//JANGAN “BODOH” DALAM AGAMA

JANGAN “BODOH” DALAM AGAMA

Jangan Bodoh Dalam Agama, aqidah, Islam, Sunnah, Alquran 

Oleh Muslim Nurdin

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُون      – الأعراف: ١٣٨

Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan. Musa menjawab: “Sesungguhnya kalian ini adalah kaum yang bodoh”. (QS Al-A’raf : 138)

Allah Ta’ala melalui lisan Nabi-Nya, Musa ‘alaihi salam menetapkan sifat “bodoh” kepada setiap orang yang ingin menyerupai orang-orang kafir dalam beribadah dengan ungkapan-Nya “innakum qaumun tajhalun” (Sesungguhnya kalian ini adalah kaum yang bodoh).

Kejadian seperti ini pernah juga terjadi di zaman Nabi Muhammad sallalahu ‘alaihi wasallam, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’I yang diterima dari sahabat Abu Waqid al-Laitsi ia berkata:

خَرَجَنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ حُنَيْنٍ، فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ، فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، اجْعَلْ لَنَا هَذِهِ ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لِلْكُفَّارِ ذَاتُ أَنْوَاطٍ، وَكَانَ الْكُفَّارُ يَنُوطُونَ سِلَاحَهُمْ بِسِدْرَةٍ، وَيَعْكُفُونَ حَوْلَهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” اللهُ أَكْبَرُ، هَذَا كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ لِمُوسَى: {اجْعَلْ لَنَاإِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةً} [الأعراف: ١٣٨] إِنَّكُمْ تَرْكَبُونَ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ ”
Kami berangkat bersama Rasulullah sallalahu ‘alaihi wasallam menuju Hunain (untuk berjihad), lalu kami lewat pada sebuah sidrah (pohon besar yang hijau), lalu aku berkata, “Ya Rasulullah buatkanlah kami dzatu anwat (pohon yang biasa dijadikan tempat menyimpan senjata untuk mengambil berkah) sebagaimana orang-orang kafir memilikinya” -orang-orang kafir biasa menggantungkan senjata-senjatanya pada sebuah sidrah dan beribadah di sekitarnya-.  Rasulullah bersabda, “Allahu Akbar, kalian telah mengatakan seperti yang pernah dikatakan Bani Israil kepada Nabi Musa “buatlah untuk kami sebuah tuhan sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan” (QS Al-A’raf : 138) Sungguh kalian akan mengikuti sunnah-sunnah orang sebelummu (bani Israil).

Janganlah kita menjadi penganut agama yang latah (B. Sunda “gehgeran”). Tidak pantas kita melaksanakan ibadah dalam Islam dengan dasar ingin seperti agama lain, tidak pantas kita mengatakan :

“Mereka merayakan tahun baru mereka, mengapa kita tidak ?”

“Mereka merayakan hari lahir Yesus, mengapa kita tidak merayakan hari lahir Nabi kita?”

“Mereka merayakan hari naiknya Yesus, mengapa kita tidak merayakan isra dan mi’rajnya Nabi kita?”

“Mereka merayakan hari kasih sayang, mengapa kita tidak?”

dan lain sebagainya…

Landasan kita dalam menjalankan ajaran Islam adalah “al-Ilmu” yang tertuang dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Allah Ta’ala berfirman,

 

{وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا} [الإسراء : ٣٦ ]
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai “Ilmu” tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS Al-Isra: 36)

Oleh: Muslim Nurdin