//Hati-hati!, Iblis Merasuki Diri dengan Kesombongan

Hati-hati!, Iblis Merasuki Diri dengan Kesombongan

Lembang(hayaatunaa.com)-

Iblis di laknat karena sifat sombongya…
sombong, dengan mengatakan
aku di ciptakan dari api dan Adam dari Tanah
aku lebih baik dari dia. (Ana Khoerun minhu).

Aku lebih baik dari dia..
kadang kita pun suka menirunya.
dengan perkataan yang sama
atau pun dengan improvisasi,…
.
aku lebih pintar darinya
aku lebih kaya darinya
aku lebih sholeh darinya
aku lebih dermawan dari dirinya..
dia ga bisa apa-apa,…
kalau bukan karena saya,….
aku lebih,… aku lebih,…. Dan aku lebih,……..
.
saudaraku ,….
kita adalah manusia, yang tak luput dari dosa,..
dan kita suka salah….
kita bukan makhluq sempurna.

Ingatlah saudaraku,..
hati-hatilah dengan karunia kelebihan yang kau miliki…
kelebihan mu bisa membawa kepada kesombongan,…
kesombongan menjadikanmu kufur,…
dan kekufuran menyeretmu ke neraka,……

Pelajaran Dari Iblis

Alqur’an sangat banyak menyebutkan mengenai kisah, kisah para Nabi, kisah orang sholeh, juga kisah orang -orang yang durhaka kepada Alloh.  Tujuannya tidak lain adalah agar kita menjadikan hal tersebut sebagai  pelajaran yang sangat berhara

Diantara sekian banyak kisah yang Alloh sebutkan dalam Alqur’an adalah kisah kesombongan dan pembangkangan Iblis, yang menolak bersujud kepada Adam AS sebagaimana Alloh berfirman dalam surat Albaqoroh ayat 34 :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ -البقرة/34

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka bersujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan (menolak) dan takabbur (menyombongkan diri) dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” [Q.s. al-Baqarah (2): 34].

Ketika seseorang “merasa” mempunyai kelebihan dari orang lain, baik itu secara materi, ilmu, kedudukan, fisik ataupun yang lainnya. Maka berhati-hatilah perbuatan tersebut bias menggiring kepada sifat sombong.

Iblis itu sombong dan menolak perintah Allah, karena di dalam kesombongan itu ada perasaan dirinya lebih baik (ana khoirun minhu), lebih besar, lebih mulia dan lebih hebat. Berikut ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan apa yang membuat Iblis itu sombong.

 Iblis Merasa Lebih Baik

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ (11) قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (12) قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ (13) -الأعراف/11-  13

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: Bersujudlah kamu kepada Adam; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud (11). Allah berfirman: Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu? Menjawab iblis: Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah (12). Allah berfirman: Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina (13)” [Q.s. al-A’raaf (7): 11-13].

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ قَالَ أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا -الإسراء/61

Artinya: “Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu semua kepada Adam, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?” [Q.s. al-Israa’ (17) :61].

(اسْجُدُوا) usjuduu: bersujudlah. Sujud adalah meletakkan dahi dan hidung di atas tanah (lantai atau apa pun yang merupakan dataran paling bawah sejajar dengan letak telapak kaki yang menapak). Terkadang sujud juga diartikan sebagai menundukkan kepala tanpa meletakkannya di atas tanah dengan disertai rasa rendah dan tunduk. (اسْجُدُوا لِآَدَمَ) bersujudlah kepada Adam. Sujud di sini adalah sebagai ungkapan pemuliaan dan pengagungan kepada Adam, sementara peribadatan hanya kepada Allah ta’ala. (فَسَجَدُوا) fa sajaduu: maka mereka kemudian bersujud. Para malaikat menaati perintah Allah ta’ala dengan melakukan sujud.

(إِلَّا إِبْلِيسَ) illaa ibliis: kecuali Iblis. Abu Bakr Jabir al-Jazaa’iri dalam “Aysar al-Tafaasiir” menyebutkan bahwa nama Iblis sebelumnya adalah al-Haarits. Ketika dia bersifat sombong dan tidak mau (menolak) untuk taat kepada Allah ta’ala, maka Allah kemudian menjadikannya Iblis, yaitu terputus dari semua kebaikan dan jadilah dia masuk golongan setan

(أَبَى) abaa: menentang, menolak dengan sangat atau menolak keras. Dalam al-Qur’an dan Terjemahnya, kata ini diterjemahkan dengan kata “enggan”. Meskipun begitu, kata enggan ini hendaknya dimaknai sebagai menentang, menolak dengan sangat atau menolak keras. Di dalam hadits Shahih, kata abaa (أَبَى) itu disamakan dengan membangkang (وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى), siapa yang membangkang kepada diriku berarti menolak dengan keras (masuk surga). Keterangan ini dapat dilihat dalam hadits berikut:

