//Apa Dan Bagaimana Wahabi Itu ? (Bagian 1)

Apa Dan Bagaimana Wahabi Itu ? (Bagian 1)

Apa Dan Bagaimana Wahabi Itu ? (Bagian 1)

Koreksi Atas Buku “Mutiara Bercahaya Dalam Menolak Paham Wahabi” Karya Ahmad Zaini Dahlan

Oleh : Ahmad Wandi

PENDAHULUAN

Sudah merupakan sunatullah apabila dakwah tauhid dimusuhi dan didustakan oleh para penentangnya. Demikian yang dialami oleh Muhammad bin Abdul Wahhab yang populer dengan sebutan Wahabi atau al-Wahhabiyyah, yang berdakwah dibawah panji tauhid.  Ketika kebanyakan umat islam sudah tenggelam ke dalam kemusyrikan dan perbid’ahan, beliau  mencoba mengembalikan seutuhnya kepada ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumbernya yang asli untuk memurnikannya kembali.

Dengan demikian, secara otomatis beliau mendapatkan banyak perlawanan dan serangan dari para ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu sebagai musuhnya. Namun ketika senjata dan kekuatan mereka tidak mampu untuk melawan kebenaran dan hujjah beliau yang sangat kuat, akhirnya dengan kelicikkannya mereka berani melakukan berbagai macam kedustaan, yaitu dengan memanipulasi teks sejarah dan memutarbalikkan fakta.

Kitab “Duror as-Saniyyah Fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah” yang diterjemahkan dengan judul “Mutiara Bercahaya Dalam Menolak Paham Wahabi” karya Ahmad Zaini Dahlan, adalah salah satu karya yang menolak dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab ini. Dia mencoba melakukan kedustaan yang sangat besar terhadap beliau dalam bukunya tersebut. Sampai Muhamad Rasyid Ridha berkomentar, “Kitab tersebut hanya berputar pada dua hal ; kedustaan terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan kejahilan dengan menyalahkan Syaikh yang sebenarnya tidak bersalah.”

Masalahnya, kitab tersebut dijadikan referensi utama dan disebarkan untuk menipu komunitas kaum muslimin di dunia, termasuk di Indonesia. Kalau boleh dikatakan,  mungkin tak jauh beda kasusnya dengan penyesatan yang dilakukan pihak AS mengenai isu terorisme, yang dengan penuh kedustaan selalu dialamatkan kepada umat islam.

Buku-buku dan tulisan yang menjadikan buku tersebut sebagai referensi, diantaranya buku “I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” karya KH. Sirajuddin Abbas. Demikian juga buku “Konsep Dasar Pengertian Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” karya Drs. KH. Ach. Masduqi (Wakil Rais PWNU Jatim). Kemudian majalah “Cahaya Nabawi” terbitan Ma’ahad Sunniyah Salafiyyah pesuruan (edisi 33 Th. III Sya’ban 1426 H/ September 2005), membuat judul yang hebat “Membongkar Kedok Wahabi Satu Dari Dua Tanduk Setan”. Dan terakhir, sebuah buletin bulanan yang disponsori oleh toko kitab Al-Azhar “Ahbabul Musthafa” (edisi VI : 7 April 2006/ Rabiul Awal 1427), tulisan Habib Zaky Alaydrus dengan judul yang sama (Membongkar Kedok Wahabi Satu Dari Dua Tanduk Syetan). Bulletin tersebut diantaranya disebarkan di Mesjid Persis Pajagalan Bandung pada tanggal 7 April 2006. Namun sayang sekali, dengan sejatinya tidak berani mencantumkan penerbitnya.

SEKELUMIT BIOGRAFI MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB

Nama beliau adalah Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ahmad bin Rasyid bin Duraid bin Muhammad bin Musyarraf. Beliau lahir pada tahun 1115 H di negeri Nejed, tepatnya di kota Uyainah (70 kilometer dari Riyadh). Beliau berasal dari keluarga terhormat dan ahli agama, dikenal sebagai keluarga al-Musyarraf. Pada usia 10 tahun, beliau sudah hafal Al-Quran. Dan pada usia 12 tahun, beliau sudah diangkat menjadi imam masjid karena kedalaman ilmu fiqihnya. Dan tak lama kemudian, beliau dinikahkan dalam usia yang masih dini.

