//TANTANGAN DAKWAH PERSATUAN ISLAM (PERSIS)

TANTANGAN DAKWAH PERSATUAN ISLAM (PERSIS)

LEMBANG (HAYAATUNAA.COM)-Umat Islam pada dasarnya adalah umat dakwah, setiap muslim berkewajiban untuk melaksanakan amar makruf dan nahi munkar sesuai dengan kapasitasnya. Umat Islam diposisikan Allah sebagai umat terbaik yang diturunkan di tengah masyarakat dunia, di tengah pergaulan internasional, jika memiliki kwalitas iman dan kwalitas dakwah yang baik. Ini diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ – ال عمران : 110

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.  (QS.Ali Imran : 110)

Dakwah merupakan tugas mulia, Allah berfirman :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ – فصلت :33

Tidak ada  yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushilat : 33)

 عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ َقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ – ر مسلم : ر 4830

Dari Jarir bin Abdillah ra berkata, bersabda Rasulullah saw : “ Barangsiapa yang menuntun kepada kebaikan dalam Islam, lalu diamalkan tuntunan itu sesudahnya, maka dicatat baginya sebanyak pahala yang mengerjakan dengannya, tidak akan dikurangi sedikitpun pahalanya. Dan barangsiapa yang menuntun kepada keburukan, lalu dilakukan tuntunan buruk itu sesudahnya, maka dicatat baginya sebanyak dosa mereka yang melakukannya, dan tidak akan dikurangi sedikitpun dari dosanya. (HR.Muslim: No. 4830).

Dakwah adalah merupakan usaha untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik menurut tolok ukur ajaran Islam (Al-Qur’an dan As-Sunnah).  Secara gamblang Al-Qur’an menegaskan bahwa dakwah itu adalah menyeru manusia “ILA SABILI RABBIKA ( QS.An-Nahal : 125 ). Dengan pengertian ini maka perubahan tersebut terjadi dengan menumbuhkan kesadaran dan kekuatan pada diri objek dakwah (mad’u) untuk mengetahui, mengimani  dan mengamalkan Islam.  Perubahan dari sikap, tingkah laku, keyakinan dan pola fikir yang tidak islami menjadi islami, serta upaya pembebasan (tahrir) dari Sabili thaghut ke Sabilillah.

Dakwah bisa  dilakukan melalui beberapa cara atau pendekatan:

Dakwah Bil-Lisan :   Ceramah, khutbah, seminar, diskusi, dsb.

Dakwah Bil-Kitabah :   melalui tulisan di surat kabar, majalah, brosur, bulletin, Internet, atau buku dan kitab.

Dakwah Bil-Lisanil Hal :  Dengan amal perbuatan. Dakwah cara ini bisa dilakukan melalui berbagai bidang kehidupan, seperti : Bidang Politik, melalui lembaga-lembaga pemerintahan sebagai policy maker, atau policy decision.  Bidang politik sering dipandang sebagai bukan bagian dari ajaran Islam.  Rasulullah saw pernah mengingatkan :

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ – ر احمد : ر21139

Dari Abi umamah Al-Bahili ra dari Rasulullah saw bersabda : Ikatan Islam akan lepas satu persatu, setiap kali satu ikatan hilang, maka akan diikuti dengan ikatan lainnya. Dan yang pertama kali hilang adalah masalah pemerintahan, sementara yang terakhir hilang adalah shalat. ( HR.Ahmad : No. 21139).

Bidang Ekonomi, melalui upaya perbaikan system dan keadaan ekonomi. Kemiskinan dan kebodohan umat Islam sering dieksploitasi oleh agama lain untuk upaya pemurtadan. Sistem ekonomi kapitalis hanya menghasilkan : monopoli dan konglomerasi, yang telah memperlebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Sebuah system yang tidak sesuai dengan yang dikehendaki Allah dalam firman-Nya :

مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ – الحشر : 7

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS.Al-Hasyer:7)

Nabi saw juga mengingatkan :

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَعَلَتْ أُمَّتِي خَمْسَ عَشْرَةَ خَصْلَةً حَلَّ بِهَا الْبَلَاءُ فَقِيلَ وَمَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا كَانَ الْمَغْنَمُ …. ر الترمدي : ر 2136

Dari Ali bin Abi Thalib ra berkata, bersabda Rasulullah saw : “ Jika umatku melakukan 15 perkara, maka halal baginya bencana. “ Lantas ditanyakan : “ Apakah yang 15 perkara itu?” Beliau menjawab : “ Jika harta negara hanya beredar pada para penguasa,…. “ (HR-Tirmidzi : No. 2136)

Bidang Sosial,  Menumbuhkan kepedulian terhadap kaum dlu’afa  ( aitam, masakin, fuqara ), anak jalanan, korban bencana alam, korban kezaliman, dsb.

Bidang Budaya, Kita menyaksikan bagaimana perubahan prilaku masyarakat yang sudah banyak menyimpang jauh dari tuntunan Islam, budaya hedonis dan permisif, ( Free love, free sex, pornografi,pornoaksi, miras, dan korupsi ) sebagai akibat dari derasnya transformasi budaya melalui berbagai media informasi dan komunikasi.  Nabi saw pernah mengingatkan :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ  ….ر الترمذي : ر 2565

Dari Abdillah bin Amer berkata, bersabda Rasulullah saw : “ Akan datang kepada umatku seperti yang pernah datang kepada Bani Israel setapak demi setapak, sampai jika ada di antara mereka yang memperkosa ibunya dengan terang-terangan, pasti akan ada di tengah umatku orang yang melakukan hal seperti itu…. “ (HR.At-Tirmidzi : No. 2565)

Bidang Pendidikan,  Islam menganut prinsip pendidikan sepajang hayat, Minal Mahdi Ilal-lahdi.  Dakwah melalui jalur pendidikan ini sangat strategis, karena bisa dilaksanakan secara lebih sistemik dan manhajiyyah. Menyiapkan kader ulama dan zu’ama serta umat masa mendatang.

Dakwah di Indonesia sudah cukup semarak, dilakukan oleh banyak kekuatan dakwah, baik yang sifatnya fardiyyah maupun institusional, termasuk yang dilakukan oleh Persatuan Islam. Dakwah telah banyak dilaksanakan dengan menggunakan berbagai sarana  dan media, dengan menggunakan berbagai metoda dan pendekatan, tapi hasilnya belum menggembirakan apalagi memuaskan. Sebab secara kwantitatif, kalau kita memperhatikan data demografi, baik lokal, regional maupun nasional, jumlah penduduk di negri ini terus bertambah, tapi prosentase kaum muslimin terus menurun. Secara kwalitatif, kita menyaksikan bahwa muslim yang benar-benar sadar ingin mengamalkan ajaran Islam dalam  aspek kehidupan keseharainnya saja, jumlahnya relatif masih lebih sedikit dibanding dengan  muslim pengakuan (islam KTP).

Kondisi ini tentu disebabkan oleh banyak variable penyebab, diantaranya :

Kondisi Internal :

Pada tingkat Da’i, Masih banyak da’i yang pada tataran konsep saja masih banyak yang memahami bahwa dakwah itu hanya sebatas ceramah atau khutbah.  Mereka juga umumnya dengan pendidikan yang kurang memadai, sementara upaya untuk meng-upgrade mereka relatif belum intensif.  Akses ke media masa dan informasi relatif rendah. Fasilitas pendukung seperti kepustakaan minim. Waktu yang disediakan untuk kegiatan dakwah sangat terbatas, karena harus berebut dengan pemenuhan kebutuhan hidup.

Pada Tingkat Pengelola,  Masih lemahnya managemen dakwah ( Perencanaan dan pengorganisasian ), disebabkan karena kondisi yang tidak jauh berbeda dengan kondisi para da’i.

Pada Tingkat Mad’u,   Masyarakat muslim masih banyak dalam kondisi ekonomi lemah dengan pendidikan rendah. Masyarakat seperti ini umumnya rentan terhadap harakatul irtidad, rentan terhadap berbagai patologi sosial ( Penyakit masyarakat ). Apresiasi terhadap seruan dakwah juga sering menjadi rendah, karena waktu,tenaga, fikiran dan perhatiannya banyak tersita oleh pemenuhan hajat hidup.

Kondisi Eksternal :

Kita menyaksikan bagaimana intensif dan massifnya gerakan pemurtadan yang dilakukan oleh puluhan agen  kristeniasai, dengan mengerahkan ribuan misionaris asing dan pribumi yang memiliki militansi dan pendidikan yang memadai serta dengan dukungan dana yang besar.  Pada perkembangan mutakhir issue terorisme yang terus menerus diidentikan dengan gerakan Islam,  telah menjadi persoalan  krusial dalam mengemban misi dakwah ini.

Gerakan sekulerisasi yang sudah dilakukan sejak zaman kolonial Belanda, telah membawa dampak yang serius dalam berbagai bidang kehidupan bangsa ini. Kita menyaksikan berbagai trend, seperti : Di Bidang Hukum, hukum “ barbaris “, Hukum  lebih benyak berpihak penguasa, atau orang berduit. Keadilan menjadi barang mahal, merajalelanya mapia hokum.  Di  bidang ekonomi, ekonomi kapitalistik. Di Bidang  Budaya, budaya hedonistik dan permisif.  Di Bidang Sosial, masyarakat yang berkembang, masyarakat yang ananiyyah alias egoistik.  Di Bidang Pendidikan, pendidikan yang materialistik, hasil pendidikan selalu diukur dengan materi ( baik dalam bentuk gelar kesarjanaan, kedudukan atau gaji ).

Selain itu menjadi sebuah tantangan tersendiri, khusunya bagi Persis sebagai sebuah kekuatan  dakwah yang telah menempatkan diri sebagai sebuah Harakah Tajdid, disamping masalah  TBC  ( Takhayul, Bid’ah, Churafat ) dan syirik, yang tidak pernah selesai, bahkan pada beberapa hal justru banyak dibesar-besarkan, dengan berbagai dalih dan alasan, seperti alasan melestarikan budaya, atau alasan Hari Besar Islam, dsb.  Kita dihadapkan kepada berbagai aliran pemikiran,  dan keyakinan dalam Islam yang lama maupun yang baru.

Kita dihadapkan dengan  : Ahmadiyyah, Syi’ah, LDII, Islam Liberal, dsb. Belakangan  kita juga dihadapkan kepada  pemikiran dan keyakinan mereka yang menamakan dirinya Salafy yang menda’wakan adanya sumber hukum ketiga setelah Al-Qur’an da as-Sunnah yakni Manhaj Salafu Shalih, dan menilai jika hanya al-Qur’an dan as-Sunnah saja telah sesat dengan kesasatan yang nyata. dsb.

Di Bidang Pendidikan, Persis telah menggariskan Tujuan Institusional sendiri, yakni membentuk insan muslim yang tafaquh fid-dien, dalam arti yang luas. Dengan tujuan yang sangat ideal tersebut mau tidak mau Persis dihadapkan kepada seabrek persoalan pendidikan. Persis harus menyusun manhaj sendiri, menyediakan sarana dan prasarana, merekrut tenaga kependidikan, serta menggali sumber biaya. Apalagi di tengah penialian banyak pihak yang menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia belum berhasil melahirkan out-put yang shaleh dan menguasai Iptek. Ada sholeh tapi ga-tek ( gagap teknologi ),  ada ku-tek (kuasai) teknologi, tapi baong. Hal tersebut tentu menjadi sebuah tantangan yang harus direspons.

Semangat para Pimpinan Jamaah dan Pimpinan Cabang untuk menyelenggarakan kegiatan pendidikan merupakan hal yang menggembirakan, dan modal berharga,  tapi harus diimbangi dengan usaha pembinaan yang sistemik dan berkelanjutan, harus diimbangi dengan upaya serius menyediakan sarana dan prasarana yang memadai dan memenuhi kualifikasi. Harus diimbangi dengan rekrutmen tenaga didik yang memenuhi syarat berkemampuan dan berkelayakan. Pada kelompok asatidzah  bisa dikatakan kondisi yang hampir serupa dengan kelompok da’I masih banyak kita temukan. Sehingga kadang terkesan asal ada.

Dengan tidak mengecilkan berbagai prestasi dan keberhasilan yang telah ditunjukkan oleh gerakan dakwah Persis, terutama dalam memberi format dan sibghah terhadap akidah, ibadah dan muamalah umat, yang bukan hanya sudah melintasi batas kota, propinsi, tapi juga sudah melintasi batas wilayah negara. Keberhasilan menyiapkan kader-kader da’i dan asatidzah,  identifikasi permasalahan dan tantangan tersebut di atas, tentu tidak boleh berhenti sampai pada tataran identifikasi, perlu usaha maksimal dari semua komponen yang ada pada Jam’iyyah kita untuk memperbaiki dan mengatasinya. sharing ide dan gagasan serta potensi. Sekecil apapun akan menjadi lebih bermanfaat dari pada tidak berbuat sama sekali.

Mudah-mudahan Allah swt. mengampuni segala kealfaan kita, dan melimpahkan rahmat dan inayah kepada kita untuk mengemban tugas mulia ini.

sumber :

Tulisan guru besar PERSIS KH. Drs. Shiddiq Amien Allahuyarham