//Daulah Utsmaniyah dimasa Sultan Muhammad II

Daulah Utsmaniyah dimasa Sultan Muhammad II

Abstrak

Daulah Utsmani merupakan dinasti yang berkuasa selama enam abad lamanya, didirikan oleh Sultan Utsman bin Ertoghrul, misi utama Turki utsmani adalah melakukan ekspansi wilayah salah satunya dengan menaklulan Konstantinopel, hal itu selaras dengan yang disabdakan oleh Nabi Saw riwayat Ahmad. Penaklukan Konstantinopel baru terwujud dimasa Sultan Muhammad II, iamerupakan sosok yang bijaksana dan melegenda hingga kini, selain menaklukkan Konstantinopel ia juga membawa kemajuan dibidang yang lainnya, seperti membangun akademi sekolah, sampai membangun kekuatan militer.

Pendahuluan

Pada abad pertengahan (sekitar abad ke-14 sampai abad ke-19) dalam dunia Islam setidaknya ada tiga kerajaan besar yang menjadi pemimpin peradaban di dunia Islam. Tercatat ada kerajaan Turki Utsmani, kerajaan Syafawi, dan kerajaan Mughal.[2] Ketiga kerajaan tersebut memiliki peran dan ciri khas nya masing-masing, Turki Utsmani dengan keunggulan dibidang militernya, kemudian Kerajaan Syafawi dengan usahanya membangkitkan tradisi intelektual umat Muslim, dan kerajaan Mughal dengan peran sebagai dinasti yang mengakarkan kembali Islam.[3]

Diantara ketiga kerajaan diatas yang pertama kali muncul dan paling lama bertahan adalah Turki Utsmani.[4] Kerajaan ini muncul di awal abad ke-14 dan berakhir di abad ke-20, pendiri kerajaan ini adalah Usman bin Ertogrul[5] dan diteruskan oleh keturunannya. Yang menjadi sorotan di kepemimpinan Turki Usmani ini adalah Sultan Muhammad II yang berhasil merebut Konstantinopel dari dominasi umat Nasrani.

Insya Allah pada artikel ini penulis akan membahas masa kepemimpinan Muhammad II dari Turki Utsmani yang dirasa penulis sangat penting untuk mengetahui biografi dan kepemimpinan beliau termasuk ketika menghancurkan Konstantinopel, dimana sejarah ini masih banyak orang yang belum mengetahuinya, juga banyak ibrah yang dapat diambil dari sejarah ini yang mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi manfaat bagi yang membacanya, terkhusus penulis sebagai penyusunnya.

Sejarah Berdirinya Daulah Utsmaniyah

Turki Utsmani lahir dari bangsa Turki suku Oghuz yang mendiami wilayah Mongol. Karena desakan dari pihak mongol mereka akhirnya mendiami wilayah dataran tinggi Asia Kecil dibawah lindungan saudara semuslim Turki saljuk.[6]

Dimasa pimpinan Ertogrul, ia membantu Sultan Alaudin II dari Turki Saljuk yang berperang dengan Bizantium, berkat bantuan dari kabilah Oghuz ini Turki Saljuk berhasil mengalahkan Bizantium, dan mereka menghadiahkan Asia Kecil yang berbatasan dengan Bizantium kepada Ertogrul. Akhirnya mereka menjadikan Syukud sebagai Ibukota kerajaan baru mereka.[7]

Ertogrul wafat tahun 1289 dan digantikan oleh putranya, Usman. Putra Ertoghrul inilah yang dianggap sebagai pendiri Daulah Utsmaniyyah.[8] Corak kepemimpinan kerajaan ini bersifat Monarki, dimana menurunkan tahta pada keturunannya, dimulai dari Ertogrul yang digantikan Usman, kemudian Usman digantikan oleh anaknya, dst.

