//ISTIFTA – Penggunaan Dhamir untuk Allah Swt

ISTIFTA – Penggunaan Dhamir untuk Allah Swt

Lembang – hayaatunaa.com

Soal:

Mengapa dhamir untuk Allah Swt dalam Al-Quran menggunakan nahnu (Jamak)?

Jawab:

Ayat-yang Anda maksud dalam surat al-Waqi’ah sebagai berikut :

إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً (35) فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا (36

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. (Qs Al Waqi’ah : 35-36)

Memang di dalam al-Qur’an banyak kata “Ana” sebagai dhamir mutakalim wahdah (kata ganti seorang yang berbicara) menggunakan kata ganti “nahnu”, mutakallim ma’al ghair (yang berbicara dengan yang lainnya). Perlu dikemukakan disini bahwa bukan hanya Allah ketika berbicara kepada hamba-Nya menggunakan dlamir nahnu, hamba pun yang hanya seorang menggunakan hal yang sama. Umpanya ketika membaca al-Fatihah, walaupun seorang diri tetap membaca dengan;

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6)

Hanya Engkaulah yang kami sembah dan  hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.* Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Qs Al-Fatihah : 5-6)

Dan masih banyak ayat-ayat yang demikian. Maksudnya tidak lain karena mengagungkan atau memuliakan yang diajak bicara, masalah, atau yang sedang dibicarakan. Dalam istilah para ahli tafsir disebut lil-ta’zhim atau takrim. Umpamanya bisa kita perhatikan ketika menafsirkan surah al-Baqarah ayat 34 berikut:

وَإِذْ قُلْنا للتعظيم بصيغة الجمع، وهي معطوفة على قوله: وَإِذْ قالَ رَبُّكَ وفيه التفات من الغائب إلى المتكلم لإظهار المهابة والجلالة.

Kata-kata “wa idz qulna” (maka kami—Allah Swt—berfirman) adalah untuk pengagungan dengan bentuk jamak (mutakallim ma’algair), dan itu ma’tuf (nyambung) kepada kata “wa idz qala rabbuka lil mala’kah” (dan ketika Tuhan-mu berfirman kepada malaikat). Padanya ada pengalihan dlamir ghaib (dia seorang) kepada mutakallim (yang berbicara). Hal ini untuk memunculkan kehebatan dan kemuliaan /kehormatan. (Tafsir Al-Munir I : 132)

Di dalam tafsir Ibnu Katsir juz 1 : 227 dikatakan:

وهذه كرامة عظيمة من الله تعالى لآدم امتن بها على ذريته, حيث أخير أنه تعالى أمر الملائكة بالسجود لآدم

ini adalah kemuliaan agung dari Allah Swt untuk Adam yang Allah berikan nikmat itu kepada keturunannya. Di mana Allah Swt mengabarkan bahwa ia menyuruh malaikat untuk bersujud kepada Adam.”

Pada ayat ini, Allah Swt untuk-Nya sendiri menggunakan kata “Nahnu” karena memuliakan keturunan Nabi Adam dan besarnya urusan yang sedang dibicarakan, yaitu menyuruh malaikat bersujud kepada Adam.

Sumber : Istifta Tanya Jawab Hukum Islam Kontemporer

Admin : Zaenal Mutaqin