//Hedonism ; Saudara Kembar dari Hubb ad-Dunya

Hedonism ; Saudara Kembar dari Hubb ad-Dunya

Kita sering mendengar kata “hedon” atau “hedonis” yang digunakan untuk memberikan penilaian kepada seseorang yang memiliki gaya hidup hura-hura, foya-foya, bahagia dengan kesenangan, kemewahan, harta, seorang yang shoppaholic (maniak belanja) serta penuh dengan gemerlap kesenangan lainnya. Lalu, apa sebenarnya makna dari kata itu? Dari mana asalnya? Apa implikasinya terhadap kehidupan?

Dalam KBBI, ditemukan dua istilah yaitu “hedonism” dan “hedonis”. Hedonism adalah suatu paham yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi sebagi tujuan utama dalam kehidupan. Sementara kata hedonis adalah istilah untuk orang yang mengikuti paham hedonism,[1] yang kemudian lebih familiar dengan istilah “hedon”.

Dilihat dari sejarahnya, hata hedonism ini berasal dari bahasa Yunani yaitu hedonimos yang diambil dari akar kata hedone, artinya kesenangan.[2] Hedonism ini juga merupakan salah satu aliran pemikiran filsafat dengan paham bahwa  orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan.[3]

Pada awalnya, sekitar tahun 433-355 SM muncul satu pertanyaan mendasar dikalangan bangsa Yunani mengenai “apa sebenarnya yang menjadi hal terbaik bagi manusia?”, kemudian dari pertanyaan itu melahirkan rasa penasaran akan “apa sebenarnya yang menjadi tujuan akhir manusia?” konon katanya salah seorang diantara para pencari hakikat dan kebijaksanaan dikalangan bangsa Yunani pada saat itu memberikan jawaban bahwa hal terbaik bagi manusia adalah kesenangan dan pada dasarnya, sejak manusia lahir, dia selalu mencari kesenangan dan apabila tidak menemukannya maka dia akan mencari kesenangan yang lain. Selanjutnya, konsep kesenangan menurut pandangan bangsa Yunani ini yang pada awalnya hanya mengarah kepada kesenangan jasmani saja, pada tahun 341-270 SM, konsep kesenangan ini meluas dan menyentuh aspek ruhani, seperti terbebasnya manusia dari perasaan resah dan gelisah[4].

Dalam paham ini, kesenangan diri adalah tujuan akhir dan mengejar kebahagiaan adalah tujuan yang tepat dari semua tindakan.[5] Secara psikologis dan antroposentris, hedonism ini pada akhirnya mengubur rasa simpati dan empati seseorang terhadap sesama sehingga terbentuklah sebuah tatanan masyarakat yang individualis, mengutamakan kepentingan diri sendiri tanpa memperhatikan dan mempertimbangkan kepentingan orang lain.[6]

Jika kita perhatikan secara lebih mendalam, kondisi masyarakat saat ini sedang mengalami future shock yang berarti tekanan yang mengguncang sehingga menyebabkan hilangnya orientasi, yang dialami setiap individu, ketika terlalu banyak perubahan yang dihadapkan kepada mereka dalam waktu yang terlalu singkat.[7] Artinya adalah masyarakat belum siap secara mental dan belum memiliki pandangan hidup yang kokoh dengan fondasi ilmu yang mapan untuk menerima dan berjalan berdampingan dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh berbagai perkembangan teknologi.

Nah, “keterkejutan akan masa depan” ini yang kemudian secara perlahan memaksa masyarakat untuk tampil dan bertindak seolah menerima dan mampu mengimbangi arus perkembangan zaman melalui teknologi. Persoalan yang datang kemudian adalah, melalui jejaring teknologi informasi, masyarakat di Indonesia pada khususnya —yang masih menyandang status Negara berkembang— digempur oleh arus westernisasi (upaya pembaratan) melalui food, fashion, fun and film. Penggempuran ini diluncurkan melalui media-media terkini dengan varian yang membuat masyarakat kita tercuri perhatiannya. Perlahan-lahan, masyarakat kita mengkonsumsi hidangan media tersebut melalui jaringan komunikasi, social media, tv, dan lambat laun menggerus asumsi dan persepsi masyarakat bahwa kehidupan dan tatanannya yang ideal adalah apa yang mereka konsumsi di tv, social media, dan film-film. Sementara itu, belum terbangun benteng dalam asumsi dan persepsi tersebut untuk menghalau berbagai virus dan suatu saat akan terintegrasi menjadi pemudaran karakter dan falsafah hidup.

