//SEPERTI RASULKAH SHALATKU ? (Bag 1)

SEPERTI RASULKAH SHALATKU ? (Bag 1)

LEMBANG (hayaatunaa.com) –

Seperti Rasulkah Shalatku ?

(Bagian 1)

 

SHALAT DAN KEUTAMAANNYA

  1. Pengertian Shalat

Secara bahasa, shalat artinya doa. Dikatakan demikian karena memang seluruh kandungan shalat adalah doa. Doa ada dua macam yaitu doa tsana’ dan mas-alah. Doa tsana adalah doa yang mengandung pujian. Misalnya, kita mengatakan Allahu akbar (Allah Maha Besar), subhana rabbiyal a’laa (Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi), dan sebagainya.

Jenis doa yang kedua adalah doa mas-alah, artinya doa yang berisi permintaan. Misalnya, ihdinash shiraathal mustaqiim (Ya Allah, tunjukkan kami jalan yang lurus), rabbighfirlii warhamni … (Ya Allah ampuni dan rahmati aku …), dan sebagainya.

Kalau kita cermati, seluruh bacaan dalam shalat pasti berisi doa, baik pujian ataupun permintaan. Karena itu, secara bahasa, shalat artinya doa karena memang gerakan shalat semuanya mengandung doa.

Adapun menurut istilah syara’, shalat adalah ibadah yang terdiri dari ucapan-ucapan dan amalan-amalan yang khusus, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.[1]

Yang dimaksud dengan ucapan-ucapan dan amalan-amalan yang khusus adalah tata cara shalat yang diperintahkan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw.  dalam shalatnya. Dan hal tersebut hanya dapat diketahui dengan merujuk kepada dalil-dalil shahih yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-sunnah.

  1. Kedudukan Shalat

Shalat diperintahkan ketika Rasulullah Saw.  melakukan isra mi’raj. Artinya, ibadah shalat diperintahkan langsung oleh Allah swt. Kenyataan ini menunjukkan, bahwa shalat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam islam. Setiap umat islam seharusnya memiliki perhatian besar dan kesadaran yang sangat tinggi untuk mendirikannya.

Rasulullah Saw. banyak menyampaikan keterangan yang menunjukkan pentingnya arti shalat dalam islam, antara lain :

  1. Shalat sebagai rukun islam

Shalat adalah rukun islam yang kedua, dan ia merupakan rukun islam yang penting setelah dua kalimat syahadat. Rasulullah Saw. bersabda,

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima perkara : bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya; mendirikan shalat; mengeluarkan zakat; haji; dan shaum ramadhan.” (HR. Al-Bukhari dari Ibnu Umar)[2]

  1. Shalat adalah tiang agama

… رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ

Rasulullah Saw.  bersabda, “… Pokok segala urusan adalah islam, barangsiapa yang masuk islam, dia akan selamat, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad.” (HR. Tirmidzi dari Muadz bin Jabal)[3]

  1. Shalat sebagai benteng terakhir

لَتُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya akan terlepas ikatan islam itu satu persatu, setiap kali ikatan lepas, manusia akan bergantung pada ikatan berikutnya, ikatan yang paling awal terlepas adalah hukum, dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad dari Abu Umamah al-Bahili)[4]

  1. Shalat sebagai identitas keislaman

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ.

Rasulullah Saw.  bersabda, Ciri yang membedakan seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah al-Anshari)[5]

Jadi, kalau ada orang yang mengaku beragama islam tetapi tidak shalat, wajar kalau diragukan keislamannya.

  1. Shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ.

Rasulullah Saw.  bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya beres, dia akan bahagia dan selamat, dan jika shalatnya rusak, dia akan celaka dan rugi.” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah)[6]

Dalam riwayat lain, “Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya beres, akan beres juga seluruh amalnya, dan apabila shalatnya rusak, akan rusak pula seluruh amalnya.” (HR. al-Maqdisi)[7]

  1. Shalat sebagai sarana untuk merawat fitrah

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ (45) الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (46)

Allah berfirman, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]:45-46)

  1. Shalat sebagai obat penyakit hati

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21) إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22) الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23)

Allah swt berfirman, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij [70]:19-23)

  1. Shalat sebagai sarana diampuni dosa

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا

Rasulullah Saw.  bersabda : “Tahukah kalian, seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian, setiap hari dia mandi lima kali, apakah kalian mengatakan badannya kotor ?” Mereka menjawab, “Tidaklah tersisa kotorannya.” Beliau bersabda, “Yang demikian itu seperti shalat lima waktu. Allah akan menghapus dosanya.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah)[8]

  1. Shalat sebagai pencegah maksiat

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ(45)

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (AlQur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut [29] : 45)

Abu Abdillah al-Hulaimi berkata, “Shalat dapat mencegah kemungkaran lantaran shalat itu sendiri adalah taqwa. Karena orang yang dibuat senang oleh Allah dengan menunaikan shalat dan diberi-Nya petunjuk, dia telah menaklukkan anggota badannya untuk menjalankan shalat dan berhenti dari kemungkaran.”[9]

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Barangsiapa shalatnya tidak memerintah yang ma’ruf dan menghentikan kemungkaran, tidaklah bertambah atasnya melainkan tambah jauh dari Allah.”(HR. al-Thabrani dan al-Thabari)[10]

Samurah bin Athiyah berkata, “Ada orang yang berkata kepada Ibnu Mas’ud, “Si pulan itu sering shalat !” Ibnu Mas’ud menjawab, “Shalat dia tidaklah bermanfaat baginya melainkan bila dia mengamalkan apa yang ada di dalamnya.”(HR. al-Thabari)[11]

  1. Shalat adalah cahaya orang beriman

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ ذَكَرَ الصَّلَاةَ يَوْمًا فَقَالَ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلَا بُرْهَانٌ وَلَا نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ-احمد-

Dari Abdullah bin ‘Amr, bahwa suatu hari Nabi Saw.  berbicara tentang shalat dengan sabdanya : “Siapa orang yang senantiasa menjaga shalat, maka shalat itu akan menjadi cahaya baginya, (bukti) kebenaran dan keselamatan baginya pada hari kiamat, dan siapa orang yang tidak pernah memperhatikan shalat maka ia tidak akan pernah memiliki cahaya, bukti dan keselamatan, dan pada hari kiamat ia akan bersama-sama dengan Qarun, Fir’aun, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad)[12]

  1. Shalat adalah sarana komunikasi antara seorang hamba dengan tuhannya.

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya apabila kalian shalat, maka seseungguhnya ia sedang bermunajat kepada Tuhan-Nya.” (HR. Al-Bukhari dari Anas bin Malik)[13]

  1. Shalat adalah sumber kegembiraan dan penyejuk hati orang beriman.

وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

Rasulullah Saw.  bersabda, “Dan dijadikan sejuk hatiku di dalam shalat.” (HR. Ahmad dari Anas bin Malik)[14]

  1. Shalat adalah salah satu penyebab masuk surga

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2)

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. (QS. Al-Mukminun [23] : 1-2)

 

Insya Allah bersambung … “Shalat seperti Rasul, Wajib !”

Wallah a’lam bi al-shawwab !

By, Ahmad Wandi, hayaatunaa.com

 

[1] Ta’sis al-Ahkam bi Syarhi ‘Umdat al-Ahkam 1/76.

[2]  SHAHIH. Shahih al-Bukhari 1/18 no. 8.

[3] SHAHIH. Sunan at-Tirmidzi 4/308 no. 2616. Imam At-Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan shahih.” Syaikh Al-Albani berkata, “Shahih.” (al-Irwa 2/138)

[4] SHAHIH. Musnad Ahmad 36/485 no. 22160. Syaikh Syu’aib  al-Arna’uth berkata, “Sanadnya jayyid (hasan).” (Tahqiq 36/485). Dishahihkan oleh ibnu hiban dalam kitab shahihnya dan syaikh al-albani dalam ta’liqnya. (al-ta’liqat al-hassan 9/390)

[5]  SHAHIH. Shahih Muslim 1/61 no. 256.

[6] SHAHIH LIGHAIRIH. Sunan at-Tirmidzi 1/535 no. 413. Menurut Syaikh al-Albani, “Shahih.” (Shahih wa Dhaif Sunan at-Tirmidzi 1/413)

[7] HASAN LIGHAIRIH. Al-Ahadits al-Mukhtarah 3/114 no. 2578. Menurut  Abdul Malik bin Abdullah Dahis, “Sanadnya hasan dengan syawahid-nya.” (Tahqiq 3/114).

[8] SHAHIH. Shahih al-Bukhari 1/256 no. 528.

[9] Syu’ab al-Iman 3/278.

[10] Majma’ al-Zawaid 2/440, Jami’ al-Bayan 20/155.

[11] Jami’ al-Bayan 21/98.

[12] HASAN. Musnad Ahmad 11/142 no. 6576. Syaikh Syu’aib  al-Arna’uth berkata, “Sanadnya hasan.” (Tahqiq 11/142)

[13] SHAHIH. Shahih al-Bukhari 1/203 no. 405.

[14] HASAN. Musnad Ahmad 19/307 no. 12294. Syaikh Syu’aib  al-Arna’uth berkata, “Sanadnya hasan.” (Tahqiq 19/307)

TAGS: