//EROTISME

EROTISME

Selayang Pandang Karya dan Pemikiran K.H Shiddiq Amien

Nama K.H. Shiddiq Amien sudah tidak asing lagi dikalangan jam’iyyah Persatuan Islam sebagai seorang ulama, intelektual, pemimpin, serta organisatoris yang sudah tidak diragukan lagi kiprahnya dalam membina ummat, khususnya dilingkungan Persatuan Islam. Beliau mampu menyatukan tradisi keulamaan dan keintelektualan secara sinergis, dengan harmonisasi yang cukup terintegritas dalam satu wawasan berfikir yang matang. Tidak ada karya beliau yang paling membekas dihati ummat, khususnya jam’iyyah Persatuan Islam, selain dari kiprahnya yang telah membawa perwajahan Persatuan Islam ke kancah kegemilangan dengan lebih terbuka serta adaptif dalam menghadapi maupun menyikapi persoalan umat yang beranjak ketahap kontemporer.

K.H. Shiddiq Amien, melalui kapasitasnya sebagai ulama dan intelektual, telah banyak melahirkan karya-karya yang sarat akan bahan pemikiran dan selalu renyah serta hangat untuk dikaji kembali. Di antara beberapa tulisannya adalah bentuk sikap serta pandangan beliau dalam beberapa kasus ataupun persoalan yang hangat-hangatnya terjadi pada waktu itu. Namun walau demikian, persoalan yang dikaji maupun di kritik oleh beliau pada saat itu dan untuk waktu itu, ternyata menjadi resep untuk menghadapi persoalan hingga beberapa tahun setelahnya. Sebagai contoh adalah tulisan beliau dengan judul “Erotisme” yang ditulis pada tahun 2000 dengan begitu lugasnya menguraikan secara hati-hati dan teliti persoalan sosial yang menjadi virus masyarakat.  Kiranya akan lebih terasa dan sampai kepada kita sebuah titik kritik sosial masyarakat dari pemikiran K.H. Shiddiq Amien tersebut apabila sama-sama kita kaji kembali. Dengan begitu, kita akan menemukan bahwa pemikiran beliau yang dituangkan melalui tulisannya ini akan selalu hangat dan siap saji untuk dikaji kapanpun sehingga sangat perlu dan amat penting untuk di publikasikan kembali… (Tim Hayaatunaa.com)

EROTISME

Dari sekian banyak persoalan yang menjadi perhatian dan keprihatinan banyak pihak, khususnya orang-orang beriman,  adalah maslah erotisme, sensualitas, pornografi, pornoaksi alias pamer aurat yang semakin berani, baik di media cetak, media elektronik, (dalam wujud film, vidio-klip, iklan, drama, telenovela, dsb.),  maupun di tempat-tempat umum, seperti di pasar, di angkutan umum, di pertokoan, dsb.

Lebih memprihatinkan lagi ketika semua itu didukung pula oleh banyak kalangan, seperti tokoh politik, pemuka masyarakat, artis dan selibritis,  bahkan pemuka agama, tak terkecuali kalangan feminisme yang selama ini sering berdemo tentang semakin eskalatifnya pelecehan seksual dan pemerkosaan. Terlebih-lebih oleh kalangan media yang  merasa sangat diuntungkan secara material dengan tampilan erotis tersebut. Kelompok pendukung tersebut begitu gencar diekspos dan dilansir di media mereka, sepertinya dijadikan sebagai bumper pembenar. Sementara pihak-pihak yang memprotes tampilan-tampilan erotis seperti MUI, Ormas Islam, Da’I dan Mubalgh seolah menjadi ‘ terdakwa ‘ yang disalahkan dan dihujat !

Banyak argumentasi yang mereka kemukakan untuk mendukung dan membela erotisme tersebut. Mulai dari alasan Hak Asasi Manusia  (HAM), kebebasan berkreasi, berekspresi, kebebasan mencari nafkah, bahkan ada yang menyatakan bahwa seni tidak ada kaitan dengan agama. Bukankah semua kebebasan itu dibatasi pula oleh kebebasan orang lain,  oleh etika, oleh moral terutama oleh nilai-nilai agama? Mengapa koruptor dan WTS atau PSK dipersoalkan ? bukankah mereka juga melakukan semua itu dalam rangka mencari nafkah ? Mencari nafkah dalam Islam bisa dibilang wajib hukumnya, tapi tidak dengan menghalalkan segala cara. Sementara pernyataan bahwa seni tidak ada kaitan dengan agama kiranya hanya layak keluar dari mulut orang yang tidak beragama.