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ حَدَّثَنَا هِلَالُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan, telah menceritakan kepada kami Fulaih, telah menceritakan kepada kami Hilal bin Ali dari ‘Atha bin Yasar dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Setiap umatku masuk surga kecuali yang enggan (menolak keras). Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan (menolak dengan keras)? Nabi menjawab: Siapa yang taat kepadaku masuk surga dan siapa yang membangkang perintahku berarti dia enggan (menolak masuk surga)” [HR. Bukhari: 6737 dan HR. Ahmad: 8373].

(وَاسْتَكْبَرَ) wastakbara: dan takabbur. Kata ini berarti “dan menyombongkan diri atau merasa dirinya lebih baik, dan lebih besar atau hebat”. Kata ini juga mengandung pengertian dalam tingkat ekstrimnya yaitu menolak kebenaran yang kemudian juga mengandung arti membangkang. Hal ini terlihat dalam ungkapan ayat al-Qur’an yang jelas pengertiannya bahwa kata istakbara (وَاسْتَكْبَرَ) – yastakbiru (يَسْتَكْبِرُ). Menurut Imam al-Tabari, kata tersebut berarti sombong, tidak mau beribadah kepada Allah ta’ala.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ -غافر/60

Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: Berdo’alah (Beribadahlah) kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan (memberi pahala) bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari (tidak mau beribadah kepada-Ku, menolak beribadah kepada-Ku) menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina” [Q.s. al-Mu’min (40): 60].

Dalam sebuah hadits shahih juga telah dijelaskan pengertian sombong, sebagaimana berikut:

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ دِينَارٍ جَمِيعًا عَنْ يَحْيَى بْنِ حَمَّادٍ قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبَانَ بْنِ تَغْلِبَ عَنْ فُضَيْلٍ الْفُقَيْمِيِّ عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Artinya: “Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar serta Ibrahim bin Dinar, semuanya dari Yahya bin Hammad, Ibnu al-Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Aban bin Taghlib dari Fudlail al-Fuqaimi dari Ibrahim an-Nakha’i dari ‘Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi SAW, beliau bersabda: Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan. Seorang laki-laki bertanya: Sesungguhnya laki-laki menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)? Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah itu bagus menyukai yang bagus, kesombongan itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia”. [HR. Muslim: 131].

Akibat dari Kesombongan

Kelanjutan penjelasan kosa kata dalam surat al-Baqarah (2) ayat 34 di atas adalah ungkapan terakhir ayat itu: (وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ) wa kaana minal kaafiriin: Dan dia (Iblis) itu termasuk golongan orang-orang yang kafir. Kata al-kaafiriin adalah bentuk jamak dari kata kaafir. Orang kafir adalah orang yang mendustakan Allah ta’ala. Mendustakan itu berarti tidak membenarkan. Dalam ungkapan lain, orang kafir adalah orang yang menolak dan membangkang serta tidak mau menaati perintah Allah atau salah seorang utusan-Nya (Rasul-Nya).

Perintah bersujud kepada Adam tersebut mempunyai arti menghormati Adam. Para malaikat menaati dan melaksanakan perintah Allah ta’ala dengan bersujud kepada Adam. Sedangkan Iblis tidak mau bersujud kepada Adam. Iblis merasa dirinya lebih baik dibandingkan Adam. Iblis menolak bersujud dan merasa dirinya lebih mulia karena dia diciptakan dari api, sedangkan Adam cuma diciptakan dari tanah. Karena penolakan dan pembangkangan Iblis untuk tunduk dan taat kepada Allah ta’ala, maka Iblis masuk ke dalam golongan makhluk yang kafir.

Alasan Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam dijelaskan di dalam ayat-ayat berikut:

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ (71) فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (72) فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ (73) إِلَّا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (74) قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ (75) قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (76) –ص/71-76

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah (71). Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (72). Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya (73). kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir (74). Allah berfirman: Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi? (75). Iblis berkata: Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah (76)” [Q.s. Shaad (38): 71-76].


Wallohu ‘Alam bi Showab

By: Andri Saefuddin (Asatidz Pesantren Persatuan Islam 50 Ciputri,Lembang)

 

Maraji

Terjemah Alqur’anul Karim
Tafsir Ibnu Katsier – dar ibnu jauziy – Mesir
Tafsier Almarogii – dar almaktabah alamiyyah – Beirut
Bulughul Marom
Subulussalam –  dar ibnu jauziy – Mesir