//ISTIFTA – Perbedaan Khasyah dan Khauf

ISTIFTA – Perbedaan Khasyah dan Khauf

Lembang – hayaatunaa.com

Soal:

Dalam Alquran ada istilah khauf dan khasyyah yang artinya takut. Pertanyaannya apa perbedaan kedua kata tersebut. Bagaimana caranya agar kita takut kepada Allah?

Jawab:

Imam Ar raghib al-Ashfahani yang menyusun kitab “Mu’jam Mufrodat Alfazhi al-Quran”, menulis:

الخوف: توقع مكروه عن أمارة مظنونة، أو معلومة، كما أن الرجاء والطمع توقع محبوب عن أمارة مظنونة، أو معلومة، ويضاد الخوف الأمن، ويستعمل ذلك في الأمور الدنيوية والأخروية

Khauf artinya takut, yaitu perasaan atau tanda-tanda yang tidak disenangi dari perkara yang disangka-sangka akan membahayakan diri atau memang sudah diketahuinya. Seperti halnya raja dan thama’, yaitu mengharapkan atau menantikan perkara yang disenangi. Kebalikan “al-Khaufu” adalah al-Amnu (rasa aman). Kedua kata ini digunakan dalam urusan dunia dan akhirat.

Dalam urusan dunia khauf diartikan khawatir akan terjadi dan merasa tidak sanggup menjalaninya sebagaimana firman Allah:

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ 

Berkata Musa, “Ya Tuhanku, sesungguh­nya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku.” (Qs as-Syu’aro : 12)

وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا

Dan Dia menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.” (Qs an-Nur : 55)

وَإِذا جاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذاعُوا بِهِ

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya.” (Qs an-Nisa : 83)

Ayat di atas menjelaskan kebalikan rasa takut adalah rasa aman. Adakalanya, khauf artinya adalah “rojaa” atau “thama” (sangat mengharapkan), sebagaimana firman Allah:

وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (Qs al-Israa : 57)

وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنزلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.” (Qs ar-Rum : 24)

Kilat itu sangat menakutkan karena bila menyambar manusia akan menghanguskannya. Namun, kehadirannya sangat diharapkan karena akan menurunkan hujan dan menyiram tanaman.

Adapun arti khasyyah dijelaskan Al Asfahani sebagai berikut:

الخشية: خوف يشوبه تعظيم، وأكثر ما يكون ذلك عن علم بما يخشى منه، ولذلك خص العلماء بها في قوله: {إنما يخشى الله من عباده العلماء}

Al khasyyah Artinya khauf yang bercampur dengan mengagungkan. Kata khasyyah banyak digunakan untuk mengagungkan karena mengetahui keadaan Dzat Allah atau orang yang ditakuti. Sebab itu khusus disanding oleh ulama sebagaimana firman Allah:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالأنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs Fathir : 28)

Yang dimaksud ulama adalah setiap peneliti dan pemerhati yang mempunyai kesimpulan bahwa betapa Allah Maha Agung dan Maha Kuasa. Ulama melaksanakan apa saja yang dikehendaki-Nya sehingga ia menjadi takut akan siksa neraka bila tidak mengabdi dan merendahkan diri hanya kepada-Nya.

فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتالُ إِذا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً

“Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih (sangat) dari itu takutnya.” (Qs an-Nisa : 77)

Takut berperang menghadapi orang-orang kafir disebut khasyyah. Hal itu karena mengetahui kekuatan musuh.

الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ

“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agama kalian, sebab itu janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.” (Qs al-Maidah : 3)

Orang yang beriman tidak pantas khasyyah kepada makhluk, sekalipun mereka musuh yang secara fisik sangat kuat dan menakutkan. Sebab Allah akan menolong siapapun yang membela agama-Nya.

Adakalanya, kata khauf dan khasyyah adalah sama. Maksud dan pengertian nya tergantung dari ayat atau kalimat yang menyertainya.

Agar menjadi orang yang khasyyah hendaklah kita sering mempelajari ayat-ayat Allah. Salah satu caranya dengan banyak membaca buku-buku agama Islam yang jelas referensinya dan menghadiri Majelis Taklim (bukan Majelis Dzikir).

سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى (10) وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى

“Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat, orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.” (Qs al- A’la :9-10)

Tingkatkan keimanan kepada yang gaib, karena Allah tidak terlihat namun harus diyakini Dia selalu menatap dan mengetahui apa saja yang kita lakukan walaupun hanya didalam hati. Firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (Qs al-Mulk : 12)

Ingatlah pula azab hari kiamat yang lebih menyakitkan dari penderitaan manapun di dunia. Firman Allah SWT:

لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ذَلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ

“Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah mereka pun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku, hai hamba-hamba-Ku.” (Qs az-Zumar : 16)

Sumber: Istifta Tanya Jawab Hukum Islam Kontemporer

Admin: Zaenal Mutaqin