//ISTIFTA – Menyebarkan Berita Dusta

ISTIFTA – Menyebarkan Berita Dusta

Lembang-hayaatunaa.com

Soal:

Pada saat ini yang namanya informasi mudah didapat dan komunikasi mudah dilakukan. Saya sering mendapat info tentang apa saja melalui media; yang suka maupun tidak suka. Apakah saya berdosa karena ikut menyebar berita yang tidak benar?

Jawab:

Manusia mempunyai sifat penasaran dan kadang ingin menceritakan apa yang ia rasa yang ia ketahui bahkan mempunyai keinginan untuk menceritakan amal perbuatannya kepada orang lain. Sejak dulu juga ada yang namanya berita dusta, seperti yang dilakukan setan kepada Nabi Adam as. tentang pohon terlarang. Pada zaman Rasulullah Saw ada beberapa kasus tentang pemberitaan bahkan sampai menjadi sebab turunnya Al-Quran, diantaranya:

قُلْ أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم

Katakanlah (kepada mereka), “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?” (QS Al-Hujurat : 16)

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Al Haris, Pemimpin kaum Bani musthaliq, Ayah Juariah Ummul Mukminin, menghadap Rasulullah SAW, beliau mengajaknya untuk masuk Islam. Rasulullah SAW menyuruhnya untuk membayar zakat Ia pun menyanggupi kewajiban itu, dan berkata: “Ya Rasulullah, aku akan pulang ke kaumku untuk mengajak mereka masuk Islam dan menunaikan zakat. Orang-orang yang mengikuti ajakanku akan aku kumpulkan zakatnya. Apabila telah tiba waktunya, kirimlah utusan untuk mengambil zakat yang telah dikumpulkan itu”.

Ketika Al Harits telah banyak mengumpulkan zakat, dan waktu yang sudah ditetapkan pun telah tiba, tak seorangpun utusan yang menemuinya. Al Haris mengira telah terjadi sesuatu yang menyebabkan Rasulullah SAW marah kepadanya. Ia pun memanggil para Hartawan kaumnya dan berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah menetapkan waktu untuk mengutus seseorang untuk mengambil zakat yang telah ada padaku dan beliau tidak pernah menyalahi janjinya. Akan tetapi saya tidak tahu mengapa beliau menangguhkan utusannya itu. Mungkinkah Allah dan Rasul-Nya marah?”

Rasulullah SAW, sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil dan menerima zakat yang ada pada al-Harits. ketika Al Walid berangkat, hatinya merasa gentar, lalu ia pun pulang sebelum sampai ke tempat yang dituju. Ia melaporkan (laporan palsu), “Ya Rasulullah, bahwa al-Harits tidak mau menyerahkan zakat kepada kepadaku, bahkan mengancam akan membunuhku”.

Kemudian Rasulullah SAW mengirim utusan yang berikutnya kepada Al Haris. Di tengah perjalanan, utusan itu berpapasan dengan Al Haris dan sahabat-sahabatnya yang tengah menuju ke tempat Rasulullah SAW. Setelah berhadap-hadapan, Al Harits menanyai utusan itu, ” kepada siapa engkau diutus?” Utusan itu menjawab,”kami diutus kepadamu”. Dia bertanya: “Mengapa?” Mereka menjawab: “sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengutus Al Walid bin Uqbah, namun, ia mengatakan bahwa engkau tidak mau membayar zakat bahkan bermaksud membunuhnya. “Al-Haris menjawab,” Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihatnya, tidak ada yang datang kepadaku”.

Ketika mereka sampai di hadapan Rasulullah SAW, bertanyalah beliau, “Mengapa engkau menahan zakat dan akan membunuh utusan ku?” Al-haris menjawab ” demi Allah yang telah mengutus engkau dengan sebenar-benarnya, Aku tidak berbuat demikian “. Kemudian turunlah ayat ini (Qs Al-Hujurat [49]: 6) sebagai peringatan kepada kaum mukminin agar tidak hanya menerima keterangan dari sebelah pihak saja titik (tafsir Ibnu Katsir)

Para ahli hadis, di antaranya Imam Al Bukhari meriwayatkan “Haditsul Ifki”, yaitu berita dusta tentang Aisyah ra, Ummul mukminin, ketika ia dituduh berbuat zina. Bermula dari berita yang sampai kepada kaum munafik, kemudian mereka menyebarkan berita dusta itu. Kaum muslimin pun tidak ragu-ragu dalam menyatakan sikap. Kemudian Allah SWT menurunkan surat An-Nur ayat 11-20 yang menegaskan bahwa Aisyah ra bersih dari tuduhan.

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

لَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. Janganlah kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kahan, bahkan ia baik bagi kalian. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong itu orang-orang mukmin dan mu’minat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”

Berita bohong yang disebarkan kaum munafik pada asalnya sangat menyakitkan umat Islam. Namun, setelah Allah SWT membantah berita itu dan menghukum para penuduh, menjadi kekuatan bagi kaum muslimin.

Hadits yang sampai kepada kita adalah berita dari Rasulullah SAW yang diceritakan oleh para Rawi sampai akhirnya dicatat oleh Muhaddits. Untuk menentukan shohih dan tidaknya, hadits perlu diteliti siapa yang membawa berita tersebut. Dinyatakan berita itu shohih jika diriwayatkan oleh orang-orang yang selalu bertakwa (menjaga diri dari perbuatan dosa), jujur, kuat hafalan, bukan ahli bid’ah (yang suka mengada ngada). Hadis itu dinyatakan daif jika salah seorang rawinya suka atau pernah berdusta, tidak dikenal sifat-sifatnya, lemah hafalannya, fasik (suka berdosa), dan munafik.

Namun, jika berita itu sangat baik isinya dan diyakini kebenarannya, maka kita harus menyampaikan berita baik itu kepada yang lain. Berita yang sangat baik itu dari al-Quran dan al-Hadis.

Sumber; Istifta Tanya Jawab Islam Kontemporer

Admin: Zaenal Mutaqin