Baik, sekarang kita cermati sedikit lebih runcing lagi terkait persoalan ini melalui beberapa fenomena sebagai smple.  Pertama, dalam tayangan-tayangan film di tv, yang diperlihatkan adalah gaya hidup yang glamour, memiliki harta, kendaraan mewah, fisik yang rupawan, percintaan dengan adegan-adengan yang konyol.  Kedua, masih dari tayangan tv terkait acara-acara hiburan dan ajang pencarian bakat. Mulai dari jam 08.00 sampai hampir tengah malam,  konser-konser music banyak sekali ditayangkan. Ajang penjarian bakat juga banyak digandrungi mulai dari anak-anak sampai yang berusia setengah abad lebih berbondong-bondong menjadi kontestan. Ketiga, social media. Salah satu diantaranya adalah yang dikhususkan untuk memuat foto dan video, tentu sebagai ajang pamer. Pamer fisik, harta, hiburan, liburan serta tempat-tempat yang menjadi destinasi untuk mencari kesenangan. Lebih parahnya lagi, ada salah satu sosmed yang menampilkan rekaman video aktifitas keseharian secara online dan bisa dilihat oleh siapapun. Sampai-sampai demi mendapat ketenaran, seseorang berani melakukan adegan tidak pantas dan menanggalkan pakaiannya supaya banyak dilihat dan mendapatkan “like”. Fenomena seperti inilah sebagai akibat dari future shock yang terjadi pada sebagian masyarakat karena tidak adanya benteng kokoh berfondasi ilmu yang mapan untuk menghalau arus negatifnya.

Perlahan namun pasti, pandangan orang akan terarah bahwa yang dimaksud dengan kehidupan ideal adalah sebagaimana yang mereka lihat melalui jejaring social dan tayangan-tayangan di tv tersebut. Kesenangan, kemewahan, dan hiburan menjadi life style yang mau tidak mau harus banting tulang bahkan banting harga diri demi mendapatkannya.

Efeknya ternyata tidak hanya menyentuh sisi social saja, namun juga memudarkan hakikat dari orientasi pendidikan. Memang benar bahwa pendidikan adalah diantara upaya paling jitu untuk merubah taraf kehidupan seseorang. Kita bisa mencermati lingkungan sekitar bahwa para orang tua menyekolahkan anaknya sampai ke tingkat perguruan tinggi dengan tujuan meningkatkan taraf hidup dan berharap mendapatkan pekerjaan layak dengan penghasilan yang besar. Namun, tidak sedikit pula yang ingin mendapatkan penghasilan besar itu untuk mengejar gaya hidup yang kita sebut tadi di permulaan dengan istilah “hedon” atau “hedonis”. Sebab akibatnya ternyata menimbulkan banyak keburukan. Karena setiap orang ingin mendapat pekerjaan yang berpenghasilan besar, maka persaingan untuk mendapat lapangan pekerjaan pun semakin ketat. Ketatnya persaingan ini menimbulkan tindak kecurangan yang luar biasa. Ingin berpenghasilan besar, namun dengan pekerjaan yang enteng dan menyenangkan. Sisi buruk lainnya adalah harga diri bukan lagi harga mati. Inilah keburukan-keburukan yang berakar dari hedonism, sebuah konsep dan pandangan hidup kesenangan semu dan kebahagiaan fana. Ketika sudah seperti itu, orang tidak lagi memikirkan apa yang akan terjadi di hari kemudian. Sampai orang tidak menyadari akan konsep kesenangan dan kebahagiaan yang hakiki.

Islam sebagai agama yang universal, tidaklah memandang kesengan itu sebatas apa yang diperoleh berupa materi dan terhindarnya diri dari segala perkara yang menyakitkan hati. Lebih jauh dari itu, Islam memandang kesenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan dan setelah kehidupan yaitu hasanah fii ad-dunya wa hasanah fii al-akhirah. Islam tidak melarang penganutnya untuk mecari kesenangan, tapi Islam mengarahkan penganuntnya untuk mencari kesengan dalam batasan koridor yang akan menghantarkannya kepada kesenagan selanjutnya, kesenangan hidup setelah kehidupan, yaitu kesenangan abadi di akhirat.

Islam memberikan koridor kepada umatnya supaya tidak tergelincir kedalam kesenangan semu yang mengakibatkan pelakunya berada dalam jurang cinta yang salah kaprah dan salah arah, yaitu cinta dunia. Ketika orang sudah cinta terhadap dunia, cinta kepada hal-hal keduniwian, maka dia enggan untuk meninggalkannya dan berat untuk beranjak kepada perkara-perkara bersifat ukhrawi. Pada akhrinya, dia lupa bahwa dia akan mati dan meninggalkan hiruk-pikuk kehidupan ini dengan memikul beban pertanggung jawaban yang tidak pernah diperhitungkannya semasa hidup.

