//ISTIFTA – Hijab Surga dan Neraka

ISTIFTA – Hijab Surga dan Neraka

Lembang – hayaatunaa.com

Soal:

Meskipun pintu surga dibuka lebar-lebar namun manusia lebih cenderung untuk tidak mau memasukinya. Dan meskipun pintu neraka ditutup rapat-rapat, namun manusia lebih cenderung untuk mencarinya. Mengapa demikian?

Jawab:

Hadits yang tampak dapat dimaknakan dengan penjelasan yang dinyatakan:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ ، وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ »

“Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “dihijab (dihalangi) neraka itu dengan syahwat-syahwat dan dihalangi surga dengan hal-hal yang tidak disukai.” [HR al- Bukhari, XVI : 314, No 6487]

di dalam hadis musnad Ahmad bin Hambal,  II : 368, No. 7521, Shahih Muslim, VII: 142, No. 7308, Sunan At-Tirmidzi, IV : 693, No. 2559, kata-kata “hujibat” diriwayatkan dengan lafal “huffat”. Kedua lafal itu maknanya sama, yakni dihalangi.

Berdasarkan hadis ini, neraka dihalangi dengan syahwat, artinya yang disukai dan disyahwati manusia sehingga manusia asyik bermaksiat dan lupa diri, padahal syahwat-syahwat itu yang menggusur mereka dalam menapaki jalan jalan menuju neraka. Adapun surga dihalangi dengan hal-hal yang seringkali bertentangan dengan syahwat, artinya manusia tidak mensyahwatinya bahkan memiliki kecenderungan untuk membencinya. itu sebabnya sifat malas, rakus, kikir, ragu-ragu, penakut, hasad (iri dengki), sering menjadi penghalang Ibadah dalam bertaqarrub kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Umpamanya dalam berjihad takut meninggalkan hal-hal yang dicintainya, dalam bersedekah diganggu sikap kikir dan dihantui kekurangan atau kemiskinan baik dengan jiwa atau harta. Demikian pula ibadah-ibadah lainnya, seperti salat, shaum, zakat, dan lain-lain, dalam pelaksanaannya tentulah selalu diiringi pengorbanan dengan meninggalkan hal-hal yang disyahwatinya.

Manusia sering lupa diri bahwa ibadah itulah pengorbanan dirinya dalam menapaki jalannya ke surga. Oleh karena itu, jalan menuju surga akan dirasakan berat dengan berbagai rintangannya. Sementara jalan menuju pintu neraka dirasakan lancar dengan banyak dorongan dan dukungan. Jadi, dari hadis ini dapat dipahami pula bahwa neraka meski ditutup rapat, manusia memaksa memasukinya karena dengan cara yang mereka syahwati. Sementara surga, meskipun dibuka lebar, manusia enggan memasukinya karena harus dengan segenap pengorbanan yang tidak disyahwatinya.

Sumber: Istifta Tanya Jawab Islam Kontemporer

Admin: Zaenal Mutaqin