Setelah menikah, beliau menunaikan ibadah haji sambil menuntut ilmu kepada para ulama di sana. Bahkan, selain di Makkah, selanjutnya beliau pergi mencari ilmu juga ke Madinah, Bashrah, Damaskus, dan yang lainnya. Sampai pada akhirnya, beliau kembali ke kampung halamannya (Nejed) dan menyampaikan dakwahnya di sana.

Berkat kegigihan belajarnya, akhirnya beliau menjadi seorang pejuang islam dan pendakwah Quran Sunnah yang konsisten terhadap ilmunya. Khususnya beliau membasmi kemusyrikan dan memusnahkan perbid’ahan yang sudah hampir bersatu pada diri kaum muslimin waktu itu. Dan kebetulan kitab-kitab yang beliau banyak pelajari adalah kitab-kitab karya Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah.

Selain berdakwah secara lisan, beliau juga cukup produktif menyebarkan pemahamannya melalui berbagai tulisan, yang berjumlah tidak kurang dari 35 judul secara terpisah. Antara lain, al-Ushul ats-Tsalatsah, Kitab at-Tauhid, Al-Masail al-Jahiliyyah allati Khalafa fiha al-Islam, Kasyf asy- Syubhat fi at-Tauhid, dan lain-lain.

Beliau memang lebih banyak berbicara menyoroti masalah aqidah atau tauhid. Namun bukan berarti beliau tidak memperhatikan cabang-cabang keilmuan islam lainnya. Akan tetapi, masalah aqidah merupakan dasar yang paling utama dalam islam.  Dan barangsiapa yang menelaah kitab-kitab beliau –termasuk yang disebutkan di atas-, pasti akan mengetahui bahwa beliau adalah ahli dalam bidang-bidang keilmuan yang lainnya.

Dengan ketinggian ilmunya dan kegigihan perjuangannya dalam memurnikan ajaran islam yang selama ini ternodai oleh berbagai kemusyrikan dan perbid’ahan, umat islam banyak menyebutkan bahwa beliau termasuk mujaddid (pembaharu islam) yang dijanjikan Rasulullah saw akan datang setiap seratus tahun (satu abad) sekali dalam sebuah hadisnya, “Sesungguhnya Allah mengutus bagi umat ini pada setiap akhir seratus tahun, seorang yang akan meperbaharui ajaran agamanya.” (HR. Abu Daud)

Meski kini beliau telah tiada, tapi peninggalannya akan senantiasa menghiasi perjalanan kaum muslimin di atas kebenaran. Karena dakwah beliau pada intinya “Mengembalikan ketenggelaman umat islam dalam kemusyrikan dan perbid’ahan, kepada ajaran islamnya yang murni, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah.” Dan meskipun beliau telah tiada, umat masih terus mengambil manfaat dari karya-karyanya yang sangat berharga. Al-hamdulillah rabbil-‘alamien.

MEMBONGKAR “KEDUSTAAN” TERHADAP FAHAM WAHABI

Dalam kitabnya, Ahmad Zaini Dahlan banyak membuat “kedustaan” terhadap Muhammad bin Abdul Wahhad. Adapun kedustaan-kedustaan tersebut antara lain sebagai berikut :

  1. Dahlan mengatakan, “Yang nampak dari keadaan Muhammad bin Abdul Wahhab bahwasanya dia mengaku sebagai Nabi.” (hal. 50).
  2. Katanya pula, “Dia juga menyuruh wanita mencukur rambut para wanita pengikutnya.” (hal. 54).
  3. Katanya pula, “Dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) berkhutbah di masjid-masjid dan berkata dalam setiap khutbahnya, ‘Barangsiapa bertawassul dengan Nabi saw dia adalah kafir’.” (hal. 96, terjemah).
  4. Katanya pula, “Sulaiman bin Abdul Wahhab adalah orang yang selalu mengingkari dengan ingkar yang sangat terhadap apa yang dia kerjakan dan perintahkan …

Pada suatu hari sulaiman bertanya kepadaNya, “Wahai Muhammad bin Abdul Wahhab, berapakah rukun islam itu ?” Dia menjawab, “Lima.” Lalu Sulaiman berkata kepadanya, “Akan tetapi kamu menjadikannya enam, rukun islam yang keenam itu menurutmu ialah barangsiapa yang tidak menganutmu maka dia bukan orang islam.” (hal. 96, terjemah).

