//ISTIFTA – Meninggal di Hari Jumat

ISTIFTA – Meninggal di Hari Jumat

Lembang – hayaatunaa.com

Soal:

Apakah benar ada hadis yang menerangkan bahwa siapa yang meninggal pada hari atau malam Jumat, maka akan dihindarkan dari azab kubur?

Jawab:

Semua manusia akan mati, Adapun baik dan buruknya apa yang akan dialami setelah itu bergantung atas aqidah dan amalnya, bukan bergantung pada hari apa dia meninggal. Bila amal-amalnya baik maka baik pula balasannya. Tetapi, bila amalnya jelek, maka jelek pula balasannya.

Memang dalam beberapa riwayat diterangkan bahwa seseorang akan terlepas atau terpelihara dari azab kubur atau fitnah kubur apabila kematiannya pada hari Jumat. Adapun keterangan-keterangannya sebagai berikut:

Pertama, Anas bin Malik:

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ وَاقِدِ بْنِ سَلَامَةَ، عَنْ يَزِيدَ الرَّقَاشِيِّ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وُقِيَ عَذَابَ الْقَبْرِ

Abu Ma’mar Ismail bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ja’far telah menceritakan kepada kami, dari Waqid bin Salamah ia mengatakan, dari Yazid ar-Ruqasy ia mengatakan dari Anas ia mengatakan Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mati pada hari Jumat, Niscaya akan terpelihara dari siksa kubur”. (HR ِAbu Ya’la, Musnad Abu Ya’la VII : 146, al-Haesami, Majmauz Zawaid, II : 319, Ibnu Adi, Al Kamil fid Duafair Rijal, VII : 92)

Hadits ini, pada sanadnya terdapat dua rawi yang lemah yakni Yazid ar-Ruqasy dan Waqid bin Salamah.

1. Yazid ar-Ruqosy. Ia adalah Yazid bin Aban ar-Ruqasy.

Al Bukhari mengatakan dalam kitab tarikhnya bahwa Syu’bah memperbincangkannya. Abdullah bin Ahmad mengatakan dari bapaknya, “Ia rowi yang dinyatakan daif”. An Nasa’i dan al-Hakim Abu Ahmad mengatakan, “Matrukul Hadits (Ia Rowi yang hadisnya ditinggalkan) “. (Tahdzibul Kamal, XXXII : 64-77)

2. Wakid atau Wafid bin Salamah. Dia adalah Wakid bin Ijma’.

Ibnul jauzi mengatakan dalam kitabnya ad-Duafa wal matrukin, III : 183, Ad-Daruquthni berkata, “ia daif”. Berkata Ibnu Hiban, ‘Ya’ti bi asy yaa’ maudhuatin an aqwami dhuafa’i (Ia menyampaikan hadits-hadits palsu dari rawi-rawi yang daif) “.
Al Bukhari mengatakan, “Wakid bin bil Ijma’ dari Yazid ar-Ruqasyi hadisnya tidak sah”. (Al Kamil fid Duafair Rizal, VII : 92)

Kedua, Abdullah bin Amr bin al-‘Ash:

حدثنا سُرَيج حدثنا بَقيّة عن معاوية بن سَعيد عن أَبي قَبيل عن عبد الله بن عمرو بنِ العاصي، قَال: قال رسول الله -صلي الله عليه وسلم -: “من مات يوَم الجمعة أو ليلةَ الجمعة وُقي فتنةَ القبر”.

Abdullah telah menceritakan kepada kami, bapakku telah menceritakan kepadaku, suraij menceritakan kepada kami, Baqiyah menceritakan kepada kami, dari Muawiyah bin Said ia mengatakan dari Abu Qubail, dari Abdullah bin Amr bin al-‘ash, ia mengatakan, kami mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mati pada hari Jumat atau malam Jumat akan dijaga dari azab kubur”. (HR. Abd bin Humaid, I : 132, Ahmad, II : 176, As Sunnah li Abdillah bin Ahmad, II : 618)

Riwayat ini pun daif. Pada sanad hadis tersebut terdapat dua rawi yang bernama Baqiyah bin Al Walid dan Muawiyah bin Sa’id bin Syuraih bin Azrah at-Tujibi.

Mengenai Baqiyah bin Al Walid, Abu Hatim mengatakan: “Hadisnya dicatat tapi tidak dijadikan hujjah”. Ibnu Hajar berkata, “Dia itu sadhuq, banyak mentadlis (menyamarkan) dari rawi yang daif “. Abdul Arab al-Qairawani mengatakan, “Ia banyak meriwayatkan dari rawi-rawi yang dhaif dan majhul”. (Tahzibul kamal VI : 192-200)

Adapun mengenai rawi yang bernama Muawiyah bin Said, adz-Dzahabi mengatakan dalam kitabnya Al Kasyif, “dia dinyatakan tsiqat “. Ibnu Hibban mencantumkannya dalam kitabnya, ats-Tsiqat. Adapun Ibnu Hajar dalam kitabnya at Taqrib menyatakan” maqbul “termasuk thobaqot ke-7. (A Taqrib, I : 537, dan Al-Kasyif, II : 275)

Adapun pada riwayat lainnya yang masih dari Abdullah bin Amr terdapat perbedaan lafal matan dan sanad dengan redaksi:

حدثنا عبد الله حدثني أبي حدثنا أبو عامر ثنا هشام يعني بن سعد عن سعيد بن أبي هلال عن ربيعة بن سيف عن عبد الله بن عمرو عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة الا وقاه الله فتنة القبر