Ada pihak yang mempertanyakan batasan erotisme tersebut. Bagi kalangan non muslim mungkin sulit mencari rujukan dan standar. Apalagi jika yang dijadikan rujukannya hanya otak dan perasaan, tentu saja akan menjadi bias, karena fikiran dan perasaan manusia berbeda-beda. Tapi bagi muslimin tidaklah sulit, hadits Nabi saw. riwayat Abu Daud yang menerangkan ketika sahabat bernama  “ Asma “ masuk ke rumah Nabi saw memakai baju yang tipis kainnya, Nabi saw berpaling darinya dan menegurnya dengan menyatakan : “ Hai Asma sesungguhnya wanita itu jika sudah dewasa tidak boleh memperlihatkan sekujur tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan “. Hadits ini sudah bisa dijadikan sebagai rujukan .

Kondisi yang sedang terjadi saat ini mengingatkan kita kepada firman Allah di QS. Al-Baqarah : 204-205 yang menerangkan bahwa di antara manusia ada orang-orang yang jika ngomong mengagumkan orang lain, ( diliput media , dikerubuti wartawan, lalu jadi berita, jadi rujukan ) bahkan mereka mempersaksikan kepada Allah apa yang ada dalam hatinya ( dalil agama juga dipakai untuk memperkuat argumentasinya ) padahal mereka itu penentang agama yang keras. Jika mereka berpaling ( dari depan publik, dari hadapan wartawan, dsb ) mereka berusaha di muka bumi ini untuk membuat kerusakan, mereka merusak wanita dan generasi muda .

Keturunan dan generasi muda dirusak  moralnya melalui berbagai budaya yang distortif, seperti budaya bebas bergaul, free love, free sex, miras, Narkoba, pornografi, pornoaksi, dsb.  Akidah dan keyakinan mereka dirusak melalui tayangan-tayangan dan bacaan serta prilaku mistis, takhayul dan syirik.  Dalam kasus RUU Sisdiknas yang pengesahannya diundur-undur karena ada sekelompok orang yang tidak setuju adanya kata iman, taqwa dan akhlaq mulia, dalam RUU tersebut. Mereka menuntut ketiga kata itu dihapus. Mereka juga menginginkan pendidikan agama dihapus dari sekolah.

Berbagai dalih dan alasan mereka kemukakan, dalam rangka menjauhkan anak dan keturunan kita dari nilai-nilai agama, keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia.   semuanya  itu merupakan bagian dari usaha , skenario dan strategi mereka menghancurkan generasi muda dan keturunan kita seperti diisyaratkan ayat di atas.

Kaum wanita dirusak melalui eksploitasi auratnya, dijadikan daya tarik pembaca, dan pemirsa, yang target berikutnya mengeruk keuntungan materi. Sekedar contoh, kalau kita membandingkan film-film Kung-fu Cina, pemain wanitanya bisa dibilang tampil sopan jika dibanding dengan tampilan film-film silat atau action made ini Indonesia, yang dieksploitasi oleh sutradara atau produsen film kalau bukan takhayul atau cerita mistis dan berbau syirik adalah aurat. Atau seperti dilansir beberapa situs internet dan buku seperti buku Jakarta under cover Sex’n the city yang memberitakan adanya beberapa hotel tertentu,  di Jakarta, pada malam-malam tertentu menggelar tarian nudis, wanita-wanita cantik menari-nari di atas pentas tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Yang bisa menontonnya harus menjadi member dengan iyuran sebesar 50 juta rupiah. (Subhanallah!).

Kalangan feminis yang selalu mengusung jargon kesetaraan gender dan emansipasi wanita, serta sering berdemo karena banyaknya pelecehan seksual dan pemerkosaan, bukan malah memprotes tampilan-tampilan erotis, tapi mendukungnya. Bukankah banyaknya pelecehan dan pemerkosaan itu kesalahannya tidak bisa sepenuhnya ditimpakan kepada kaum lelaki, jika justru kaum wanitanya tampil seronok dan erotis ?

Upaya penistaan dan perendahan terhadap martabat wanita juga dilakukan melaluibisnis wanita ,  banyak wanita yang dijadikan komoditi, jadi barang dagangan oleh germo, dan mucikari.  Banyak bar, karauke, billiard, night-club, yang hanya dijadikan kedok, di belakangnya adalah bisnis esek-esek. Salon kecantikanpun  mulai  banyak di salah gunakan, menjadi salon genit dengan usaha serupa.

Kiranya patut kira renungkan kembali Sebuah hadits Nabi saw.yang mengingatkan :  “ Kelak di hari kiamat ada dua kelompok manusia yang masuk nerakanya paling akhir. Satu,  Orang-orang dengan pecut di tangan, mereka memukuli orang dengan pecut itu ( Para Pemimpin yang zalim ); dua, wanita yang dibaju tapi tampak auratnya, pantatnya bergoyang-goyang, kepalanya seperti tengkuk unta yang miring-miring; ( Wanita yang erotis dan genit ); mereka tidak akan masuk surga, bahkan tidak akan mencium wanginya surga.  HR. Muslim.  Wallahu a’lam

By : K.H. Shiddiq Amien (th : 2000)