//Apa Dan Bagaimana Wahabi Itu ? (Bagian 2)

Apa Dan Bagaimana Wahabi Itu ? (Bagian 2)

LEMBANG (hayaatunaa.com)-

Apa Dan Bagaimana Wahabi Itu ? (Bagian 2)
Koreksi Atas Buku “Mutiara Bercahaya Dalam Menolak Paham Wahabi” Karya Ahmad Zaini Dahlan

baca juga http://hayaatunaa.com/2017/02/11/apa-dan-bagaimana-wahabi-itu-bagian-1/

MENGGUNAKAN HADIS-HADIS PALSU DEMI MELEGALKAN PENDAPATNYA
Selain memanipulasi teks sejarah dan memutarbalikkan fakta, kitab Dahlan tersebut juga sarat dengan hadis palsu dan aneka kemusyrikan. Diantaranya banyak membahas masalah seperti, ziarah kubur Rasulullah saw, tawasul dengan beliau, meminta syafaat kepada beliau dan mencari berkah dengan orang-orang shalih.
Untuk membantah semua permasalahan tersebut, tidak perlu disebutkan di sini. Selain karena terlalu panjang, juga sudah banyak tulisan lain yang membahasnya secara terpisah. Namun sebagai bukti, penulis sebutkan beberapa hadis yang dipakai dan dinyatakan shahih oleh Dahlan.

مَنْ زَارَ قَبْرِيْ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ

“Siapa yang menziarahi kuburku maka wajib mendapatkan syafaatku.”

مَنْ زَارَنِيْ بَعْدَ مَوْتِيْ فَكَأَنَّمَا زَارَنِيْ فِيْ حَيَاتِيْ

“Siapa yang menziarahiku setelah matiku seakan-akan dia menziarahiku pada masa hidupku.”

مَنْ حَجَّ اْلبَيْتَ وَلَمْ يَزُرْنِيْ فَقَدْ جَفَانِيْ

“Siapa yang berhaji ke baitullah namun tidak menziarahiku maka sungguh dia telah menyepelekanku.”

Hadis pertama dan kedua adalah munkar, dan hadis ketiga palsu. (Lihat, Talkhis al-Habir 3:902-903, Nail al-Authar 5:107-108, Irwa’ al-Ghalil 4:333-341, Silsilah al-Ahadits ad-Dha’ifah no. 47).

Selain itu, dia membolehkan berdoa dan istighatsah kepada selain Allah, seperti kepada para Nabi dan orang-orang shalih yang telah meninggal. Demikian pula, memuat cerita-cerita bathil dan menempatkan dalil-dalil shahih bukan pada tempatnya.

DAKWAH WAHABI ADALAH FITNAH NEJED ?
Dalam majalah “Cahaya Nabawi” edisi 33 Th. III Sya’ban 1426 H, seseorang yang bernama Masun Said Alwy menulis artikel dengan judul “Membongkar Kedok Wahabi, Satu Dari Dua Tanduk Syetan” sekitar sepuluh halaman. Isi dari artikel tersebut antara lain sebagai berikut.

“Sungguh Nabi saw telah memberitakan akan datangnya faham Wahabi ini dalam beberapa hadis, ini merupakan tanda kenabian beliau saw dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadis-hadis ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam Shahih Bukhari, Muslim dan yang lainnya.” Diantaranya :

الْفِتْنَةُ مِنْ هَا هُنَا الْفِتْنَةُ مِنْ هَا هُنَا وَ اَسَارَ إِلَى الْمَشْرِقِ

“Firnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana, sambil menunjuk ke arah timur (nejed).” HR. Muslim dalam kitabul fitan.

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ ثُمَّ لَا يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ سِيمَاهُمْ التَّحْلِيقُ

“Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca al quran namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ke tempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur.” HR. Bukhari no. 7123, juz 6 hal. 2748. Hadis ini diriwayatkan juga oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud dan Ibnu Hibban.
Nabi pernah berdoa :

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا

“Ya Allah, berikanlah kami berkah dalam negara Syam dan Yaman.”
Para sahabat bertanya : Dan dari Nejed wahai Rasulullah, beliau berdoa : Ya Allah, berikanlah kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau saw bersabda :

هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلَعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ وَفِيْ رِوَايَةٍ قَرْنَا الشَّيْطَانِ.