Pemimpin Utsmani Sebelum Sultan Muhammad II

Sebelum Sultan Muhammad II memimpin, ada beberapa pemimpin terdahulunya, diantaranya:

Sultan Usman bin Ertoghrul, beliau banyak membantu Sultan Alaudin II dalam perluasan wilayah, sampai ketika Alaudin II terbunuh Usman menyatakan diri untuk merdeka dan berkuasa penuh atas daerah yang dimilikinya, ia banyak melakukan perluasan wilayah sampai pada tahun 1317 menaklukan Broessa, dan menjadikannya ibukota di tahun 1326.[9]

Sepeninggal Usman yang wafat ditahun 1326, kepemimpinan dilanjutkan oleh anaknya Sultan Orkan yang memerintah 1326-1359 M. Kemudian dilanjut oleh putranya Sultan Murad I yang menjabat dari tahun 1359-1389 M. Sepeninggal sultan Murad I, kerjaan ini diteruskan putranya Sultan Bayazid I yang bertugas dari tahun 1389-1403 M.[10]

Setelah kepemimpinan Bayazid I, terjadi perebutan kekuasaan diantara anak-anaknya yaitu Sulaiman, Musa, dan Muhammad. Sedangkan sejak semula sudah dinyatakan bahwa Muhammad adalah pengganti dari Bayazid, akhirnya Sulaiman berkuasa dari tahun 1403-1410 M, kemudian Musa 1410-1413 M, setelah itu kepemimpinan kembali ketangan Sultan yang sah yaitu Sultan Muhammad I yang berkuasa dari 1413-1421 M, tugas utama sultan pada saat itu bukan ekspansi wilayah lagi, tapi lebih ke meredakan pemberontakan dari dalam kerajaan atau mengokohkan sendi-dendi kerajaan.[11]

Setelah wafatnya Muhammad I, kepemimpinan dilanjut oleh anaknya Sultan Murad II, yang memerintah dari tahun 1421-1451 M.[12]

Setelah wafatnya sultan Murad II, barulah tonggak kepemimpinan dilanjutkan oleh anaknya, yaitu Muhammad II atau sering disebut Muhammad Al-Fatih.

Biografi Muhammad II

Beliau adalah Muhammad bin Murrad, beliau merupakan Sultan Utsmani ke-7 dalam silsilah kerajaan Turki Utsmani. Beliau bergelar Al-Fatih (sang penakluk), Ia memerintah menggantikan ayahnya yaitu Murrad yang wafat pada tanggal 16 Muharram 855 H, bertepatan pada tanggal 18 Februari 1451 M, saat itu ia berumur 22 tahun.[13]

Sultan Muhammad II berkepribadian sangat komplit dimana ia menggabungkan antara kekuatan dan keadilan, saat masih kecil dan ketika bersekolahpun ia sangat tanggapuntuk mencerna ilmu pengetahuan dan seringkali mengungguli teman-teman sebayanya. Dia memiliki pengetahuan sangat luas, tapi sangat cenderung pada ilmu bahasa, dan kesejarahan, hal ini ingin memantapkan kepribadiannya dalam urusan manajemen dan administrasi negara, serta penguasaan medan dan strategi perang.tidak heran bila suatu saat Muhammad II jadi sosok sultan idaman.[14]

Sultan Muhammad II wafat pada tahun 887 H /1481 M di usia 51 tahun, dan dimakamkan di dekat masjid megah yang dibangunnya di Konstantinopel / Istanbul, kedudukannya sebagai khalifah pun digantikan oleh Anaknya, Bayazid II.[15]

Kepemimpinan dimasa Sultan Muhammad II

Dimasa kepemimpinan Sultan Muhammad II, dari banyaknya literatur tentang Daulah Utsmani menjelaskan bahwa dibawah kepemimpinan Muhammad II seolah terpusat pada penaklukan Konstantinopel, padahal memang penaklukan konstantinopel menjadi misi utama terkhusus bagi Sultan Muhammad II akan tetapi banyak juga peradaban maju yang dicapai oleh sultan Muhammad II, diantaranya:

Penaklukan Konstantinopel

Cita-cita menaklukan konstantinopel ini sudah tercatat dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dalam Musnad Jilid 4: 335, yang artinya:

“Konstantinopel akan bisa ditaklukkan dengan tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah disana adalah sebaik-baiknya pemimpin/penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara”

Cita-cita itu yang tertanam dalam jiwa pemimpin Utsmani, hingga baru terrealisasi pada kepemimpina Sultan Muhammad II. Karena memiliki pasukan yang sangat baik,itu memudahkan Sultan untuk menaklukkan Konstantinopel. Selain itu peran ulama dan juga para penyair yang terus memotivasi Sultan dan juga para pasukan hingga makin berkobarrlah semangat juang dan jihad mereka. Perang dimulai pada tanggal 26  Rabiul Awal 857 H/ 6 April 1453 M dengan pasukan Utsmani berjumlah 250.000.[16]

Tepat pada hari Selasa, 20 Jumadi Ula 857 H/ 29 Mei 1453 M, Konstantinopel berhasil Sultan taklukkan, ultan pun memberikan ucapan selamat kepada para panglima perang dan juga semua pasukan.[17]

Penaklukkan konstantinopel ini ditebus dengan perjuangan yang sangat hebat oleh Sultan Muhammad II, dimana ia mengahadapi musuh bukan hanya dari luar, tapi dalam pemerintahannya pun ada. Dengan segala doa, ikhtiar dan tawakkal yang dilakukan oleh Sultan, akhirnya Konstantinopel jatuh juga.

