//ISTIFTA – Percaya Kesurupan Termasuk Syirik

ISTIFTA – Percaya Kesurupan Termasuk Syirik

Lembang – hayaatunaa.com

Soal:

Bagaimana menurut pandangan Islam mengenai fenomena kesurupan tanda tanya bahkan ada yang bertanya: “Mengapa orang persis tidak pernah ada yang kesurupan?” Jazakumullah Khairan…

Jawab:

Kesurupan berasal dari bahasa Sunda, yaitu surup. Surup arti asalnya pantas atau serasi. Tetapi menjadi bermakna “tenggelam” bila disambung dengan kata panon poe (matahari atau bulan, seperti surup panon poe (tenggelam matahari). Sementara “nyurup “berarti roh halus, jin, dan lain-lain yang masuk ke dalam badan manusia. Maka dikenallah bahasa kesurupan dan di bahasa-Indonesiakan menjadi “kesurupan” atau kerasukan. (Drs. Budi Rahayu Tamsyah, Spk. Kamus lengkap Bahasa Sunda-Indonesia, Indonesia-Sunda, Sunda-Sunda)

Dalam bahasa Inggris, kesurupan ini disebut “trance” yang berarti keadaan mabuk atau kemasukan roh atau setan. Dalam disiplin ilmu kedokteran dan ilmu pengetahuan kejadian seperti ini dikenal dengan dua istilah yaitu hipnosis dan disosiasi. Hipnosis ialah kesadaran yang sengaja diubah (menurun dan menyempit, artinya hanya menerima rangsang dari sumber tertentu) melalui sugesti, mirip dengan tidur, dan sangat mudah untuk di sugesti, setelah itu timbul amnesia (hilang ingatan).

Sementara disosiasi ialah sebagian tingkah laku atau memisahkan diri secara psikologis dari kesadaran, kemudian terjadi amnesia sebagian atau total. Disosiasi ini dapat berupa trans (trance), yaitu keadaan kesadaran tanpa reaksi yang jelas terhadap lingkungan yang biasanya dimulai dengan mendadak, mungkin terjadi imobilitas dan roman muka yang bengong/kehilangan akal atau melamun. Dapat ditimbulkan karena hipnosa atau depresi (disarikan dari makalah singkat dr. Hari Rayadi Mars. Av.). Inilah keadaan yang oleh orang-orang berkepercayaan syirik disebut kesurupan atau kerasukan jin, roh halus, atau hantu.

Perlu dijelaskan bahwa jin, ruh/roh, dan Malaikat adalah makhluk gaib. Mengenai kegaiban Jin dijelaskan sebagai berikut:

اَلْجِنُّ: عَالَمٌ غَيْرُ مَرْئِيٍّ لِلْبَشَرِ حَسْبَ أَصْلِ خَلْقَتِهِ، فَهُمْ مِنْ عَالَمِ الْأَثِيْرِ وُجُوْدٌ بِلَا ظِلٍّ غَيْرُقاَبِلِيْنَ لِرُؤْيَةِ الْبَشَرِ، فَالْجِنُّ حَقِيْقَةٌ وَاقِعَةٌ غَيْرُ مَنْظُوْرَةٍ لَنَا بِدَلِيْلٍ قَوْلٍ اللّهِ تَعَالَى: {إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ}

Jin adalah alam yang tidak terlihat bagi manusia sesuai asal penciptaannya. Mereka adalah alam maya yang wujud tanpa bayangan, terhalang untuk dilihat oleh manusia. Maka, Jin hakikat yang nyata tidak terlihat bagi kami (manusia) dengan dalil firman Allah ta’ala: “Sesungguhnya ia dan kaumnya melihat kamu dengan keadaan yang kamu tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya kami telah menjadikan setan-setan itu teman rapat bagi orang-orang yang tidak ber iman “. (QS Surat al-Araf : 27)

Adapun pengertian gaib:

الغَيب: مالا يقع تحت الحواس ولا تقتضيه بداية العقول وإنما يعلم بخبر الأنبياء عليهم السلام (الراغب : ٧١٧)

Gaib ialah sesuatu yang tidak terjangkau oleh panca indra, tidak akan dapat disimpulkan oleh ketinggian akal, dan hanya dapat diketahui melalui kabar para nabi ‘alaihimussalam. (Ar-Raghib : 717)

Keterangan ini berdasarkan ayat-ayat sebagai berikut:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا . إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS al Jinn : 26-27)

Oleh karena itu, di dalam ayat lainnya Rasulullah SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyampaikan ayat:

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (QS al-An’am : 50)

Demikian pula beliau mengetahui sedikit tentang jin setelah diberi wahyu oleh Allah SWT tentangnya:

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا

Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan.” (QS al-Jinn : 1)

Dalam sebuah riwayat disebutkan Rasulullah Saw pernah menangkap jin Ifrit.

