//MENYESAL KARENA MENYIA-NYIAKAN UMUR

MENYESAL KARENA MENYIA-NYIAKAN UMUR

MENYESAL KARENA MENYIA-NYIAKAN UMUR

(Tafsir Qs. Al-‘Ashr [103] : 1-3)

Al-Hasan al-Bishri berkata,

“يَا ابْنَ آدَمَ ، أَنَا خَلْقٌ جَدِيْدٌ ، وَعَلَى عَمَلِكَ شَهِيْدٌ ، فَتَزَوَّدْ مِنِّى بِعَمَلٍ صَالِحٍ فَإِنِّى لَا أَعُوْدُ إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ”
“jika umur itu dapat berbicara, maka ia akan berkata, “Wahai anak adam, aku adalah makhluk yang baru, menyaksikan amal kamu, berusahalah mencari bekal untuk mengisi aku dengan amal shaleh, sesungguhnya aku tidak akan pernah kembali sampai hari kiamat.”

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.

Al-‘Ashr adalah waktu yang terjadi padanya kehidupan bani adam, baik berupa kebaikan atau kejelekan ( Tafsir Ibnu Katsir 8/480). Allah Ta’ala bersumpah dengan waktu karena padanya terdapat berbagai pesan dan pelajaran yang menunjukkan kepada kekuasaan-Nya, ilmu-Nya, dan kebijaksanaan-Nya (Aisaru at-Tafasir 1/6054). Dan tidak boleh bagi seorang hamba bersumpah kecuali dengan nama Allah, karena bersumpah dengan selain Allah termasuk syirik (dosa besar).( At-Tafsir al-Muyasar 11/55).

Ath-Thibi berkata, “Waktu (umur) itu bagaikan modal pada seorang pedagang. Ia mesti berdagang sesuatu yang sekiranya dapat memberikan keuntungan (laba) kepadanya. Bilamana modalnya banyak, maka keuntungannya pun melimpah … (Tuhfat al-Ahwadzi 6/512)

Dalam memahami pengertian al-Haq, para mufassir berbeda-beda , antara lain : Al-haq itu adalah islam dan yang tercakup di dalamnya ; Al-haq itu adalah al-quran ; Al-haq itu adalah iman dan tauhid (Tafsir al-Baghawi 8/522). Kecuali orang-orang yang beriman kepada Allah dan melakukan amal shaleh, dan saling menasihati dalam berpegang teguh kepada kebenaran, dan beramal dengan taat kepada Allah, dan sabar dalam melakukan itu semua. (At-tafsir al-Muyasar 11/56)
وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ-

Dan barang siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian (nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?

Apakah mereka tidak berpikir dengan akalnya tentang awal penciptaan mereka, kemudian masa muda mereka, sampai ke masa tua mereka, untuk mengetahui bahwasanya mereka diciptakan untuk negeri yang lain, tidak kekal padanya, tidak bisa pindah darinya, dan tidak dapat menghindar darinya, yaitu negeri akhirat. (Tafir Ibnu Katsir 6/588)

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ –

Dari Abu Barzah al-Aslami ra berkata, Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan melangkah kaki seseorang pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang : umurnya habis dipakai apa; tentang ilmunya sejauh mana pengamalannya; tentang hartanya darimana didapatnya dan ke mana dibelanjakannya; dan tentang jasadnya dipakai apa sampai rusak. (HR. At-Tirmidzi)

Menurut at-Tirmidzi, “Hadis ini hasan shahih.” ‘Umurihi dengan diharokati dhomah kedua hurufnya (ain dan mim) itu bermakna kehidupan (Tuhfat al-Ahwadzi 6/512). Menurut al-Raghib al-Asfahani, “Umur adalah suatu nama bagi suatu masa (waktu) makmurnya badan dengan kehidupan. Apabila dikatakan, umurnya panjang, maka maknanya adalah makmurnya tubuh oleh ruhnya (lama).” (Mufradat Alfazh Al-Quran, hlm. 359)

قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ

Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” QS. Al-Mu’mien [40] : 11.

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ (10) وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (11)

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. QS. Al-Munafiqun [63] : 10-11.

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ –

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. QS. Fathir [35] : 37.

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ ، أَنَّ رَجُلا قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم :”مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ” ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ ؟ قَالَ : “مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ ”

Dari Abu Bakrah, bahwasanya seorang laki-laki bertanya : Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling baik ? Beliau menjawab : Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Mereka bertanya : Manusia yang manakah yang paling jelek ? Beliau menjawab : Orang yang paling panjang umurnya dan jelek amalnya. (HR. Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi 4/144 no. 2330. Menurut at-Tirmidzi, “Hadis ini hasan shahih.”)

Qatadah berkata, “Ketahuilah ! Sesungguhnya panjang umur itu adalah hujjah (bukti yang harus dipertanggungjawabkan), maka kami berlindung kepada Allah agar kami tidak disiksa dengan sebab panjang umur itu.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/559)

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاء رَضِيَ اللَّه عَنْهُ قَالَ ذَكَرْنَا عِنْد رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزِّيَادَة فِي الْعُمْر فَقَالَ ” إِنَّ اللَّه لَا يُؤَخِّر نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَإِنَّمَا الزِّيَادَة فِي الْعُمْر أَنْ يَرْزُق اللَّه الْعَبْدَ ذُرِّيَّة صَالِحَة يَدْعُونَ لَهُ فَيَلْحَقهُ دُعَاؤُهُمْ فِي قَبْره ”

Dari Abu Darda, ia berkata, kami menyebutkan di samping Rasulullah saw tentang ziyadah (tambahan) dalam umur, maka beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengakhirkan seseorang apabila telah sampai kepada ajalnya, dan sesungguhnya ziyadah dalam umur adalah Allah memberi rizki kepada seorang hamba keturunan yang shaleh, yang mendoakan kepadanya, lalu doanya mengikutinya (menjadi tambahan) di alam quburnya. (HR. Ibnu Abi Hatim, Tafsir ibnu katsir 4/373.)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لِرَجُلٍ وَ هُوَ يَعِظُهُ “اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ ، وَفَرَاغَك قَبْلَ شَغْلِكَ ، وَغِنَاك قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَشَبَابَك قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِك”.

Dari Ibnu Abas, ia berkata : Rasulullah saw bersabda kepada seseorang dan beliau menasihatinya : Gunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara : 1] waktu hidupmu sebelum datang kematianmu, 2] waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu, 3] waktu kayamu sebelum datang waktu faqirmu, 4] masa mudamu sebelum datang masa tuamu, dan 5] waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. (HR. al-Hakim, Al-Mustadrak ‘Ala al-Shahihain 4/306 no. 7846. Menurut al-Hakim, “Hadis ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim namun keduanya tidak meriwayatkannya.”)

Semoga kita semua tidak termasuk orang-orang yang menyesal karena menyia-nyiakan waktu. Oleh karena itu, marilah kita pergunakan jatah usia yang masih tersisa dengan memaksimalkan amal shalih. Wallahu a’lam bi al-shawwab !

By Ahmad Wandi, hayaatunaa.com, Ketua PC Pemuda Persis Lembang
Lembang, 08 Desember 2016