//Menggerak-gerakan Telunjuk Dalam Tasyahud

Menggerak-gerakan Telunjuk Dalam Tasyahud

Lembang@hayaatunaa.com-

Oleh : Ahmad Wandi

  1. PENDAHULUAN

Dalam pembahasan tasyahud/ tahiyat terdapat beberapa permasalahan. Antara lain masalah isyarah dalam tasyahud, apakah menggerak-gerakkan telunjuk atau tidak ?

Dalam sebuah siaran radio, seorang ustadz yang cukup populer di jawab barat pernah menjelaskan, bahwa telunjuk dalam tasyahud itu boleh digerakkan dan boleh juga tidak. Karena dua-duanya ada dasar hadisnya. Kalau digerakkan telunjuknya itu berdasarkan hadis wail bin hujr riwayat abu dawud, sedangkan kalau tidak digerakkan berdasarkan hadis abdullah bin al-zubair riwayat muslim. Dan saya lebih cenderung tidak digerakkan karena riwayat muslim tidak diragukan lagi keshahihannya. Demikian kurang lebih penjelasan darinya yang sempat beberapa kali penulis dengarkan.

  1. E. Abdurrahman dalam bukunya istifta menyebutkan, “dua keterangan (dua macam perbuatan) di atas tidak dapat dikatakan bertentangan, sebab kemungkinan rasulullah memberikan contoh yang terjadi dalam dua peristiwa, dan dua-duanya dibenarkan. Tapi juga jelas tambahan kata-kata “tidak menggerak-gerakkan” itu dalam hadis muslim tidak ada.[1]
  2. A. Zakaria -setelah beliau memaparkan argumentasi kedua belah pihak- dalam salah satu kesimpulan bukunya al-hidayah menyatakan, “tidak menggerak-gerakkan telunjuk juga boleh karena terdapat hadis tentang hal itu.”[2]

Dalam buku risalah shalat yang disusun oleh dewan hisbah persatuan islam terdapat kesimpulan, “derajat hadis la yuharrikuha adalah dhaif.”[3]

Melihat perbedaan tersebut, setidaknya memunculkan sebuah kebingungan atau ketidakpastian bagi sebagian kalangan. Baik di dalam maupun di luar jam’iyah persatuan islam.

Dengan demikian, melalui tulisan ini penulis ingin mencoba memberikan sedikit kontribusi dengan menganalisis kembali masalah ini. Dan dengan mengikuti metodologi yang berlaku di kalangan ahli ilmu, mudah-mudah penelitian ini terhindar dari unsur subjektivitas.

Dalam penelitian ini, untuk lebih memudahkan penulis ingin menyampaikan bahwa hadis tentang isyarah telunjuk dalam tasyahud secara garis besar terdapat dua bentuk :

  1. Hadis yang tidak menjelaskan adanya menggerak-gerakkan telunjuk ataupun tidak (mutlak).
  2. Hadis yang menjelaskan adanya menggerak-gerakkan telunjuk (mutsbit) dan tidak adanya menggerak-gerakkan telunjuk (nafi’).

 

  1. HADIS YANG TIDAK MENJELASKAN ADANYA MENGGERAK-GERAKKAN TELUNJUK ATAUPUN TIDAK (MUTLAK)

Hadis yang mutlak, yakni hadis tersebut tidak menjelaskan adanya menggerak-gerakkan telunjuk ataupun tidak adalah sebagai berikut :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ ح قَالَ وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ – وَاللَّفْظُ لَهُ – قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الأَحْمَرُ عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَعَدَ يَدْعُو وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى إِصْبَعِهِ الْوُسْطَى وَيُلْقِمُ كَفَّهُ الْيُسْرَى رُكْبَتَهُ.

