//Surat An-Najm Ayat 39 Mansukh ?

Surat An-Najm Ayat 39 Mansukh ?

Surat An-Najm ayat 39 mansukh ?

Oleh : Muslim Nurdin

LEMBANG (Hayaatunaa.com)- (sebuah tanggapan dalam dialog ushul fiqih tentang nasikh mansukh)

Al hafidz Al Imam Jalaluddin Assuyuthi, selain beliau pakar hadits, beliau juga pakar tafsir al quran, di kitab Syarhusshudur-nya di permulaan bab qiro’atul qur’an lilmayyit au alal qubri. Beliau sudah menjawab pertanyaan anda,

orang yang tidak percaya akan sampainya pahala bacaan alquran kepada Mayyit, berdasar dengan ayat

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (النجم ٣٩)

dan bahwasanya manusia itu tiada memperoleh selain apa yang telah di usahakanya. (QS. AN-Najm: 39)

Alhafidz Jalaluddin Assuyuthi kemudian menuliskan

وأجاب الأولون عن الأية بأوجه

orang-orang terdahulu (salaf) menjawab tentang ayat itu dengan berbagai macam jawaban.

أَحَدُهَا أَنَّهَا مَنْسُوْخَةً بِقَوْلِهِ تَعَالَى ” وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ ” الطور ٢١ الاية أدخل الأبناء الجنة بصلاح الاباء.

Jawaban yang pertama : bahwasanya ayat وأن ليس للإنسان إلا ما سعى (النجم ٣٩)  itu di nasakh dengan ayat

” والذين أمنوا واتبعتهم ذريتهم ” الطور ٢١

dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan. (QS At-Thur: 21)

Ayat itu menerangkan bahwa anak-anak itu masuk surga karena amal baik bapak-bapaknya.

Jadi masuknya anak-anak ke surga, bukan lantaran usahanya sendiri, tetapi berkat amal baik bapak-bapaknya.

الثانى : أنهاخاصة بقوم إبراهيم ، وقوم موسى صلوات الله على نبينا وعليهما ، فأما هذه الأمة ألمرحومة ،فلها ما سعت وما سعى لها. قاله عكرمة

yang kedua : bahwasanya ayat ”

وأن ليس للإنسان إلا ما سعى (النجم ٣٩)

ayat ini khusus bagi koumnya Nabi Ibrahim dan kaum Nabi Musa, adapun umat ini (umat Nabi Muhammad r ) adalah umat yang di kasihi, maka mereka mendapatkan ganjaran dari apa-apa yang diusahakannya dan dari apa-apa yang di usahakan (oleh orang lain) untuk mereka. Ini adalah pendapat Ikrimah.

الثالث : أن المراد بالأنسان هنا الكافر ، فأما المؤمن فله ماسعت وماسعى له قاله الربيع بن أنس

pendapat yang ke tiga : bahwa yang di kehendaki pda lafadz “al insan” di ayat ini adalah orang kafir, adapun orang mu’min, maka baginya adalah apa-apa yang telah dia usahakan, dan apa-apa yang usahakan (orang lain) untuknya. Ini pendapat Ar-Rabi’ bin Anas.

الرابع : ليس للانسان إلا ماسعى من طريق العدل فأما من باب الفضل فجائز أن يزيده الله تعالى ماشاء قاله الحسين بن الفضل

yang ke empat : tidak ada bagi manusia itu, kecuali apa yang dia usahakan, ini adalah dari jalan keadilan (impas-impasan), adapun dari bab keanugrahan, maka wenang Bagi Allah menambahi sesuai dengan apa yang Allah Kehendaki. Telah berpendapat demikian yaitu Alhusain Bin Alfadhol.

Itu riwayat para Salaf mengenai surat annajm 39.

TANGGAPAN-TANGGAPAN:

TANGGAPAN PERTAMA:

Tidak ada nasakh dalam Al-Quran dengan alasan:

  1. Tidak ada satupun keterangan baik dari Al-Quran maupun hadis Nabi saw yang menerangkan adanya ayat-ayat Allah dalam Al-Quran yang dihapus keberlakuan hukumnya (mansukh) atau dengan kata lain tidak ada ayat yang kadaluarsa (mulghah)
  2. Adanya ayat yang mansukh bertentangan dengan Firman Allah swt dalam surat Fushilat ayat 42 :

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (QS. Fushilat:42)

Ayat ini menerangkan tidak ada ayat al-Quran yang sia-sia (bathil), dalam ayat lainnya diterangkan bahwa ayat-ayat al-Quran itu dibagi menjadi dua bagian, yaitu muhkamat (yang mengandung hukum-hukum dengan penunjukan yang jelas) dan mutasyabihat (yang tidak jelas penunjukkannya) , tidak diterangkan adanya ayat yang mansukhat. sebagaimana firman-Nya dalam surat Ali Imran ayat 7 :

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. Alu Imran : 7)

