//KAIFIYAT QUNUT NAZILAH

KAIFIYAT QUNUT NAZILAH

Qunut Nazilah adalah qunut yang dilaksanakan karena musibah yang menimpa kaum muslimin dengan mendo’akan kebaikan dan keselamatan bagi kaum muslimin atau keburukan dan laknat bagi kaum penindas kaum muslimin (Kafirin), pada setiap salat wajib, dirakaat terakhir setelah bacaan bangkit dari ruku’. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan kaifiyat qunut nazilah, antara lain sebagai berikut :

  1. Qunut nazilah dilakukan hanya untuk mendo’akan kebaikan dan keselamatan bagi sebuah kaum (muslimin) atau kebinasaan dan azab bagi satu kaum (kafirin).

عَنْ أَنَس ” أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَقْنُت إِلَّا إِذَا دَعَا لِقَوْمِ أَوْ دَعَا عَلَى قَوْم ”

Dari Anas bi Malik berkata : Sungguh Nabi Saw tidak melaksanakan qunut kecuali berdoa kebaikan bagi suatu kaum atau keburukan bagi suatu kaum . HSR Ibn Khuzaimah no. 603

  1. Qunut nazilah dilaksanakan Pada setiap Salat Wajib (termasuk salat jumat) pada rakaat terakhir

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ

dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan qunut selama sebulan berturut-turut dalam shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya` dan Subuh, yaitu di akhir shalat (rakaat terakhir). HSR. Abu Dawud no. 1223 dan Ahmad no. 2643

Adapun terkait qunut nazilah pada shalat jumat, memang tidak ada dalil khusus (eksplisit), namun jika kita meneliti hadis diatas, maka di sana ada tiga alasan. Pertama, kalimat mutatabi’an menunjukan kontinuitas qunut dalam salat wajib selama 1 bulan. Kedua, penyebutan subuh, zuhur, ashar, magrib, isya merupakan lil ghalib salat wajib sedangkan mafhumnya adalah salat wajib termasuk jumat. Ketiga, pada setiap akhir salat (rakaat terakhir) menunjukan pada setiap akhir salat wajib ada qunut nazilah, sehingga kesimpulannya termasuk di dalamnya salat jumat disyariatkan qunut nazilah.

Adapun terkait sebagian atsar salaf yang membid’ahkan qunut pada salat jumat adalah terkait dengan pengkhususan pada salat jumat, bukan dalam qunut nazilah. Sebagai argumen tambahan dalam hadis hasan dari sahabat Barra bin ‘Azib

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ص ” كَانَ لا يُصَلِّي صَلاةً مَكْتُوبَةً، إِلا قَنَتَ فِيهَا ”

Dari al-Barra’bin Azib Ra “ Sesungguhnya Rasulullah saw tidak salat wajib, kecuali beliau qunut padanya (nazilah) Hr. Al-Baihaqi No. 3092 dengan sanad hasan.

Dalam hadis tersebut bahwa Rasul saw tidak salat wajib kecuali qunut (nazilah) padanya, dan tentu salat Jumat merupakan salah satu dari salat wajib.

  1. Qunut nazilah dilaksanakan dalam salat berjama’ah, namun bagi munfarid diperbolehkan.

Semua hadis terkait dengan qunut nazilah terkait dengan salat berjamaah, termasuk di dalamnya disyariatkan ucapan amin bagi ma’mum. Namun keduanya bukan menjadi syarat bagi qunut nazilah, tapi lebih sebagai keutamaan dalam qunut nazilah.

  1. Qunut nazilah dilakukan Pada rakaat terakhir, setelah bacaan bangkit dari ruku’.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ص كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى أَحَدٍ، أَوْ يَدْعُوَ لِأَحَدٍ، قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ، فَرُبَّمَا قَالَ إِذَا قَالَ: ” سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيد  الخ

Dari Abu Hurairah Ra berkata : Sungguh Rasulullah Saw apabila akan berdo’a kebaikan atau keburukan bagi seseorang beliau qunut setelah ruku’ dan terkadang beliau membaca “Sami’allahu liman hamidah rabbana wa lakalhamd, ya Allah selamatkanlah al Walid bin al-Walid…” Hr Bukhari No. 4219

  1. Redaksi do’a Qunut nazilah disesuaikan, tidak ada redaksi khusus tertentu dari Nabi Saw
  • اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ، وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ، وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ، اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، وَاجْعَلْهَا سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ
  • اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا لِأَحْيَاءٍ مِنْ الْعَرَبِ
  • اللَّهُمَّ نَجِّ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ، اللَّهُمَّ نَجِّ سَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ، اللَّهُمَّ نَجِّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ، اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ
  • قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ ص شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوعِ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ، يَدْعُو عَلَى رِعْلٍ، وَذَكْوَانَ

Dari beberapa redaksi hadis diatas (Hr Bukhari dan Abu Dawud), Rasulullah saw tidak menentukan do’a secara khusus, belau menggunakan redaksi yang berbeda-beda ada yang khitabnya person khusus, adapula yang umum. Akan tetapi isinya tidak terlepas dari mendo’akan kebaikan dan keselamatan bagi kaum muslimin yang teraniyaya, sebaliknya mendo’akan adzab dan laknat bagi yang menganiaya kaum muslimin. Apakah person khusus tertentu atau sebuah kaum.

Contoh redaksi do’a yang disesuaikan dengan konteks musibah, sebagaimana dalam Surat Edaran PP Persis terkait qunut nazilah

 

اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي رُوهِيْنْغِيَا، اللَّهُمَّ انْصُرْ المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وطْأَتَكَ عَلَى أَعْدَاءِ الدِّيْنِ، مِنَ الْكاَفِرِيْنَ والظَّالِمِيْنَ فِي رُوهِيْنْغِيَا وَفِي كُلِّ مَكَانٍ.

“Ya Allah selamatkanlah kaum mukminin tertindas pada etnis Rohingnya, Ya Allah tolonglah kaum muslimin yang lemah di berbagai tempat, Ya Allah keraskanlah pijakanMu kepada musuh-musuh Islam, orang-orang kafir dan dzalim di Rohingnya dan di mana saja”

  1. Redaksi do’a Qunut nazilah disunahkan ringkas

Redaksi atau konten do’a disunahkan untuk tidak memanjangkan do’a qunut, disamping do’a-do’a yang diajarkan Rosul saw ringkas, juga berdasarkan reportase dari sahabat Anas bin Malik

سُئِلَ أَنَسُ، أَقَنَتَ النَّبِيُّ ص فِي الصُّبْحِ؟ قَالَ: نَعَمْ، فَقِيلَ لَهُ: أَوَقَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ؟ قَالَ: بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا ”

 

Anas bin Malik ditanya apakah Rosulullah saw qunut pada salat subuh ? Anas bin Malik menjawab “ bernar”. Apakah Qunut sebelum ruku’ ? Anas menjawab : “Setelah ruku’ sebentar” Hr. Bukhari no. 951

  1. Do’a Qunut nazilah dibaca dengan jahar atau nyaring dalam setiap salat wajib

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى أَحَدٍ أَوْ يَدْعُوَ لِأَحَدٍ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ فَرُبَّمَا قَالَ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ يَجْهَرُ بِذَلِكَ وَكَانَ يَقُولُ فِي بَعْضِ صَلَاتِهِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا لِأَحْيَاءٍ مِنْ الْعَرَبِ حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ { لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ } الْآيَةَ ”

 

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah Saw jika ingin mendoakan kecelakaan kepada seseorang atau berdoa keselamatan kepada seseorang beliau selalu qunut setelah ruku’.” Kira-kira ia berkata; “Jika beliau mengucapkan: “sami’allahu liman hamidah, ” beliau berdoa: “Wahai Rabb kami bagi-Mu segala pujian, Ya Allah selamatkanlah Al Walid bin Al Walid, salamah bin Hisyam, dan ‘Ayyasy bin Abu Rabi’ah. Ya Allah keraskanlah hukuman-Mu atas Mudlar, dan timpakanlah kepada mereka tahun-tahun paceklik sebagaimana tahun-tahun pada masa Yusuf.” -beliau mengeraskan bacaan tersebut, – beliau juga membaca pada sebagian shalat yang lainnya, beliau membaca pada shalat subuh: “Ya Allah, laknatlah si fulan dan si fulan dari penduduk arab.” Sampai akhirnya Allah Azza Wa Jalla mewahyukan kepada beliau: “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim (Ali Imran: 128).” Hr. Bukhari no. 3812

Bacaan atau do’a qunut nazilah dibaca dengan nyaring, baik dalam salat jahriyah maupun sirriyah.

  1. dalam melakukan Qunut nazilah Ma’mum mengucapkan amin

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: ” قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ ص شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ، وَالْعَصْرِ، وَالْمَغْرِبِ، وَالْعِشَاءِ، وَالصُّبْحِ، فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ، إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، مِنَ الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ، يَدْعُو عَلَيْهِمْ، عَلَى حَيٍّ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ، عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ، وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ، أَرْسَلَ إِلَيْهِمْ يَدْعُوهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ، فَقَتَلُوهُمْ “، قَالَ عَفَّانُ فِي حَدِيثِهِ: قَالَ: وَقَالَ عِكْرِمَةُ: هَذَا كَانَ مِفْتَاحَ الْقُنُوتِ

 

dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Rasulullah Saw melakukan qunut selama sebulan berturut-turut dalam shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya` dan Subuh, yaitu di akhir shalat setelah mengucapkan, sami’allahu liman hamidah pada raka’at terakhir. Beliau mendoakan keburukan atas mereka, yakni (beberapa) kabilah dari bani Sulaim, yaitu Ri’l, Dzakwan dan Ushayyah, orang-orang yang ada di belakang beliau mengamininya. Beliau pernah mengirim utusan kepada mereka untuk mengajak memeluk Islam, namun mereka justru membunuh utusan tersebut.” ‘Affan berkata dalam haditsnya, ia berkata; Ikrimah berkata; “Ini adalah permulaan qunut.” HSR. Ahmad no. 2643

Pengucapan amin oleh ma’mum dibaca setelah imam selesai mengucapkan do’a qunut dengan nyaring.

  1. Dalam Melakukan Qunut Nazilah Boleh mengangkat tangan

Pada dasarnya asal dalam berdo’a adalah tidak mengangkat tangan, kecuali jika ada dalil sahih yang menerangkan berdo’a dengan mengangkat tangan. Hal ini berdasarkan hadis dari Anas bin Malik Ra

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: ” كَانَ النَّبِيُّ ص لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ، وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ ”

Dari Anas bin Malik Berkata : Nabi Saw ketika berdo’a tidak mengangkat kedua tangannya kecuali dalam Istisqa. Dan sungguh beliau mengangkatnya sehingga terlihat putihnya ketiak beliau. Hr. Bukhari no. 978

Hadis diatas menjadi dalil bahwa asal dalam berdo’a adalah tidak mengangkat tangan, adapun pengecualian istisqa bukan berarti menjadi batas atau menafikan mengangkat tangan pada tempat yang lain, selama ada dalil yang sahih (kuat) dan sarih (jelas). Adapun terkait mengangkat tangan dalam do’a qunut nazilah terhadap hadis sahih Riwayat imam Ahmad

فَقَالَ أَنَسٌ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَدَ عَلَى شَيْءٍ قَطُّ وَجْدَهُ عَلَيْهِمْ فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ فَدَعَا عَلَيْهِمْ

kata Anas; “Tidak kulihat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam sedemikian sedih sebagaimana kesedihan beliau atas tragedi yang mereka alami (dibunuhnya 70 Ahli al-Quran). Dan kulihat Rasulullah Saw dalam salat subuh beliau angkat kedua tangannya mendoakan kecelakaan atas mereka (yang mendzalimi). HSR. Ahmad no. 12173

Jika imam mengangkat tangan dalam qunut nazilah, maka ma’mumpun disyariatkan mengangkat tangan sebagaimana imam, sesuai dengan dalil, bahwa dijadikan imam itu untuk diikuti gerakannya. Adapun terkait kaifiyat mengangkat tangan pada qunut nazilah, sama sebagaimana dalam istisqa yaitu mengangkat kedua tangan sampai kelihatan ketiak.

  1. Setelah Membaca Do’a Qunut Nazilah Tidak disyariatkan mengusap wajah

Sebagian dari orang yang qunut biasanya mengusap wajah setelah qunut. Hal tersebut memang berdasarkan dalil umum terkait selesai berdo’a dengan mengakat tangan. Akan tetapi hadis-hadis yang menerangkan Rasul Saw berdo’a dengan menyapu atau mengusap muka setelah berdo’a hadis-hadisnya dhoif, sehingga tidak dapat dijadikan hujjah. Dengan demikian tidak disyariatkan mengusap wajah setelah do’a qunut nazilah

  1. Dalam Melakukan Qunut Nazilah Tidak disyariatkan mengucapkan salawat

Adapula sebagian masyarakat dalam praktik qunut mengucapkan salawat pada akhir do’a qunut. Penambahan ucapan salawat tersebut tidak terdapat dalam hadis-hadis mengenai qunut. Karena asal dalam beribadah itu terlarang, kecuali ada dalil yang memerintahkannya, karena itu tidak disyariatkan membaca salawat diakhir doa qunut. Wallahu a’lam bi al-shawwab.

 

Oleh : Tim Lembaga Kajian Turats dan Pemikiran Islam PP Pemuda Persis

Editor, Ahmad Wandi, hayaatunaa.com