//Buletin Edisi (3): Pemimpin Terbaik Adalah Imam Yang Adil

Buletin Edisi (3): Pemimpin Terbaik Adalah Imam Yang Adil

Lembang@hayaatunaa.com-

                Pemimpin berasal dari kata pimpin yang berarti “tuntun” dan “bimbing”, jadi pemimpin adalah penuntun dan pembimbing, dalam islam nabi menggunakan kan kata ra’in yang berarti pemimpin. Beliau bersabda,’’ kullukum ra’in, wa kullu ra’in mas-ulun ‘an ra’iyyatih. ‘’setiap kamu adalah pemimpin, dan tiap pemimpin  akan dimintai pertanggung jawaban kepemimpinannya di kemudian hari.

            Sangat menarik untuk dicermati kenapa nabi menggunakan kata ra’in yang berarti gembala untuk pemimpin, dan bukan kata said dan na’is yang arti harfiyahnya lebih dekat dengan arti pemimpin itu sendiri. Ada perbedaan mendasar antara arti ra’in, said dan atau ra’is. Ra’in berarti pengembala. Disini, seorang pemimpin berfungsi sebagai pelayan, pembimbing, penuntun, dan sekaligus pelindung. Sebagi pelayan, pemimpin dalah khadim atau abadi yang senantiasa mendahulukan hak-hak kepentingan rakyatnya dibanding kepentingan pribadi maupun golongan. Sebagi pemimpin atau penuntun, pemimpin adalah penunjuk jalan yang senantiasa ada bersama masyarakatnya untuk mencerdaskan mereka, menjauhkan mereka dari kebodohan dan keterbelakangan.[Prof, Dr, H, alaiddin Koto, MA, islam indonesia dan kepemimpinan nasional, (ciputat: ciputat press, 2009). H, 4]

            Menurut istilah imam adalah “seorang yang memengang jabatan umum dalam urusan agama dan dunia sekaligus”. Penyetaraan kata imam dan kata khalifah karena disejajarkan dengan kedudukan seorang imam shalat jamaah dalam hal kepemimpinan yang harus diikuti. Sebagaimana halnya sebutan khalifah, muncul dari fungsinya menggantikan kepemimpinan Rasul bagi umat.[Dr. suyuthi pulungan, MA fiqih siyasah rajagrapindo Jakarta, 2002 hlm 59]

            Didalam hadits pun imam itu ada yang baik dan ada yang buruk, dan imam yang baik adalah imam yang mencintai dan mendo’akan rakyatnya, serta dicintai dan dido’akan oleh rakyatnya, sedangkan imam yang buruk adalah imam yang membenci rakyatnya dan dibenci serta dilaknat rakyatnya.

            Oleh karena itu, imam merupakan orang yang diikuti oleh suatu kaum. Kata imam lebih banyak digunakan, untuk orang yang membawa kepada kebaikan. Disamping itu kata-kata imam sering dikaitkan dengan shalat, biasanya kata imam hanya digunakan untuk menyebut seseorang yang memimpin didalam bidang agama.

 Adapun kata-kata imama dita’rifkan oleh al-Mawardi dengan:

اَلْإِمَامَةُ مَوْعَةُ الْخِلَا فَةِ النُّبُوَةِ فِى حِرَاسَةِ الدِّيْنِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا

“Imamah adalah suatu keadaaan/jabatan yang diadakan untuk menganti tugas kanabian di dalam memelihara agama dan mengendalikan dunia”.

Imam disyaratkan untuk memahami sekaligus malaksanakan makna dari ayat:

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.”(Q.S. al maidah 51)

 Jadi imam tidak ada sangkut pautnya dengan timur, barat, yahudi didalam pandangan islam. Kemerdekaan politik senantiasa masih kurang selama kaum muslimin bergantung pada orang-orang non muslim didalam persenjataan, perekonomian, kebudayaan. Kebebasan tidak akan pernah ada meskipun kebebasan berdemokrasi telah terwujud sepenuhnya, baik dimedia masa maupun di parlemen selama pemikiran islam dan pelaksanaan hukum-hukum islam tidak terealisasi.

            Kemudian Seorang imam harus berasal dari laki-laki,

 الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)(Q.S.annisa’;34)

            Seoarang imam diwajibkan berilmu, bukan hanya sebatas ilmu tentang islam saja, akan tetapi juga ilmu tentang ilmu-ilmu kontemporer. Hal yang terpenting diantara ilmu-ilmu tersebut adalah dia harus mempunyai perhatian dan kepedulian yang besar tehadap sejarah dan perjalanannya, serta memiliki potensi secara komprehensif serta mempunyai pengamatan yang cerdik terhadap dimensi keadaan dunia secara universal dan mampu memprediksi masa depan berdasarkan sejarah masa lampau, serta seorang imam harus memiliki intuisi politik, visi dan misi yang jelas dan obsesi yang dapat direalisasikan.

            Ilmu yang hanya bertaklid kepada orang –orang yang berilmu juga tidak cukup bagi seorang imam. Akan tetapi dia juga harus menjadi seorang mujtahid yang akan memberi nuansa baru terhadap ilmu politik dan memecahkan masalah-masalah. Karena seorang imam selalu berada di depan, sebagai pedoman dan yang bertanggung jawab terhadap masyarakatnya (yang dipimpinnya)

            Sesuatu yang tidak dapat ditawar lagi, karena dari sinilah langkah awal terciptanya kepemimpinan yang sebenarnya, dari keadilan terciptalah hak-hak asasi manusia, demokrasi penguasa untuk rakyat, lahir pula keadilan sosial, undang-undang, serta ilmu pengetahuan yang tinggi. Dan dari keadilan itu akan lahir hukum halal, haram, pahala, dan hukuman. Keadilan adalah sumber kehidupan bagi politik, ia menghidupkan segala sesuatu.

            Dalam menjalankan kepemimpinannya seorang imam juga memiliki hak-hak perogatif yaitu hak untuk ditaati dan hak untuk dibantu, serta hak untuk mendapatkan imbalan berupa harta dari baitul mal untuk keperluan hidupnya, dan keluarganya secara patut sesuai dengan kedudukannya sebagai imam.

Wajib bagi setiap muslim untuk mendengar dan taat kepada pemimpinnya baik dia senang maupun tidak selama pemimpin itu tidak menyuruh melakukan maksiat. Apabila dia memerintahkan untuk melakukan maksiat maka tidak perlu untuk mendengarkan dan menaatinya. Hak akan datang apabila kewajiban itu sudah terpanuhi dan terlaksana dengan baik. Banyak ulama-ulama besar merumuskan tentang apasaja yang menjadi kewajiban dari seorang imam, akan tetapi apabila ditinjau dari maqasidu syari’ah, maka kewajiban dari imam tidak akan terlepas dari poin berikut:

  1. Yang dharuri (urgen) meliputi hifdh al-din, hifdh an-nafs, hifdh al-mal, hifdh ummah, dalam arti yang universal
  2. Yang mengarah kepada kemudahan-kemudahan dalam menjalankan tugas.
  3. Yang mengarah kepada terpeliharanya rasa keindahan dan seni dalam batas-batas ajaran islam

Secara garis besar seorang imam harus menjaga dan melindungi hak-hak rakyat dan mewujudkan hak asasi manusia, seperti hak milik, hak hidup, hak mengemukakan pendapat dengan baik dan benar, dan lain-lain. Maka berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pemimpin terbaik adalah imam yang adil.”wallohu’alam

By: Aa Hakim

Asatidz PPI 50 Ciputri Lembang