Muslim (berkata), telah menerangkan kepada kami qutaibah (ia berkata), telah menerangkan kepada kami laits (ia berkata), dari ibnu ‘ajlan. (muslim berkata) dan telah menerangkan pula kepada kami abu bakar bin abi syaibah –lafazh baginya- (ia berkata), telah menerangkan kepada kami abu khalid al-ahmar (ia berkata), dari ibnu ‘ajlan (sama dengan di atas, ia berkata), dari amir bin abdillah bin al-subair (ia berkata), dari bapaknya (ibn al-zubair), ia berkata, “adalah rasululloh saw apabila duduk berdoa(dalam tasyahud) beliau meletakkan tangannya yang kanan di atas pahanya yang kanan dan tangan kiri di atas pahanya yang kiri, serta berisyarat degan jari telunjuknya dan meletakkan ibu jari tengahnya dan membeberkan telapak tangannya yang kiri di atas lututnya.” (HR. muslim)[4]

KOMENTAR TENTAG HADIS INI

  1. Hadis ini adalah riwayat muslim dalam kitab shahihnya, sehingga tidak diragukan keshahihannya.
  2. Dengan kalimat “berisyarat degan jari telunjuknya” menunjukkan, bahwa telunjuk itu tidak digerak-gerakkan.
  3. Artinya, tidak menggerak-gerakkan telunjuk ketika tasyahud itu adalah berdasarkan hadis shahih riwayat imam muslim.

 

  1. HADIS-HADIS YANG MENJELASKAN MENGGERAK-GERAKKAN TELUNJUK (MUTSBIT)

Hadis yang menerangkan bahwa rasululloh saw menggerak-gerakkan telunjuknya ketika tasyahud diriwayatkan oleh banyak ulama hadis yang seluruhnya bersumber dari sahabat wail bin hujr, antara lain :

  1. Imam ahmad bin hanbal dalam kitabnya Musnad ahmad bin hanbal 4/318 no. 18890.
  2. Imam an-nasai dalam kitabnya as-sunan al-kubra 1/310 no. 963 &1191.
  3. Imam ibnu khuzaimah dalam kitabnya shahih ibnu khuzaimah 1/354 no. 714.
  4. Imam ibnu hiban dalam kitabnya shahih ibnu hiban 5/170 no. 1860 dan mawarid al-zhaman 1/132 no. 485.
  5. Imam ad-darimi dalam kitabnya sunan ad-darimi 1/362 no. 1357.
  6. Imam al-baihaqi dalam kitabnya as-sunan al-kubra 2/132 no. 2899.
  7. Imam ath-thabrani dalam kitabnya al-mu’jam al-kabir 22/35 no. 82.[5]

Hadis-hadis tersebut apabila dikutif lengkap dengan sanadnya, antara lain sebagai berikut :

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ أَخْبَرَنِي أَبِي أَنَّ وَائِلَ بْنَ حُجْرٍ الْحَضْرَمِيَّ أخْبَرَهُ قَالَ قُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي قَالَ فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ قَامَ فَكَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا أُذُنَيْهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى وَالرُّسْغِ وَالسَّاعِدِ ثُمَّ قَالَ لَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ مِثْلَهَا وَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَرَفَعَ يَدَيْهِ مِثْلَهَا ثُمَّ سَجَدَ فَجَعَلَ كَفَّيْهِ بِحِذَاءِ أُذُنَيْهِ ثُمَّ قَعَدَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى فَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ وَرُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ الْأَيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ قَبَضَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَحَلَّقَ حَلْقَةً ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا ثُمَّ جِئْتُ بَعْدَ ذَلِكَ فِي زَمَانٍ فِيهِ بَرْدٌ فَرَأَيْتُ النَّاسَ عَلَيْهِمْ الثِّيَابُ تُحَرَّكُ أَيْدِيهِمْ مِنْ تَحْتِ الثِّيَابِ مِنْ الْبَرْدِ

