//ISTIFTA – Kedudukan Hadits Thuba li Man Syaghalahu ‘Aibuhu

ISTIFTA – Kedudukan Hadits Thuba li Man Syaghalahu ‘Aibuhu

Lembang – hayaatunaa.com

Soal:

Bismillah, Apakah hadits “Tuba Liman Syaghalahu ‘aibuhu ‘an ‘uyubinnas”, kedudukannya shohih?

Jawab:

Benar, lafal yang ditanyakan adalah lafal hadis atau dinyatakan sebagai Sabda Rasulullah SAW. Adapun lafal lengkapnya sebagai berikut:

عَن أَنَسٍ قَالَ: خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيه وَسَلَّم عَلَى نَاقَتِهِ الْعَضْبَاءِ وليست بالجدعاء فقال: ياأيها النَّاسُ كَأَنَّ الْمَوْتَ فِيهَا عَلَى غَيْرِنَا كُتِبَ وَكَأَنَّ الْحَقَّ فِيهَا عَلَى غَيْرِنَا وَجَبَ وَكَأَنَّمَا نُشَيِّعُ مِنَ الْمَوْتَى سَفَرٌ عَمَّا قَلِيلٌ إِلَيْنَا رَاجِعُونَ نُبَوِّئُهُمْ أَجْدَاثَهُمْ وَنَأْكُلُ تُرَاثَهُمْ كَأَنَّكُمْ مُخَلَّدُونَ بَعْدَهُمْ قَدْ نَسِيتُمْ كُلَّ وَاعِظَةٍ وَأَمِنْتُمْ كُلَّ جَائِحَةٍ طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ، عَن عُيُوبِ النَّاسِ وَتَوَاضَعَ للَّهِ فِي غَيْرِ مَنْقَصَةٍ وَأَنْفَقَ مِنْ مَالٍ جَمَعَهُ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةٍ وَخَالَطَ أَهْلَ الْفِقْهِ وَجَانَبَ أَهْلَ الشَّكِّ وَالْبِدْعَةِ وَصَلَحَتْ عَلانَيَتُهُ وَعَزَلَ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ.

Dari Aban Bin Abu Ayyas, dari Anas bin Malik ra ia berkata: Rasulullah SAW mengkhutbah kami di atas unta Jad’a, maka beliau bersabda dalam khutbahnya: “wahai manusia, seakan-akan kebenaran tidak akan diwajibkan kepada kita, kematian seakan-akan tidak akan terkena kepada kita, seakan-akan orang-orang yang meninggal di antara kita hanya orang-orang yang sekedar lewat, sangat sedikit sekali yang bisa menggugah kita, padahal kita yang menyiapkan kuburan mereka, kita makan unta-unta mereka, tetapi seakan-akan kita akan kekal sesudah mereka. Kita selalu lupa dengan setiap nasihat. Kita selalu merasa aman-aman saja dari setiap musibah. Alangkah baiknya orang yang disibukkan oleh aibnya daripada mengurus aib orang lain, menginfakkan harta hasil usahanya dalam hal yang bukan maksiat, bergaul dengan ahli fikih dan hikmah, dan menjauh dari orang-orang hina dan maksiat. Alangkah baiknya orang yang merasa hina akan dirinya, baik akhlaknya, beres perangainya, dan menjauh dari kejahatan orang-orang. Alangkah baiknya orang yang beramal berdasarkan ilmunya, menginfakkan kelebihan hartanya, menahan kelebihan dari ucapannya, dan cukup baginya sunnah tanpa tertarik lagi untuk Bid’ah”. (Syu’abul Iman, XIII : 142: 10079, Musnad al-Bazar, II : 273, No. 6237, Musnad asy-Syihab, I : 358, dan Dhaif al-Jami’u Shagir, Nashruddin al-Albani, XVII : 230, No. 8083)

Hadits ini dhaif sekali sebagaimana diterangkan oleh Syekh Nashiruddin al-Albani, antara lain karena pada sanadnya, ada seorang Rawi bernama Aban yang Nama lengkapnya Aban bin Abu Ayas. Rowi ini disepakati dhaif nya oleh para ulama ahli jarh dan ta’dil. Umpamanya Syu’bah mengatakan: “Lebih baik aku berzina daripada meriwayatkan dari Aban”. (At-Ta’dil wat Tajrih, I : 255)

Demikian pula Sufyan ats-Sauri ketika ditanya mengenai mengapa anda tidak meriwayatkan hadits dari Aban? Dia menjawab: “Aban adalah rawi yang lupa hadis-hadisnya sendiri”. (Al-Jarh wat-Ta’dil, I : 77)

Dengan demikian, jelas sekali hadis ini merupakan hadis yang da’if.

Sumber: Istifta Tanya Jawab Hukum Islam Kontemporer

Admin: Zaenal Mutaqin