Maka sungguh Agung apa yang tertera dalam Al-Qur’an dalam membentuk pemahaman umat terhadap kehidupan dunia supaya dia tidak terlena dan melupakan kehidupan akhirat, yaitu :

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَياةُ الدُّنْيا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكاثُرٌ فِي الْأَمْوالِ وَالْأَوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَباتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَراهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطاماً وَفِي الْآخِرَةِ عَذابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوانٌ وَمَا الْحَياةُ الدُّنْيا إِلاَّ مَتاعُ الْغُرُورِ

“ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (Q.S. Al-Hadiid : 20)

Itulah pemahaman yang mengarahkan manusia untuk memandang kehidupan ini supaya tidak terlena dengan gemerlapnya yang tiada abadi. Imam Al-Maraghi menjelaskan bahwa yang dimaksud kehidupan dunia ini seperti permainan, yaitu sesuatu yang tidak sedikitpun membuahkan hasil bak bermainnya seorang anak.[8] Bahwa kehidupan dunia ini hanyalah melalaikan manusia dengan kesibukkannya tiada bernilai ibadah, hanya menghiasi diri dengan pakaian yang dibanggakan, hanya membangga-banggakan diri dengan apa yang dimiliki berupa jabatan, penghormatan dari orang lain. Maka sungguh kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sesaat.

Rasulullah Saw bersabda :

يوشك أن تداعى عليكم الأمم، كما تداعى الأكلة إلى قصعتها، فقال قائل: من قلة نحن يومئذ؟ قال: بل أنتم يومئذ كثير، ولكنكم غثاء كغثاء السيل، وسينزعن الله من صدور عدوكم المهابة منكم، وليقذفنّ الله في قلوبكم الوهن. قال قائل: يا رسول الله، وما الوهن؟ قال: حب الدنيا وكراهية الموت

hampir saja sekolompok umat mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagai mana mereka berkmumpul mengerumuni makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya : “katakanlah ya Rasulallah, apakah kami pada saat itu sedikit?”. Rasul menjawab : “bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kaian ‘Wahn’. Kemudian seseorang bertanya : “apa itu wahn?”. Rasul menjawab : “Cinta dunia dan takut mati” (HR. Abu Dawud no. 4297)

Sebagaimana hadits tesebut, bahwa hubb ad-dunya, yaitu cinta dunia, secara serta merta akan menyebabkan pelakunya takut mati karena dia terlena oleh gemerlapnya kesenangan dunia yang sementara. Maka seperti itu pula apa yang dirasakan oleh mereka yang “hedon”, oleh mereka yang berpaham ataupun yang berpandangan hidup hedonism.

Selain itu, Allah Swt juga telah memperingati kita akan hal ini melalui QS. An-Naziat : 37-41 :

فَأَمَّا مَنْ طَغَى (37) وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى (39) وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41) يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا (42) فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا (43) إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا (44) إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا (45) كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا (46)

(37). Adapun orang yang melampaui batas, (38). dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,39. Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).(40). dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, (41). Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (QS. An-Nazi’at : 37-41)

Demikianlah Islam membentuk pemahaman dan pandangan pemeluknya terhadap kehidupan dunia dan kesenangannya sehingga tetap menjaga pemeluknya berada pada jalur dan koridor yang akan mengantarkan kepada hakikat kebahagiaan. WaLlahu ‘A’lam…

Oleh : Muhammad Rizal Fadillah

[1] KBBI offline v.1.1

[2] Henk ten Napel (2009), Kamus Teologi., Jakarta : BPK Gunung Mulia., Hal. 158.

[3] Franz Magins Suseno (1987) Etika Dasar ; Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral. Yogyakarta ; Kanisius., Hal. 114

[4] K. Bertens (2000) Etika. Jakarta : Gramedia. Hal. 235-238.

[5] Simon Blackburn (2013)., The Oxford Dictionary of Philosophy., Oxford Univercity Press., Hal 388.

[6] Ibid.,

[7] William F. O’Neill (2008) Educational Ideologies., Santa Monica-California., Hal. 3

[8] Ahmad Musthafa Al-Maraghi (1946) Tafsiir al-Maraghi. Mesir ., Juz 27 Hal 176