Membangun Akademi dan Sekolah

Dalam hal ini Sultan Muhammad II melampaui prestasi kakek-kakeknya, dimana ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membangun sekolah dan menyebarkan ilmupengetahuan. Dia juga merubah sistem pengajaran, mengawasi kurikulum, dan mengembangkan sistem dan model-model pendidikan.[18]

Disamping pembanguna mesjid yang dilakukan oleh Sultan, dibuatkan juga sekolah di pinngirnya, jumlah pada saat itu ada delapan sekolah, yang empat diantaranya memiliki ruangan yang luas, dan dibuatkan juga asrama untuk para siswa. Sistem pendidikan yang dipakai oleh sekolah-sekolah Utsmani adalah sistem jurusan, dimana Ilmu Naqliyah (Nash) dan teori memiliki jurusan Khusus demikian juga dengan ilmu terapan, dan ilmu-ilmu yang lain.[19]

Kepeduliannya Terhadap Ulama

Sultan Muhammad sangat dekat ulama dan juga mengangkat posisi mereka. Sultan menghormati mereka dengan penghormatan yang tinggi. Tidak sekali pun Sultan mendengar alim ulama yang ditimpa kesulitan hidup atau kelaparan, kecuali dia datang kepadanya dan memberikan semua yang ulama tersebut butuhkan. Ulama yang ada di zaman Sultan Muhammad II, diantaranya: Aaq Syamsuddin (Muhammad bin Hamzah Ad-Dimasyqi Ar-Rumi), Ahmad Jalabi bin As-Sulthan Amir Ali, Qadhi Muhammad Asy-Syarihi, Syaikh Al-Kurani, dan masih banyak lagi.[20]

Perhatiannya terhadap Penyair dan Sastrawan

Penyair dan Sastrawan pun memiliki tempat khusus di pemerintahan Sultan Muhammad II, dimana para penyair hidup sejahtera, aman dan sentosa. Sultan Muhammad II memiliki 30 penyair yang semuanya diberi gaji pokok perbulan sebanyak 1000 dirham, jadi wajar saja jika para penyair mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Diantara penyair termasyhur kala itu: Ahmad Pasha Mahmud, Mahmud Pasha, Qashim Al-Jaziri, dan masih banyak lagi.[21]

Perhatiannya pada Bidang Penerjemahan

Agar munculnya kembali khazanah intelktual dalam dunia Islam, Sultan berinisiatif untuk menerjemahkan kembali kitab Yunani, Persia, Latin dan Arab ke bahasa Turki. Saslah satu buku yangditerjemahkan adalah buku Masyahir Rijal karya karya Poltark. Buku lain yang diterjemahkan ke dalam bahasa Turki adalah buku At-Tashrif Fit Thibbi karya Abul Qasim Az-Zahrawi Al-Andalusi.[22]

Pembangunan Fasilitas Umum

Setelah membangun akadeemi dan sekolah untuk umat Islam, Sultan pun membangunkan fasilitas umum berupa Masjid, Rumah Sakit, Toko-toko, Wc Umum, Pasar-pasar Besar, Taman-taman Umum, dll. Sultan pula mengalirkan air kedalam kota melalui jembatan khusus, dia juga mendorong para Aghniya (orang kaya), para menteri, dan orang terpandang untuk membantu dalam hal pengembangan infrastruktur pembangunan kota.[23]

Pengembangan Tentara dan Armada Laut

Masa Sultan Muhammad II merupakan masa dimana jumlah pasukan yang istimewa, selain jumlahnya yang banyak, pasukan Utsmani juga memiliki skill yang sangat baik. Sultan juga membangun industri untuk pakaian militer, kebutuhan pelana, tameng, dan alat perang lainnya. Disana juga dilakukan pengelompokkan pasukan dengan sangat telitidan rapi yang terdiri dari pasukan berkuda,pemanah, pejalan kaki, pasukan pengawal meriam dan pasukan cadangan yang memberikan bantuan pada pasukan tempur dari unsur-unsur logistik seperti bahan bakar, makanan, pakaian, pakan hewan, membuat lumbung makanan, dan lain sebagainya.[24]