Imam ahmad  (berkata), telah menerangkan kepada kami abdu al-shamad (ia berkata), telah menerangkan kepada kami zaidah (ia berkata), telah menerangkan kepada kami ‘ashim bin kulaib (ia berkata), telah menceritakan kepadaku bapakku (kulaib, ia berkata), bahwa wail bin hujr al-hadhrami mencerotakan kepadanya, ia berkata, “aku berkata, aku benar-benar melihat bagaimana rasulullah saw shalat,” ia berkata, “aku melihat beliau berdiri, lalu bertakbir dan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya, kemudian menyimpan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan,  yang kiri, pergelangan dan hasta yang kiri, kemudian ia (wail berkata), ketika beliau hendak ruku mengangkat kedua tangannya seperti itu, dan menyimpan kedua tangannya di atas lututnya, kemudian bangkit dari ruku dan mengangkat kedua tangannya seperti itu, kemudian beliau sujud dan meletakkan telapak tangannya sejajar dengan kedua telinganya, kemudian duduk dan membentangkan kakinya sebelah kiri (iftirasy), lalu menyimpan telapak tangannya yang kiri di atas paha dan lututnya sebelah kiri, dan beliau meletakkan ujung sikut kanannya di atas paha kanannya, kemudian menggemgamkan antara jari-jarinya (kelingking dan jari manis), lalu membuat lingkaran ( dengan ibu jari dan jari tengah), kemudian mengangkat jarinya (telunjuk), lalu aku melihat beliau menggerak-gerakkan telunjuknya sambil berdoa dengannya.” [6]

KOMENTAR TENTANG HADIS INI

  1. Imam an-nawawi berkata : sanadnaya shahih.[7]
  2. Syaikh al-albani dalam sunan al-nasai bi ahkam al albani berkata : shahih.[8]
  3. Husain salim asad dalam tahqiq sunan ad-darimi berkata : sanadnya shahih.[9]
  4. Syu’aib al-arna’ut dalam tahqiq shahih ibnu hiban berkata : sanadnya kuat.[10]
  5. Al-a’zhami dalam tahqiq shahih ibnu khuzaimah berkata : sanadnya shahih.[11]
  6. Ibnul qoyim berkata : kemudian nabi aw mengangkat jarinya beliau berdoa dengannya dan menggerak-gerakkannya, demikianlah menurut hadis wail bin hujr dalam satu hadis yang shahih yang diceritakan abu hatim.[12]
  7. Al-albani berkata : dari itu jelaslah, bahwa mengerak-gerakkan telunjuk dalam tasyahud itu adalah sunnah yang tsabit (shahih) dari nabi saw, juga diamalkan oleh imam ahmad dan imam hadis yang lainnya. Oleh karena itu,hendaklah takut kepada alloh orang-orang yang mengira bahwa cara menggerak-gerakkan telunjuk adalah main-main yang tidak layak dilakukan dalam shalat, sehingga mereka tidak menggerak-gerakkannya, padahal mereka telah mengetahui akan keshahihannya, dan mereka memaksakan mentakwilnya dengan maksud yang tidak sesuai dengan uslub (jalan) pembicaraan bahasa arab dan juga menyalahi pendapat para imam.[13]

 

  1. HADIS YANG MENJELASKAN TIDAK MENGGERAK-GERAKKAN TELUNJUK (NAFI’)

Hadis yang menerangkan bahwa rasululloh saw tidak menggerak-gerakkan telunjuknya ketika tasyahud diriwayatkan oleh banyak ulama hadis yang seluruhnya bersumber dari sahabat Abdullah bin az-zubair, antara lain :

  1. Imam abu awanah dalam kitabnya musnad abi awanah 1/539 no. 2019.
  2. Imam abu dawud dalam kitabnya sunan abi dawud 1/374 no. 991.
  3. Imam an-nasai dalam kitabnya sunan an-nasai 3/44 no. 1269.
  4. Imam al-baihaqi dalam kitabnya as-sunan al-kubra 2/131 no. 2615. [14]

Hadis-hadis tersebut apabila dikutif lengkap dengan sanadnya sebagai berikut :

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَسَنِ الْمِصِّيصِىُّ حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ زِيَادٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلاَنَ عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّهُ ذَكَرَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُشِيرُ بِأُصْبُعِهِ إِذَا دَعَا وَلاَ يُحَرِّكُهَا.

Abu dawud (berkata), telah menerangkan kepada kami ibrahim bin al-hasan al-mishishi (ia berkata), telah menerangkan kepada kami hajaj (ia berkata), dari ibnu juraij (ia berkata), dari ziyad (ia berkata), dari muhammad bin ‘ajlan (ia berkata), dari amir bin abdillah (ia berkata), dari abdullah bin al-subair, bahwasanya ia menjelaskan, “sesungguhnya nabi saw berisyarat dengan telunjuknya apabila berdoa (dalam tasyahud) dan tidak menggerak-gerakkannya.”(HR. abu dawud)[15]

KOMENTAR TENTANG HADIS INI

Pertama, hadis ini dhaif karena dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama hajaj, dan hajaj dalam sanad hadis tersebut adalah hajaj bin arthah, ia rawi dhaif.[16]

Syaikh al-albani dalam sunan an-nasai bi ahkam al-albani berkata : shahih tetapi tambahan “wala yuharikuha” adalah syazh.[17]

Kedua, hadis ini shahih karena rawi yang bernama Hajaj dalam hadis tersebut bukan hajaj bin arthah, tetapi hajaj bin Muhammad al-mishishi al-a’war. Ia seorang rawi yang tsiqat (terpercaya), suka meriwayatkan hadis dari ibnu juraij, syu’bah, ahmad, ibnu main, dan al-zhuhli

ANALISIS PENULIS

  1. Hadis yang tidak menjelaskan adanya menggerak-gerakkan telunjuk ataupun tidak masih bersifat mutlak (umum atau global). Dalil yang mutlak tetap berlaku dalam kemutlakkannya selama tidak ada taqyid (pembatas). Apabila terdapat taqyid, maka dalil yang mutlak harus dibawa kepada yang muqayad (hamlul mutlak alal muqayad wajib). Adanya isyarat dalam tasyahud adalah mutlak. Mengerak-gerakkan telunjuk atau tidak adalah muqayad. Berdasarkan qaidah ini, yang berlaku adalah menggerak-gerakkan telunjuk dalam tasyahud.
  2. Hadis yang menerangkan bahwa rasululloh saw menggerak-gerakkan telunjuknya dalam tasyahud adalah shahih (kuat) dan sharih (jelas). Tidak terdapat kecacatan dan kesamaran sedikitpun.

Bagaimana dengan rawi ashim bin kulaib yang dinilai lemah oleh sebagai kritikus hadis ? Seperti ibn al-madini berkata, “tidak dapat dijadikan hujjah apabila menyendiri.” Yahya bin sa’id al-qaththan berkata, “kami tidak mendapatkan rawi yang bernama ‘ashim, kecuali ia jelek hafalannya.”[18]

Jawab : memang benar sebagian ulama menjarah kepada ‘ashim bin kulaib seperti tersebut di atas. Namun tetap para ulama berhujjah dengan ashim bin kulaib tersebut. termasuk imam muslim dalam kitab shahihnya.

Kenapa demikian ? [1]  karena kebanyakkan ulama menyatakan ashim bin kulaib sebagai rawi yang tsiqat (terpercaya). Imam ahmad berkata, “hadisnya tidak apa-apa (bisa diterima).” Ibnu ma’in, al-nasai, ibnu hiban, ibnu sa’ad, dan yang lainnya menyatakan tsiqat. abu hatim berkata, “ia shalih.”[19]

[2] penilaian lemah (jarah) terhadap ‘ashim bin kulaib tidak jelas sebabnya (ghair mubayan al-sabab), sehingga tidak berlaku kaiqah “jarah lebih didahulukan daripada ta’dil”. Artinya, yang berlaku adalah ta’dil, yaitu penilai tsiqat dari mayoritas kritikus hadis.

[3] pernyataan yahya bin sa’id al-qaththan bukan ditujukan kepada ‘ashim bin kulaib, tetapi kepada ‘ashim bin abi al-najud. Sebagai perbandingan, abu hatim menilai ashim bin kulaib dengan pernyataan shalih, sementara kepada ashim bin abi al-najud dengan pernyataan tidak tsiqat.[20]

Dengan analisis tersebut, maka pantas para ulama berkesimpulan bahwa hadis wail bin hujr ini shahih. Sebagaimana komentar di atas.

  1. Hadis yang menerangkan “tidak menggerak-gerakkan telunjuk dalam tasyahud” memiliki beberapa kedhaifan/ kecacatan, antara lain :
  • Hadisnya diriwayatkan melalui rawi hajaj bin Muhammad. Nama lengkapnya Hajaj bin muhamad al-mishishi al-a’war al-tirmidzi. Kunyahnya abu muhammad. Tinggal di Baghdad kemudian pindah ke al-mishishah.

Para kritikus hadis banyak yang menilai hajaj bin Muhammad sebagai rawi yang tsiqat (terpercaya) sebagaimana dinyata-kan dalam kitab-kitab rijalul hadis. Namun ibnu sa’ad mengatakan : ia tsiqat shaduq insya alloh, tetapi berubah hafalannya di akhir usianya ketika kembali ke baghdad.[21]

Dengan keterangan ini Ibnu hajar berkesimpulan bahwa hajaj bin Muhammad adalah rawi tsiqat dan tsabat, akan tetapi ia ikhtilath di akhir usianya ketika kembali ke Baghdad sebelum ia wafat.[22]

Oleh karena itu, ia dinyatakan sebagai rawi yang tsiqat dan tsabit, tetapi di akhir usianya ia ikhtilath (pikun) dan dalam keadaan demikian masih suka meriwayatkan hadis. Dalam hal ini, Ibnu hajar pun memiliki sebuah fakta yang menunjukkan bahwasanya hajaj masih meriwayatkan hadis dalam keadaan ikhtilathnya.[23]

Berdasarkan analisis tersebut, hadis ini termasuk kelompok hadis dhaif yang disebut dengan hadis mukhtalath. Hadis mukhtalath adalah hadis yang pada sanadnya terdapat rawi yang su-u al-hifzhi (buruk hapalan) karena ada factor (thari’), seperti : pikun, buta matanya, terbakar kitabnya, dan sebagainya. Rawi yang mengalami ikhtilath antara lain : Sa’id bin Abi ‘Arubah (pikun), Abdurrazaq bin Hammam al-Shan’ani (buta matanya), Abdullah bin Lahi’ah (terbakar kitabnya).

Hukum hadis mukhtalath terbagi tiga :

  1. Diterima (maqbul) apabila ia meriwayatkannya sebelum ikhtilath.
  2. Ditolak (mardud) apabila ia meriwayatkannya setelah ikhtilath.
  3. Ditangguhkan (Tawaquf) apabila tidak diketahui, apakah ia meriwayatkannya setelah ikhtilath atau sebelumnya.

Dalam riwayat ini tidak diketahui atau paling tidak diragukan apakah ia meriwayatkannya sebelum ikhtilath atau sesudahnya. Status hokum riwayat seperti ini ditangguhkan atau dianggap lemah sebelum terdapat keterangan yang menjelaskannya atau ada rawi lain yang tsiqat yang menyetujui riwayatnya.

Dalam periwayatan hadis ini, hajaj bin Muhammad menyendiri (infirod). Sehingga apabila kita periksa periwayatan amir bin abdillah dari Abdullah bin az-zubair, tidak terdapat tambahan “wa la yuharrikuha”. Seperti di bawah ini :[24]

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ ح قَالَ وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ – وَاللَّفْظُ لَهُ – قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الأَحْمَرُ عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَعَدَ يَدْعُو وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى إِصْبَعِهِ الْوُسْطَى وَيُلْقِمُ كَفَّهُ الْيُسْرَى رُكْبَتَهُ.

  • Hadisnya diriwayatkan melalui rawi Muhammad bin ajlan. Nama lengkapnya Muhamad bin ajlan al-madini al-qurasyi maula Fatimah binti al-walid bin utbah bin rabi’ah. Kunyahnya abu abdillah.

Muhammad bin ajlan dinyatakan tsiqat oleh imam ahmad, ibnu main, abu hatim, abu zur’ah, al-ijli, as-saji. Kemudian dipergunakan oleh abu dawud, al-tirmidzi, al-nasai, ibnu majah, dan yang lainnya. Namun imam al-bukhari tidak menggunakannya pada kitab shahih-nya sebagai dasar atau hujjah, melainkan hanya pada riwayat mu’alaq sebagaimana diterangkan oleh al-hafizh dalam muqadimah fath al-bari hal. 458.

Demikian pula imam muslim, menurut ibnu hajar, “imam muslim hanya menggunakan-nya sebagai mutabiat (penguat) dan tidak menggunakannya sebagai hujah.”[25]

Imam al-bukhari menyebutkan dalam kitabnya al-dhu’afa dan berkata, “dia hasanul hadis.”[26]

Al-dzahabi berkata : ia shaduq. Beliau pun menjelaskan, bahwa Al-hakim dan yang lainnya menilainya sayiul hifzhi (buruk hafalan) dan imam muslim meriwayatkan hadisnya sebagai syawahid (penguat).[27]

Berdasarkan keterangan tersebut, Muhammad bin ajlan adalah rawi yang cacat dari aspek dhabtnya yang menempati martabat hasan. Meskipun dipandang tsiqat oleh sebagian kritikus.

Namun apabila kita analisis lebih seksama, Muhammad bin ajlan juga ternyata termasuk perawi yang mudallis.[28]

Al-hafizh ibnu hajar dalam kitabnya thabaqotul mudallisin telah menggolong-kannya kepada kelompok rawi mudallis martabat ketiga. Mereka para mudallis tidak dijadikan hujjah oleh para ulama hadis kecuali apabila ada penjelasan bahwa mereka benar-benar menerima hadis dari gurunya.

mudallis adalah istilah bagi rawi yang melakukan tadlis (penipuan/ penyamaran) dalam periwayatan hadis. Hadisnya disebut mudallas. Hadis Mudallas adalah hadis dhaif yang diriwayatkan oleh rawi mudallis dengan menggunakan kata ‘an (dari) agar disangka mendengar padahal tidak. Perawi yang dikenal sebagai rawi mudallis sangat banyak dan beragam, di antara mereka ada yang dhaif, dan adapula yang tsiqat.

Muhammad bin ajlan pada hadis ini menggunakan lafazh ‘an (meriwayatkan dengan lafadz tadlisnya). Degan demikian, riwayatnya tidak dapat diterima.

Lebih dari itu, apabila kita perhatikan periwayatan Muhammad bin ajlan yang menggunakan shighah tahdis, ternyata tidak terdapat tambahan “wa la yuharrikuha” seperti riwayat berikut :[29]

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يحيى بن سعيد عن ابن عجلان قال حدثني عامر بن عبد الله بن الزبير عن أبيه قال : كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا جلس في التشهد وضع يده اليمنى على فخذه اليمنى ويده اليسرى على فخذه اليسرى وأشار بالسبابة ولم يجاوز بصره إشارته

Selain bertentangan dengan periwayatan-nya sendiri, ia pun bertentangan dengan riwayat-riwayat lain, di antaranya dengan periwayatan utsman bin hakim dari amir bin abdillah bin az-zubair berikut ini :[30]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْمَرِ بْنِ رِبْعِىٍّ الْقَيْسِىُّ حَدَّثَنَا أَبُو هِشَامٍ الْمَخْزُومِىُّ عَنْ عَبْدِ الْوَاحِدِ – وَهُوَ ابْنُ زِيَادٍ – حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنِى عَامِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَعَدَ فِى الصَّلاَةِ جَعَلَ قَدَمَهُ الْيُسْرَى بَيْنَ فَخِذِهِ وَسَاقِهِ وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ.

