//JEJAK ALUR KADERISASI PEMUDA PERSIS LEMBANG
kaderisasi pemuda persis

JEJAK ALUR KADERISASI PEMUDA PERSIS LEMBANG

Sebuah Renungan Untuk Melangkah Kedepan

Oleh : Muhammad Rizal Fadillah

Lembang – Hayaatunaa.com

Dalam masa awal perkembangannya, pergerakan kaderisasi Persatuan Islam secara historis dilakukan secara kultural. Pada tahap ini kaderisasi berlangsung dalam bingkai interaksi guru-murid yang terjalin secara alami tanpa adanya struktur dan formula formal secara keorganisasian. Begitulah pola kaderisasi yang dijalankan oleh A. Hassan, sehingga membentuk jaringan-jaringan guru-murid yang tersebar dan menjadi tonggak utama dalam tumbuh-kembangnya Persatuan Islam dalam jaringan Pesantren Persis.

Kaderisasi di Persis secara intensif dan khusus dimulai pada masa kepemimpinan K.H. E. Abdurrahman, murid A. Hassan. Sebagai ketua umum Persis periode 1963 – 1984, ia menginginkan Persis untuk kembali ke khittahnya bergerak di dunia pendidikan dan dakwah dalam arti yang ia pahami, yaitu mendidik calon-calon da’i dan guru agama untuk menyebarluaskan Qur’an Sunnah. Grand design Persis dalam pandangan K.H. E. Abdurrahman ini kemudian dikejawantahkan dalam program-program dan kurikulum pendidikan pesantren, halaqoh-halaqoh kajian, dan mimbar-mimbar masjid.

Pada perjalanannya, setiap murid yang telah menyelesaikan studi dari gurunya baik di pesantren atau nyorog kitab, kemudian kembali pulang ke kampung halamannya masing-masing dan membangun kembali jejaring guru-murid baik dalam bentuk pendidikan pesantren mulai dari jenjang paling rendah yaitu Madrasah Diniyyah, hingga tingkat mu’allimien, ataupun melalui jejaring dakwah melalui masjid dan halaqoh-halaqoh kajian.

Sedikit gambaran historis di atas menjadi landasan pemikiran dan teori untuk menggambarkan alur tumbuh kembangnya Persis, khususnya Pemuda Persis di Lembang. Berawal dari beberapa orang santri yang menuntut ilmu secara formal di lembaga pesantren persis dibawah asuhan kyai yang merupakan salah satu di antara jejaring pola pengaderan “guru-murid” yang tentu jika telusuri hingga ke hulunya akan sampai pada A. Hassan. Berawal dari kultur, merajut benang kaderisasi hingga terstruktur baik melalui jalur keorganisasian maupun jalur lembaga pendidikan.

Saya pernah menyampaikan pada kegiatan Musyawarah Cabang V PC Pemuda Persis Lembang, bahwa PC Pemuda Persis Lembang telah melalui berbagai alur jalan yang beragam sehingga menempa berbagai aspek kejam’iyyahan baik secara kultural maupun struktural hingga berbuah sejarah yang teramat sayang jika sekedar dijadikan batas kenangan dan catatan-catatan laporan tanpa adanya konstruksi pemikiran yang kritis untuk menjadikan itu semua sebagai bahan bakar terbarukan dalam semangat juang para generasi penerus dakwah. Artinya bahwa segala problematika yang pernah ada harus menjadi bahan penelaahan untuk lajur gerak dakwah Pemuda Persis Lembang dalam menyambut masa yang akan datang.

Paling tidak, ada beberapa point yang patut kita renungkan. Yaitu:

(1) Apa itu hakikat kaderisasi?

(2) bagaimana pola pengaderan dalam konteks ruang lingkup PC Pemuda Persis Lembang baik secara kultural maupun struktural? (

3) Bagaimana mengolah problematika jam’iyyah sebagai bahan bakar terbarukan untuk mencetak kader-kader pemimpin ummat?

Hakikat Kaderisasi

Kaderisasi menjadi salah satu problematika terpenting sekaligus terbesar yang dihadapi setiap organisasi. Topik kaderisasi ini terkadang tidak dijadikan dasar fundamen dalam pembicaraan-pembicaraan kejam’iyahan, khususnya di PC Pemuda Persis Lembang. Untuk sedikit membuka pintu pemikiran ke arah itu, diantara langkah terpenting adalah memahami apa sebenarnya hakikat dari kaderisasi itu.

Dalam bahasa Perancis, kaderisasi berakar dari kata cadre atau les cadres yang maknanya anggota inti. Istilah kader juga bisa ditelusur dalam bahasa latin, yaitu “quadrum” bermakna kerangka dalam wujud tulang punggung dari sebuah kelompok. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary diartikan sebagai “a small group of higly trained soldiers, workers, managers, etc”. Maka kader adalah sebuah kumpulan yang menjadi bagian terpilih dari hasil training dalam lingkup pimpinan atau disekitar kepemimpinan. Kader pula memiliki makna “pasukan inti yang memiliki daya juang tinggi”.

Fungsi dan posisi kader berada pada wilayah yang urgen dan krusial dalam tubuh sebuah organisasi. Kader merupakan jantung keberlangsungan proses estafet pergerakan organisasi dan salah satu diantara instrumen suksesi kepemimpinan juga salah satu diantara indikator keberhasilan kepemimpinan.

Pola Pengaderan dalam Konteks Ruang Lingkup PC Pemuda Persis Lembang Baik Secara Kultural Maupun Struktural

Pada bagian ini, saya mencermati terdapat dua pola utama dalam pola pengaderan di ruang lingkup PC Pemuda Persis Lembang, yaitu pertama pola pengaderan secara kultural dan kedua pola pengaderan secara struktural keorganisasian.

Pertama, sebagaimana pada awal mula pergerakan Persis, pola yang terbentuk adalah pengaderan guru-murid. Di Lembang ini, berakar dari santri-santri pesantren persis yang telah menyelesaikan studinya, lalu kemudian dipandang sangat penting untuk mewadahi potensi dakwah dari para alumni pesantren tersebut hingga melahirkan ide gagasan dan pergerakan untuk merekatkan potensi yang diwadahi oleh pemuda persis sebagai badan otonom. Jejaring alumni inilah yang kemudian menggelar berbagai kegiatan mulai dari yang bersifat keilmuan, olah raga, hingga merambah ke wilayah pertanian dan dagang sebagai bentuk membangun potensi ekonomi dalam wadah Pemuda Persis Lembang yang dibentuk berdasarkan dasar aturan jam’iyyah.

Pada prosesnya, ternyata tidak hanya mengumpulkan jejaring alumni yang berdomisili di Lembang, tapi mampu merangkul sebagian kalangan pemuda setempat, khususnya di Kp. Nyampay untuk ikut serta dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan yang digelar. Disini kita mendapati adanya suatu unsur daya tarik yang membangun keinginan untuk lebih mendalami diri Pemuda Persis. Unsur itu adalah kebutuhan akan keilmuan Islam yang dikejawantahkan dalam halaqoh-halaqoh yang membahas berbagai disiplin ilmu seperti nahwu, hadis, dan persoalan-persoalan tematik melalui forum diskusi. Sekali lagi, inilah pola yang diwariskan oleh A. Hassan pada awal mula perkembangan Persis, yaitu pola pengaderan dalam interaksi guru-murid, meski tidak secara formal sebagaimana guru-murid dalam ruang lingkup pendidikan, namun unsur pendidikan dan dakwah yang ada lebih menyentuh kepada apa yang dibutuhkan oleh kumpulan pemuda saat itu baik dari kalangan alumni pesantren maupun pemuda setempat. Namun perlu disadari bahwa ada dasar spirit sebelum pola guru-murid itu terbentuk, yaitu solidaritas dan ukhuwah para alumni yang terdiri dari beberapa pesanten dan didominasi oleh alumni Pesantren Persis Cibegol. Kebersamaan di pesantren, cerita masa-masa di asrama dan tapak tilas pelajaran-pelajaran yang pernah
dikenyam menjadi satu unsur kekuatan yang disadari atau tidak merupakan bara api tersendiri dalam perjalanan pemuda persis lembang pada masa-masa awal.

Pada masa awal ini tentu banyak dinamika perjalanan yang menjadi inti pelajaran khusunya sisi kaderisasi. Kader-kader yang ada pada masa ini diterpa berbagai dinamika. Bukan soal program yang digelar, namun aspek-aspek, ritme dan siklus kehidupan pemuda baik secara psikologis maupun sosial ekonomi. Diantara hal yang tergolong dinamika itu adalah kebutuhan akan pekerjaan setelah kader menikah satu persatu, dan inilah yang dimaksud dinamika sosial ekonomi. Semua kader sudah paham dan yakin, bahwa hidup di jam’iyah bukan untuk mencari kehidupan tapi menghidupkan, sementara kebutuhan mereka yang mulai merintis keluarga menjadi fokus utama dan berimplikasi besar pada roda jam’iyah. Kaderisasi tersumbat pada masa ini. Tidak hanya sebab dinamika sosial ekonomi, tapi lebih besar dari itu, ada hal-hal yang menggerus semangat dan motivasi sehingga berimplikasi besar pada roda jam’iyah, yaitu aspek kenyamanan. Secara psikologis, usia pemuda itu adalah masa dimana individu membutuhkan gaya tersendiri. Aspek ini tidak bisa dipandang sebelah mata dan jangan ada usaha untuk merubah apalagi menghilangkan, hanya perlu strategi jitu untuk tetap mengarahkan pada alur yang tepat dan hal ini sudah diaplikasikan pada masa ini. Hanya saja ada segelintir yang seolah mengusik hal tersebut mungkin karena kurang memahami gaya tersebut.

Selang beberapa tahun, akhirnya energi kaderisasi terhimpun kembali. Sekali lagi penulis tegaskan, melalui pola guru-murid, akan tetapi pada wilayah yang lebih terstruktur dalam wadah pesantren persis. Pada titik ini mata air kaderisasi kembali mengalir dan mulai menyuburkan tanah jam’iyah tahap demi tahap. Jaringan guru-murid generasi awal tadi berkiprah sebagai asatidz di Pesantren Persis 50 Lembang, hingga melahirkan generasi-generasi yang secara otomatis terkader secara kultural hingga ketika tiba waktunya, jalur struktural organisasi pun berhasil ditempuh melalui kegiatan ma’ruf. Lebih dari yang diharapkan, tidak hanya para alumni yang dulunya merupakan murid-murid di pesantren, akan tetapi juga terdiri dari kader-kader yang membutuhkan pendalaman ilmu-ilmu keislaman dan ruang interaksi sosial yang khas dengan nilai-nilai keislaman.

Diakhir renungan soal ini, saya ingin mengutarakan sedikit kegelisahan. Ketika tahap awal pengaderan hingga perjalanannya berlangsung, ada kader yang direkrut dari sebagian karyawan toko. Pada tahun 2014 / 2015, saya mengikuti ma’ruf, dimana peserta ma’ruf terbanyak diantaranya adalah karyawan toko. Sebelumnya kita mesti merujuk kepada hakikat kaderisasi yang telah di ulas bahwa kader merupakan jantung keberlangsungan proses estafet pergerakakan organisasi dan salah satu diantara instrumen suksesi kepemimpinan juga salah satu diantara indikator keberhasilan kepemimpinan. Artinya bahwa kader mesti memiliki kesungguhan, tekad dan itikad yang bulat serta mapan yang lahir dari kesadaran dan motivasi, bukan atas dasar instruksi. Sementara soal ini, tidak tergambar keseriusan dari sebagian mereka. Penilaian ini, meski bersifat subjektif penulis, namun perlu untuk diutarakan oleh karena saat itu sebagian mereka tidak mengikuti proses ma’ruf sampai akhir. Saya sangat ingat sebagian diantaranya pulang setelah shalat zhuhur dengan berbagai alasan padahal saat itu hari libur kerja. Bagi saya, ini adalah acuan untuk mengukur kesadaran dan motivasi apa yang mendorong mereka untuk tergabung dalam keluarga pemuda Persis Lembang. Saya tegaskan, ini bersifat renungan tanpa data, namun saya yakin dengan sepenuh ingatan, hal ini terjadi saat itu. Lalu kemudian silakan tinjau dari berbagai perspektif dengan catatan untuk menghadirkan ide gagasan demi langkah kedepan.


Mengolah Problematika Jam’iyyah Sebagai Bahan Bakar Terbarukan Untuk Mencetak Kader-Kader Pemimpin Ummat

Pada renungan ini, saya berpandangan bahwa problematika jam’iyyah berkaitan dengan pengaderan telah tersampaikan di atas. Maka garis silangnya adalah bagaimana mengolah itu semua menjadi suplai bahan bakar yang terus terbarukan. Mengapa demikian? mengingat problematika akan selalu hadir dengan rupa yang beragam dan berbeda, namun perlu kita cermati dan analisis bersama pola dasar sebagai akar masalah yang mesti dituntaskan. Meski permasalahan-permasalahan akan terus tumbuh seperti rumput liar, namun kita mengetahui formulasi dan teknik yang fundamen untuk mencabutnya hingga ke akar.

Soal olah mengolah tentu membutuhkan keterampilan khusus yang tidak akan muncul dalam waktu singkat. Terlebih lagi menyangkut keterampilan olah mengolah problematika untuk kemudian diproduksi sebagai bahan bakar keberlangsungan roda kaderisasi di Pemuda Persis Lembang. Atas dasar itu, sifat dan sikap seorang pembelajar sudah semestinya menjadi jati diri para penggerak jam’iyyah, yaitu tasykil. Maka unsur-unsur yang turut membiaskan kejernihan hati dan menumpulkan ketajaman akal harus senantiasa diawasi dan dikendalikan meski dalam situasi dan kondisi tertentu, hal tersebut menjadi instrumen untuk mengupayakan berbagai perubahan dan perbaikan. Bukan berarti menghilangkan unsur kepentingan pribadi dalam jam’iyyah, namun bagaimana cara untuk menempatkan kepentingan pribadi sehingga tidak saling berhadapan punggung dengan kepentingan jam’iyyah. Fokus sudut pandang menjadi penegas dan pemisah antara kedua hal itu. maka sekali lagi, menyamakan sudut pandang itu penting untuk memperbaiki berbagai persoalan. Tidak berarti meniadakan sudut-sudut yang lain, akan tetapi coba berbagai sudut dengan banyak pertimbangan dalam nuansa diskusi, lalu tarik benang merah dari sudut-sudut yang ada dan bentuk satu titik untuk berdiri memandang persoalan dari sudut yang sama, yaitu sudut musyawarah. Maka kelapangan hati dan kesuburannya untuk menerima dan menanam bibit hasil musyawarah adalah beban yang mesti ditanggung setiap individu didalamnya.

Pada prosesnya, kader-kader harus terbiasa dengan berbagai problematika dan ditantang untuk menyelesaikannya melalui berbagai musyawarah. Musyawarah tidak mesti dalam forum khusus, namun kejawantahkan dalam setiap langkah tindakan sehingga tidak berjalan sendiri dalam arus problematika itu. Hasil dari proses ini akan nampak manakala kader-kader menjadi pemimpin umat saat waktunya tiba. Tidak hanya dalam ruanglingkup jam’iyah, akan tetapi setiap sendi kehidupan mereka.

Akhir kata pada renungan ini, soal kaderisasi apakah yang bersifat kultural atau struktural, pola interaksi guru-murid, sadar akan kebutuhan ilmu keislaman, atau pun ruang lingkup interasksi sosial dalam bingkai keimanan, seluruhnya tidak dapat dipilah-dipilih apalagi dipisahkan. Arahkan seluruh pola itu pada garis integral yang tersusun secara sistematis untuk mencetak kader-kader ideal dalam memimpin umat dan melanjutkan estafet amanat dakwah di jam’iyah ini. Jangan sekedar orientasi hasil, namun awali segalanya dengan dasar optimalisasi ikhtiar. Usahakan, usahakan, dan terus berusaha. Biar Allah Swt yang menentukan hasil.

Editor: Zaenal Mutaqin