//Buletin Edisi (2): Mengenal Potensi Diri, Memahami Orang Lain

Buletin Edisi (2): Mengenal Potensi Diri, Memahami Orang Lain

Lembang@hayaatunaa.com-

Sebagai makhluk yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala, sudah semestinya manusia memahami potensi diri yang meruapakan kunci keberhasilan dalam menentukan sikap terbaik. Dengan mencermati ayat-ayat Alquran tentang penciptaan manusia, dapat terungkap dengan jelas siapa sebenarnya kita. Diantaranya, Alquran menerangkan tiga asal penciptaan manusia, yaitu min ‘alaq (QS. Al-‘Alaq:2), min dha’fin (QS. Ar-Rum:54), min ‘ajal (QS. Al-Anbiya:37). ‘Alaq artinya sesuatu yang bergantung kepada sesuatu lainnya yang lebih tinggi (Maqayis al-Lughah-Ibnu Faris). Dha’fin artinya lemah. baik jasad, pikiran, ataupun akal. ‘Ajal artinya tergesa-gesa yang merupakan turunan dari sifat lemah sehingga salah dalam memilih sebuah keputusan.

Dari sejumlah ayat-ayat tersebut dapat kita pahami bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, tergesa-gesa, dan bergantung kepada yang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya demi mendapatkan tujuan yang diinginkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ} ( الزخرف 3

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 32)

Imam Ibnu Katsir memaparkan, “Makna ayat tersebut menjelaskan sekelompok manusia dapat membantu sebagian yang lain untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan, karena yang lemah memerlukan yang kuat dan begitu pula sebaliknya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Dengan demikian, semakin dalam manusia mengenal dirinya, semakin besar pula kebutuhannya kepada orang lain. Tidak sedikit orang yang bersikap sok (berlagak) merasa tidak butuh orang lain, enggan menjalin hubungan baik, dan menolak untuk saling mengenal. Jika sikap seperti itu terus dipelihara, tentu dapat melahirkan bencana dan kerusakan di dunia. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan terciptanya manusia dari seorang laki-laki dan perempuan sehingga menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal, dengan mengenal akan saling mengetahui kekurangan dan kelebihan masing-masing, kemudian saling membutuhkan, dan saling menyayangi antara satu dengan yang lainnya.

Seorang mukmin yang sempurna adalah mereka yang senantiasa saling mencintai dan menyayangi antar sesamanya. Rasulullah sallalahu ‘alaihi wasallam bersabda,

«لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ» صحيح مسلم (1/ 74)

“Kalian tidak akan masuk surga melainkan beriman dan kalian tidak dikatakan beriman melainkan saling menyayangi. Maukah aku tunjukkan kepada kalian atas suatu amal yang jika dilakukan, maka kalian akan saling menyayangi? Sebarluaskanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim, I : 74)

Uniknya, timbul kecintaan antar sesama mukmin bukan karena kebutuhan-kebutuhan duniawi dan kepentingan-kepentingan sesaat, akan tetapi karena kemuliaan yang bersifat langgeng di sisi Allah Taala. Dalam sebuah hadis sahih, Nabi sallalahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ لَأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنَ اللهِ تَعَالَى قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ قَالَ هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوْا بِرُوْحِ اللهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلَا أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا فَوَاللهِ إِنَّ وُجُوْهَهُمْ لَنُوْرٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُوْرٍ لَا يَخَافُوْنَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلَا يَحْزَنُوْنَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ وَقَرَأَ هٰذِهِ الْآيَةَ ( أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ )

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat beberapa manusia yang bukan para Nabi dan bukan orang-orang yang mati syahid. Para Nabi dan orang-orang yang mati syahid merasa iri kepada mereka pada hari Kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah Taala.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau akan menceritakan kepada kami siapakah mereka?” Beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai dengan ruh dari Allah tanpa ada hubungan kekerabatan di antara mereka, dan tanpa adanya harta yang saling mereka berikan. Demi Allah, sesungguhnya wajah mereka adalah cahaya, dan sesungguhnya mereka berada di atas cahaya, tidak merasa takut ketika orang-orang merasa takut, dan tidak bersedih ketika orang-orang merasa bersedih.” Dan beliau membaca ayat ini: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Yunus : 62).” (HR. Abu Dawud)

Dengan demikian, tidaklah pantas apabila sesama mukmin saling mencela, saling merendahkan, saling berprasangka buruk apalagi bermusuhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian saling dengki, jangan tanajusy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jangan pula sebagian kalian menjual di atas jual beli sebagian yang lain, serta jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak boleh menzaliminya, tidak membiarkannya (tanpa memberikan pertolongan), tidak berbohong kepadanya dan tidak menghinakannya. Takwa itu ada di sini   -seraya menunjuk ke hatinya tiga kali-. Cukuplah bagi seseorang suatu keburukan bila ia menghina saudaranya yang Islam. Setiap muslim itu haram: darah, harta dan kehormatan-nya.” (HR. Muslim). Sesama mukmin hendaklah bersinergi, bahu membahu, dan senantiasa mendukung dalam memperjuangkan kebaikan dan amal salih.

Menyayangi sesama mukmin dengan sepenuhnya, bukan hanya dengan memberikan dukungan dan dorongan untuk melakukan kebaikan, namun juga mencegahnya untuk melakukan maksiat dan kemunkaran. Mukmin yang membiarkan saudaranya dalam kesalahan, sesungguhnya adalah mukmin yang membiarkan diri dan saudaranya terjerat dalam lembah laknat.  Allah ta’ala berfirman,

{لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79)} [المائدة: 78، 79]

“Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah: 78–79).

Dukunglah orang-orang mukmin yang senantiasa berjuang menegakkan kebaikan dan kebenaran dengan penuh kecintaan. Ingatkanlah dia ketika melakukan kesalahan dengan penuh rasa sayang bukan dengan dasar prasangka dan kedengkian.

الله يأخذ بأيدينا إلى ما فيه خير للإسلام والمسلمين

Oleh Muslim Nurdin

Asatidz PPI 50 Ciputri Lembang