  1. Tidak adanya kesepakatan dai para ulama yang berpendapat adanya nasakh dalam al-Quran tentang ayat-ayat yang dipandang mansukh karena perbedaan pandangan terhadap jumlah ayat yang saling bertentangan,
  • Menurut penelitian An-Nahas (388 H) berjumlah 100 ayat, karena menurutnya ayat-ayat ini bertentangan dengan yang lainnya dan tidak bisa disesuaikan.
  • Menurut penelitian As-Sayuthy (911 H), sesudah beliau berusaha menyesuaikan ayat-ayat yang dipandang oleh ulama lain tidak dapat disesuaikan, sebanyak 20 ayat.
  • Menurut penelitian As-Syaukani (1250) bahwa ayat yang tak dapat disesuaikan hanya berjumlah 8 ayat. 12 ayat yang menurut As-Sayuthy tidak dapat dipersesuaikan, dapat dipersesuaikan oleh As-Syaukany.

Padahal dalam surat an-Nisa ayat 82 Allah swt berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. (QS. An-Nisa: 82)

Tidak ada ayat-ayat yang bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya, yang ada hanyalah keterbatasan ilmu manusia dalam memahami al-Quran.

  1. Istilah nasakh yang digunakan oleh para Ulama Mutaqoddimun (salaf) lebih umum dari pada yang dimaksud oleh ulama muta’akhirun (khalaf) yaitu tidak hanya menghapus hukum secara keseluruhan tetapi juga mencakup takhsis (pengkhususan terhadap yang umum), taqyid (pengikat pada yang muthlak), tabyinul mujmal (menjelaskan keterangan yang mujmal).

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu al-Qayyim, Ibnu Al-‘Arabi al-Maliki, Al-Ghazali, Abu Muslim al-Asfahani dan yang lainnya. (lihat kitab At-Taqyid wal idhah li qaulihim laa masyahata fil Istilah hal 17-19)

Surat An-Najm ayat 39 dengan At-Thur ayat 21 tidak bertentangan.

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”.

Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya Allah akan meninggikan derajat keturunan orang mukmin pada derajatnya meskipun mereka berada dibawahnya dalam amal perbuatan, hal itu agar mereka (para orang tua) senang dengan kehadiran mereka (keturunan-keturunannya)” lalu beliau membacakan ayat di atas. (lihat Tafsir Ibnu Katsir dalam menerangkan surat at-Thur ayat 21)

Ayat ini menerangkan mengenai karunia Allah yang diberikan kepada keluarga beriman dengan dipertemukannya lagi nanti di surga pada tempat yang sederajat sebagai balasan dari keimanan dan amal shaleh mereka waktu di dunia.

Pada ayat ini tidak ada indikasi adanya oper pahala/ganjaran, karena mereka mendapatkan pahala berdasarkan amalan mereka masing-masing dan Allah memberikan balasan yang lebih dengan meninggikan derajat orang-orang yang beriman . dalam ayat lain Allah menjelaskan

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. ( QS. Al-Mujadilah ayat 11)

TANGGAPAN KEDUA:
Jika ayat tersebut khusus untuk kaum Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, maka ayat yang sebelumnya pun yaitu

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

“bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”, (QS. An-Najm: 38)

Karena kedua ayat ini merupakan satu paket syari’at yang ada pada shuhuf Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, silahkan perhatikan pada ayat-ayat sebelumnya:

أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَى (36) وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى (37) أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى (38) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (39)

“Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran- lembaran Musa? (36) dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (37) (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, (38) dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, (39)

Jika kekhususan syariat ini diterima hanya untuk kaum Nabi Ibrahim dan Nabi Musa dan tidak berlaku kepada kita sebagai umat Nabi Muhammad saw, maka akan lahir suatu pengertian bahwa dosa pun bisa ditanggung atau dihadiahkan kepada orang lain sebagaimana amal kebaikan???!!! Akibatnya akan banyak orang-orang yang maksiat dan menghadiahkan (mengoper) dosanya kepada yang telah meninggal.

Oleh karena itu Para ulama ushul membuat kaidah

العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب

“‘Ibrah (pelajaran) itu dilihat dari keumuman lafadz dan bukan dari kekhususan sebab”

Juga kaidah,

شرع من قبلنا شرع لنا

“Syari’at kaum sebelum kita adalah syari’at bagi kita (selama tidak ada dalil yang menghapusnya)”

TANGGAPAN KETIGA:

Dalam ayat tersebut disebutkan dengan kalimat al-Insan (isim mufrad ma’rifah dengan alif lam) termasuk lafaz ‘am yang berarti umum mencakup seluruh manusia. Selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya maka tetap berlaku umum mencakup semua orang, baik orang mu’min maupun orang kafir.

TANGGAPAN KEEMPAT:

Allah swt berwenang menambahi ganjaran terhadap siapapun yang ia kehendaki, tetapi tidak ada keterangan yang menerangkan bahwa Allah akan mengganjar seseorang dari sebab amal shaleh orang lain yang dihadiahkan kepadanya.

Wallahu a’lam