//ISTIFTA – Untuk Siapa Syafa’at Diperuntukan?

ISTIFTA – Untuk Siapa Syafa’at Diperuntukan?

Lembang – hayaatunaa.com

Soal:

Apakah benar ada hadits yang menerangkan bahwa syafa’at itu diperuntukan bagi orang yang punya dosa besar?

Jawab:

Tentang peruntukan syafa’at atau tentang siapa yang berhak mendapatkan syafa’at, tentu tidak bisa hanya sekedar berdasarkan perkiraan, akan tetapi hendaknya merujuk kepada keterangan dari Allah dan rasul-Nya, karena yang berhak menetapkannya hanyalah Allah Azza wa Jalla. Dengan demikian kita perhatikan keterangan-keterangan ini:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ

Tiada seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi Allah melainkan dengan seizin-Nya.” (QS al-Baqarah [2]: 255)

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى (26)

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai-(Nya).” (QS an-Najm [53]: 26)

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خُيِّرْتُ بَيْنَ الشَّفَاعَةِ، وَبَيْنَ أَنْ يَدْخُلَ نِصْفُ أُمَّتِي الْجَنَّةَ، فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ، لِأَنَّهَا أَعَمُّ وَأَكْفَى، أَتُرَوْنَهَا لِلْمُتَّقِينَ؟ لَا، وَلَكِنَّهَا لِلْمُذْنِبِينَ، الْخَطَّائِينَ الْمُتَلَوِّثِينَ»

dari Abu Musa Al Asy’ari dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saya di suruh memilih antara setengah ummatku akan di masukkan ke surga dengan di beri syafa’at, maka saya memilih syafa’at, karena sesungguhnya syafa’at lebih mencakup dan lebih mencukupi, bagaimana pendapat kalian, apakah ia hanya di berikan kepada orang-orang yang bertakwa saja? Tidak, akan tetapi ia di berikan juga terhadap orang-orang yang berdosa dan orang-orang yang banyak salah yang berlumuran (dosa)”. (HR. Ibnu Majah)

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَانِي آتٍ مِنْ عِنْدِ رَبِّي فَخَيَّرَنِي بَيْنَ أَنْ يُدْخِلَ نِصْفَ أُمَّتِي الْجَنَّةَ وَبَيْنَ الشَّفَاعَةِ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ وَهِيَ لِمَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئً

Dari ‘Auf bin Malik Al Asyja’i berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Ada yang mendatangiku dari Rabbku lalu memberiku pilihan antara separuh dari ummatku masuk surga atau syafaat lalu aku memilih syafaat, syafaat tersebut untuk orang yang meninggal tanpa menyekutukan Allah dengan apa pun.” (HR. At-Tirmidzi)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ إِلَّا حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

dari Jabir bin Abdullah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ketika mendengar adzan lalu mengucapkan; ALLAHUMMA RABBA HADZIHID DA’WATIT TAAMMATI WASH SHALATIL QAA`IMAHI AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WAL FADLIILAH WAB’ATSHU MAQAAMAN MAHMUUDAN ALLADZII WA ‘ADTAHU (Ya Allah, Tuhan Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat yang (wajib) didirikan. Berilah Al Wasilah dan Fadlilah kepada Muhammad. Dan bangkitkan beliau sehingga menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan), ‘ kecuali ia akan mendapatkan syafa’at pada hari kiamat.” (Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibn Majah)

Keterangan ini menunjukkan bahwa syafaat itu bagi yang beriman yang ternyata masih ada kekurangan sedikit atau banyak. Dan Allah MahaTahu untuk siapa yang Dia kehendaki-Nya.

Hendaklah kita beramal salih dengan sungguh-sungguh. Dalam arti, tidak hanya bersandar kepada syafa’at tanpa sungguh-sungguh beramal salih. Hendaklah pula kita tidak tertipu oleh siapapun yang menjanjikan syafa’at, padahal ia bukan Tuhan dan juga bukan Nabi.

 Sumber: Istifta tanya jawab islam kontemporer

Admin: Zaenal Mutaqin