  1. Katanya lagi, “Ada orang bertanya, ‘Wahai Muhammad bin Abdul Wahhab, apakah agama yang didatangkan ini muttashil (tersambung) atau munfashil (terputus) ?’ Dia menjawab, ‘Bahkan para guruku dan guru-guru mereka hingga enam ratus tahun sebelumnya, semuanya adalah musyrik.’ Laki-laki tadi bertanya, ‘Lalu dari siapakah kamu mengambilnya?’ Dia menjawab, ‘Dari wahyu ilham seperti Khidhir’.” (hal. 97, terjemah).
  2. Ada seorang muadzin buta yang bersuara bagus mengucapkan shalawat di atas menara padahal telah dilarang, maka langsung diperintahkan untuk dibunuh. Kata Muhammad bin Abdul Wahhab, “Perempuan-perempuan yang berzina di rumah pelacuran adalah lebih sedikit dosanya daripada para muadzin yang melakukan adzan di menara-menara dengan membaca shalawat atas Nabi.” (hal. 99)
  3. Guru-gurunya memiliki firasat bahwa pada diri Muhammad bin Abdul Wahhab ada tanda-tanda menjadi seorang pencela agama dan penyesat. (hal. 102)
  4. Menggolongkan Wahabi ke dalam kelompok Khawarij dengan memanipulasi hadis-hadis tentang khawarij.

TANGGAPAN PENULIS

Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda, “Bagi orang yang mengklaim sesuatu harus mendatangkan bukti.” Sekarang kita tanyakan, di kitab mana Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan semua itu, atau kapan dan di mana ceramah itu terjadi dan siapa saksinya ?

Untuk membuktikan bahwa tuduhannya itu benar, ternyata tidak ada sumber primer yang dapat mempertanggungjawabkannya. Yang jelas justru kebohongannya, yaitu karena tidak ada satupun referensi yang disebutkannya. Dan apabila disebutkan, barangkali hanya akan menjadikan semakin nyata kedustaannya.

Untuk membuktikan kebohongan tersebut, kita tidak perlu susah-susah menanggapinya, karena Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri sudah tahu dan memahami benar tuduhan-tuduhan tersebut. Waktu itu beliau hanya mengatakan, “Ini kedustaan yang sangat besar.” Pernyataan tersebut dapat diketahui dari tulisan-tulisan beliau kepada para tokoh sezamannya.  Karena waktu itu beliau menjelaskan aqidahnya, bahkan  sekaligus membantah tuduhan-tuduhan dustanya.

Diantara risalah beliau kepada penduduk Qashim, adalah sebagai berikut, “Aku mempersaksikan kepada Allah, para malaikat, dan kalian bahwa aku meyakini apa yang diyakini Firqah Najiyah (golongan yang selamat) –Ahlus Sunnah Wal Jama’ah- yaitu beriman kepada Allah, para Malaikat, para Rasul-Nya, hari kebangkitan, dan takdir yang baik ataupun yang buruk. Termasuk iman kepada Allah adalah mengimani sifat-sifat yang Allah sifatkan pada diri-Nya yang terdapat pada kitab-Nya dan yang disabdakan Rasul-Nya tanpa mentahrif dan menta’thil. Bahkan aku meyakini kalau Allah tiada sesuatu-pun yang menyerupai-Nya …

Dan aku meyakini, Al-Quran adalah kalamullah, diturunkan bukan makhluk, dari-Nya berasal dan kepada-Nya akan kembali. Dia benar-benar berbicara dan menurunkan al Quran ini kepada hamba, Rasul, orang yang terpercaya mengemban wahyu-Nya, dan yang menjadi perantara antar-Nya dan para hamba-Nya. Hamba itu adalah Nabi kita Muhammad …

Aku mengimani semua yang dikhabarkan Nabi saw sesudah mati. Aku mengimani telaga Nabi kita Muhammad … aku meyakini syafaat Nabi Muhammad saw. Beliau adalah orang yang pertama kali memberi syafaat dan yang diberi izin untuk memberi syafaat. Tidak ada yang mengingkari syafaat ini kecuali ahli bid’ah dan orang yang sesat. Tetapi syafaat ini harus seizin dan ridha Allah. Aku mengimani bahwa Nabi kita Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul terakhir. Tidak sah keimanan seseorang sehingga mengimani risalah dan kenabiannya.

Orang yang paling utama setelah Nabi adalah Abu Bakar As-Shidiq, kemudian Umar Al-Faruq, Utsman pemilik dua cahaya, dan Ali bin Abi Thalib. Aku tidak mempersaksikan bagi seseorang masuk surga atau neraka kecuali telah dipersaksikan oleh Rasulullah saw. Aku tidak mengkafirkan seorang muslim pun karena dosanya dan aku keluarkan dari lingkup islam …Inilah aqidah ringkas yang kupaparkan, agar kalian dapat mengetahui apa yang ada pada diriku. Dan Allah adalah saksi atas apa yang aku katakan.

Selanjutnya beliau mengatakan, “Kemudian telah sampai kepada kalian risalah Sulaiman bin Suhaim, yang sebagian orang berilmu membenarkan omongannya. Padahal Allah mengetahui orang tersebut telah banyak membuat kedustaan atasku yang aku tidak mengatakannya dan kebanyakkannya tidak terlintas sama sekali dalam pikiranku.

Di antara kedustaan itu, aku dikatakan membuang kitab-kitab empat madzhab, … aku mengatakan, perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah bencana, aku mengkafirkan orang yang bertawassul dengan orang-orang shalih, aku mengkafirkan Buhsiri karena mengucapkan, ‘Wahai makhluk paling mulia …’, aku mengatakan, kalau aku mampu menghancurkan kubah yang ada di atas kubur Rasulullah niscaya aku hancurkan, andaikan aku memiliki kekuatan tentu tiang-tiang ka’bah aku ganti dengan kayu, aku haramkan ziarah kubur Nabi, aku ingkari ziarah kubur orang tua, aku kafirkan bersumpah dengan selain Allah, aku kafirkan Ibnul Faridh dan Ibnul Arabi, aku bakar kitab Dala’il Khairat dan Raudhu Riyahin, dan aku ganti namanya menjadi Raudhus Syayathin.

Jawabku atas semua tuduhan tersebut, ini adalah kedustaan yang besar. Dulu Muhammad juga dituduh mencela Isa bin Maryam dan orang-orang shalih. Hati dan ucapan mereka penuh dengan kedustaan. (Lihat, Tashih Khatha’ at-Tarikh Haul al-Wahhabiyyah, DR. Muhammad Sa’ad Asy-Syuwai’ir, hal. 107-111).

Tentang bantahan dari saudaranya, yaitu Sulaiman bin Abdul Wahhab, dia sendiri telah menyadari kesalahannya dan kembali kepada kebenaran, sebagaimana nampak pada risalahnya kepada Hamd bin Muhammad At-Tuwaijiri dan Ahmad bin Muhammad -keduanya anak Utsman bin Syabanah-. (Lihat, Mishbah azh-Zhulam, hal. 104-108).

Sebagai tambahan, dalam majalah Elfata (Volume 06/ 2006) disebutkan, bahwa beberapa puluh tahun sebelum kelahiran beliau, pernah muncul seseorang yang berpemahman sesat, dengan menyatakan rukun iman itu hanya lima. Orang tersebut kebetulan namanya sama dengan beliau, yaitu Muhammad bin Abdul Wahhab. Akhirnya pemahaman sesat tersebut dituduhkan kepada beliau.

Adapun tentang kekeliruan kitab tersebut yang lainnya, dan Muhammad bin Abdul Wahhab termasuk Khawarij yang telah diperingatkan Rasulullah saw dalam hadis-hadisnya. Insya Allah kita bahas pada edisi berikutnya.

Wallahu A’lam Bimuradih

 

 

TAGS: