ini bisa menyaingi Al-Quran dalam hal ‘keangkerannya’ tentunya Al-Quran sehingga menjadi kitab suci juga tidak lepas dari peran serta ‘tangan-tangan gaib’ yang bekerja dibalik layar maupun di atas panggung politik kekuasaan untuk memapankan status Al-Quran.”

Kalau kita memperhatikan pernyataan pendeta Kristen yang bernama Prof. Alponse Mingana, “Waktunya telah tiba untuk melakukan kritik terhadap Al-Quran, seperti kritik yang telah dilakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa ibrani dan Aramaic, serta kitab suci orang Kristen yang berbahasa yunani” kini sudah kenyataan. Artinya pernyataan Rasul “Bahwa Umat Islam akan mengikuti tradisi dan ajaran agama yahudi nasrani” bukan dulu dan bukan nanti, tapi sekarang sudah tiba waktunya.

Yang perlu kita perhatikan, kalau dalam tradisi Yahudi dan Nasrani melakukan kritik terhadap kitab sucinya itu sangat dimungkinkan, karena mereka dihadapkan kepada persoalan dengan kitab sucinya itu. Adanya beberapa pengarang Injil misalnya, dengan susunan kalimat dan alur cerita yang berbeda, serta banyaknya kontradiksi, sehingga timbul pertanyaan “apakah Injil ini ciptaan manusia atau cipataan tuhan?” akhirnya mereka berkesimpulan, bahwa Injil itu ciptaan manusia si pengaranya yang dirombak dari kitab aslinya. Dan untuk menentukan mana yang asli dan mana yang palsu, akhirnya mereka mencoba melakukan analisis terhadap kondisi sosial dan kejiwaan si pengarang Injil itu. Sementara dalam islam, kita kaum muslimin tidak dihadapkan kepada persoalan seperti itu. (lihat QS. Yunus :34, As Sajdah :2, dan Al Hijr :9) Al Quran sudah dipelihara langsung oleh Allah swt..

APAKAH BETUL KITA IMAN KEPADA AL-QURAN ? MANA BUKTINYA !

Meyakini, bahwa Al-Quran adalah kalamullah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw melalui perantara malak Jibril, hukumnya adalah wajib. Demikian pula meyakini bahwa isi dan kandungannya pasti benar secara mutlak dan mustahil salah. Semuanya wajib kita imani tanpa memilah-milah dan memilih-milih sekalipun tidak dapat diterima oleh akal.

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemukjizatan Al-Quran ternyata dapat diakui dan sejalan dengan temuan ilmiah modern dalam berbagai bidang keilmuan.

Adapun tujuan dan fungsi diturunkannya Al-Quran itu adalah : sebagai hudan (petunjuk), nur (cahaya yang menerangi hati), rahmat (kasih sayang Allah), dzikra (peringatan), syifa’ (obat penyakit hati), dan sumber hukum dalam seluruh aspek kehidupan.

Sikap orang mukmin terhadap Al-Quran adalah sami’na wa atho’na. Sementara orang kafir dan orang yang sombong mereka menolaknya. Demikian pula, hanya orang berimanlah yang berhukum dengan Al-Quran, karena mereka yakin bahwa hukum produk manusia tidak akan lebih baik daripada hukum ciptaan Allah. Dan hanya orang kafir, fasik dan dzalim yang tidak berhukum dengan Al-Quran.

Sebagai umat islam, kita dituntut untuk membaca Al-Quran, mentadaburi isi dan kandungan maknanya. Begitu pula mengamalkan petunjuknya.

Untuk membuktikan, bahwa kita benar-benar beriman kepada Al-Quran, sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw yang terbesar, dan satu-satunya kitab suci umat islam yang diturunkan oleh Allah swt, marilah kita renungkan pertanyaan-pertanyaan berikut :

  • Yakinkah kita, bahwa Al-Quran itu kalamullah ? jika yakin, siapkah kita untuk mengamalkan seluruh petunjuknya ?
  • Yakinkah kita, bahwa belajar Al-Quran itu wajib ? jika yakin, sudahkah kita menyisihkan waktu untuk belajar Al-Quran ?
  • Yakinkah kita, bahwa mendakwahkan Al-Quran itu wajib ? jika yakin, sudahkah kita menyampaikan pesan-pesan Al-Quran ?
  • Yakinkah kita, bahwa Al-Quran itu adalah petunjuk ? jika yakin, sudahkah kita menggunakan Al-Quran sebagai petunjuk hidup kita ?
  • Bagaimana jika petunjuk Al-Quran itu bertentangan dengan akal ? mana yang akan kita pilih ? petunjuk Al-Quran atau petunjuk akal ?
  • Sudahkah kita rutin untuk membaca al-quran, minimal satu baris perhari ?
  • Yakinkah kita, bahwa Al-Quran itu syifa’ (obat segala penyakit hati) ? jika yakin, sudahkah kita mendiagnosa hati kita ?
  • Sudahkah kita memiliki Al-Quran untuk sejumlah anggota keluarga kita ?
  • Jika kita mendengarkan Al-Quran, sudahkah hati kita merasa tergugah dengannya ?
  • Sudahkah kita mengevaluasi, ayat mana saja yang belum kita realisasikan ?
  • Sudahkah kita tertarik dengan pahala-pahala yang dijanjikan Al-Quran ?
  • Sudahkah hati kita merasa takut dengan ancaman-ancaman yang ada dalam Al-Quran ?
  • Seringkah kita melaksanakan sujud tilawah ?

 

sumber :

Diadopsi dari buletin “Mu’awanah” 2006 terbitan Pemuda Persis Lembang