//Memahami Pandangan Hidup Bertauhid

Memahami Pandangan Hidup Bertauhid

Memahami Pandangan Hidup Bertauhid

Lembang(hayaatunaa.com) – Manusia yang yakin dengan segala yang datang dari Allah swt baik yang dikabarkan didalam Al-Qur’an maupun yang terpelihara dalam As-Sunnah yang shohih kemudian mengamalkannya disebut sebagai orang-orang yang beriman. Hal ini sesuai dengan definisi iman sebagaimana disebutkan oleh para ulama yaitu, meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, mengamalkan dengan anggota badan.

Adapun asas(rukun) keimanan dalam islam adalah beriman kepada Allah swt, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, beriman pada hari akhir dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk, sebagai dalil dari asas yang disebutkan adalah firman Allah swt : “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi” (al-Baqarah : 177)

Adapun tentang iman kepada takdir, Allah swt menjelaskannya dalam al-Qur’an surat al-Qomar : 49-50) yaitu, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata”.

Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda sebagai sebuah jawaban atas pertanyaan Jibril as, tatkala beliau ditanya tentang iman : “Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, malikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk” (HR. Muslim)

Iman adalah kepatuhan total manusia kepada Allah swt, bukan sekedar keyakinan hati tanpa realisasi dalam bentuk amal perbuatan. Anehnya kebanyakan umat islam terjebak pada pendapat-pendapat yang menyesatkan (argumen-argumen apologi) tatkala berhadapan dengan pertanyaan yang mendasar tentang iman. Sebagai misalnya adalah ketika mereka ditanya tentang kemalasan beribadah yang erat kaitannya dengan pengakuan iman seseorang mereka menjawab : “yang penting hati ini bersih tatkala bermuamalah dengan manusia terjadi hubungan yang harmonis dan fositif”.

Agar keimanan dapat menumbuhkan kehidupan tauhid di dunia ini, maka sikap kita :

  1. Terhadap Allah swt, Sebagai Hamba

Kita adalah hamba Allah yang diberi tugas untuk beribadah hanya kepada Nya, sebagaimana firmanNya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku.)Adzariyat;56) Imam Ad-dohak dalam tafsir Ibnu Kasir berpendapat bahwa manusia yang beribadah hanya kepada Allah itulah orang-orang yang beriman. Oleh karena itu, sudah semestinya kita meninggalkan seluruh ibadah yang ditujukan kepada selain Allah swt dari berbagai jenis sesembahan dan sebaliknya menetapkan hanya kepada Allah swt semata kita menyembah.

Sungguh Allah swt telah menciptakan kita dalam bentuk yang sebaik-baiknya, dan telah memberi rizki kepada kita dari yang baik-baik, serta melebihkan kita atas kebanyakan mahluknya. Merupakan hal semestinya bagi kita mempunyai kewajiban-kewajiban dan hak-hak kepada Allah swt. Maka diantara kewajiban-kewajiban dan hak-hak itu adalah :

  • Beribadah kepada Allah sendiri dan tidak menyekutukanNya sedikitpun

Ketika Rosulullah saw bertanya kepada mu’adz bin Jabal dengan pertanyaan : “Hai Mua’dz apakah kewajiban hamba-hamba kepada Allah ? Mu’adz menjawab: Allah dan Rasulnya lebih tahu. Sabdanya: hendaklah mereka menyembahnya dan janganlah menyekutukannya dengan sesuatupun. Mu’adz ditanya lagi: “Apakah engkau tahu kewajiban Allah kepada mereka? Mua’dz menjawab: Allah dan Rasulnya yang lebih tahu. Sabdanya: Allah tidak akan menyiksa mereka”. (HR. Bukhari)

  • Bersyukur atas nikmat-nikmat Allah swt

Nikmat Allah swt tidak terbatas pada kebutuhan-kebutuhan di dunia saja, akan tetapi segala hal yang berkaitan dengan keselamatan manusia di dunia dan di akhirat juga termasuk diantara nikmat-nikmat Allah swt. Abu Darda mengatakan, “barang siapa yang tidak mengenal nikmat Allah selain makan dan minum, berarti dia adalah orang yang picik dan azab Allah telah menimpanya”.

Syukur terhadap nikmat Allah swt tidak akan lahir kecuali dengan baiknya sangkaan dan pandangan serta merasa cukup (qona’ah) dari apa yang telah ditetapkan Allah swt kepada seorang hamba. Jika jiwa merasa cukup dengan nikmat Allah swt, akan lahir ketenangan hati dan ridha terhadap pembagian Allah swt.

Agar seorang hamba mampu merasakan nikmat Allah swt sekecil apapun yang dianugerahkan padanya, maka salah satu cara yang diajarkan oleh Rasulullah saw adalah dengan senantiasa membandingkan nikmat tersebut dengan nikmat lain yang lebih sedikit. Beliau bersabda: “lihatlah kepada orang yang berada di bawah kamu dan janganlah kamu melihat kepada orang yang diatas kamu, karena yang demikian itu lebih pantas, agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang ada pada kamu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Bertaubat, Istighfar dan sadar banyak berbuat dosa

Kekhilafan dan kekeliruan yang senantiasa menyertai manusia dalam segala aktivitasnya bukanlah hal yang luar biasa. Pernah salah dan dosa adalah sifat dasar (tabeat) dari manusia. Akan tetapi yang perlu diwaspadai adalah sikap “masa bodoh” dari segala dosa yang dilakukannya. Sebagai umat Islam yang terbaik tatkala terjatuh dalam perbuatan dosa adalah segera bertaubat kepada Allah swt. Bukankah Rasulullah saw telah bersabda: “setiap anak cucu Adam pasti pernah melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah mereka yang bertaubat”.(H.R. Ibnu Majah)

Taubat artinya meninggalkan perbuatan maksiat menuju ketaatan kepada Allah, karena Allah adalah dzat yang berhak disembah dan ditaati. Rasulullah saw adalah orang yang sering beristighfar (minta ampun) dan bertaubat. Sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari yang diterima dari sahabat Abu Hurairah r.a, ia berkata : aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Demi Allah ! sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali”.

Setelah mengetahui hak dan kewajiban seorang hamba kepada Allah swt diatas, maka manusia tidak akan pernah melakukan suatu tindakan sia-sia yang menyebabkan jarak antara dirinya dengan Allah menjadi jauh apalagi melakukan tindakan yang menyebabkan kemurkaan Allah swt. Dia tidak lagi menggantungkan dirinya kepada selain Allah swt seperti; jimat, kuburan, para wali, tahayyul, khurafat, peramal, dukun, dan sebagainya, karena dia yakin semuanya itu adalah batil.

2. Terhadap Manusia, Bermu’amalah

Manusia adalah mahluk yang lemah, artinya semua perjalanan hidup di dunia ini memerlukan orang lain untuk membantu kita dalam berbagai hal yang dibutuhkan. Oleh karena itu, Allah menciptakan manusia dari dua jenis yang berlawanan yaitu laki-laki dan perempuan supaya satu sama lain saling membutuhkan, sehingga manusia bisa memperbanyak keturunannya dan melahirkan berbagai macam corak seperti warna kulit, bahasa, bangsa, suku dan budaya, tapi jangan melupakan Allah swt yang mengatur itu semua.

Untuk menjaga dan memelihara hubungan yang baik kepada Allah swt sebagai khalik dan kepada manusia sebagai teman hidup maka kita harus mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat oleh keduanya. Maka jika kita memutuskan hubungan pada salah satunya kita akan mendapat kehinaan di dunia dan akhirat.  Sebagaimana Allah berfirman dalam Qur’an surat Ali Imran : 112, yaitu : “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali membawa kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir pada ayat-ayat Allah dan membunuh nabi-nabi Allah tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas”.

Aneh ! Bagaimana mungkin hati seorang muslim dapat menjadi bersih dan suci dengan kesombongan yang nyata dihadapan Allah swt ? Bukankah menolak beribadah kepada Allah swt adalah salah satu ciri kotornya hati dan bentuk kesombongan yang sangat berbahaya ? Perhatikanlah firman Allah swt sebagai berikut : “sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan yang sangat hina”. (Mu’min : 60)

3. Terhadap Alam,Sebagai Khalifah

Manusia diciptakan Allah swt di bumi ini, sebagai khalifah atau penguasa mempunyai tugas utama beribadah kepada Allah semata. Kekhalifahan manusia hanya dapat eksis tatkala mereka dengan ikhlas beribadah kepada Allah semata. Sementara mereka yang enggan untuk beribadah kepada Allah serta menyombongkan diri sangat tidak pantas untuk menyandang predikat khalifah di bumi ini.

Sebagian manusia memandang kewajiban beribadah sebagai beban yang teramat berat sehingga banyak diantara mereka yang tidak saja malas dalam menunaikannya bahkan meninggalkannya secara total. Padahal dengan ibadah yang kontinu dan berkualitas akan melahirkan pribadi-pribadi yang shaleh, kepada mereka inilah Allah mewariskan bumi ini, seperti firman-Nya: “sesungguhnya bumi ini milik Allah yang diwariskan kepada siapa yang dikehendakinya dari hamba-hambanya dan kesudahan yang baik hanya bagi hamba-hambaNya yang bertakwa”. (al-A’raf: 128)

Manusia tidak akan menjadi khalifah yang baik dan adil jika sifat yang disebutkan oleh malaikat ketika akan menciptakan Nabi Adam sebagai manusia pertama bahwa manusia itu makhluk yang suka berbuat keruksakan dan saling membunuh. Padahal manusia itu tidak bisa lepas dari orang lain, baik itu keluarga, saudara, tetangga atau pun teman lainnya, maka untuk mendapat perhatian dari lingkungannya manusia harus mempunyai belas kasih pada sesama dan makhluk lainnya seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Karena manusia merasa paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya, sehingga manusia mempunyai sifat sombong dan membanggakan diri seolah-olah hidupnya itu oleh dirinya sendiri tanpa bantuan yang lain. Maka Allah mengingatkan kepada kita untuk berbuat baik kepada orang-orang yang ada di lingkungan kita dengan firmannya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (An-nisa;36)

   4.Iman Dasar Segala Amal

Iman merupakan dasar dari semua amal yang dilakukan oleh manusia, sebab tanpa iman walupun berbuat baik sebanyak-banyaknya tetap tidak akan diterima oleh Allah swt. Allah swt telah memberitahukan kepada kita dalam al-Qur’an surat al-kahfi: 103-105)  tentang orang-orang yang paling rugi perbuatanya yaitu mereka yang menyangka perbuatannya itu baik tetapi mereka itu orang-orang yang kufur kepada ayat-ayat Allah, dan hari pembalasan Maka amalan-amalan mereka itu sia-sia dan tidak akan dapat apapun pahala dari Allah pada hari kiamat.

Adapun orang-orang yang megerjakan amalan sholeh karena mereka beriman kepada Allah dan yakin akan bertemu dengan-Nya. Maka mereka akan hidup bahagia di dunia dan di akhirat sebagaimana firman Allah swt: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An-nahl ;97)

Allah swt juga menerangkan tentang amalan orang kafir didalam al-our’an surat An-nur ayat 39, yaitu amalan orang kafir itu bagaikan fatamorgana ditanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapat sesuatu apapun. Alangkah bodoh sekali, kalaulah ada sebagian orang islam yang hatinya dapat tergoda dengan kekayaan dunia sehingga ia berani mengorbankan keimanannya untuk meraih kesenagan yang sebentar di dunia ini, padahal kalau dapat mempertahankan keimananya ia akan mendapat kesenagan yang abadi di akhirat nanti.

 

By: Ahmad Wandi

Editor: Zaenal Mutaqin