//Pendidikan Alternatif Sang Buah Hati

Pendidikan Alternatif Sang Buah Hati

PENDIDIKAN ALTERNATIF

Oleh : Ahmad Wandi

LEMBANG (hayaatunaa.com) – Anak adalah harapan bagi orang tuanya. Tidak ada seorangpun yang memungkirinya. Oleh karena itu, sudah semestinya orang tua memberikan perhatian khusus dalam pendidikan anak sehingga kelak mereka menjadi anak yang berguna dan pelopor masa depan.

Bagi orangtua muslim sudah bisa dipastikan memiliki harapan dan keinginan supaya anak-anaknya menjadi anak yang shalih, menjadi kebanggaan, baik lahir maupun batin, di dunia dan akhirat. Karena dilandasi jaminan Nabi saw yang menyatakan bahwa di antara tiga amal kebaikan yang tidak akan pernah terputus dan pahalanya akan terus mengalir sampai akhirat nanti, adalah anak shalih yang selalu mendoakannya (HR. Muslim). Nabi saw juga menyatakan bahwa di akhirat nanti akan ada banyak orang tua yang mendapat tempat sangat istimewa di surga, berkat do’a dan istighfar anak-anaknya yang shalih (HR. Ahmad).

Di sisi lain kita pun menyaksikan, bahwa banyak orang tua yang hidupnya begitu tumaninah dan bahagia, karena anak-anaknya shalih. Demikian pula sebaliknya,  kita sering menyaksikan banyak orangtua yang sakit berdiri, tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur disebabkan memikirkan prilaku anak-anaknya yang jauh dari keshalihan.  Apalagi jika kita memperhatikan bunyi QS. Al-Ma’arij : 10-14, di sana diisyaratkan bahwa anak-anak yang durhaka nanti di akhirat bukan akan menjadi kebanggaan orangtua atau mengangkat harkat dan martabat mereka, tapi malah ia akan memohon kepada Allah swt agar masuk nerakanya digantikan oleh kedua orangtuanya.(!)

Anak shalih secara sederhana bisa didefinisikan sebagai anak yang beramal shalih.  Agar anak kita mau dan rajin beramal shalih, maka harus ditanamkan “mahabbah” atau kecintaan kepada amal shalih. Kecintaan akan melahirkan pengurbanan. Anak-anak kita akan rela mengurbankan waktu, tenaga, harta dan bahkan nyawa sekalipun untuk beramal shalih, jika mahabbah terhadap amal shalihnya tinggi dan kuat.

Upaya menanamkan mahabbah itu dilakukan dengan cara mengenalkannya sedini mungkin dan sebaik mungkin terhadap amal shalih itu.  Sesuai dengan ungkapan “Tak kenal maka tak sayang”. Yaitu melalui kegiatan pendidikan. Dalam Islam dikenal prinsip pendidikan sepanjang hayat (long life education) Minal Mahdi ilallahdi. Tapi yang terbaik dilakukan tentu sejak dini, sejak masih anak-anak atau masih muda. Pepatah menyebutkan : Pendidikan sejak kecil ibarat memahat di batu, pendidikan sesudah tua ibarat menulis di air.

Nabi saw. menjanjikan bahwa jika Allah bermaksud memberi kebaikan kepada seseorang, maka Allah akan menjadikan orang itu memahami agamanya dengan baik (HR. Muslim). Pemahaman terhadap agama tentu tidak akan datang dengan sendirinya, melainkan harus diusahakan melalui pendidikan yang baik.

Target pendidikan di Indonesia dijabarkan dalam Trichotomi Pendidikan, yakni 3H. : Head (kepala atau otak yang cerdas), Heart (Hati yang beriman dan bertaqwa yang akan melahirkan akhlakul karimah), dan Hand (tangan yang terampil). Target : Cerdas, taqwa dan terampil, adalah target yang sangat lideal, tapi target ideal tersebut sayangnya tidak dijabarkan dalam struktur kurikulum pendidikan nasional yang ideal pula. Sebagai bukti misalnya mata pelajaran agama yang dialamatkan kepada Heart (hati)  hanya dialokasikan dengan jumlah jam belajar yang sangat minim. Berbeda kontras dengan alokasi jam belajar bagi mata pelajaran yang dialamatkan ke otak.  Padahal spektrum atau cakupan ajaran agama itu sangat luas. Bagaimana mungkin anak-anak bisa mengenal ajaran agamanya dengan baik, kalau pendidikan agama masih dinomorduakan atau dianggap sebelah mata.

Sementara itu di dalam keluarga banyak orangtua yang merasa cukup memberikan pelajaran agama kepada anak-anaknya dengan apa yang mereka dapatkan di sekolah saja. Tidak ada upaya lainnya.  Oleh sebab itu kita tidak heran jika  banyak out put lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia yang baru bisa melahirkan lulusan yang cerdas otaknya, sehat fisiknya, terampil tangannya, tapi menyedihkan akhlaknya!

Setelah selesai mengikuti Ujian Nasional, banyak orangtua yang bimbang dalam menentukan pilihan, lembaga pendidikan mana yang akan dipilih untuk menjadi tempat bagi anak-anaknya melanjutkan pendidikannya. Agar kelak anak itu menjadi anak yang shalih. Nabi saw dalam haditsnya riwayat Abu Nuaim sudah mengingatkan agar kita tidak duduk belajar pada semua orang alim, kecuali orang alim yang menuntun kita dari lima perkara kepada lima perkara : dari keragu-raguan kepada keyakinan, dari riya kepada ikhlas, dari sombong kepada rendah hati, dari serakah kepada zuhud, dan dari permusuhan kepada kejujuran.

Di samping itu, mayoritas orang tua pun menganggap, bahwa hal terpenting saat ini adalah memikirkan nasib masa depan anak-anak. Dalam artian anak-anak harus jadi dokter, insinyur, tentara, dan berbagai profesi duniawi. Hal ini tidak salah sama sekali. Hanya saja, seandainya orang tua tahu, dengan dibekali ilmu agama yang kuat sejak dini, saat dewasa nanti, pasti anak tersebut tidak hanya menjadi seorang dokter, melainkan dokter yang penyayang; bukan hanya seorang tentara, tetapi tentara yang berakhlak mulia; bukan hanya seorang insinyur, tetapi seorang insinyur yang amanah.

Dengan demikian, lembaga pendidikan islam modern, sekolah islam terpadu, Pesantren yang konsisten berorientasi “tafaquh fiddin” dengan tidak mengesampingkan IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi), dengan kurikulum yang terpadu antara pelajaran “umum” dan “agama”, menjadi salah satu pendidikan alternatif untuk memenuhi harapan orangtua dan masyarakat. Karena bukan hanya mencerdaskan bangsa, tapi juga menshalehkan generasi bangsa.

Hal penting lainnya yang tak bisa dianggap sepele adalah keteladanan dan lingkungan. Keteladanan yang dimaksud adalah contoh yang baik dari para orangtua, guru, tokoh masyarakat dan pejabat public. Demikian pula lingkungan, gempuran budaya jahiliyah yang semakin massif. Tidak perlu dicari dengan susah, tetapi langsung datang ke rumah kita melalui tayangan televise, DVD, internet, telepon seluler, dan media cetak. Itu semua tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sehebat apapun program pendidikan di kita, akan terus “mandul” tanpa adanya keteladanan dan pengaruh lingkungan atau pergaulan yang baik. Wallohu a’lam bish-shawab !

 

 

 

TAGS: