//ISTIFTA – Hukum Menggunakan Patung Untuk Display

ISTIFTA – Hukum Menggunakan Patung Untuk Display

Lembang – hayaatunaa.com

Soal:

Bagaimana hukumnya memproduksi dan menggunakan patung untuk display/contoh pakaian yang biasa ada di toko-toko pakaian? hadis Nabi SAW menyatakan: “Barang siapa yang membuat gambar benda hidup/patung, maka di akhirat nanti akan diminta memberikan nyawa oleh Allah. Mohon penjelasan!

Jawab:

Patung, boneka, gambar-gambar, baik yang dipahat, diukir, dilukis, difoto, atau dicetak, di dalam hadis disebut shurah. Ada shurah dalam arti umum mencakup gambar, patung, dan lain-lain. Ada pula shurah dalam arti khusus, yaitu gambar, Qarinahnya adalah ada pada kain, pakaian, tirai, dan lain-lain.

Perlu diketahui bahwa shurah atau membuat shurah adalah urusan keduniaan yang pada asalnya mubah. Dalam kaidah fiqh dikatakan:

اَلْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ حَتَّى يَدُلَّ الدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ

Hukum yang pokok dari segala sesuatu adalah boleh, sehingga terdapat dalil yang mengharamkan. (al-Asybah wan- Nazha’ir, hal. 82-83)

Selanjutnya didapatkan hadits-hadits sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أَبِى طَلْحَةَ – رضى الله عنهم – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم  « لاَ تَدْخُلُ الْمَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلاَ تَصَاوِيرُ

Dari Ibnu Abbas, dari Abu talhah ra. ia berkata: Nabi SAW bersabda: “Malaikat tidak akan masuk rumah yang padanya ada anjing dan gambar-gambar“. (HR. Musnad Ahmad bin Hambal, V : 229, No. 21820 dan Shahih Bukhari, XV : 91, No. 5949).

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّهَا اشْتَرَتْ نُمْرُقَةً فِيهَا تَصَاوِيرُ ، فَقَامَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِالْبَابِ فَلَمْ يَدْخُلْ . فَقُلْتُ أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مِمَّا أَذْنَبْتُ . قَالَ « مَا هَذِهِ النُّمْرُقَةُ » . قُلْتُ لِتَجْلِسَ عَلَيْهَا وَتَوَسَّدَهَا . قَالَ « إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، يُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ . وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ الصُّورَةُ »

Dari Aisyah Ra., bahwasanya ia membeli numruqah (bantal hamparan) bergambar-gambar. Maka Nabi Saw berdiri di dekat pintu tetapi tidak masuk. Aku berkata: “Aku bertaubat kepada Allah dari dosa yang aku perbuat”. Beliau bersabda: “Apakah gerangan numruqah ini?” Aku menjawab: ”Agar anda dapat duduk padanya dan berhamparan dengannya”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya para pembuat gambar-gambar ini disiksa pada hari kiamat. Dikatakan kepada mereka: ‘Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan.’ Dan sesungguhnya malaikat tidak akan masuk ke rumah yang padanya terdapat gambar-gambar”. (Musnad Ahmad bin Hambal, VI : 259, No. 26132 dan Shahih al-Bukhari XV : 102, No. 5957)

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حِطَّانَ أَنَّ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – حَدَّثَتْهُ أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – لَمْ يَكُنْ يَتْرُكُ فِى بَيْتِهِ شَيْئًا فِيهِ تَصَالِيبُ إِلاَّ نَقَضَهُ

Dari ‘Imran bin Hiththan, bahwasanya ‘Aisyah Ra menceritakan kepadanya bahwa Nabi Saw tidak pernah membiarkan di rumahnya ada salib-salib kecuali beliau membuangnya. Shahih al-Bukhari XV : 96, No. 5950.

عَنْ مُسْلِمٍ قَالَ كُنَّا مَعَ مَسْرُوقٍ فِى دَارِ يَسَارِ بْنِ نُمَيْرٍ ، فَرَأَى فِى صُفَّتِهِ تَمَاثِيلَ فَقَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ »

Dari Muslim, ia berkata: Kami bersama Masruq di rumah Yasar bin Numair, lalu ia melihat serambinya ada patung-patung. Ia berkata: Saya mendengar Abdullah berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya manusia yang paling keras menerima adzab di sisi Allah adalah para pembuat patung”. (Musnad Ahmad bin Hambal I : 528, No. 4050 dan Shahih al-Bukhari XV : 93 No. 5950)

عَنْ أَنَسٍ كَانَ قِرَامٌ لِعَائِشَةَ سَتَرَتْ بِهِ جَانِبَ بَيْتِهَا فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « أَمِيطِى عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا ، فَإِنَّهُ لاَ تَزَالُ تَصَاوِيرُهُ تَعْرِضُ فِى صَلاَتِى »

Dari Anas Ra. Ia berkata: Tirai milik ‘Aisyah menutupi samping rumahnya, Nabi Saw. bersabda kepadanya: “jauhkanlah dariku karena tidak henti-hentinya gambar-gambarnya memalingkan aku pada salatku”. (Shahih al Bukhari XV : 105, No. 5959)

عَنْ أَبِى طَلْحَةَ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ الصُّورَةُ » . قَالَ بُسْرٌ ثُمَّ اشْتَكَى زَيْدٌ فَعُدْنَاهُ ، فَإِذَا عَلَى بَابِهِ سِتْرٌ فِيهِ صُورَةٌ فَقُلْتُ لِعُبَيْدِ اللَّهِ رَبِيبِ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَلَمْ يُخْبِرْنَا زَيْدٌ عَنِ الصُّوَرِ يَوْمَ الأَوَّلِ .

فَقَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ أَلَمْ تَسْمَعْهُ حِينَ قَالَ إِلاَّ رَقْمًا فِى ثَوْبٍ

Dari Abu Thalhah shahabat Rasulullah Saw, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya malaikat tidak masuk ke rumah yang padanya terdapat gambar-gambar”. Busr berkata: Lalu Zaid sakit dan kami menjenguknya, ternyata pada pintunya terdapat tirai bergambar. Aku berkata Ubaidillah rabib Maimunah istri Nabi Saw: “Bukankah Zaid telah mengabari kita tentang patung-patung/gambar pada hari pertama?” tidakkah Engkau mendengar ketika ia berkata: ‘Kecuali gambar pada pakaian”. (Shahih al-Bukhari XV : 103, No. 5958)

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهُ كَانَ لَهَا ثَوْبٌ فِيهِ تَصَاوِيرُ مَمْدُودٌ إِلَى سَهْوَةٍ فَكَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى إِلَيْهِ فَقَالَ « أَخِّرِيهِ عَنِّى ». قَالَتْ فَأَخَّرْتُهُ فَجَعَلْتُهُ وَسَائِدَ.

Dari ‘Aisyah bahwasanya ia mempunyai pakaian yang bergambar yang membentang sampai ke sahwah. Dan Nabi Saw salat menghadapinya. Beliau bersabda: “Jauhkan ia dariku.” Aisyah berkata: “Maka aku menjauhkannya dan menjadikannya jadi beberapa sarung bantal sandaran”. (Musnad Ahmad bin Hanbal VI: 182, No. 25431 dan Shahih Muslim VI : 159, No. 5651)

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ – فِيهَا تَصَاوِيرُ – لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ أُولَئِكِ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ».

Dari ‘Aisyah dari Ummu Habibah dan Ummu Salamah, keduanya menjelaskan kepada Rasulullah Saw tentang gereja yang mereka lihat di Habasyah yang padanya terdapat gambar-gambar. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya mereka apabila mati seorang dari mereka, mereka membangun di atas kuburnya masjid dan mereka membuat patung/gambar mereka. Mereka itu sejahat-jahat makhluk pada hari kiamat menurut Allah Swt”. (HR Shahih Muslim II : 66 No. 1209)

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَكَانَ لِى صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِى ، فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ ، فَيُسَرِّبُهُنَّ إِلَىَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِى

Dari ‘Aisyah, ia berkata: “Saya bermain boneka anak-anak patung di sisi Nabi Saw dan saya mempunyai teman-teman bermain yang bermain bersamaku. Apabila Rasulullah Saw masuk, mereka menahan diri dari beliau, dan Rasulullah Saw akan keluar dengan diam-diam agar mereka dapat bermain denganku”. (Shahih al-Bukhari XIII : 362 No. 6130)

Dengan memperhatikan sabda-sabda Rasulullah Saw dan keterangan beberapa sahabat Nabi Saw, jelaslah bahwa tidak setiap patung diharamkan, demikian pula tidak setiap gambar dilarang. Hal diharamkan, demikian pula tidak setiap gambar dilarang. Hal yang dilarang itu adalah gambar-gambar salib, patung yang mengandung kepercayaan atau berkaitan dengan akidah. Sebab terbukti, ada gambar yang dijadikan sarung bantal sandaran dan patung untuk mainan.

Selanjutnya, patung dan gambar yang dihancurkan itu patung dan gambar yang dijadikan sembahan atau kultus. Sementara patung atau gambar mainan atau gambar pada bantal sandaran, karpet, dan lain-lain yang tidak mengandung mistik atau syirik, tidak dihancurkan.

Dengan demikian, maksud dari hadits-hadits yang isinya berupa pelarangan Nabi Saw membuat patung dan menggambar makhluk hidup, itu ada ‘illat (faktor motif)-nya, yaitu kemusyrikan. Jadi, patung biasa dan gambar-gambar yang hanya berkaitan dengan keperluan sehari-hari, seperti foto-foto keluarga, koleksi pribadi, atau untuk KTP, paspor, dan sebagainya, tetap merupakan urusan keduniaan yang hukumnya mubah. Akan tetapi patung, foto, gambar yang berkaitan dengan kepercayaan mistik, syirik, dan kultus terhadap barang itu, hukumnya haram.

Sumber: Istifta Tanya Jawab Hukum Islam Kontemporer

Admin: Zaenal Mutaqin