//HUKUM SHALAT ARBA’IN

HUKUM SHALAT ARBA’IN

Oleh : Ahmad Wandi

Lembang(hayaatunaa.com)- Banyak orang bertanya tentang shalat arba’in, termasuk ketika saya pulang dari ibadah haji, orang-orang sampai mengatakan bahwa saya beruntung karena sudah melakukan arba’in waktu ziarah ke Mesjid Nabawi. Mohon dijelaskan ada atau tidak shalat arba’in itu ?

Jawaban :

Arba’in atau arba’un dalam bahasa arab berarti empat puluh. Yang dimaksud dengan shalat arba’in adalah melakukan shalat empat puluh waktu di Masjid Nabawi secara berturut-turut dan tidak ketinggalan takbiratul ihram bersama imam.

Para jama’ah haji meyakini bahwa amalan ini akan membuat mereka terbebas dari neraka dan kemunafikan. Karenanya jama’ah haji Indonesia dan banyak negara lain diprogramkan untuk menginap di Madinah selama minimal 8 hari agar bisa menjalankan shalat arba’in.

Melaksanakan jama’ah shalat arba’in di Masjid Nabawi bagi orang yang telah selesai menunaikan rangkaian amalan haji, atau sebelum melaksanakan ibadah haji adalah termasuk ibadah yang sangat mulia, pahalanya sebagaimana disebutkan, dijauhkan dari api neraka dan sifat kemunafikan, akan tetapi ini bukanlah sebagai syarat maupun rukun haji, melainkan menjadi rentetan kegiatan dari jama’ah haji semisal dari indonesia ataupun negara lain. (www.nu.or.id)

Hadis Tentang Shalat Arba’in

 12583 – حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ مُوسَى، قَالَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدُ اللهِ وَسَمِعْتُهُ أَنَا مِنَ الْحَكَمِ بْنِ مُوسَى، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الرِّجَالِ، عَنِ نُبَيْطِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ” مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلَاةً، لَا يَفُوتُهُ صَلَاةٌ، كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ”
 5444 – حدثنا محمد بن علي المديني قال حدثنا الحكم بن موسى قال حدثنا عبد الرحمن بن ابي الرجال عن نبيط بن عمر عن انس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من صلى في مسجدي اربعين صلاة لا يفوته صلاة كتب الله له براءة من النار ونجاة من العذاب لم يرو هذا الحديث عن أنس إلا نبيط بن عمر تفرد به عبد الرحمن بن أبي الرجال

Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah saw. Bersabda : “Barangsiapa yang shalat di mesjidku (Nabawi) empat puluh (kali) shalat, dengan tidak terlewatkan oleh satu shalat pun, maka telah ditetapkan untuknya mulus dari neraka, selamat dari azab (siksa) dan bersih dari kemunafiqan.”

Takhrij Hadis Shalat Arba’in

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (Al-Musnad 20/40 no. 12583) dan al-Thabrani (al-Ausath 5/325 no. 5444) melalui al-Hakam bin Musa, Abdurrahman bin Abur Rijal, Nubaith bin Umar, Anas bin Malik, Nabi saw.

Hadis ini dipandang shahih oleh beberapa ulama seperti al-Mundziri[1], al-Haitsami[2] dan Hammad al-Anshari, karena Ibnu Hibban memasukkan Nubaith bin Umar, salah seorang perawi hadis tersebut dalam kitabnya al-tsiqat. Padahal Nubaith ini tidak dikenal (majhul), dan para ulama hadis menjelaskan bahwa Ibnu Hibban memakai standar longgar (tasahul) dalam kitab ini, yaitu memasukkan rawi-rawi yang majhul ke dalam kelompok rawi yang terpercaya (tsiqat).

Komentar Para Ulama Seputar Hadis Shalat Arba’in

  1. Menurut Syaikh Syu’aib al-Arna’uth, Adil Mursyid, dll :

Sanadnya dha’if karena manjhulnya Nubaith bin Umar, Abdurrahman bin Abi al-Rijal telah menyendiri darinya, dan Ibnu Hibban telah tasahul (gegabah) mencantumkan rawi tersebut dalam kitab Tsiqat-nya 5/483. Dan al-Thabrani meriwayatkan pula dalam al-Ausath (5440) dari Muhammad bin Ali al-Madini, dari al-Hakam bin Musa, dengan sanad seperti di atas.[3]

  1. Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani :

Hadisnya Munkar, diriwayatkan oleh Imam Ahmad (3/155) dan al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath (2/32/5576) melalui jalan Abdurrahman bin Abi Rijal, Nubaith bin Umar, Anas bin Malik, secara Marfu’. Al-Thabrani berkata, “Tidak diriwayatkan dari Anas kecuali oleh Nubaith, dan Abdurrahman bin Abu Rijal menyendiri pada hadis tersebut.”

Menurutku (al-Albani) : Sanad ini dha’if, Nubaith ini tidak dikenal dalam hadis ini. Ibnu Hiban telah menyebutkannya dalam kitab al-Tsiqat (5/483) sesuai qaidahnya dalam mentsiqahkan rawi-rawi majhul, dan ini pegangan al-Haitsami dalam perkataannya dalam al-Majma’ (4/8) : Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Thabrani dalam al-Ausath dan rawi-rawinya tsiqah.

Adapun pernyataan al-Mundziri dalam al-Targhib (2/136) : diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan rawi-rawinya adalah rawi shahih, dan al-Thabrani dalam al-Ausath, maka kekeliruan yang jelas karena Nubaith ini tidak termasuk rawi-rawi shahih, bahkan tidak termasuk rawi kutub al-sittah ! Dan yang termasuk penyebab dha’ifnya hadis ini adalah dua jalur sanad yang saling menguatkan yang bersumber dari Anas secara marfu dan mauquf dengan redaksi sbb:

” من صلى لله أربعين يوما في جماعة يدرك التكبير الأولى كتبت له براءتان ، براءة من النار ، وبراءة من النفاق ” .

“Barangsiapa yang shalat karena Allah empat puluh hari dengan berjama’ah sejak takbiratul ihram, maka telah ditetapkan untuknya dua kemulusan : dari neraka dan dari kemunafiqan.”

Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi (1/7), kemudian aku menemukan jalur yang ketiga dari Anas secara marfu’ diriwayatkan dengan ringkas dalam Tarikh Wasith (hal. 36), dan baginya terdapat syahid dari Umar bin al-Khathab secara marfu’. Telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1/266) dengan sanad yang dha’if dan munqathi’, kemudian aku telah meneliti sanad-sanadnya dan telah menjelaskan seluruhnya dalam al-Shahihah (2/652) dan lafazh hadis ini berbeda dengan lafazh hadis dalam tarjamah (di atas), dan ini lebih kuat darinya, maka jelas kedha’ifan dan kemunkarannya …”[4]

  1. Menurut Syaikh Ahmad bin Abdurrazaq al-Duwaisy :

Hadis tersebut dha’if dan mudtharib, karena terjadi ikhtilaf dalam matan dan sanadnya.[5]

Pendapat Para Ulama seputar Shalat Arba’in

  1. Syaikh Muhammad Nashirud-din al-Albani :

Mengenai bid’ah seputar ziyarah di madinah munawarah beliau menyebutkan antara lain : harus ziarah ke madinah dan menetap padanya selama satu minggu, sehingga mereka melakukan shalat di masjid nabawi sebanyak empat puluh kali shalat yang dijanjikan bagi mereka bebas dari nifaq dan  selamat dari api neraka.