Perhatiannya pada Keadilan

Seperti halnya Sultan Utsmani terdahulunya, Sultan Muhammad II sangat memperhatikan terpeliharanya keadilan diseluruh pelosok wilayah Utsmani. Untuk menetahui kondisi masyarakat, sultan membentuk tim intelejen negara yang bertugas mengumpulkan semua informasi dan kabar yang berhubungan dengan masalah kesultanan. Hal itu ditunjukan agar Sulatn mengetahui keadaan masyarakat dan mampu mengorganisir pemerintahan yang adil.[25]

 

Oleh : Ihsan Fadilla[1]

 

Daftar Pustaka

Ash-Shalabi, Prof. Dr. Ali Muhammad. 2003. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (terj). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar

Kusdiana, Ading. 2013. Sejarah dan Kebudayaan Islam Periode Pertengahan. Bandung: CV Pustaka Setia

Nasution, Syamuddin. 2007. Sejarah peradaban Islam. Riau: Yayasan Pustaka Riau

Yatim, Badri. 1993. Sejarah Perdaban Islam. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

[1] Penulis merupakan Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam IIIb, dengan Nim 1165010074

[2] Kusdiana, Ading. 2013. Sejarah dan Kebudayaan Islam Periode Pertengahan. Bandung: CV Pustaka Setia.

[3] Kusdiana, Ading. 2013. Sejarah dan Kebudayaan Islam Periode Pertengahan. Bandung: CV Pustaka Setia.

[4] Yatim, Badri. 1993. Sejarah Perdaban Islam. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Hlm 129

[5] Kusdiana, Ading. 2013. Sejarah dan Kebudayaan Islam Periode Pertengahan. Bandung: CV Pustaka Setia. Hlm 138.

[6] Nasution, Syamuddin. 2007. Sejarah peradaban Islam. Riau: Yayasan Pustaka Riau. Hlm 283

[7] Yatim, Badri. 1993. Sejarah Perdaban Islam. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Hlm 130

[8] Yatim, Badri. 1993. Sejarah Perdaban Islam. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Hlm 130

[9] Nasution, Syamuddin. 2007. Sejarah peradaban Islam. Riau: Yayasan Pustaka Riau. Hlm 284

[10] Kusdiana, Ading. 2013. Sejarah dan Kebudayaan Islam Periode Pertengahan. Bandung: CV Pustaka Setia. Hlm 124-125

[11] Kusdiana, Ading. 2013. Sejarah dan Kebudayaan Islam Periode Pertengahan. Bandung: CV Pustaka Setia. Hlm 125-126

[12] Ash-Shalabi, Prof. Dr. Ali Muhammad. 2003. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (terj). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hlm 85

[13] Ash-Shalabi, Prof. Dr. Ali Muhammad. 2003. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (terj). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hlm 96

[14] Ash-Shalabi, Prof. Dr. Ali Muhammad. 2003. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (terj). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hlm 96

[15] Nasution, Syamuddin. 2007. Sejarah peradaban Islam. Riau: Yayasan Pustaka Riau. Hlm 293

[16] Ash-Shalabi, Prof. Dr. Ali Muhammad. 2003. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (terj). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hlm 105

[17] Ash-Shalabi, Prof. Dr. Ali Muhammad. 2003. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (terj). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hlm 128

[18] Ash-Shalabi, Prof. Dr. Ali Muhammad. 2003. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (terj). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hlm 168

[19] Ash-Shalabi, Prof. Dr. Ali Muhammad. 2003. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (terj). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hlm 167

[20] Ash-Shalabi, Prof. Dr. Ali Muhammad. 2003. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (terj). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hlm 169-172

[21] Ash-Shalabi, Prof. Dr. Ali Muhammad. 2003. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (terj). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hlm 172

[22] Ash-Shalabi, Prof. Dr. Ali Muhammad. 2003. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (terj). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hlm 173

[23] Ash-Shalabi, Prof. Dr. Ali Muhammad. 2003. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (terj). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hlm 174

[24] Ash-Shalabi, Prof. Dr. Ali Muhammad. 2003. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (terj). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hlm 177

[25] Ash-Shalabi, Prof. Dr. Ali Muhammad. 2003. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (terj). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hlm 178-180