//ISTIFTA – Fa bi ayyi ‘ala dan wailuyyaumaidzin

ISTIFTA – Fa bi ayyi ‘ala dan wailuyyaumaidzin

Lembang – hayaatunaa.com

Soal:
Apakah ada hubungannya antara ayat “fabiayyi ala irobbikuma tukazziban” dalam surat Ar Rahman yang diulang sebanyak 31 kali dengan ayat “Wailuy yauma ‘idzil lil-mukadzibin” dalam al-mursalat yang diulang-ulang sebanyak 10 kali?

Jawab:

Adapun yang dimaksud diulang sebanyak 10 kali firman Allah SWT di dalam surat al-mursalat adalah:

وَيۡلٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ لِّلۡمُكَذِّبِيۡنَ

Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran).

Firman Allah ini Diulangi sampai 9 kali titik maknanya ialah betapa binasanya orang-orang yang mendustakan titik Allah SWT telah menciptakan alam semesta dan mengatur sedemikian rupa dengan ukuran yang teramat tepat dan sempurna. Lalu Allah SWT mencaci dan mengingatkan dengan keras betapa Celakanya orang-orang yang mendustakan hal itu. Selanjutnya, kepada penciptaan manusia sedemikian dari barang atau air yang hina lalu jadi makhluk terbaik dengan ukuran yang akurat. Demikian pula Allah SWT melanjutkan bagaimana Allah SWT menghidupkan bumi untuk kehidupan manusia. Lalu, diakhiri dengan ancaman azab neraka dengan segala kengeriannya dan kebahagiaan surga dengan segala keindahannya dan suguhannya. Jadi, surat ini dengan ancaman Allah SWT atas orang-orang yang mendustakan Allah SWT dan kemahakuasaan-Nya. Demikian Allah SWT mengulang-ulang nya agar manusia beriman dan tidak mendustakan-Nya.

Pada surat Ar Rahman sebanyak 31 kali Allah berfirman:

فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Allah SWT telah mengajarkan Alquran menerangkan mengenai manusia dan alam semesta titik selanjutnya, Allah SWT memerintahkan manusia agar berbuat jujur, amanah, dan tidak culas. Demikian pula mengenai penciptaan manusia. Lalu Allah SWT menegaskan bahwa semua makhluk-Nya akan mengalami kehancuran dan tinggallah dia, Allah SWT. Yang Maha Pencipta. Kejadian kiamat akan mengakhiri kehidupan manusia dengan kehancuran alam ini. Lalu, manusia akan dihadapkan pada situasi manusia dan jin tidak dapat mengelak dari akibat dosa yang dikerjakan di dunia ini. Maka manusia yang tidak beriman dan jauh dari rasa syukur kepada yang Maha Pencipta, Allah SWT menyindir dan mencaci mereka dengan ancaman azab-Nya.

Jadi, pada dasarnya secara makna, kedua surat ini banyak kesamaan, yakni cacian dan peringatan keras dengan ancaman terhadap manusia-manusia yang mendustakan Allah SWT dan segala nikmat yang telah dianugerahkan-Nya. Terutama ancaman hari akhirat.

Sumber: Istifta Tanya Jawab Hukum Islam Kontemporer

Admin: Zaenal Mutaqin