Abdullah telah menceritakan kepada kami, bapakku telah menceritakan kepadaku, Abu Amir menceritakan kepada kami, Hisyam yaitu Ibnu Sa’d telah menceritakan kepada kami, ia mengatakan, dari Said bin Abu Hilal, ia berkata, dari Robiah bin Saef, ia berkata dari Abdullah bin Amr, ia mengatakan, dari Nabi SAW beliau bersabda: “Tidak ada seorang muslim yang mati pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Allah akan memeliharanya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad, II : 169, At Tirmidzi, III 386, Abdurrazaq, III : 269)

Hadits ini pun pada sanadnya tidak luput dari kedhaifan. Hal tersebut karena pada sanadnya terdapat inqitha (putus), yakni antara Robiah bin Saif dan Abdullah bin Amr.

At-Tirmidzi mengatakan, “sanad hadits ini tidak muttasil, sesungguhnya Robiah bin Saif menerima atau meriwayatkan dari Abu Abdurrahman Al Habali dari Abdullah bin Amar, dan kami tidak mengetahui bahwa Robiah Sima (mendengar hadis) dari Abdullah bin Amr”. (Sunan at-tirmidzi, III : 386 dan dikenal. (Mu’tashirul Mukhtashar, I : 115)

Ketiga, Jabir bin Abdullah:

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أُجِيرَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَجَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ طَابَعُ الشُّهَدَاءِ

Dari Jabir, ia mengatakan Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mati pada hari Jumat atau malam Jumat akan dilindungi dari siksa kubur dan pada hari kiamat akan datang dengan bertanda Syuhada”. (HR Abu Nu’aim, Hilyatul Aulia III : 155)

Riwayat ini pun daif disebabkan kedaifan rawi bernama Umar bin Musa bin al-Wajih. Ia adalah Umar bin Musa bin Alwi Al wajihi As Syami Al Anshari.

Ibnu Adi mengatakan dalam kitabnya Al Kamil, “ia pemalsu hadits dan Matan maupun sanad”. Ibnu Ma’in berkata, “ia tidak tsikat”. An Nasa’i dan ad-Daruqutni menyatakan “matruk”. Abu Hatim mengatakan, “Dzahibul hadis, ia pemalsu hadits “. Al Bukhori berkata,” munkarul hadits “. (Ta’jilul Manfaah, I : 303)

Karena hadits-hadits di atas tidak ada satupun yang shohih, maka baik dan buruknya balasan seseorang setelah kematian itu bukanlah ditentukan oleh waktu atau hari, tetapi kematiannya oleh amalnya. Oleh karena itu, tidak benar ada yang akan dibebaskan dari azab kubur karena mati pada hari Jumat atau malam Jumat. Yang jelas, akan terbebas dari alam kubur itu harus terus berlindung dari padanya dan menjauhi amal-amal yang akan menyebabkan seseorang di azab kubur. Hal ini diterangkan di dalam hadis hadis sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ: اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ  الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Dari Abu Hurairah ra ia berkata Rasulullah SAW bersabda: “Apabila salah seorang diantara kamu selesai dari tasyahudnya hendaklah berlindung kepada Allah dari 4 perkara. Ia mengucapkan, “Ya Allah Sesungguhnya aku berlindung hanya kepada-Mu dan dari Azab jahannam dari azab kubur; dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian serta kejahatan fitnah masihid Dajjal “. (HR Ahmad bin Hanbal, II : 682, No. 10183, Shahih Muslim, II : 93, No. 1352)

Hadits Shahih menjelaskan penyebab azab kubur seperti dibawah ini:

عَنْ أَنَسٍ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَنَزَّهُوا مِنَ الْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ

Dari Anas bin Malik, ia berkata Rasulullah SAW telah bersabda, “Bersucilah dari air kencing karena sesungguhnya kebanyakan azab kubur itu disebabkan olehnya”. Sunan A Daruquthni, II : 18, no. 469.

Azab kubur juga akan diberikan kepada manusia yang suka menyebarkan kebencian dan berita keburukan orang lain dengan niat mencelakakan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: مَرَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ: «أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ»، قَالَ فَدَعَا بِعَسِيبٍ رَطْبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ ثُمَّ غَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا ثُمَّ قَالَ: «لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Dari Ibnu Abbas, ia berkata titik 2 Rasulullah SAW melewati dua kuburan, beliau bersabda,”Adapun keduanya ini disiksa bukan karena dosa besar, yang satu disiksa karena ia sering menyebarkan bibit permusuhan/kebencian, yang kedua karena tidak suka berlindung diri ketika buang kencing.” Maka beliau meminta batang pelepah kurma yang basah lalu dipotong 2, lalu Beliau tancapkan masing-masing kuburan satu potongan. Lalu bersabda:” semoga ini akan meringankan mereka selama potongan ini basah”. (HR Shahih Muslim, I 166, No. 703)

Kesimpulan:
1. Tidak benar mati pada hari atau malam Jumat menjadi penyebab dibebaskan dari azab kubur.
2. Wajib berusaha menghindar dari amal yang akan menyebabkan azab kubur antara lain menyebarkan kebencian dan permusuhan, tidak menjaga diri dari air kencing, dan tidak berlindung diri dari pandangan orang pada saat kencing.

Sumber: Istifta Tanya Jawab Hukum Islam Kontemporer

Admin: Zaenal Mutaqin