//ISTIFTA – Dari Apa Hawa Diciptakan?

ISTIFTA – Dari Apa Hawa Diciptakan?

Lembang@hayaatunaa.com

SOAL:

Yang kami ketahui bahwa Hawa sama terbuat dari tanah. Sedangkan yang dimaksud tercipta dari tulang rusuk laki-laki adalah menggambarkan bahwa perempuan itu mempunyai sifat seperti tulang rusuk, bengkok. Mohon penjelasan.

JAWAB:

Untuk menjawab pertanyaan diatas perhatikan ayat-ayat berikut.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءًۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (periharalah) silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. ” (QS an-Nisaa [4] :1)

Imam Fakhrur Raazi memberikan tafsiran pada ayat di atas ada dua pendapat:

Pertama, yang dimaksud dengan “Wa Khalaqa Minha Zawjaha” adalah Hawa diciptakan dari tubuh Adam, saat dia tertidur pulas. Allah menciptakan dari tulang rusuk bagian atas sebelah kirinya. Ketika ia bangun, dilihatnya, kemudian didekati dan mereka berkenalan, karena Hawa merupakan bagian dari dirinya.

Kedua, arti kalimat “minha” adalah “min jinsiha” dari jenis Adam bukan dari tubuhnya. pendapat ini dipilih oleh Imam Abu Muslim Al-asfahany. Menurutnya seperti halnya firman Allah

{وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا} أي من جنسها وهو كقوله تعالى : {وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا} [النحل : ٧٢] وكقوله : {إِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ} [آل عمران : ١٦٤]

Allah telah menjadikan pasangan kalian “Min anfusikum” (dari jenis kalian). (QS an-Nahl [17] : 72)

Ketika mengutus pada mereka seorang rasul “min anfusihim” (dari jenis mereka). (QS Ali-Imran [3] : 164)

Kata Al-Qadli pendapat pertama lebih kuat karena shahihnya firman Allah, “kholaqokum Min nafsin Wahidatin” (menciptakan kamu dari satu tubuh). (QS an-nisa : 1), karena jika Hawa diciptakan dari tanah, maka kata yang pantas adalah

لكن الناس مخلوقين من نفسين، لا من نفس واحدة

Pastilah manusia diciptakan dari dua jenis (Nafsaini) bukan “Min nafsin Wahidah”.

 وأيضا فلما ثبت أنه تعالى قادر على خلق آدم من التراب كان قادرا أيضا على خلق حواء من التراب. وإذا كان الأمر كذلك، فأي فائدة في خلقها من ضلع من أضلاع آدم

Alasan lain bahwa Allah ta’ala berkuasa menciptakan Adam dari tanah, pastilah dia pun berkuasa menciptakan Hawa dari tanah juga. Jika demikian apa faedahnya kalimat yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam yang paling atas.

الَّذِيْٓ اَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهٗ وَبَدَاَ خَلْقَ الْاِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍ• ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهٗ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ مَّاۤءٍ مَّهِيْنٍ

“(Allah) Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina” (air mani).” (QS as-Sajdah [32] : 7-8)

Pada kedua ayat ini, jelas bahwa penciptaan manusia pertama dan selanjutnya berbeda. Manusia pertama adalah Adam as. diciptakan Allah dari tanah. Kemudian menciptakan manusia kedua, yaitu Hawa dari tubuh Adam as. ( Wa Khalaqa minha Zawjaha = kemudian Allah menciptakan dari tubuh yang satu itu pasangannya). Pada ayat ke 2 disebutkan: Tsumma Ja’ala Naslahu = kemudian Allah menjadikan keturunannya. Dalam bahasa Arab yang lain dikenal dengan sebutan “Dzurriyatu Adam” atau Bani Adam = anak cucu Adam.

Di kalangan para mufassir pun ada dua pendapat; pertama, bahwa Hawa diciptakan dari Adam, maksudnya perempuan itu seperti tulang rusuk yang selalu bengkok, sebagaimana dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يُؤْذِيْ جَارَهُ، وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْئٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا. متفق عليه

Dari Abu Hurayrah r.a, katanya, telah bersabda Rasulullah saw, “Siapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhir janganlah ia menyakiti tetangganya. Dengarlah wasiatku tentang para isteri agar diperlakukan dengan baik, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk. Dan sesungguhnya tuIang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas; jika engkau meluruskannya berarti mematahkannya, jika membiarkannya, berarti akan tetap bengkok. Dengarlah washiyatku tentang para isteri agar diperlakukan dengan baik”. (Muttafaq ‘alaih)

Kedua, bahwa Hawa benar-benar terbuat dari tulang rusuk Adam. Bukan tulangnya yang diambil kemudian dijadikan Hawa, melainkan dari saripati atau air yang mengalir dari tulang rusuk. Bahkan “Sulalah” pada surah as-Sajdah ayat tujuh (7) diartikan cairan. Perhatikan pendapat para mufasir berikut ini,

أخرج عبد الرزاق وابن المنذر عن قتادة رضي الله عنه في قوله {من سلالة} قال : ماء يسل من الإنسا

Imam Abdurrazzaq, Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Qatadah r.a bahwa “Sulalah” itu adalah air yang keluar dari manusia.

Selanjutnya, dijelaskan dalam Tafsir ad-Durul Mantsur bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk suaminya dan merupakan keturunannya.

وأخرج الفريابي وابن أبي شيبه وابن جرير وابن المنذر عن مجاهد رضي الله عنه في قوله {وبدأ خلق الإنسان من طين} قال: آدم {ثم جعل نسله}قال: ولده {من سلالة} من بني آدم {من ماء مهين} قال: ضعيف نطفة الرجل

Imam al-Faryabi, Ibnu Abi Syaybah, Ibnu jarir, dan Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Mujahid ra. dalam mengartikan “Badaa Khalqa Linsaani Min Thin”, yaitu Adam. “Tsumma Ja’ala Naslahu”, yaitu anaknya, “Min Sulalatin” = dari keturunan Adam “Min Maain Mahin”= bahan yang lemah dari cairan laki-laki.

وأخرج عبد بن حميد وابن جرير وابن المنذر وابن أبي حاتم عن قتادة رضي الله عنه في قوله {جعل نسله} قال: ذريته {من سلالة} هي الماء

Imam Abdun bin Humaid,Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Qatadah ra. tentang “Ja’ala Naslahu”, yaitu keturunannya, “Min Sulalatin” ,yaitu cairan (air).

Jika kita tidak setuju bahwa Hawa dikatakan anak Adam tanpa ibu, sebut saja ia keturunannya, sebagaimana dijelaskan pada surah as-Sajdah ayat 7. Bagaimana pun, awal mula penciptaan manusia pertama dan kedua, sekalipun tidak dipahami prosesnya, tapi wajib kita imani ayatnya.

 

Sumber: Istifta (Tanya Jawab Hukum Islam Kontemporer)

Admin: Zaenal Mutaqin