Padahal hadis tentang hal tersebut dha’if tidak dapat dijadikan hujjah, dan aku telah menjelaskan kecacatannya dalam Silsilah al-Dha’ifah no. 364, maka tidak boleh mengamalkannya …”[6]

  1. Menurut Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan Lajnah al-Da-imah lil al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta :

Adapun yang tersebar di kalangan orang-orang bahwa peziarah menetap delapan hari sehingga melakukan shalat empat puluh kali shalat, maka ini meskipun telah diriwayatkan dalam hadis (seperti di atas), akan tetapi hadisnya dha’if menurut para peneliti dan tidak dapat dijadikan hujjah, karena pada sanadnya terdapat seorang rawi yang tidak dikenal dalam hadis dan periwayatannya, dan telah mentsiqahkannya orang yang tidak berpegang terhadap ketsiqahannya apabila menyendiri. Hasilnya, hadis yang menerangkan tentang keutamaan shalat arba’in di Masjid Nabawi adalah dha’if tidak dapat dijadikan pegangan. Adapun ziarah padanya tidak ada batasan, mau satu jam, dua jam, satu hari, dua hari, atau lebih, tidak apa-apa.[7]

  1. Menurut Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz :

Meskipun dishahihkan oleh sebagian ulama, namun hadis tersebut dha’if. Adapun shalat di Masjid Nabawi adalah sangat bagus dan utama, Rasulullah saw. bersabda :

« صلاة في مسجدي هذا خير من ألف صلاة فيما سواه إلا المسجد الحرام »

“Shalat di masjidku (Nabawi) ini lebih baik daripada seribu shalat di masjid yang lain, kecuali Masjidil Haram.” (HR. Bukhari no. 1190, Muslim no. 1395)[8]

  1. Menurut Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid:

Dengan dha’ifnya hadis tersebut, cukup hadis hasan riwayat al-Tirmidzi (241) tentang keutamaan menjaga takbiratul ihram dalam shalat berjama’ah dari Anas bin Malik :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ “

Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Tirmidzi (200), dan keutamaan yang ditetapkan dalam hadis ini adalah umum pada setiap mesjid secara berjama’ah, di negeri mana saja, dan tidak khusus di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

Berdasarkan hadis tersebut, maka barangsiapa yang menjaga shalat empat puluh hari, ia mendapatkan takbiratul ihram bersama shalat berjama’ah, maka baginya dua bara’ah, bara’ah dari api neraka dan bara’ah dari kenafiqan. Sama saja apakah Mesjid Madinah (Nabawi), Makkah atau mesjid yang lainnya.[9]

  1. Wawan Shafwan Shalehuddin (Dewan Hisbah PP. Persis) :

“Perlu dijelaskan lagi, bahwa hadis arba’in itu tidak dapat diterima walau ada syahid (penguat), karena sebagian kata-katanya diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dan Ibnu Majah, ternyata selain tidak ada kaitan, hadis-hadis itu pun dha’if pula, malah dengan demikian itu menjadi lebih menguatkan kedha’ifannya.”[10]

  1. Dalam kitab Al-Bahtsul Amin fi Hadis al-Arba’in :

“Bagaimana amalan dengan pahala sebesar ini tidak populer di kalangan sahabat Rasulullah saw. dan hanya diriwayatkan oleh satu sahabat, lalu oleh satu tabi’in yang tidak dikenali dan tidak memiliki riwayat sama sekali –tidak dalam hadis shahih maupun dha’if- kecuali hadis ini ?”[11]

Beberapa Catatan Tentang Praktek Shalat Arba’in

Disamping lemahnya dalil tentang shalat arba’in, ada beberapa catatan penting seputar amalan ini, di antaranya :

  1. Banyak orang yang berlarian saat mendengar iqamat dikumandangkan. Hal ini mereka lakukan untuk mengejar takbiratul ihram bersama imam. Padahal Nabi saw. memerintahkan kita untuk mendatangi mesjid dengan tenang dan melarang kita untuk tergesa-gesa saat hendak shalat berjama’ah. Beliau bersabda :
إِذَا سَمِعْتُمُ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

“Jika kalian mendengar iqamat, berjalanlah untuk shalat dengan tenang dan wibawa, jangan terburu-buru, shalatlah bersama imam sedapatnya, dan sempurnakan oleh kalian bagian yang tertinggal.” (HR. Bukhari no. 636 dan Muslim no. 154, ini lafazh Bukhari)

  1. Sebagian orang tidak lagi bersemangat untuk shalat di Masjid Nabawi setelah menyelesaikan arba’in. Hal ini bisa mudah dilihat di penginapan para jama’ah haji menjelang kepulangan dari Madinah. Panggilan adzan yang terdengar keras dari hotel-hotel yang umumnya dekat dari Masjid Nabawi tidak lagi dijawab sebagaimana hari-hari sebelumnya saat program arba’in belum selesai. Jika demikian, maka amalan yang bermasalah ini telah memberikan dampak buruk atau dipahami secara salah.

Syaikh ‘Athiyyah Muhammad Salim –salah satu ulama yang ikut menshahihkan amalan ini- berkata, “Perlu diketahui bahwa tujuan dari arba’in adalah membiasakan dan memompa semangat shalat jama’ah. Adapun jika setelah pulang orang meninggalkan shalat jama’ah dan meremehkan shalat, maka ia sungguh telah kembali buruk setelah sempat baik.”[12]

  1. Sebagian orang memaksakan diri untuk menginap di madinah untuk waktu yang lama, sedangkan mereka tidak memiliki bekal yang cukup. Padahal mereka perlu menyewa penginapan dan menyediakan kebutuhan hidup yang lain. Sebagian orang yang kehabisan bekal akhirnya mengemis di madinah demi mengejar keutamaan arba’in tersebut.[13]
  2. Ada jama’ah haji yang memaksakan diri untuk tetap shalat arba’in di Masjid Nabawi saat sedang sakit keras demi mengejar keutamaan arba’in. Semangat ibadah tentu dianjurkan, namun jika sampai membahayakan kesehatan, maka hal ini menjadi tidak boleh.
  3. Bagi jama’ah haji perempuan, shalat di rumah atau penginapan lebih baik bagi mereka daripada shalat di Masjid Nabawi. Perhatikan hadis berikut :
عَنْ أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، أَنَّهَا جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي أُحِبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ، قَالَ: ” قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي، وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ  مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِي “، قَالَ: فَأَمَرَتْ فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ، فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Ummu Humaid -istri Abu Hummaid As-Saidi- bahwa ia telah datang kepada Nabi saw. dan berkata, wahai Rasulullah, sungguh saya senang shalat bersamamu. Nabi saw. berkata, “Aku sudah tahu itu, dan shalatmu di bagian dalam rumahmu lebih baik bagimu daripada shalat di kamar depan. Shalatmu di kamar depan lebih baik bagimu daripada shalat di kediaman keluarga besarmu. Shalatmu di kediaman keluarga besarmu lebih baik bagimu daripada shalat di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik dari shalat di masjidku.” Maka Ummu Humaid memerintahkan agar dibagunkan masjid di bagian rumahnya yang paling dalam dan paling gelap, dan ia shalat di situ sampai bertemu Allah. (HR. Ahmad no. 27090, dihasankan oleh Ibnu Hajar dan al-Arna’uth)

Kesimpulan

  1. Hadis tentang shalat arba’in adalah dha’if.
  2. Shalat arba’in tidak disyariatkan.

Wallahu a’lam bi al-shawwab.

 

[1] Al-Targhib wa al-Tarhib 2/136.

[2] Majma’ al-Zawaid 4/8.

[3] Tahqiq al-Musnad 20/40-41.

[4] Silsilat al-Ahadits al-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah 1/540-541 no. 364.

[5] Fatawa al-Lajnah al-Da-imah 4/440.

[6] Manasik al-Haj wa al-Umrah 1/59-63.

[7] Fatawa Tata’allaqu bi Ahkam al-Haj wa al-Umrah wa al-Ziyarah 1/209.

[8] Majmu’ Fatawa 26/285.

[9] Fatawa al-Islam 1/3480.

[10] Shalat-Shalat Yang Bid’ah 1/92.

[11] Al-Bahtsul Amin fi Hadis al-Arba’in, diterbitkan dalam Majalah al-Jami’ah al-Islamiyyah edisi 41.

[12] Adhwa’u al-Bayan 8/336.

[13] Al-Bahtsul Amin fi Hadis al-Arba’in, diterbitkan dalam Majalah al-Jami’ah al-Islamiyyah edisi 41.