//ISTIFTA – Takut Kepada Suami Termasuk Syirik?

ISTIFTA – Takut Kepada Suami Termasuk Syirik?

Lembang – hayaatunaa.com

Soal:

Apakah orang yang karena takut bapaknya atau seorang Istri takut suaminya marah, bahkan takut dianiaya atau ditalak, ketika bapaknya atau suaminya melakukan maksiat, boleh diam saja. Bahkan ketika disuruh berbohong, boleh ia mengerjakannya karena rasa takut itu. Apakah takut yang demikian termasuk Syirik?

Jawab:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ عَلَيْهِ وَلاَ طَاعَةَ »

Dari Ibnu Umar ra, ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “tunduk dan taat wajib bagi seorang muslim, baik dalam hal yang disukai atau tidak disukai, selama ia tidak diperintahkan maksiat. Tetapi, apabila ia diperintahkan maksiat, maka tidak boleh tunduk dan taat”. (Sunan At Tirmidzi, IV : 209, No. 1707)

Dengan hadits ini jelas sekali, menaati perintah kemaksiatan merupakan kemaksiatan. Lalu bagaimana apabila mengikuti perintah suatu kemaksiatan karena rasa takut, maka hal ini dapat dilihat dari apa hal yang ditakuti itu. Apabila dengan tidak menaati dapat menimbulkan bahaya apalagi mengancam keselamatan jiwa, maka hal itu dapat dibenarkan dan tercakup oleh ayat berikut:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS an-Nahl : 106)

Dengan keterangan-keterangan ini, yang dipaksa diam atau bahkan mengikuti suatu kemaksiatan tanpa bisa melawan karena lemah dan hatinya tetap tidak dapat menerima hal itu, maka ia tidak berdosa.

Sumber: Istifta Tanya Jawab Islam Kontemporer

Admin: Zaenal Mutaqin