//Tarawih 11 Rokaat, Sunnah Atau Bid’ah?

Tarawih 11 Rokaat, Sunnah Atau Bid’ah?

LEMBANG(hayaatunaa.com)

(Catatan Kecil Untuk Prof. KH. Ali Musthafa Yaqub, MA)

Pelaksanaan shalat tarawih sebelas rakaat nampaknya masih perlu didiskusikan. Di samping banyaknya dalil-dalil tarawih yang menerangkan bukan sebelas rakaat, terdapat pula pengkaji dan peneliti yang meragukan ke-sunnah-an tarawih sebelas rakaat tersebut.

Para pengkaji dan peneliti tersebut di antaranya adalah Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA, pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah dan guru Besar Ilmu Hadis Institute Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta, dalam karya tulisnya yang berjudul “Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan” dan “Hadis-Hadis Bermasalah”.

Karena isi buku tersebut banyak memuat bantahan terhadap pemikiran hadis Syaikh Al-Albani, maka telah mendapat tanggapan yang cukup kuat dari Abu Ubaidah dalam bukunya “Syaik Al-Albani Dihujat !”

Dalam tulisan ini, saya hanya mengemukakan bebe

rapa catatan terhadap kesimpulan Ali Mustafa Yaqub seputar masalah “jumlah rakaat shalat tarawih”.

Memahami Hadis Aisyah

Pertama, dalam memahami konteks hadis Aisyah, Mustafa menyebutkan, “konteks hadis ini berbicara tentang shalat witir, bukan shalat tarawih, karena pada akhir hadis itu Aisyah menanyakan shalat witir kepada nabi saw.” (Hadis-Hadis Bermasalah, hal. 143)

Selanjutnya, Mustafa juga menjelaskan, “shalat tarawih itu adalah shalat sunah yang hanya dilakukan pada malam-malam ramadhan. Sedangkan shalat witir adalah shalat sunah yang dilakukan setiap malam, sepanjang tahun dan tidak hanya pada bulan ramadhan. Shalat yang dilakukan pada malam hari sepanjang tahun, baik pada bulan ramadhan maupun bukan ramadhan, tentu bukan shalat tarawih, sebab shalat tarawih hanya dilakukan pada bulan ramadhan.” (ibid, hal. 143)

Hemat saya, pendapat tersebut perlu untuk diklarivikasi, betulkah konteks hadis tersebut berbicara tentang shalat witir, bukan tarawih ? bagaimana dengan fiqih Imam Al-Bukhari yang meletakkan hadis tersebut dalam kitab shalat tarawih, yang menunjukkan bahwa menurut beliau hadis tersebut benar-benar untuk shalat tarawih.

Nampaknya kekeliruan yang paling mendasar terjadi di sini adalah perbedaan dalam memahami istilah tarawih dan witir. Kalaulah kedua istilah tersebut diberi pengertian yang sama, hanya perbedaan istilah saja, tidak seperti yang diasumsikan oleh penulis buku, maka tidak akan terjadi kesalahan tersebut.

Mustafa kayaknya lupa kalau dalam shalat malam ada witirnya, baik di bulan ramadhan ataupun di bulan yang lainnya. Dan sebaliknya, tidak pernah ditemukan dalil bahwa Rasul ataupun sahabat yang melakukan shalat malam tanpa witir. Dengan demikian, perlu dipahami bahwa ada “shalat witir” dan ada juga istilah “mewitirkan”. Kalau shalat witir adalah nama lain dari shalat malam, seperti ; tahajud, qiyam lail, shalat lail, dsb, yang membedakan hanya namanya saja. Sementara mewitirkan adalah rakaat-rakaat ganjil (satu, tiga, lima, dsb) untuk mengganjilkan setiap shalat malam, dan lebih utama dilakukan sebagai rakaat shalat malam yang terakhir.

Adapun kalau pendapat Mustafa diterima, maka akan terjadi beberapa keganjilan dalam memahami hadis tersebut. Diantaranya : pertama ; Abu Salamah tidak bertanya tentang shalat witir Nabi saw di bulan ramadhan. Kedua ; Pertanyaan Siti Aisyah kepada Nabi saw kontradiksi dengan pertanyaan Abu Salamah yang membutuhkan jawaban dari Siti Aisyah. Ketiga ; Abu Salamah ingin tahu, apakah shalat malam Rasulullah di bulan ramadhan ada perbedaan dengan di luar ramadhan. Sehingga Aisyah yang paling mengetahui shalat malam beliau menjawab seperti itu.

