//Problematika Para Bujangan

Problematika Para Bujangan

Lembang(hayaatunaa.com)-Dari Abdullah r.a ia berkata : “Rasulullah bersabda : hai para pemuda ! siapa diantara kamu yang sanggup memikul tanggung jawab perkawinan, hendaklah dia kawin, karena perkawinan itu dapat menahan pandangan dan memelihara kesopanan (kesucian), tetapi siapa yang tidak sanggup, maka hendaklah dia bershaum karena shaum itu menahan nafsunya (syahwat).”(HR. Al-Bukhary dan Muslim).

Sesungguhnya para bujangan mempunyai problem tersendiri yang tidak kalah banyaknya. Kebanyakan mereka tertutup, hanya dengan sesamanya saja mereka sering mengungkapkan perasaan kepada lawan jenis (curhat).

Antara rasa malu dan takut membuat dia enggan menceritakan kesulitannya kepada orang yang dianggap bukan kelasnya, mungkin dia khawatir akan ditertawakan atau takut, dengan hal tersebut, bukan jalan kemudahan yang didapat justru lebih mempersulit. Padahal berkonsultasi dengan orang yang dianggap olehnya dapat dipercaya sangat penting. Mereka ini sebetulnya menghendaki segala sesuatu diselesaikan dengan standar yang idealis. Idealisme perlu tetapi harus realistis, semangat perlu tetapi harus dengan perhitungan. Disinilah para pemuda membutuhkan pemandu yang berpengalaman.

Berapa banyak dan apa saja problem para bujangan itu? kita sebut saja beberapa hal yang pokok.

1. Problem Maisyah (mata pencaharian)

Orang bilang “tidak ada orang yang menjadi kaya karena membujang”, mungkin yang dimaksud biasanya para bujangan itu kurang keras kemauannya membangun usaha dan kalaupun punya uang biasanya habis begitu saja.

Semangatnya yang tinggi sering membuatnya kurang pandai melengkapi diri untuk mencapai kesempurnaan amal, dan cenderung menjadi beban orang lain. Padahal seharusnya sudah saatnya dia bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Kepada para pemandu atau orang tua, sebaiknya tidak begitu saja membiarkan semua keinginannya, tetapi coba salurkan semangatnya menuju kesempurnaan amal dan kematangan pribadinya.

2. Problem Pergaulan

Pergaulan laki-laki dan perempuan dewasa ini tanpa hijab (batasan), justru terkadang para  wanita lebih agresif dari pada laki-laki. Kesadaran para pemuda tentang tata nilai pergaulan yang sudah mulai tumbuh, terkadang terjebak kepada keadaan yang hampir tidak mungkin terhindari.

Persoalannya kita sering terpojok, bukan tidak ingin menghindari tetapi keadaan yang memaksa. Bila anda sedang dalam kendaraan umum yang penuh sampai sesak, yang tentu laki-laki dan perempuan berbaur, bagaimana cara anda memalingkan pandangan? rasanya suatu hal yang musykil bukan?. Padahal perkembangan berikutnya datang menggelitik hati tanpa diketahui cara masuknya.

Dari Jabir bin Abdillah r.a berkata: “Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya perempuan itu datang dalam bentuk syaitan (merayu) dan pergi (membelakang) dalam bentuk syaitan (merayu). Sebab itu, apabila seseorang tertarik kepada perempuan lain, hendaklah dia pulang kepada istrinya, karena dengan itu hilanglah nafsunya (kepada perempuan yang dilihatnya).”(HR. Muslim)

Untuk yang sudah berumah tangga Rasulullah memberikan jalan keluar, bagaimana dengan para bujangan ? di sinilah sulitnya.

Menentukan masa siap berumah tangga

Berapa usia anda? apakah anda termasuk bujang tua? apakah halangannya bila anda segera menentukan untuk segera menikah. Sejarah mencatat Rasulullah menikah dengan Siti Khadijah pada usia 25 tahun.

Tentu saja bukan hanya usia yang menjadikan kita siap menikah. Memang kita banyak menyaksikan orang merasa minder dari soal harta. Tetapi kita baca pula dalam sejarah, dalam keadaan bagaimana para sahabat menyatakan diri dan melangsungkan pernikahan.

Memang kewajiban seorang suami memberikan nafkah kepada keluarganya. Tetapi kalau anda rajin bermaisyah insya Allah bila anda miskin Allah akan memberi kekayaan.

3. Problem memilih pendamping

Dalam hadis Rasul dijelaskan tentang kiat memilih istri, hendaknya mengutamakan wanita yang memilki dien dan berakhla baik. Dengan kata lain “carilah istri yang mau diajak bersenang-senang”. Artinya punya uang senang, tidak punya uangpun senang, sampai diajak berjihad mengorbankan harta dan jiwa pun senang juga. Wanita yang sudah sampai tahap demikian, maka tidak diragukan lagi berarti dirinya telah siap membantu tugas-tugas suami, betapapun berat dan ringannya tugas itu bukanlah suatu halangan lagi baginya.

Nah, dengan kiat ini semoga anda akan mendapat pendamping (pasangan) yang menyelamatkan tangan anda dari berbuat maksiat. Amien.

by: Ahmad Wandi

Editor: Zaenal Mutaqin

http://hayaatunaa.com/?p=2621&preview=true