//Kemenangan Uhud

Kemenangan Uhud

Alangkah keji dan kejamnya tuduhan kepada para sahabat ketika terjadi peperangan uhud, yang menyatakan bahwa para sahabat “tisoledat” karena berebut ghonimah, pernyatan tersebut tidak berdasar bahkan cenderung menghakimi para sahabat. Maka siapkanlah jawaban yang benar ketika nanti di akhirat, dan bertemu para syuhada uhud, (Hamzah, Mush’ab bin Umair dll).

Siapakah kita yang pengorbanan dan keimanannya terhadap islam sangat jauh berbeda dengan para sahabat yang mulia itu, kalau mau diibaratkan mungkin “baena samaawaati wal ardl” (antara bumi dan langit). Mereka (para sahabat) adalah ahlul badar /alumni perang badar.

Pelajaran bagi kita semua, ketika membaca sejarah jangan pernah menghakimi sejarah kalau kita tidak hadir disana, kita tidak tahu apa yang terjadi, dan bagaimana situasi dan kondisinya. Tugas kita hanyalah berbaik sangka dan mengambil ibroh (pelajaran).

Sebagaimana manusia biasa, wajar bila seseorang terlupa akan sesuatu. Begitu juga pasukan yang berjaga di atas bukit Uhud. Mereka terlupa dan akhirnya turun ke lembah untuk mengambil hak pemenang perang. Melihat banyak pasukan dari pihak islam yang meninggalkan pos di atas bukit, Khalid bin Walid dengan kejeniusannya sebagai seorang panglima perang, memerintahkan pasukan kafir yang tersisa untuk berbalik kembali dan menyerang pasukan islam. Pos di atas bukit direbut oleh kafirin dan pasukan islam yang tersisa di sana dibunuh, termasuk Hamzah paman Rasulullah.

Maka jangan sampai kita meniadakan sifat “insaniyahnya” (sifat manusianya) para sahabat, mereka adalah manusia biasa seperti kita, sehingga kita menjadi tidak bijak dalam menyikapinya. Sebelum perang Uhud, waktu itu sabtu pagi, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah mewanti-wanti agar pasukan pemanah yang berada di bukit Rumah (nama aslinya bukit ‘Ainain) agar tetap berada ditempatnya, walaupun kaum muslimin telah meraih kemenangan atau ditimpa kekalahan.

Api peperangan menyala, pedang menyambar, anak panah meleset keluar dari busurnya, tombak dihujamkan, banyak nyawa yang melayang, kaum muslimin menyerang, maju dengan penuh kepahlawan sebagai ksatria, kemenanganpun telah menampakkan senyumnya, kaum musyrikin lari meninggalkan medan perang penuh ketakutan.

Saat itu, diatas bukit Rumah pasukan pemanah mulai berselisih, kebanyakan mereka berkata, “Kita telah menang, ayo kita turun untuk bersama saudara-saudara kita“.

Pimpinan pasukan Abdullah bin Jubair radiyallahu’anhu mengingatkan, “Tetaplah berada ditempat kalian, karena Rasulullah memerintahkan agar kita tetap berada diatas bukit, dalam keadaan kita menang ataupun kita kalah“.

Perintah Rasulullah itu adalah dalam keadaan perang, sekarang perang telah selesai dan musuh telah melarikan diri“, mereka beralasan. Kemudian 40 orang dari 50 orang pasukan pemanah turun dari bukit Rummah.

Pimpinan pasukan berkuda kaum musyrikin Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam) melihat kebanyakan pasukan pemanah telah meninggalkan tempatnya, maka ia dengan sigap menyerang pasukan kaum Muslimin dari belakang. Sisa pasukan pemanah yang berada diatas bukit yang bertugas untuk melindungi bagian belakang kaum muslimin tidak dapat menghadapi pasukan berkuda kaum musyrikin.

Keadaan pun berbalik, cahaya kemenangan yang mulai nampak kembali bersembunyi, kekalahan akhirnya dirasa, luka jasmani dan pahitnya kekalahan mereka teguk dengan begitu berat.

Namun mereka sadar, akan sebab kekalahan: melanggar satu perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Mereka akan mendapatkan kunci kemenangan dan pertolongan Allah Ta’ala adalah dengan menaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebab kekalahan telah diketahui, kunci kemenangan di tangan. Maka setelah perang Uhud kaum Muslimin selalu meraih kemenangan.

Analisis penulis terkait sikap para sahabat dan Rosul :

  1. Keadaan Para sahabat pada waktu itu sedang on fire setelah mereka menaklukan kaum musyrikin pada perang badar, maka wajar sebagai seorang manusia merasa percaya diri yang sangat tinggi.
  2. Para sahabat (Pemanah) menganggap bahwa orang musyrik telah kalah, maka wajar bagi yang pernah mengalami kondisi perang sebelumnya, ketika melihat “keadaan” seperti itu mereka “lupa” terhadap perintah Rosul (mungkin saking bahagianya) dan ingin merayakan kemenangan Bersama. Bukan karena ghonimah karena masalah tersebut para sahabat telah mengetahui hukumnya ketika di perang badar.
  3. Kondisi perang sangat cepat mungkin hitungannya detik, maka ketika sahabat turun kholid bin walid melihat peluang tersebut.
  4. Rosululloh tidak pernah “menyalahkan” para sahabat

lantas apa yang dilakukannya, beliau kembali “me recovery” dengan membesarkan hati mereka, memuji dan menjajikan kemenangan.

  1. Setelah mengobati luka-luka, Para sahabat kembali menyerang orang-orang Musyrikin , dan kaum Musyrikin pun menjadi gentar, dan akhirnya umat muslim menang. Maka para ahli sejarah islam menyatakan uhud itu tidak kalah, tapi menang dengan kebobolan.
  2. Kamu muslimin menjadi lebih solid dan waspada terhadap tipu daya kaum kuffar.
  3. Jangan pernah membandingkan pengorbanan kita dengan para sahabat

Kita itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka, dan jangan melupakan mereka juga adalah manusia.

Mungkin inilah Analisa dari penulis pribadi, para pembaca boleh setuju ataupun tidak, penulis berangkat dari husnudzon kepada para sahabat, yang memperjuangkan agama ini Bersama manusia paling sempurna di muka bumi ini (nabi Muhammad Saw), maka barang siapa yang menuduh para sahabat hakikatnya dia telah menuduh Nabi Muhammad Saw.

 

oleh:

Ust. Saepudin
nyampai, 28/03/2018