  1. Hadis yang menjelaskan adanya menggerakkan telunjuk adalah mutsbit (menetapkan ada). Dan hadis yang menjelaskan tidak adanya menggerak-gerakkan telunjuk adalah nafi (meniadakan). Dalam sebuah qaidah para ulama menetapkan al-mutsbit muqoddamun ala nafi (yang menetapkan ada didahulukan daripada yang meniadakan). Karena menunjukkan yang menetapkan ada itu lebih berilmu (tahu) daripada yang meniadakan. Wallohu a’lam bish-shawab.

 

  1. KESIMPULAN
  2. Hadis yang menerangkan bahwa rasululloh saw menggerak-gerakkan telunjuknya dalam tasyahud adalah shahih (kuat) dan sharih (jelas).
  3. Hadis yang menerangkan “tidak menggerak-gerakkan telunjuk dalam tasyahud” adalah dhaif. Karena pada sanadnya terdapat rawi yang bernama hajaj bin muhammad (mukhtalith dan mukhalafah) dan muhammad bin ‘ajlan (mudallis dan mukhalafah).
  4. Hadis yang mutlak (riwayat muslim) tidak berlaku karena terdapat yang shahih yang menjadi taqyid (pembatas), yaitu hadis wail bin hujr yang menerangkan bahwa telunjuk itu digerak-gerakkan.
  5. Seandainya kedua hadis tersebut shahih, maka Hadis yang menjelaskan adanya menggerakkan telunjuk (mutsbit) harus didahulukan daripada hadis yang menjelaskan tidak adanya menggerak-gerakkan telunjuk (nafi’) karena menunjukkan yang menetapkan ada itu lebih berilmu (tahu) daripada yang meniadakan.    Wallahu a’lam bi al-shawwab !

 

 

 

 

[1] KHE. Abdurrahman. Istifta tanya jawab masalah agama, bandung : CV. Husaba, cet. I, 1991.

[2] A. Zakaria. Al-Hidayah (Terjemah), Garut : Ibn Azka Press, Cet.I, 2004.

[3] Dewan Hisbah PP. Persis. Risalah Shalat, Editor : A. Zakaria, Bandung : Risalah Press, Cet. I, 2005.

[4] shahih muslim 2/90 no. 1336.

[5] Diagram Sanadnya Terlampir.

[6] Musnad ahmad bin hanbal 4/318 no. 18890. Untuk lebih lengkap dapat dilihat pada gambar sanad.

[7] khulasoh al-ahkam 1/428.

[8] sunan an-nasai 2/126 & 3/37.

[9] sunan ad-darimi 1/362.

[10] shahih ibnu hiban 5/170.

[11] shahih ibnu khuzaimah 1/354.

[12] hadyur rosul hal. 71.

[13] shifat shalat nabi hal. 140.

[14] Diagram Sanadnya Terlampir

[15] sunan abi dawud 1/374 no. 991.

[16] majalah al-muslimun no. 132.

[17] sunan an-nasai 3/37.

[18] mizan al-i’tidal 2/356-357.

[19] tahdzib 5/55, mizan 2/356.

[20] lihat al-hidayah 2/62.

[21] al-kawakib al-niyarat 1/456.

[22] taqrib 1/189.

[23] lihat. tahdzib 2/180.

[24] Shahih muslim 2/90 no. 1336.

[25] tahdzib al-tahdzib 9/341-342 dan mizan al-I’tidal 3/644-647.

[26] al-mughni 2/613.

[27] man tukullima fihi wahuwa muwatsaq 1/165.

[28] lihat. thabaqtul mudallisin hlm. 44, asmaul mudallisin hlm. 88, dan at-tabyin li asma al-mudallisin hlm. 52.

[29] Musnad ahmad bin hanbal 4/3 no. 16145.

[30] Shahih muslim 2/90 no. 1335.