//MAKNA “ALLAHU AKBAR”

MAKNA “ALLAHU AKBAR”

 MEMAHAMI DO’A & BACAAN SHALAT  (1)

MAKNA “ALLAHU AKBAR”

 

LEMBANG (Hayaatunaa.com) – Takbir adalah mengucapkan “allahu akbar”. Akbar artinya kebesaran yang megah dan agung.  Segala bentuk kemuliaan, kemegahan, kebesaran, dan keagungan makhluk tak berarti di hadapan-Nya. Segala sesuatu menjadi hina jika disandingkan dengan-Nya.

Dengan demikian, bertakbir artinya menyatakan dan mengakui kebesaran dan keagungan Allah swt. Bertakbir adalah mengakui bahwa hanya allah-lah yang terbesar dan teragung, dan hanya dia-lah yang berhak memiliki seluruh kebesaran dan keagungan. Bertakbir adalah meyakini bahwa seluruh kesuksesan dan prestasi yang diraih, semata-mata hanya karunia allah swt yang maha besar.

Seseorang belum benar-benar tahlil, mengucapkan la ilaha illallah (tiada tuhan selain allah), apabila ia masih suka menyekutukan Allah swt. Demikian pula takbir, sangat besar dosa orang yang bertakbir tetapi dadanya masih penuh dengan kesombongan.

Allah swt berfirman, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-isra : 37)

Sombong mengandung pengertian “menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” Sehingga tidak ada yang berhak untuk sombong melainkan yang memiliki kesempurnaan. Dan tidak ada yang sempurna melainkan satu-satunya allah swt. Bagi manusia, sombong termasuk bagian dari dosa besar, karena telah menganggap dirinya sempurna. Satu sifat yang hanya milik allah semata.

Sombong ini adalah dosa pertama yang dilakukan oleh iblis ketika tidak mau diperintah bersujud kepada Adam as sehingga menjadikannya terlaknat. Seperti diterangkan dalam ayat berikut :

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?.” Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” (QS. Shad : 71-78)

Jangan main-main dan meremehkan sikap sombong dalam diri kita, karena Rasulullah saw pernah bersabda, “tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meskipun seberat dzarah (biji sawi).” (HR. muslim)

Apalagi kita sombong kepada saudara kita yang beriman dan bertaqwa, Abu bakar ash-shidiq berkata, “janganlah seseorang menganggap rendah saudaranya dari kaum muslimin, karena kecilnya orang muslim adalah besar di hadapan allah.”

Seseorang bisa berbuat sombong karena ada penyebabnya. Antara lain adalah :

  1. karena ia memiliki ilmu, sehingga merasa lebih pintar dan menganggap rendah orang lain.
  2. memiliki amal dan ibadah, sehingga merasa lebih shaleh dan paling benar serta menganggap rendah orang lain.
  3. memiliki leluhur dan keturunan yang terhormat, sehingga merasa lebih terhormat dan menganggap rendah orang lain.
  4. Memiliki ketampanan dan kecantikan, sehingga merasa lebih sempurna dan menganggap rendah orang lain.
  5. Memiliki harta yang berlimpah, sehingga merasa paling kaya dan menganggap hina orang lain.
  6. Memiliki kekuatan fisik, sehingga merasa dirinya paling kuat dan menganggap lemah orang lain.
  7. memiliki banyak pengikut, penolong, murid, penerus, sanak kerabat dan keturunan. Sehingga merasa dirinya paling hebat dan meredahkan orang lain.

Dengan berulangkalinya kalimat takbir kita ucapkan, menunjukan bahwa kesombongan bukan perkara yang mudah untuk dihilangkan. Dan dengan tak berhentinya kita bertakbir, menunjukkan bahwa kita tidak boleh menyerah atau putus asa untuk melepaskan kesombongan tersebut dari diri kita.

Mudah-mudahan, semakin banyak mengucapkan allahu akbar, maka kesombongan semakin berkurang dan menghilang, untuk dapat memperlebar jalan pintu surga. Artinya,  semakin sering kalimat takbir membasahi bibir, maka semakin terkikis habis butir-butir kesombongan. Karena tentu saja, takbir yang kita ucapkan bukan hanya sekedar membasahi bibir semata, tetapi keluar dari hati sanubari yang paling dalam dan senantiasa bersinar dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu rendah hati yang melahirkan ketaatan sejati kepada zat yang maha besar, allahu akbar.

“Allah yang paling akbar dari segala yang kabir, dan segala puji hanya bagi allah. Maha suci allah, rab-nya alam semesta. Tiada daya dan kekuatan selain bersama-Nya, sang maha perkasa dan maha bijaksana. Ya allah, ampunilah dosaku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk dan rezeki.” (HR. Muslim). Amien.

 

Barakallahu li wa lakum, wallahu a’lam bi al-shawab !

By Ahmad Wandi, hayaatunaa.com, Ketua PC Pemuda Persis Lembang

Nyampay, 27 Oktober 2016