Otentisitas Tarawih Ubay Bin Ka’ab

Kedua, dalam menentukan derajat hadis Ubay bin Ka’ab yang mengimami shalat tarawih dua puluh rakaat pada masa Khalifah Umar bin Khatab, “kualitasnya shahih”. Diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya As-Sunan Al-Kubra, juz II hal. 496. dan sekali lagi kualitasnya shahih. Demikian menurut Imam An-Nawawi, Imam Az-Zaila’i, Imam As-Subki, Imam Ibnu Al-Iraqi, Imam Al-Aini, Imam As-Suyuti, Imam Ali Al-Qari, Imam An-Nimawi, dan lain-lain. (hal. 148)

Hemat saya, kualitas hadis Ubay bin Ka’ab yang mengimami shalat tarawih pada masa Umar adalah shahih (lihat. Shahih al-Bukhari 2010). Tetapi mengenai jumlah rakaatnya, yaitu dua puluh rakaat, ini perlu diklarifikasi kembali mengingat :

  • dalam hadis yang shahih, Ubay bin Ka’ab shalat tarawih sebelas rakaat. Hadis yang dimaksud antara lain :

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يُوْسُفَ أَنَّ السَّائِبَ أَخْبَرَهُ أَنَّ عُمَرَ جَمَّعَ النَّاسَ عَلَى أُبَيٍّ وَتَمِيْمٍ فَكَانَا يُصَلِّيَانِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَقْرَؤُوْنَ بِالْمِئَيْنِ يَعْنِي فِيْ رَمَضَانَ. مصنف ابن أبي شيبة – (ج 2 / ص 284)

Dari Muhamad bin Yusuf, (ia berkata), “Bahwasanya As-Saib bin Yazid mengabarkan, ‘Bahwa Umar mengumpulkan orang-orang untuk bermakmum pada Ubay (bin Kaab) dan Tamim (Ad-Dari) 11 rakaat. Mereka membaca lebih 100 ayat, yakni di bulan ramadhan.” (HR. ibnu abi syaibah, al-mushanaf 2/284 no. 7671).

  • penilaian shahih Mustafa hanya merupakan kutifan dari kitab “tashih hadis shalat tarawih isyrina rak’at war-rad ala al-albani fi tad’ifih”, karya Syaikh Ismail Al-Anshari. Menurut informasi, di Saudi Arabia para masyayikh telah menasihatinya agar tidak menerbitkan kritikannya, tetapi dia enggan dan terus mengikuti hawa nafsunya untuk menampakkan wajah aslinya. (Silsilah Adh-Dha’ifah 1/37)
  • kedhaifan hadis Ubay bin Ka’ab sangat jelas. Yaitu

 

Menyikapi Ijma’ Ulama

Ketiga, Mustafa berkata, “sementara Ibnu Abdil Bar, Imam Ibnu Qudamah, dan Imam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa tarawih dua puluh rakaat itu adalah ijma’ para sahabat.” (hadis-hadis palsu seputar ramadhan, hal. 106)

Hemat saya, pernyataan ijma tersebut perlu diklarifikasi juga, karena berdasarkan analisis yang saya lakukan sebagai berikut :

  • Mustafa menyandarkan pendapat Ibnu Abdil Bar pada kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi Wa Fadlih II/22. sampai saat ini saya belum mendapatkannya. Mudah-mudahan ini kelemahan saya. Tetapi yang jelas, saya mendapatkan dalam kitab besarnya At-Tamhid III/518, Ibnu Abdiul Bar mengatakan, “para ulama berselisih pendapat tentang jumlah rakaat shalat tarawih”. Lalu beliau memaparkannya.
  • Mustafa menyandarkan pendapat Ibnu Taimiyah pada kitabnya Majmu’ Fatawa 23/112. setelah saya merujuk langsung, ternyata tidak ditemukan ijma’ di dalamnya. Justru dalam kitab tersebut diterangkan adanya perselisihan. Kalau Ibnu Taimiyah menyatakan dua puluh rakaat adalah pendapat jumhur, itu benar. Tetapi apakah jumhur itu ijma’ ? jelas bukan.
  • Pernyataan Mustafa, “menurut imam (ibnu) qudamah, apa yang disepakati oleh para sahabat itu lebih utama dan lebih layak untuk diikuti (al-Mughni II/604).” (Hadis-Hadis Bermasalah, hal. 151) perlu diklarifikasi juga. Sebagai perbandingan, dalam al-Mughni (II/569) Ibnu Qudamah pernah menukil ijma’ ulama tentang sampainya bacaan al-Quran kepada orang yang telah meninggal dunia. Nukilan ijma’ ini adalah batil. Bagaimana tidak, padahal di antara pelopor yang menyelisihinya dalah Imam Asy-Syafi’i. (Lihat. Ahkamul-Janaiz, hal. 221)
  • Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan jumlah rakaat shalat tarawih. Pendapat tersebut kalau dikumpulkan sampai delapan pendapat : 1) empat puluh satu rakaat, 2) tiga puluh enam rakaat, 3) tiga puluh empat rakaat, 4) dua puluh delapan rakaat, 5) dua puluh empat rakaat, 6) dua puluh rakaat, 7) enam belas rakaat, 8) sebelas rakaat. (lihat. Umdatul-Qari V/356-357)
  • Seluruh riwayat dari sahabat, bahwa mereka shalat tarawih dua puluh rakaat tidak ada yang shahih satupun. (Shalat Tarawih, hal. 72 oleh al-Albani).