“Di sana (nejed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syetan. Dalam riwayat lain : dua tanduk syetan.”

Dalam hadis-hadis tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahhab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti itu belum pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya seperti yang dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal : “Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahhab, karena sudah cukup ditolak oleh hadis-hadis Rasulullah saw itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian”.
Al Allamah Sayyid Alwi bin Ahmad bin Hasan bin al-Quthub Abdullah Al-Haddad menyebutkan dalam kitabnya “Jala’udz Dzolam” sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi saw :

سَيَخْرُجُ فِيْ ثَانِيْ عَشَرَ قَرْناً فِيْ وَادِيْ بَنِيْ حَنِيْفَةَ رَجُلٌ كَهَيْئَةِ الثَّوْرِ لَا يَزَالُ يَلْعَقُ بِرَاطِمَهُ يَكْثُرُ فِيْ زَمَانِهِ الْهَرَجُ وَ الْمَرَجُ يَسْتَحِلُّوْنَ أَمْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَيَتَّخِذُوْنَهَا بَيْنَهُمْ مَتْجَرًا وَ يَسْتَحِلُّوْنَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah Bani Hanifah seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin”. Al-hadits.
Bani Hanifah adalah kaum Nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Su’ud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid Alwy menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahhab …”.

TANGGAPAN PENULIS
Sebenarnya apa yang dilontarkan oleh saudara Masun Said Alwy di atas bukanlah hal baru, melainkan hanyalah daur ulang dari para pendahulunya yang telah mempromosikan kebohongan ini. Di antara mereka adalah, Al-Haddad dalam Mishbahul Anam hal. 5-7, Al-A’jili dalam Kasyful Irtiyab hal. 120, Muhammad Hasan Al-Musawi dalam Al-Barahin Al-Jahiliyyah hal. 71, An-Nabhani dalam Ar-Raiyah As-Sughra hal. 27, dan lain-lain. Termasuk kitab “Durarus Sanniyah Fir Raddi Alal Wahabiyyah” karya Ahmad Zaini Dahlan hal. 54 -yang sedang kita koreksi-. Semuanya mereka berpendapat, bahwa maksud “Nejed” dalam hadis-hadis di atas adalah Hijaz (Saudi Arabia sekarang) dan maksud fitnah yang terjadi adalah dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab.
Padahal kalau kita cermati hadis-hadis tersebut secara seksama, hanya kesesatan dan kedustaanlah yang ada pada mereka. Hal itu dilihat dari beberapa segi :

1. Hadis Itu Saling Menafsirkan

Dalam lafadz yang dikeluarkan oleh Imam At Thabrani, dari Ibnu Umar, hadis tersebut berbunyi :

الَلَّهُمَ بَارِكْ لَنَا فِيْ شَامِنَا, الَلَّهُمَّ بَارِكْ فِيْ يَمَنِنَا. فَقَالَهَا مِرَارًا, فَلَمَّا كَانَ فِي الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ, قَالُُوْا : ياَ رَسُولَ اللهِ وَفِيْ عِرَاقِنَا ؟ قَالَ : إِنَّ بِهَا الزَّلَازِلَ وَاْلفِتَنَ وَبِهَا يَطْلَعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Ya Allah berkahilah kami dalam Syam kami, Ya Allah berkahilah kami dalam Yaman kami. Beliau mengulanginya beberapa kali, pada ketiga atau keempat kalinya, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah ! dalam Iraq kami ?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya di sana terdapat keguncangan dan fitnah dan disana pula muncul tanduk syetan.” (Al-Mu’jam al-Kabir 7:293 no. 13422).
Dikuatkan dengan riwayat Abu Nu’aim (Hilyah al-Auliya’ VI:133) dan Ibnu Asyakir (Tarikh Madinah Dimasyqa I:131) dari jalur Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya dengan lafadz :

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ مَكَّتِنَا, وَ بَارِكْ لَنَا فِيْ مَدِيْنَتِنَا, وَ بَارِكْ لَنَا فِيْ شَامِنَا, وَ بَارِكْ لَنَا فِيْ يَمَنِنَا, وَ بَارِكْ لَنَا فِيْ صَاعِنَا وَ بَارِكْ لَنَا فِيْ مُدِّنَا. فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُوْلَ اللهِ وَفِيْ عِرَاقِنَا ؟ فَأَعْرَضَ عَنْهُ فَرَدَّدَهَا ثَلَاثًا, كُلُّ ذَالِكَ يَقُوْلُ الرَّجُلُ : وَفِيْ عِرَاقِنَا, فَيُعْرَضُ عَنْهُ, فَقَالَ : بِهَا الزَّلَازِلُ وَاْلفِتَنُ وَ مِنْهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ.

Ya Allah berkahilah kami dalam Makkah kami, dan berkahilah kami dalam Madinah kami, dan berkahilah kami dalam Syam kami, dan berkahilah kami dalam Sha’ kami, dan berkahilah kami dalam Mud kami. Seorang bertanya, “Wahai Rasulullah dalam Iraq kami.” Nabi berpaling darinya dan mengulangi tiga kali. Namun tetap saja orang tersebut mengatakan, “Dalam Iraq kami.” Nabi pun berpaling darinya seraya bersabda, “Di sanalah keguncangan dan fitnah dan di sana pula muncul tanduk syetan.”

Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Fudhail dari ayahnya, dia berkata, “Saya mendengar ayahku Salim bin Abdullah bin Umar berkata :

يَا أَهْلَ الْعِرَاقِ مَا أَسْأَلَكُمْ عَنْ الصَّغِيرَةِ وَأَرْكَبَكُمْ لِلْكَبِيرَةِ سَمِعْتُ أَبِي عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْفِتْنَةَ تَجِيءُ مِنْ هَاهُنَا وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنَا الشَّيْطَانِ.

Wahai penduduk Iraq ! alangkah seringnya kalian bertanya tentang masalah-masalah sepele dan alangkah beraninya kalian menerjang dosa besar ! Saya mendengar ayahku Abdullah bin Umar mengatakan, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungghnya fitnah datangnya dari arah sini –beliau sambil mengarahkan tangannya ke arah Timur-, dari situlah muncul tanduk syetan …” (Shahih Muslim 2: 668 no. 2905).

Riwayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa arah Timur dan Nejed yang dimaksud adalah Nejed Irak sebagaimana yang dipahami oleh Salim bin Abdullah bin Umar. Bukan Nejed Saudi seperti yang diasumsikan oleh Ahmad Zaini Dahlan dan yang lainnya, yang menafsirkan hadis tersebut berdasarkan hawa nafsunya.
Untuk lebih menguatkan pendapat tersebut, kita nukil penjelasan-penjelasan para ulama sekitar masalah hadis tersebut. Di antaranya sebagai berikut :
a. Al-Bukhari menjelaskan, Basyir bin Umar bertanya kepada Sahl bin Hanif, “Apakah engkau mendengar Nabi saw mengatakan tentang Khawarij ?” Jawabnya, “Aku mendengar beliau mengatakannya sambil mengisyaratkan tangannya ke arah Iraq. Dari sana akan muncul suatu kaum yang membaca Al Quran tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama bagaikan anak panah menembus sasaran.” (Shahih al-Bukhari 8: 67 no. 6934).
b. Al-Khatabi berkata, “Nejed adalah arah Timur. Bagi penduduk kota Madinah, nejednya adalah Irak dan sekitarnya. Asal makna ‘Nejed’ adalah setiap tanah yang tinggi, lawan dari ‘Ghaur’ yaitu setiap tanah yang rendah seperti Tihamah (sebuah kota di Makkah-pen) dan Makkah. Fitnah itu muncul dari arah Timur, dan dari arah itu pula keluar Ya’juj dan Ma’juj serta Dajjal sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadis.” (I’lam as-Sunan 2:1274).
c. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “(pada akhir kitab tauhid, setelah sabda Nabi saw ‘akan muncul orang-orang dari arah Timur’) Telah berlalu pada kitabul fitan bahwa mereka adalah Khawarij, penjelasan sebab kemunculan mereka, dan apa yang ada pada mereka. Tempat munculnya adalah di Iraq. Karena dlihat dari Makkah tempat itu berada di wilayah Timur.” (Fath al-Bari 15:520).
Demikian pula dijelaskan oleh para ulama lainnya seperti Al-‘Aini dalam Umdah al-Qori 24:200, Al-Kirmani dalam Syarh Shahih al-Bukhari 24:168, dan Al-Qasthalani dalam Irsyad as-Syari 5:181. Dan kitab-kitab kamus bahasa Arab seperti Al-Qamus Al-Muhith oleh Ar-Razi dan Lisan al-Arab oleh Ibnu Mandzur. Dan dalam kitab Gharibul Hadits seperti An-Nihayah fi Gharib al-Hadits oleh Ibnul Atsir.

