//Takbiran Malam Hari Raya, Adakah?

Takbiran Malam Hari Raya, Adakah?

LEMBANG(hayaatunaa.com)- Mayoritas Umat Islam Indonesia menamakan malam hari raya itu dengan malam Walilat, mungkin berasal dari kata walillahil-hamdu, yang biasanya dibaca bersama-sama dalam bacaan takbir dan terus menerus diulang semalam suntuk menjelang hari raya.

Perbuatan ini ada yang berpendapat, berdasarkan Al-Quran Surat Al Baqarah ayat 185. disamping ada juga riwayat yang menyatakan dari Dawud bin Qais, ia berkata : Aku mendengar Zaid bin Aslam berkata “Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuknya” Adalah apabila telah terlihat hilal, jadi takbir itu dimulai sejak dilihatnya hilal (tanggal I syawal) sampai dengan imam keluar ke jalan atau ke mesjid, hanya saja apabila imam telah hadir, hentikanlah dan jangan bertakbir kecuali bersama-sama dengan takbir imam.(Tafsir At Thabari 2/92)

Abdurrahman bin Zaed telah berkata, bahwa Ibnu Abas berkata : Adalah suatu keharusan atas setiap Muslim apabila mereka melihat hilal Syawal hendaknya takbir kepada Allah sampai mereka selesai dari pelaksanaan Ied-nya, karena Allah swt berfirman “Sempurnakanlah bilangan shaum serta bertakbirlah kepada Allah, karena ia telah memeberi petunjuk kepadamu.”(Tafsir At Thabari 2/157).

Menurut Imam As-Syafi’i bahwa Allah swt berfirman sehubungan dengan bulan Ramadhan ; “Dan sempurnakanlah bilangan (shaum), dan bertakbirlah kepada Allah, karena Allah telah memberi hidayah kepadamu”. Ia (As-Syafi’i) berkata : Saya mendengar orang yang saya akui keilmuannya tentang al-Quran, bahwasanya ia berkata : (maksud) “Sempurnakanlah bilangannya”, ialah bilangan shaum ramadhan. Dan “Bertakbirlah kepada Allah”, ialah di saat sempurnanya shaum ramadhan, karena Allah telah memberi petunjuk kepadamu. Sedang sempurnanya ramadhan itu adalah terbenamnya matahari di hari terakhir ramadhan. Ia (As Syafi’i) berkata : “Maka apabila melihat hilal tanggal I syawal, aku suka orang-orang bertakbir secara berjamaah atau secara sendiri-sendiri di mesjid, di pasar, di jalan, atau di rumah, dalam perjalanan, atau di kampungnya sendiri, dalam setiap kondisi dan situasi mereka berada, dan hendaknya mengeraskan takbirnya, serta senantiasa bertakbir sampai pergi ke lapangan, setelah tiba di lapangan, sampai imam datang ke luar untuk shalat ied, barulah menghentikannya.”(Al-Um 1/205)

Dengan keterangan di atas, pelaksanaan takbiran itu langsung ketika (pas) selesai shaum pada hari terakhir ramadhan, yakni setelah maghrib pada hari itu.

Lebih dari itu, menurut mereka terdapat hadis yang menyatakan sebagai berikut :

  1. Dari Ubadah bin As-Shamit, Bahwasanya Rasulullah saw bersabda “Barangsiapa yang bangkit (bangun) pada malam Iedul Fithri dan Iedul Adha, tidak akan mati hatinya dikala hati orang-orang menjadi mati.”(HR. At-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir dan Mu’jamul Ausat, Majmauz-Zawaid 2/198, At-Targib Wat Tarhib 2/98)
  2. Dari Abi Umamah, dari Nabi saw, beliau bersabda “Barangsiapa yang berdiri (shalat) pada malam dua ied, dengan mengharapkan ganjaran, tidak akan mati hatinya dikala hati orang-orang menjadi mati.” (HR. Ibnu Majah, At-Targib Wat Tarhib 2/98)
  3. Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal, ia berkata : Rasulullah saw telah bersabda “Barangsiapa yang bangun pada malam yang lima, wajib baginya (masuk) surga. (yaitu) Malam Tarawih, Malam Arafah, Malam Nahr (Iedul Adha), Malam Iedul Fithri, dan Malam Nispu Sya’ban.” (HR. Al Asbahani, At-Targib Wat Tarhib 2/98)