Dengan demikian, jelas tidak ada ijma’ dalam tarawih dua puluh rakaat, karena dibangun di atas dasar yang lemah. Imam Al-Mubarakfuri menegaskan, bahwa hal tersebut adalah anggapan yang batil. (Tuhfatul-Ahwadzi II/76)

Saya juga khawatir, hal ini sesuai sesuai dengan pernyataan Imam Ahmad, “Baramgsiapa yang menceritakan ijma’ maka sungguh dia dusta, karena siapa tahu kalau ternyata ada ulama yang menyelisihinya.” (Al-Masail, hal. 52)

Tarawih 1000 rakaat ?

Hemat saya, Mustafa perlu mengkaji ulang hasil penelitiannya. Fiqih hadis yang dimunculkannya nampaknya masih mentah. Kalau dari konteks hadis yang umum berkesimpulan umum lagi silahkan tidak jadi masalah, selama tidak ada yang mengkhususkannya. Tetapi kalau dari hadis yang tidak menerangkan jumlah rakaat tarawih dapat disimpulkan ketentuan jumlah rakaat tarawih, jelas masalah besar. Kekeliruan seperti inilah barangkali yang dikhawatirkan oleh Siti Aisyah, sehingga ketika ditanya oleh Abu Salamah beliau menjawab, “Rasulullah saw tidak pernah menambahi baik pada bulan ramadhan maupun di luar bulan ramadhan, dari sebelas rakaat.” (HR. Bukhari 2/309 no. 2013). Karena Abu Salamah tidak bertanya tentang jumlah rakaatnya.

Demi memperkuat kesimpulannya, Mustafa mencoba menyindir hadis al-Mughirah riwayat al-Bukhari perihal Nabi shalat malam sampai kedua tumitnya terpecah-pecah. Menurutnya, “Sekiranya Nabi saw shalat malam hanya sebelas rakaat, tentu kaki beliau tidak pecah-pecah.” (Hadis-Hadis Bermasalah, hal. 144)

Dengan hadis ini kekeliruan penulis buku semakin terbongkar. Sekarang kita perhatikan, tumit Nabi saw sampai terpecah-pecah tentu saja karena shalat malamnya sangat lama. Tetapi apakah benar kalau lamanya shalat itu “karena lebih dari sebelas rakaat”. Sebagaimana yang diasumsikan oleh Mustafa. Jawabnya tentu saja tidak. Sebelas rakaat juga bisa lebih lama dari yang seribu rakaat, kalau bacaan seribu rakaat itu dibaca dalam satu rakaat yang sebelas rakaat. Fakta di lapangan saja membuktikan, bahwa seringkali tarawih yang sebelas rakaat lebih lama daripada yang dua puluh tiga rakaat.

Ketika Siti Aisyah ditanya oleh Abu Salamah tentang shalat tarawih, dalam jawaban sebelas rakaatnya beliau menjelaskan, bahwa Rasul shalat empat rakaat, “tetapi kamu jangan bertanya perihal bagus dan panjangnya rakaat-rakaat tersebut”. Perincian tersebut diulang-ulang oleh Siti Aisyah sampai tiga kali. Hemat saya, kalaulah Mustafa mencermati penjelasan Siti Aisyah di atas, maka tidak akan salah kaprah ketika memahami hadis al-Mughirah di atas.

Hadis Aisyah tersebut mengandung pengertian, kamu jangan bertanya perihal bagus dan panjangnya shalat Nabi, karena tidak akan ada yang lebih bagus dan lebih panjang darinya.

Sekarang baiklah kita coba terima pendapat Mustafa tersebut. Tapi coba bandingkan dengan hadis berikut :

 

Saya mau bertanya, apakah dimarahinya Muadz bin Jabal karena disebabkan mengimami shalat isya lebih dari empat rakaat, misalnya ? jelas bukan. Tetapi bacaannya surat al-Baqarah yang menyebabkan shalatnya kelamaan.

Kesimpulan

Demikian di antara beberapa sorotan yang dapat saya kemukakan, meskipun sesungguhnya masih banyak hal lain yang perlu untuk disampaikan berkenaan dengan masalah ini.

Hadis dan fiqih adalah dua fan ilmu dalam islam yang tidak dapat dipisahkan. Apabila salah satunya hilang, maka akan terjadi kepincangan, seperti seekor burung yang hanya terbang dengan menggunakan satu sayap.

Alangkah indahnya apa yang diucapkan oleh Imam Ibnu Al-Jauzi, “Sungguh amat jelek bagi seorang ahli hadis ketika ditanya tentang suatu kejadian, lalu dia tidak mengerti karena kesibukkannya dalam mengumpulkan jalur-jalur hadis. Demikian pula sangat jelek bagi seorang faqih ketika ditanya apa maksud sabda Nabi ini, lalu dia tidak mengerti tentang keabsahan dan maknanya.” (Shaidul-Khatir hal. 399-400)

Wallahu a’lam bish-shawab !

by : Ahmad Wandi