//ISTIFTA – Apakah Setiap Orang Munafik Akan Masuk Neraka?

ISTIFTA – Apakah Setiap Orang Munafik Akan Masuk Neraka?

Lembang – hayaatunaa.com

Soal:

Saya membaca QS an Nisaa: 145-146 yang artinya “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, dan kalian sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” Selanjutnya saya mendengar bahwa salah satu tanda munafik itu adalah dusta. Saya sangat sedih dan takut masuk neraka, saya dulu sering berdusta. Apakah saya ini termasuk munafik? Kira-kira dosa saya diampuni dan bagaimana cara bertaubatnya?

Jawab:

Menurut para ulama, munafik itu ada 2 macam, yaitu:

  1. Munafik I’tiqadiy, artinya orang yang pura-pura masuk islam padahal hatinya kafir. Ia suka melaksanakan salat bila bersama orang-orang islam karena takut disebut kafir. Saat ia menyendiri atau bergabung dengan kelompoknya, mereka tidak salat bahkan menertawakan perilaku umat islam. Lebih dari itu, orang munafik mencari keuntungan dari orang-orang islam. Sebagaimana dijelaskan Allah pada (QS al-Baqarah ayat 8 s.d 20;

(8). Di antara manusia ada yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

(9). Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak sadar.

(10). Di antara manusia ada yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak sadar.

(11). Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi:” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.

(12). ” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadarinya.

(13). Apabila dikatakan kepada mereka.”Berimanlah kalian sebagaimana orang lain telah beriman.” Mereka menjawab, Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak mengerti.

(14). Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian, kami hanyalah ber-olok-olok.

(15). ” Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.

(16). Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

(17). Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

(18). Mereka tuli, bisu, dan buta; maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).

(19). Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh, dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.

(20). Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu; dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

Contohnya Abdullah bin Ubay bin Salul, ia senang bila kaum muslimin kalah perang, bahkan berharap Nabi Saw terbunuh. Tetapi, saat kaum muslimin menang persang, ia bergabung dan menampakkan diri sebagai orang yang beriman. Di belakang umat islam ia selalu menghalang-halangi dakwah Rasulullah Saw bahkan ia menghasut umat islam. Saat ia ditimpa musibah, ia datang kepada Rasulullah Saw dan menyalahkan beliau. Firman Allah;

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (61) فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا (62)

Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kalian (tunduk) kepada hukum yang telah Allah turunkan dan kepada hukum Rasul,” niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah, “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna.” (QS An-Nisaa: 61-62)

Ciri lain dari munafiq I’tiqadhi, yaitu mereka tidak percaya kepada orang islam yang saleh, bahkan ia bergabung dengan orang kafir. Firman Allah;

بَشِّرِ الْمُنافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذاباً أَلِيماً (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكافِرِينَ أَوْلِياءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعاً (139)

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (QS An-Nisaa: 138-139)

Merekalah yang akan menghuni dasar neraka sebagaimana yang disebutkan didalam pertanyaan.

2). Munafiq ‘Amaliy, yaitu orang islam yang amalnya seperti orang kafir, karena malu disebut orang alim dan taat beragama. Misalnya perempuan dewasa yang tidak menutup aurat. Atau laki-laki yang sering melihat aurat perempuan yang bukan muhrimnya. Disebut kafir, hatinya islam, disebut islam, amalnya kafir. Nasib orang demikian ditentukan dengan amalnya. Jika timbangan pahalanya lebih berat dari amal dosanya, ia akan masuk surga. Jika sebaliknya, ia akan masuk Neraka Hawiyah.

Jika kita berbuat dosa, segeralah bertaubat dengan sebenarnya (taubatan nashuha), ikuti dengan iman dan amal saleh. Allah Swt, pasti akan menerima taubat orang yang taubatan nashuha. Firman-Nya.

إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71

“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.(QS. Al-Furqan: 70-71)

Jangan putus asa dan berburuk sangka kepada Allah karena hal itu akan menambah dosa. Firman-Nya;

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)

Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

 sumber: Istifta Tanya Jawab Islam Kontemporer

Admin: Zaenal Mutaqin