//Kekuatan Saling Memaafkan

Kekuatan Saling Memaafkan

Lembang – hayaatunaa.com

Oleh: Ustadz Saepudin

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٣﴾ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّـهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴿١٣٤﴾

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 133-134)

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

Term al-‘afwu berasal dari akar kata عفا، يعف، عفوا، العفوة arti-nya: mema’afkannya, mengampuni dosanya. Pada mulanya term al-‘afwu tersebut berarti “berlebihan”. Kemudian, dalam al-Munjid fī al-Lugah dikatakan bahwa term a-‘lafwu dimaknakan dengan

عفوة الشيئ صفوته أى ما رفع من المرق أولا يخص به من يكرم

(menyembuhkan sesuatu yang bersih pada pada [diri] nya. Yakni, melenyapkan [dirinya]dari kebejatan yang sejak awal melekat pada dirinya, kemudian ia memuliakan orang secara khusus).

Dapat dipahami bahwa al’afwu secara etimologi bisa berarti mema’afakan atau memberi maaf kepada orang lain; juga dapat berarti menahan diri, menghapuskan dan menggurkan kesalahan orang lain pada dirinya.

Dapatlah dirumukan bahwa al-‘afwu secara terminologi adalah sikap memberi maaf dengan lapang dada, yakni meringankan dan menggugurkan kesalahan orang lain pada dirinya, serta tidak menyimpan rasa dendam atau sakit hati dalam pergaulan antar manusia.

Batasan pengertian yang lebih luas lagi adalah bukan saja berlaku dalam bentuk pergaulan antar manusia, tetapi juga berlaku antara Allah dan hamba-Nya. Dalam terminologi yang pertama, manusia memberi pemaafan antar sesamanya atau sebaliknya. Sedangkan dalam terminologi yang kedua adalah bahwa Allah memberi pemaafan kepada manusia.

Terminologi pemaafan antara sesama manusia, disebut dengan al-‘afwu. Sedangkan terminologi pemaafan Allah kepada manusia adalah al-maghfirah

Memberikan maaf kepada orang lain bukan berarti menjadikan kita seorang yang rendah akan tetapi hakikatnya Alloh menambah kemuliannya, sebagaimana sabda Rosul Saw :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اَللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Suatu sedekah tidak akan mengurangi harta Allah tidak akan menambah kepada seorang hamba yang suka memberi maaf kecuali kemuliaan dan seseorang tidak merendahkan diri karena Allah kecuali Allah mengangkat orang tersebut.” Riwayat Muslim.

TADABUR SIROH “Tentang Mema’afkan”

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ وَلاَ امْرَأَةً وَلاَ خَادِمًا إِلاَّ أَنْ يُجَاهِدَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا نِيلَ مِنْهُ شَىْءٌ قَطُّ فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ إِلاَّ أَنْ يُنْتَهَكَ شَىْءٌ مِنْ مَحَارِمِ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul apa pun dengan tangannya. Ia juga tidak pernag memukul istri-istrinya dan hamba sahayanya. Kecuali, apabila beliau berjihad di jalan Allah. Dan ketika beliau disakiti, beliau sama sekali tidak pernah membalas orang yang menyakitinya, kecuali bila apa yang telah diharamkan Allah Ta’ala itu dilanggar; maka beliau membalas karena Allah Ta’ala.” (HR. Muslim, no. 2328)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَحْكِى نَبِيًّا مِنَ الأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ ، وَهْوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ ، وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِى فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ »

“Seolah-olah aku masih dapat melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menceritakan seorang nabi dari para nabi, yaitu ketika nabi tersebut dipukul oleh kaumnya hingga menyebabkan keluar darahnya dan nabi itu mengusap darah tersebut dari wajahnya sambil berdo’a, “Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka itu tidak mengetahui.” (HR. Bukhari, no. 3477; Muslim, 1792)

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كُنْتُ أَمْشِى مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِىٌّ غَلِيظُ الْحَاشِيَةِ ، فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِىٌّ فَجَذَبَهُ جَذْبَةً شَدِيدَةً ، حَتَّى نَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عَاتِقِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَدْ أَثَّرَتْ بِهِ حَاشِيَةُ الرِّدَاءِ مِنْ شِدَّةِ جَذْبَتِهِ ، ثُمَّ قَالَ مُرْ لِى مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِى عِنْدَكَ . فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ ، فَضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ

“Saya pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau mengenakan baju buatan negeri Najran yang kasar tepinya. Lalu ada seorang Arab Badui yang menemuinya, kemudian ia menarik-narik selendang beliau dengan kuat. Saya melihat leher beliau terdapat bekas ujung baju karena kerasnya tarikan orang Badui itu. Kemudian ia berkata, “Wahai Muhammad berilah kepadaku harta Allah yang ada padamu.” Beliau menoleh kepada orang Badui itu. Sambil tersenyum, beliau menyuruh untuk memenuhi permintaan orang Badui itu.” (HR. Bukhari, 3149; Muslim, no. 1057)

Hal ini sebagaimana disebutkan disebutkan dalam kisah bahwasannya ada saudaranya Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu yang senantiasa Abu Bakar memberikan kepadanya makanan. Namun ternyata saudaranya itu ikut-ikutan menyebarkan berita dusta tentang ‘Aisyah dan menuduh ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berzina. Lalu kemudian Allah turunkan ayat yang mensucikan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Maka Abu Bakar marah sekali kepada Mistah dan bersumpah untuk tidak lagi memberi makan kepada Mistah. Tapi ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan. Allah berfirman:

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (QS. An-Nur[24]: 22)

Artinya kalau kita memaafkan kesalahan orang lain, Allah pun akan memaafkan kesalahan kita. Maka tidakkah kita lebih kita lebih suka Allah memaafkan kita

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

“Maka barang siapa mema’afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)

Kita harus menyadari bahwa memaafkan memiliki manfaat bagi kesehatan jiwa, yaitu dengan cara:

1. Memaafkan adalah untuk diri sendiri dan kebaikan diri sendiri.

2. Memaafkan tidak perlu dilakukan secara terbuka tetapi cukup personal dalam diri.

3.Memaafkan tidak harus menyukai orang tersebut yang pernah menganiaya kita.

4. Memaafkan bukan berarti kita setuju dengan tindakan penganiayaan.

Walohu’alam..

Admin: Zaenal Mutaqin