2. Khabar Terjadinya Fitnah
Sekarang anggaplah bahwa “Nejed” dan arah Timur yang dimaksud hadis di atas adalah Nejed Hijaz. Namun tetap saja, pendapat mereka tidak bisa dibenarkan bagaimanapun. Alasannya, hadis tersebut hanya mengkhabarkan terjadinya fitnah di suatu tempat secara umum, tidak memvonis kepada perorangan, apalagi ditujukan kepada Muhammad bin Abdul Wahhab –sebagaimana diasumsikan oleh mereka-. Ini merupakan tuduhan yang tidak bisa dibenarkan sama sekali, karena terjadinya fitnah di suatu tempat tidaklah mengharuskan tercelanya setiap orang yang bertempat tinggal di tempat tersebut.

Mereka tidak tahu, bahwa orang yang berasal dari negeri yang tercela tidaklah otomatis dia tercela kalau memang dia orang yang shalih. Demikian pula sebaliknya, betapa banyak orang durhaka di Makkah, Madinah dan Syam. Dan apabila kita perhatikan, alangkah bagusnya ungkapan Salman Al-Farisi, “Sesungguhnya negeri yang mulia tidaklah membuat seorangpun menjadi mulia, namun yang membuat mulia ialah amal perbuatannya.”

3. Sejarah Dan Fakta Di Lapangan Membuktikan Kebenaran Hadis Nabi Di Atas
Untuk menjelaskan masalah ini penulis cukul menukil penyataan Ibnu Abdil Bar, ia berkata : “Rasulullah saw mengkhabarkan datangnya fitnah dari arah Timur, dan memang benar secara nyata bahwa kebanyakan fitnah muncul dari Timur dan terjadi di sana. Seperti perang jamal, perang sifin, terbunuhnya Husain, dan lain sebagainya dari fitnah yang terjadi di Iraq dan Khurasan dari dulu hingga sekarang. Hal itu akan sangat panjang kalau mau diuraikan semuanya. Memang, fitnah terjadi di setiap penjuru kota islam, namun terjadinya dari arah Timur jauh lebih banyak.” (Al-Istidzkar 27:248).
Imam Al-Albani juga pernah mengatakan, “Apa yang khabarkan oleh Rasulullah saw telah terbukti. Sebab kebanyakan fitnah besar munculnya di Iraq, seperti peperangan antara Ali dan Mu’awiyah, antara Ali dan Khawarij, antara Ali dan Aisyah, dan sebagainya yang disebutkan dalam kitab-kitab sejarah. Dengan demikian, hadis ini merupakan salah satu mukjizat dan tanda-tanda kenabiannya.” (Takhrij Ahadits Fadha’il Syam Wa Dimasyqy hal. 26-27).
Mengenai kekeliruan yang lainnya, insya Allah kita bahas pada edisi berikutnya.

By : Ahmad Wandi

TAGS: