//Mencermati Makna ‘izzah dalam Surat Al-Baqarah 206 (Bag-1)

Mencermati Makna ‘izzah dalam Surat Al-Baqarah 206 (Bag-1)

Lembang(hayaatunaa.com)-

Memahami makna kata demi kata dalam Alquran merupakan salah satu bentuk tadabbur dan berlepas diri dari tahjir (tidak mengacuhkan) Alquran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

{وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا } [الفرقان: 30]

“Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Alquran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS. Al-Furqan: 30).

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, “Tidak mau mentadaburi dan memahami maknanya, termasuk tidak mengacuhkan Alquran”.[[1]]

Memahami Alquran dengan komprehensif tidak bisa mengandalkan terjemah, tetap harus menilik kata demi kata dengan memerhatikan kaidah-kaidah bahasa Arab dan menyesuaikannya dengan riwayat-riwayat. Menafsirkan Alquran tidak boleh asal-asalan seperti menggunakan kaidah cocoklogi atau analogi yang tidak berdasar. Imam Ibnu Katsir dalam mukadimahnya mengatakan “Menafsirkan Alquran dengan logika semata, hukumnya haram.” [[2]]

Imam Ibnu Katsir menukil sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi,

وَمَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berkata tentang Alquran dengan logikanya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka”

Imam Masruq menuturkan:

اتقوا التفسير، فإنما هو الرواية عن الله

“Hati-hati dalam menafsirkan (ayat Alquran) karena tafsir adalah riwayat dari Allah.” [[3]]

Sebelum memahami makna ‘izzah secara khusus dalam surat Al-Baqarah ayat 206, terlebih dahulu kita pahami maknanya secara umum.

Pengertian ‘Izzah

Izzah atau ‘izz (bentuk mudzakkar) عزّة, عزّ menurut bahasa merupakan antonim dari kata dzull ذلّ  (hina/rendah). ‘Izzah memiliki makna asal yang saling berkaitan, yaitu kuat, keras, menang, kedudukan yang tinggi atau kokoh. Namun, penggunaan kata Izzah sering dimaknai kemuliaan.

Penekanan makna ‘izzah tergantung kepada bentuk fi’il mudhori’nya. Jika fa fi’ilnya difathah يَعَزُّ mengandung makna kuat dan keras, bila dikasrah يَعِزُّ bermakna kuat dan kokoh, sedangkan didhammah يَعُزُّ , maknanya menang dan menguasai. [[4]]

Menurut istilah, ‘izzah memiliki makna yang tidak jauh berbeda dengan maknanya secara bahasa, Imam Ar-Raghib Al-Asfahani mengatakan bahwa yang dimaksud ‘izzah adalah

حَالَةٌ مَانِعَةٌ لِلإِنْسَانِ مِنْ أَنْ يُغْلَبَ

Keadaan yang mencegah manusia dari kekalahan [[5]]

Beliau juga mengatakan, bahwa izzah adalah

التَّأَبِّي عن حمل المذَلَّة

Enggan memikul kehinaan;

الـتَّــرَفُّع عمَّا تَلْحَقه غَضَاضَة

Menjauhkan diri dari sesuatu yang dapat membawanya pada kehinaan. [[6]]

Imam Al-Ghazali menyatakan,

من رزقه الله القناعة حتى استغنى بها عن خلقه ، وأمده بالقوة ، والتأييد حتى استولى بها على صفات نفسه فقد اعزه الله في الدنيا وسيعزه في الآخرة بالتقريب إليه- المقصد الأسنى : 47

Barangsiapa yang dianugerahi qana’ah oleh Allah hingga tidak membutuhkan makhluk-Nya, Allah menolongnya dengan memberikan kekuatan dan keteguhan sampai dapat mengendalikan sifat-sifat dalam jiwanya, sungguh Allah telah memberi ‘izzah di dunia dan kelak akan memberikannya di akhirat dengan segera. [[7]]

Dari uraian di atas, kita dapat menangkap dengan jelas bahwa ‘izzah mengandung hal-hal berikut:

  1. Kekuatan yang mencegah dari kekalahan, baik kekuatan Iman, jasad maupun ilmu;
  2. Qana’ah (rela atau merasa cukup terhadap pemberian Allah) yang mencegah dari bergantung kepada makhluk;
  3. Mendapatkan pertolongan dari Allah Ta’ala;
  4. Berbuat sesuai dengan yang diridhai Allah Ta’ala.

Pembagian ‘Izzah

Pada hakikatnya ‘izzah itu hanya satu, yaitu yang bersumber dari Allah Al-Aziz. Sebagaimana dalam firman-Nya:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ. [المنافقون: 8]

“Dan ‘Izzah itu bagi Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui.” (QS. Al-Munafiqun: 8)

Adapun dalam penggunaannya, lafaz ‘izzah dibagi menjadi dua, yaitu izzah mamduhah (yang terpuji) dan Izzah madzmumah (yang tercela).

Pertama, ‘Izzah mamduhah atau juga dikenal dengan ‘izzah syari’iyyah adalah adalah ‘izzah yang sesuai dengan kehendak Allah dan rasulNya, sehingga orang yang memiliki izzah akan memuliakan agama dan meninggikan kedudukannya dari kehinaan. Dia tidak mau mengorbankan kehormatan demi sesuatu yang mengotori jiwanya, bahkan akan terbebas dari perbudakan hawa nafsu dan  keserakahan. Dia tidak melangkah kecuali mengikuti jarum imannya dan kebenaran yang selalu dijungjung dan didakwahkannya. Izzah inilah yang merupakan izzah hakiki dan abadi, karena bersumber dari Allah Ta’ala sebagaimana tertera dalam Alquran surat al-Munafiqun ayat 8 di atas.

Dalam menggambarkan ‘izzah yang terpuji tersebut, Imam Ar-Raghib al-Asfahani berkata:

والعزة: منزلة شريفة وهي نتيجة معرفة الإنسان بقدر نفسه وإكرامها عن الضراعة للأعراض الدنيوية، كما أن الكبر نتيجة جهل الإنسان بقدر نفسه وإنزالها فوق منزلتها. الذريعة الى مكارم الشريعة (ص: 215)

Izzah adalah kedudukan yang mulia merupakan Hasil yang dicapai manusia dari mengenal kemampuan dirinya. Memuliakan jiwanya dari kehinaan racun-racun duniawi, sebagaimana kibr (sombong) merupakan hasil kebodohan manusia mengenal dirinya, sehingga menempatkan diri melampaui kedudukan yang semestinya.[[8]]

Kedua, ‘Izzah madzmumah atau juga dikenal dengan ‘izzah ghair syar’iyyah adalah kebanggaan yang digunakan oleh orang-orang kafir untuk menolak kebenaran, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

{بَلْ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ}. (ص:2(

“Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam ‘izzah (kesombongan) dan permusuhan yang sengit.” (QS. Shad: 2)

Izzah orang-orang kafir tersebut hakikatnya bukanlah sesuatu yang dapat dibanggakan, melainkan sebuah kehinaan. Allah Ta’ala berfirman

أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا [النِّساء: 139].

“Apakah mereka mencari izzah (kekuatan) di sisi mereka (orang-orang kafir)? Sesungguhnya semua izzah (kekuatan) kepunyaan Allah.” (QS. An-Nisa: 139)

Bentuk-bentuk ‘izzah ghair syar’iyyah

  1. Membanggakan orang-orang kafir daripada orang-orang mukmin. Allah Ta’ala berfirman:

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari ‘izzah di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua ‘izzah kepunyaan Allah.” (QS. An-Nisa : 138-139)

  1. Membanggakan keturunan. Rasulullah sallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَفْتَخِرُونَ بِآبَائِهِمِ الَّذِينَ مَاتُوا إِنَّمَا هُمْ فَحْمُ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنَ الْجُعَلِ الَّذِي يُدَهْدِهُ الْخِرَاءَ بِأَنْفِهِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ   الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالْآبَاءِ إِنَّمَا هُوَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ النَّاسُ كُلُّهُمْ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ خُلِقَ مِنْ تُرَابٍ ” رواه الترمذي

“Hendaknya kaum-kaum itu benar-benar berhenti dari membangga-banggakan nenek moyang mereka yang telah mati, sesungguhnya mereka adalah arang api neraka Jahannam. Atau, hendaknya mereka sungguh-sungguh lebih hina di sisi Allah daripada kumbang kelapa yang mengguling-gulingkan tahi (kotor­an) dengan hidungnya. Sesungguhnya Allah telah melenyapkan daripadamu kemegahan jahiliyah dan kebanggaan dengan nenek moyangnya. Yang dipandang hanyalah apakah ia seorang Mu’min yang bertakwa, atau seorang durhaka yang nista. Manusia, semua­nya adalah anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah.” (HR.   At-Tirmidzi)

  1. Membanggakan suku dan golongan. Allah Ta’ala berfirman:

Mereka berkata: “Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena suku/keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami.” Syu’aib menjawab: “Hai kaumku, apakah suku/keluargaku lebih memiliki ‘izzah (terhormat) menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?. Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 91-92)

  1. Membanggakan kuantitas, baik harta, anak, pengikut maupun yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

“Dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih memiliki ‘izzah (kekuatan)” (QS. Al-Kahfi: 34)

  1. Membanggakan kedudukan. Allah Ta’ala berfirman:

“Lalu mereka melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka dan berkata: “Demi ‘izzah (kekuasaan) Fir’aun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang.” (QS. As-Syu’araa: 44)

  1. Membanggakan sembahan-sembahan selain Allah. Allah Ta’ala berfirman:

Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi ‘izzah (pelindung) bagi mereka, sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka. (QS. Maryam : 81-82)

Uraian dia atas dapat dijadikan bahan introspeksi bagi kita sebagai seorang mukmin untuk mengetahui  ‘izzah yang kita pertahankan dan perjuangkan. Apakah ‘izzah tersebut terpuji dan dibenarkan syari’at? Atau tercela dan menyalahi syari’at?

Ketika kita memiliki kekuatan (power), kemudian digunakan untuk mengalahkan keimanan, kebenaran, dan keadilan, sungguh ‘izzah yang diperjuangkan adalah tercela dan bukanlah suatu kekuatan dan kemenangan. Namun, ketika power digunakan untuk mengalahkan kekafiran, kesalahan dan kezaliman, sungguh yang diperjuangkan adalah ‘izzah hakiki dan abadi yang bersumber dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Setelah kita memahami makna ‘izzah dari uraian-uraian di atas, timbul pertanyaan:

  1. Apa Makna ‘izzah pada surat Al-Baqarah ayat 206?
  2. Mengapa kata ‘izzah yang digunakan pada ayat tersebut?

Insyaallah kita bahas pada paparan berikutnya…

والله أعلم

By. Muslim Nurdin (Asatidz pesantren persatuan islam 50 ciputri, Lembang)

[1] Lihat, Tafsir Al-Quran Al-‘Adzim,  VI : 13

[2] Ibid., I : 11

[3] Ibid., I : 16

[4] Lihat, Taaj Al-Aruus, XV : 219, As-Shahhah, III : 88, Maqayiis al-Lughah, IV : 38-39, Lisan Al-‘Arab, V : 374-375

[5] Lihat, Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran : 333

[6] Lihat, Ad-Dzari’ah ila Makarim As-Syari’ah: 215

[7] Lihat, Al-Maqshad Al-Asna: 47

[8] Lihat, Ad-Dzari’ah ila Makarim As-Syari’ah: 215