إِنَّ عِفْرِيتًا مِنَ الجِنِّ تَفَلَّتَ البَارِحَةَ لِيَقْطَعَ عَلَيَّ صَلاَتِي، فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ فَأَخَذْتُهُ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبُطَهُ عَلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي المَسْجِدِ حَتَّى تَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ، فَذَكَرْتُ دَعْوَةَ أَخِي سُلَيْمَانَ رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي فَرَدَدْتُهُ خَاسِئًا

Sesungguhnya jin Ifrit tiba-tiba menggangguku untuk memutus shalatku tadi malam. Kemudian Allah memberi kemampuan kepadaku untuk mengalahkannya, lalu akupun memegangnya. Kemudian aku ingin mengikatnya di salah satu tiang masjid, sehingga kalian semua bisa melihatnya. Namun aku teringat doa saudaraku Nabi Sulaiman: Wahai Rabku, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku. Kemudian akupun melepaskannya sementara dia dalam kondisi terhina. (HR. Bukhari : 3170).

Tetapi pada kenyataannya ada orang yang meminta bantuan kepada Jin. Maka tentu saja jin itu merasa lebih tinggi daripada manusia, jadilah ia semakin sombong dan durhaka.

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS Al Jinn : 6)

Qotadah menerangkan bahwa mereka dulu pada masa jahiliyah apabila singgah di suatu tempat mereka berkata: “kami berlindung kepada yang kuasa yang menduduki tempat ini”. (HR Abdurrazaq, ad-Durrul-Mantsur, VII : 301)

As-Sudi berkata: seseorang keluar bersama keluarga lalu mendatangi suatu lembah dan singgah padanya. Maka ia akan berkata: “Saya berlindung kepada tuan lembah ini dari bangsa jin agar tidak mengganggu saya, harta, dan anak atau ternak saya”. (Ibnu Katsir, I : 430)

Dalam agama Islam tidak dikenal istilah kesurupan atau kerasukan jin atau roh halus. Istilah yang ada adalah mabuk, sesat, gila, sakit, atau digoda dan dijerumuskan setan. Oleh karena itu, apabila seseorang berkata bahwa ada orang yang kesurupan oleh jin (jin masuk ke dalam raga manusia) lalu ia mengobatinya, bahkan lebih santernya lagi jin itu ditangkap dan diislamkan, sungguh merupakan bohong besar dan kemusyrikan. Itu berarti ia menyatakan bahwa dirinya lebih berpengetahuan tentang hal gaib melebihi para nabi dan rasul khususnya Rasulullah SAW.

Oleh karena itu, apabila ada seseorang yang dikatakan kesurupan, sesungguhnya iya orang yang sedang lemah mentalnya, kosong jiwa dan pikirannya, sehingga masalah yang dihadapinya menjadi teramat berat dan ia tidak melihat celah jalan keluar, lalu setan menggelapkan pikirannya. Jadilah ia melakukan hal yang di luar kesadarannya. Ia sakit dan harus diobati. Sebagaimana pengobatan terhadap suatu penyakit, mestilah dicari akar penyebabnya, lalu dicari jalan keluarnya. Demikian pula dengan yang sengaja menyediakan dirinya untuk dihipnotis untuk kepercayaan atau ibadah-ibadah tertentu. Tetapi jika tekanannya sesaat maka biasanya dengan cara dibiarkan pun akan sadar dengan sendirinya.

Adapun kepada yang mengaku melihat Jin, Imam Syafi’i pernah berkata:

مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ يَرَى الْجِنُّ أَبْطَلْنَا شَهَادَتَهُ إِلَّا أَنْْ يَكُوْنَ نَبِيًّا

“Siapa yang mengaku melihat Jin, maka kami menyatakan batal syahadatnya kecuali seorang Nabi.” (Fathul Bari, VI : 568)

Kesimpulan:

1. Tidak ada orang yang kesurupan jin atau roh jahat (masuk Raga manusia), yang ada di goda atau dijerumuskan setan.

2. Keyakinan dan pengobatan kesurupan jin atau roh jahat adalah syirik.

3. Fenomena hilang kesadaran karena suatu tekanan atau masalah yang berat dapat diterapi dengan pendekatan agama, medis, dan ilmu pengetahuan.

4. Orang yang biasa bergaul di lingkungan yang baik aktif berkomunikasi dengan ahli ilmu agama, menghadiri majelis keilmuan, dan senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, Insya Allah terhindar dari hal demikian.

Sumber: Istifta Tanya Jawab Hukum Islam Kontemporer

Admin: Zaenal Mutaqin