TANGGAPAN PENULIS

Analisis Al Quran

  • Rawi yang bernama Zaid bin Aslam. Menurut Ubaidullah bin Umar ; “Kami tidak mengetahui apa-apa pada dirinya, kecuali hanya saja dia suka menafsirkan al-Quran berdasarkan pikirannya.”(Mizanul I’tidal 2/98)
  • Maksud ayat di atas, “Sempurnakanlah bilangannya”, maksudnya bilangan hari shaum yang kamu batal padanya, yaitu sempurnakan pada hari-hari lain (di luar ramadhan)(Tafsir At-Thabari 1/91). Dan “Bertakbirlah kepada Allah”, maksudnya berdzikirlah kepada Allah ketika selesai melaksanakan ibadah kalian. Dan berdasarkan ayat-ayat yang lain, sebagaimana disunatkan tasybih, tahmid, dan takbir setelah mendirikan shalat wajib. (Tafsier Ibnu Katsir 1/217).
  • Pada ayat di atas, perintah bertakbir tidak dijelaskan (waktunya) kapan dimulainya, ini menunjukkan bahwa tidak mesti (langsung) berurutan setelah menyempurnakan bilangan shaum itu, (kecuali ada dalil lain yang memerintahkannya). Apalagi huruf athaf “wau” itu limutlaqil jam’i (dua hal yang sama-sama terjadi tapi tidak menunjukkan berurutan), beda dengan “tsumma” atau “fa”, itu litartib (mengandung makna berurutan).

Dan seandainya dipaksakan dengan arti berurutan, maka perintah takbir tersebut harus dilaksanakan setelah  sempurna mengqada (yang tentu saja) di luar ramadhan, karena “Sempurnakanlah bilangan” maksudnya Allah memerintah mengqada (bagi yang pernah batal) shaum-nya, untuk menyempurnakan bilangan shaum ramadhannya.(Tafsir Ibnu Katsir 1/217)

  • Pada hadis Abdurrahman bin Zaed di atas yang sumbernya dari Ibnu Abbas, sama tidak dijelaskan kapan mulai takbirnya, pokoknya apabila melihat hilal. Di sini Ibnu Zaed pada akhir keterangannya menyatakan “Hendaklah bagi mereka apabila pergi ke lapang bertakbir, dan apabila telah duduk mereka terus bertakbir, dan apabila imam telah datang mereka diam. Apabila imam bertakbir maka bertakbirlah, dan janganlah mereka bertakbir apabila imam telah datang, kecuali mengikuti takbir imam” (Tafsir At-Thabari 2/157). Keterangan ini tidak bertentangan dengan Al-Quran, justru sebagai penjelas mengenai tatacara pelaksanaannya.

Analisis Al Hadis

  • Hadis pertama diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam kitabnya Mu’jamul Kabir dan Mu’jamul Ausath, pada sanadnya terdapat rawi Umar bin Harun At-Tsaqafi Al-Balkhi, yang keghalibannya dipandang dhaif oleh para ulama. Walaupun ada yang menyanjungnya seperti Ibnu Mahdi dan yang lainnya, akan tetapi kebanyakkan para ulama mendhaifkannya.(Majmauz-Zawaid 2/198).

Ali bin Husain bin Hiban (putranya Ibnu Hiban) mengatakan, “Saya mendapatkan pada kitab bapak saya dengan tulisan tangannya”, Abu Zakaria mengatakan, “Umar bin Harun Al Balkhi Kadzdzabun (pendusta) Khabisun (buruk) hadisnya bukan apa-apa … aku telah membakar semua hadis-hadisnya tiada yang tersisa kecuali satu kalimat yang ada pada sampul kitab dan akupun telah membakar semuanya.” Dan masih banyak komentar para ahli yang menjarahnya.(Tahdzibul Kamal 12/525-528).

  • Hadis kedua diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab sunan, pada sanadnya terdapat rawi Baqiyah bin Al-Walid, Rawi Mudallis dan menggunakan lafadz an dalam hadis ini.( At-Targib Wat Tarhib 2/98).

Nama lengkapnya Baqiyah bin Al Walid bin Shaid bin Kaab bin Hariz Al-Kala’i Al-Himyari Al-Mitami, Abu Humaid Al-Himsi. Abul-Hasan bin Al-Qatan berkata : “Baqiyah berbuat tadlis dari rawi-rawi dhaif” (Mizanul-Itidal 1/338). Dengan demikian Imam An-Nasai mengatakan : “Apabila ia berkata “haddatsana dan akhbarana” maka dia tsiqah. Tetapi apabila berkata “ ‘an fulanin” maka jangan diterima darinya, karena itu tidak didapatkan dari orang yang diambilnya.”(Tahdzibul-Kamal 4/197-198, Mizanul-I’tidal 1/374, Siyaru A’lamin-Nubala 6/497). Dan Ad-Dzahabi juga berkata : Menurutku dia dhaiful-hadis, apabila berkata : ‘an, karena dia mudallis.(Siyaru A’lamin-Nubala 7/698)

  • Hadis ketiga diriwayatkan oleh Al-Asbahani, pada sanadnya terdapat Abdurrahim bin Zaid Al-Umi. Nama lengkapnya abdurrahim bin zaid bin al-hawari al-ami, abu zaid al-basri.

Menurut Ibrahim bin Ya’qub Al-Jauzani : “Tidak tsiqah”. Abu Jur’ah berkata : “Lemah, hadisnya dhaif”. Abu Hatim berkata : “Hadisnya ditinggalkan, munkarul hadis …”Al-Bukhari berkata : “Mereka (ulama hadis) meninggalkannya”. Abu Dawud berkata : “Dhaif”. An-Nasai berkata : “Matrukul hadis”.(Tahdzibul-Kamal 18/25-36).

Ibnu Hajar berkata dalam kitab Takhrijul-Adzkar : “Hadis ini Gharib, dan Abdurrahim bin Zaid Al-Umi seorang yang periwayatannya Matruk (ditinggalkan)”. Dan telah menerangkan Ibnul Jauzi : “Hadis ini tidak shahih, dan Abdurrahim, menurut Yahya (bin Main) : Kadzdzab”, menurut An-Nasai : “Matruk (ditinggalkan)”.(Faidul Qadir 6/39)

TAKBIRAN YANG DISYARIATKAN

Adapun takbiran yang disyariatkan adalah, sebagai berikut :

  1. Pada hari raya Iedul Fithri takbir dimulai sejak turun dari rumah menuju ke lapangan dan ketika di lapangan selama menungu imam sampai shalat dimulai. Hal ini berdasarkan hadis dari Ibnu Umar r.a, “Bahwasanya ia apabila pergi ke lapangan, ia bertakbir dengan mengeraskan suaranya. Dalam riwayat lain, ia pergi ke lapangan pada hari raya Iedul Fithri, apabila telah terbit matahari lalu bertakbir sampai tiba di lapangan, kemudian takbir di lapang, dan apabila imam duduk ia menghentikan takbirnya.”(keduanya HR. As-Syafi’i, Nailul-Authar 3/324)

Bahkan sebagai sahabat yang sangat taasi mengikuti sunnah Rasulullah saw, beliau tidak keluar hingga terbit matahari, dan bertakbir dari rumahnya menuju ke mushala.(Zadul-Maad 1/442). Imam An-Nawawi berkata, sekelompok para sahabat dan ulama salaf memandang sunat, maka mereka bertakbir apabila keluar (dari rumahnya), hingga sampai mushalla (lapangan) dan sambil mengeraskan suaranya. (Syarah Muslim An-Nawawi 6/179)

Menurut An-Nasr, bahwa takbir itu dimulai dari ketika imam keluar dari rumahnya untuk shalat sampai menjelang khutbah. Keputusan ini menurut kebanyakkan para ulama.(Nailul-Authar 3/328). Begitu pula pernyataan Sayid Sabiq, ia mengatakan : “Dan mayoritas para ulama berpendapat, bahwa takbir iedul Fithri itu dimulai saat keluar (ke lapangan) untuk shalat, sampai (menjelang) mulai khutbah.”(Fiqhus-Sunnah 1/325)

  1. Pada hari raya Iedul Adha takbiran dimulai setelah shalat shubuh tanggal 9 Zulhijjah (Hari Arafah) sampai waktu ashar tanggal 13 Zulhijjah (Hari Tasyriq terakhir). Hal ini berdasarkan hadis yang artinya sebagai berikut :

Dari Nabisyah Al Hudzali, ia berkata : Rasulullah saw bersabda “Hari Tasyriq adalah hari-hari makan, minum dan dzikrullah.” (HR. Ahmad, Muslim dan An Nasai, Nailul Authar 3/382)

Imam Al Bukhari mengatakan : Sahabat Ibnu Abbas berkata “Berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari tertentu, yaitu tanggal 10 (Dzulhijah), dan hari-hari tertentu, yaitu hari-hari Tasyriq.” (Shahih al-Bukhari 2/8, Nailul Autahar 3/382)

Sahabat Ibnu Umar dan Abu Hurairah keluar ke pasar pada tanggal 10 Dzulhijjah, mereka bertakbir dan orang-orang bertakbir dengan takbirnya itu, sedangkan Muhammad bin Ali bertakbir setelah melaksanakan shalat sunat. (Shahih Al-Bukhari 2/8)

Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari “Dalam hal tersebut tidak ada satupun hadis yang tsubut dari Nabi saw, dan yang paling shahih dalam hal ini adalah riwayat dari sahabat, yaitu ; perkataan Ali dan Ibnu Mas’ud, bahwa takbir itu dimulai dari subuh hari arafah sampai ashar hari mina akhir.” Diriwayatkan oleh Ibnul-Mundzir dan yang lainnya.(Fathul-Bari 3/141, Fiqhus-Sunnah 2/72, Nailul-Authar 3/358). Demikian pula pernyataan Imam An-Nawawi, bahwa dari sekian banyak silang pendapat, pendapat inilah yang paling rajih (kuat) menurut kebanyakkan para sahabatnya, dan inilah yang diamalkan pada masa sekarang.(Muslim Syarah An-Nawawi 6/180).

Dari Umu Atiyah, ia berkata : kami (perempuan) diperintah supaya keluar pada hari ied, sehingga kami mengeluarkan gadis-gadis dari rumahnya, sehingga kami mengeluarkan perempuan yang haid dan menempatkan mereka di belakang (shaf) orang-orang, kemudian mereka bertakbir dengan takbir mereka, dan mereka berdoa dengan doa mereka, mereka mengharap barokahnya hari tersebut dan kebersihannya.(HR. Al-Bukhari 2/9 no. 971)

Ibnu Qudamah berkata, disyariatkannya takbiran pada malam hari raya iedul adha disepakati oleh para ulama. Namun mengenai waktunya terjadi perbedaan perdapat di antara mereka. Menurut guru kami (semoga Allah meridhai kepada mereka), takbiran itu dimulai dari waktu shalat shubuh pada hari arafah, sampai waktu ashar pada hari tasyriq yang terakhir. Dan ini adalah pendapat sahabat Umar, Ali, Ibnu Abas, dan Ibnu Mas’ud (semoga Allah meridhai kepada mereka semua). Demikian pula pendapat Imam At-Tsauri, Ibnu Uyainah, Abu Yusuf, Muhammad, Abu Tsaur, dan As-Syafi’i pada sebagian qaulnya.(Al-Mugni 2/126)

Mencermati kedua keterangan di atas, apabila takbiran Iedul Fithri dilaksanakan semalam suntuk, terus ditambah dengan berbagai tetabuhan dan berkeliling yang menimbulkan kegaduhan dan kebisingan, adalah merupakan kesalahan yang sangat patal dalam islam. Tak ubahnya bagaikan takbiran Iedul Adha yang kurang mendapatkan respon atau perhatian, baik dari segi waktu maupun kaum muslimin yang menjalankannya. Karena itu semuanya sangat menyalahi sunnah Rasulullah saw yang sesungguhnya. Wallahul-muwafiq

Oleh Ahmad Wandi