//ISTIFTA – Hukum Menggambar Nabi SAW

ISTIFTA – Hukum Menggambar Nabi SAW

Lembang – hayaatunaa.com

Soal:

Mengapa kita tidak boleh menggambar Nabi Muhammad SAW? padahal ada petunjuk dari hadits dan tarikh tentang sosok wajah beliau.

Jawab:

Tidak ada seorangpun yang hafal wajah Nabi Muhammad SAW selain para sahabatnya yang sering melihat beliau. sekalipun ada keterangan tentang sifat dan sosok beliau, tetapi gambar akan dipengaruhi oleh imajinasi pelukisnya.

Saat kita memandang sebuah lukisan, terlintas pula keinginan dan pikiran pembuatnya. Gambar yang dibuat seorang kafir yang benci Islam tentu akan berbeda dengan gambar yang dibuat seorang yang simpati. Latar belakang kepercayaan, kehidupan, dan imajinasi, tentu akan membedakan hasilnya. Lihat saja gambar Yesus yang bermacam-macam, padahal semua dibuat oleh para pencintanya; orang barat menggambarnya dengan rambut gondrong pirang, kulit putih, matabiru, berjanggut tebal. Orang Indian menggambarkan Yesus dengan rambut yang panjang lurus, hitam, pakai ikat kepala yang dihiasi bulu elang. Yesus menurut orang Afrika berkulit hitam dan berambut keriting. Kami pernah melihat 10 gambar Yesus yang berbeda-beda. Belum lagi gambar Bunda Maria dan bayinya. Dan tidak setiap orang Kristen setuju dengan gambar yang ada.

Setiap muslim pasti merindukan bertemu dengan Nabi Muhammad SAW tetapi tidak merelakan untuk digambar apalagi dalam bentuk karikatur. Jika orang-orang kafir ‘keukeuh’ (bersikukuh) ingin menggambar wajah Rasulullah SAW mungkin karena Ada kecemburuan karena Tuhan mereka dipermainkan melalui gambar dan patung. Mereka sangat menginginkan keimanan umat Islam terhadap Nabi Muhammad SAW menjadi berkurang. Itulah hikmahnya Allah mengutus para rasul pada zaman yang belum mengenal teknologi seperti sekarang, yaitu untuk menghormati mereka dan mempertebal keimanan. Sesungguhnya yang harus kita kenang dari para Rasul adalah jasanya dengan mempelajari sejarah perjuangannya untuk dijadikan uswah (teladan).

Tidak penting jika tidak tahu wajah para nabi alaihimussalam dan tidak durhaka jika tidak mengunjungi kuburan mereka. Yang penting adalah meneladani sikap nya yang baik, akhlaknya yang jujur, jihadnya yang ikhlas, dan semangat dakwahnya yang tinggi.

Para sahabat sangat senang bila bertemu dengan Rasulullah SAW, tetapi mereka sering tidak sempat karena kesibukan masing-masing. Dari itu beliau bersabda,

مَنْ رَآنِّي فِيْ الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فِي الْيَقَظَةِ فَإِنَّ الشّيْطَانِ لَا يَتَمَثَّلُ عَلَى صُوْرَتِي (رواه ابن ماجة)

“Siapa yang melihatku dalam tidur (mimpi) maka sungguh ia telah melihatku pada waktu bangunnya, karena setan tidak bisa menyerupai rupaku.” (HR Ibnu Majah, dari Abdullah Bin Masud ra. hadits serupa diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad, Bukhori, Muslim, dan yang lainnya)

Jika sekarang ada orang yang mengaku bertemu dengan Nabi Muhammad SAW di dalam tidurnya, benarkah itu beliau, sebab orang itu tidak pernah melihat wajah beliau pada waktu bangunnya.

Sumber: Istifta Tanya Jawab Hukum Islam Kontemporer

Admin: Zaenal Mutaqin