//Apa Dan Bagaimana Wahabi Itu ? (Bagian 3) Tamat

Apa Dan Bagaimana Wahabi Itu ? (Bagian 3) Tamat

LEMBANG (hayaatunaa.com)-

Apa Dan Bagaimana Wahabi Itu ? (Bagian 3) Tamat

Koreksi Atas Buku “Mutiara Bercahaya Dalam Menolak Paham Wahabi” Karya Ahmad Zaini Dahlan

 

BERDUSTA ATAS NAMA HADIS

Adapun hadis yang dinukil oleh saudara Masun Said Alwy dari kitab “Jala’udz Dzolam Fir Raddi ‘Ala Najdi Al-Ladzi Adholla Awam” oleh Sayyid Alwy Al-Haddad dari Abbas bin Abdul Muthalib, itu tidak diketahui periwayatannya dan tidak ditemukan dalam berbagai kitab hadis apapun. Baik kitab-kitab hadis primer seperti jami’, sunan, musnad, mu’jam, ataupun dalam kitab-kitab hadis yang lainnya.

Dengan ungkapan “al-hadits” saja, itu sudah menunjukkan bahwa hadis tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Jangankan hadis yang tidak diketahui sanadnya, juga asal usulnya, hadis yang lengkap dengan sanadnya saja perlu dikaji lagi secara mendalam untuk membuktikan kebenarannya, bahwa hadis itu betul-betul dari Nabi.

Adapun mengapa persoalannya demikian ? karena tidak sedikit hadis-hadis palsu yang dibuat untuk melegalkan pendapatnya atau kelompoknya dengan mengatasnamakan Nabi saw –sebagaimana sering terjadi dalam study kajian hadis-. Dan tentang masalah ini beliau pernah memberikan ancaman yang sangat keras dalam sabdanya : “Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari)

WAHABI DAN CUKUR RAMBUT !

Adapun pernyataan Ahmad Zaeni Dahlan dan Masun Said Alwy –juga yang lainnya-, bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya dan ini termasuk dalam hadis Nabi saw tentang Khawarij, “tanda mereka adalah cukur rambut.” Ini adalah kedustaan terhadap beliau yang kesekian kalinya.

Untuk menanggapi tuduhan tersebut kita bagi menjadi beberapa point :

  1. Pendapat Muhammad bin Abdul Wahhab Tentang Cukur Rambut

Tatkala beliau membantah tuduhan tersebut, beliau berkata “Ini adalah kedustaan dan kebohongan kepada kami. Seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak mungkin melakukan hal ini. Tidak mencukur rambut kepala bukanlah termasuk kekufuran, bahkan kamipun tidak berpendapat bahwa mencukur rambut adalah sunnah, apalagi wajib, apalagi kufur keluar dari islam bila ditinggalkan.” (ihat, Durar as-Saniyyah 10:275-276)

Ketika belau ditanya, “Dibencikah mencukur rambut kepala selain pada haji dan umrah ?” Jawabnya, “Ada dua riwayat ; pertama : dibenci, berdasarkan sabda Nabi saw tentang Khawarij, tanda mereka adalah bercukur. Kedua : tidak dibenci, berdasarkan larangannya tentang qaza’ (mencukur sebagian rambut dan membiarkan sebagian lainnya), ‘Cukurlah semua atau biarkan semua’(HR. Abu Daud).” Ibnu Abdil Bar berkata, “Para Ulama di setiap tempat bersepakat bolehnya bercukur. Cukuplah ini sebagai hujjah.” (Mukhtashar al-Inshaf wa Syarh al-Kabir 1:28).

  1. Ibadah Cukur Rambut Adalah Syi’ar Khawarij

Adapun ungkapan “Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya”, itu merupakan kesalahan dan kejahilan. Sebab ibadah dengan cukur gundul ini adalah syi’ar aliran sesat Khawarij dan diikuti sebagian Sufi.

Muhamad Rasyid Ridha berkata, “Alasan para ulama membenci cukur rambut dan menganggapnya menyelisihi sunnah karena itu adalah Syi’ar Khawarij dahulu.” (Aridhah al-Ahwadzi 7:256).

  1. Pendapat Muhammad bin Abdul Wahhab Tentang Khawarij

Bagaimana mungkin Muhammad bin Abdul Wahhab dikategorikan termasuk hadis yang disinyalir Nabi saw tentang Khawarij, padahal beliau sendiri berlepas diri dari Khawarij. Perhatikan ucapan beliau ini, “Telah Mutawatir hadis-hadis dari Rasulullah saw tentang ciri-ciri Khawarij, kejelekan mereka dan anjuran memerangi mereka.” (Mukhtashar Sirah ar-Rasul hal. 498).

KHATIMAH

Setelah kita membongkar berbagai macam “kedustaan” terhadap faham Wahabi di atas, ternyata penulis kitab tersebut memutarbalikkan fakta, disamping buku tersebut memuat cerita-cerita yang batil dan menggunakan dalil-dalil shahih bukan pada tempatnya.

Adapun pelajaran yang dapat kita ambil dari kasus tersebut diantaranya adalah :

Pertama, hendaknya kita memahami atau mempelajari makna hadis itu dengan bantuan kitab-kitab syarah (penjelasan) para ulama, agar tidak “ngawur” penafsirannya. Alangkah indahnya ucapan Sufyan bin Uyainah, “Wahai para penuntut ilmu hadis ! pelajarilah makna hadis, sesungguhnya aku mempelajari makna hadis selama tiga puluh tahun.”

Kedua, hendaknya kita selektif dan kritis dalam menerima berita, sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam kitab-Nya : “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al Hujurat :6).

Muhammad Rasyid Ridha pernah berkata, “Sesungguhnya telah sampai kepada para ulama India dan Yaman berita-berita tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Lalu mereka membahas, memeriksa, dan meneliti sebagaimana perintah Allah, hingga jelaslah bagi mereka bahwa para pencelanya adalah pembohong yang tidak amanah.”

Ketiga, hendaknya kita selektif dalam menyampaikan hadis. Di sini kita tidak cukup dengan ungkapan “al-hadits”, tapi harus jujur, yakni menyebutkan siapa yang meriwayatkannya. Demikian pula kita harus waspada dari menyampaikan hadis-hadis lemah (dhaif) dan palsu (maudhu’), karena khawatir termasuk “berdusta atas nama Nabi saw”. Wallahu A’lam Bimuradih.

By; Ahmad Wandi

TAGS: