//KAJIAN TEKSTUAL AL-MAIDAH AYAT 51

KAJIAN TEKSTUAL AL-MAIDAH AYAT 51

KAJIAN TEKSTUAL AL-MAIDAH AYAT 51

Oleh: Ust. Muslim Nurdin

(tanggapan dari pernyataan Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia tentang HALAL UMAT ISLAM DIPIMPIN NON MUSLIM)

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [المائدة: 51]

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah: 51)

Tanggapan Pertama:

Dalam pernyataan Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia tentang “HALAL UMAT ISLAM DIPIMPIN NON MUSLIM” pada alinea ke-dua diterangkan sebagai berikut:

“Selama ini, banyak orang salah persepsi karena mengartikan kata awliya’ pada ayat itu dengan arti kata tunggal: “pemimpin” (mufrad), yaitu dalam bahasa Arabnya adalah waliyan, padahal jelas-jelas ayat itu berbunyi: awliya’ dalam bentuk jama’ yang artinya adalah sekumpulan pemimpin-pemimpin, yang tak lain adalah pemimpin kolektif.

Pernyataan diatas menyalahkan pendapat yang melarang memilih seorang pemimpin karena yang dilarang adalah memilih sekumpulan pemimpin dengan alasan bahwa ayatnya berbunyi awliya (bentuk jama’) tidak berbunyi waliyan (bentuk mufrad). Jadi menurut pendapatnya jika yang dilarang itu memilih seorang pemimpin mestinya ayat itu berbunyi

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى وَلِيًّا …

Dalam Bahasa Arab rangkaian kalimat seperti di atas tidak bisa dibenarkan karena bertentangan dengan kaidah Bahasa Arab.

Tattakhidzu adalah bagian dari af’al at-tahwil yang memiliki dua maf’ul bih (objek) yang berasal dari mubtada dan khabar. Karenanya, antara maf’ul awwal (objek pertama) dengan maf’ul tsani (objek kedua) mesti sama dalam segi mufrad, mutsanna dan jama’nya sebagaimana dalam ketentuan mubtada dan khabar. (lihat kitab Jami’ ad-Durus al-Arabiyah karya Musthafa al-Ghulayaini. Bab fi’il dan pembagiannya sub fi’il Muta’adi)

Jadi penggunaan kata awliya’ pada ayat tersebut bukan karena menghendaki arti sekumpulan pemimpin tapi karena sebelumnya yang menjadi maf’ul awwal (objek pertama) berbentuk jama’ sehingga mau tidak mau diapun harus berbentuk jama’.

Adapun yang benar menurut kaidah Bahasa Arab variasi kalimatnya sebagai berikut:

لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودِيَّ وَالنَّصرَانِىَّ وَلِيًّا

لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودِيَّانِ وَالنَّصرَانِيَّانِ وَلِيَّانِ

لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ

 

Lalu kenapa yang dipilih dalam ayat tersebut redaksinya dengan bentuk jama’ ?

Karena ayat tersebut menghendaki umum dan menyeluruh, yaitu semua yahudi dan nasrani, siapapun dari mereka tidak boleh dijadikan pemimpin oleh orang-orang mukmin.

 Tanggapan Kedua:

Pada alinea ke-empat terdapat pernyataan sebagai berikut:

“Jadi, Al-Maidah: 51 tidak melarang kepemimpinan Nashrani secara mutlak, karena hanya melarang dalam konteks awliya’, yakni jika seluruh posisi pelayanan kekuasaan kolektif (awliya’) itu ditangani semua oleh kaum Yahudi dan Nashrani. Tapi jika hanya satu di antaranya yang ditangani oleh kaum Nashrani, misalnya Gubernur atau posisi lainnya, maka hukumnya BOLEH dan HALAL, karena tidak masuk dalam kategori awliya’ yang dilarang dalam Al-Maidah: 51 itu.”

Pernyataan di atas seolah menyodorkan sebuah “kaidah baru” kepada kita bahwa jika yang dilarang itu dengan teks jama’ maka konteksnya pun mesti jama’, sehingga jika mufrad/tunggal maka larangnya tidak belaku, yakni menjadi boleh. Jika kaidah ini digunakan dalam memahami ayat-ayat hokum dalam al-Quran, maka akan terasa rancu dalam penerapannya dan merusak kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh ulama-ulama ahli tafsir. Sebagai contoh dalam surat Al-Baqarah : 221 Allah I berfirman:

{وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ} [البقرة: 221]

Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik (kafir) sehingga mereka beriman … (QS. Al-Baqarah: 221)

Ayat di atas menggunakan lafadz jama’, yaitu al-Musyrikaat (wanita-wanita musyrik). Jika “kaidah baru” itu digunakan, maka haramnya menikahi wanita musyrik itu apabila menikahi sekumpulan wanita musyrik (kolektif) adapun jika seorang, maka hukumnya BOLEH dan HALAL. Pemahaman tersebut tentu menjadi pemahaman yang salah kaprah dan jauh dari tuntunan ilmiyah.

Wallahu a’lam bi as-Shawwab