//TASYABUH, MENGHILANGKAN JATI DIRI SEORANG MUSLIM

TASYABUH, MENGHILANGKAN JATI DIRI SEORANG MUSLIM

Ustadz Muslim Nurdin, Tasykil Bidang Pendidikan PW. Pemuda Persis Jawa Barat

Lembang – Hayaatunaa.com

«لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ» قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: «فَمَنْ»

Sungguh kamu akan mengikuti sunnah-sunnah orang sebelummu sejengkal-sejengkal, sehasta-sehasta, sampai ketika mereka masuk lubang biyawak pasti kamu pun akan mengikutinya. Para sahabat bertanya,”mereka itu yahudi dan nashrani?”. Beliau menjawab: ya, siapa lagi (kalau bukanmereka). (Muslim No. 4822)

Di Madinah selain suku Aus dan suku Khojroj sebagai penduduk asli, tinggal pula suku-suku lainnya yang berasal dari ahlu kitab (Yahudi dan Nashrani) seperti bani Qainuqa’, bani Nadlir, dan bani Quraidzah. Datangnya mereka ke Madinah bertujuan untuk menunggu-nunggu akan hadirnya nabi akhir zaman yang mereka yakini akan datang ke kota Madinah tersebut sebagaimana mereka ketahui di dalam kitab suci mereka. Dalam al Quran surat al baqarah ayat 146 dijelaskan bahwa mereka mengenal nabi akhir zaman tersebut seperti mengenal anak-anak mereka sendiri. Dengan latar belakang seperti itu tentulah adat dan kebiasaan penduduk Madinah tidak terlepas dari pengaruh Yahudi dan Nashrani.

Ketika nabi Muhammad saw datang ke Madinah,  sebagian besar orang-orang yahudi dan nashrani merasa iri terhadap beliau, karena ternyata nabi terakhir yang mereka tunggu-tunggu itu bukan berasal dari kalangan mereka sendiri (bani Israil), tapi dari orang arab atau bani isma’il, sehingga kebanyakan dari mereka menolak akan kenabian beliau baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi (nifaq). Dari sanalah turun syari’at-syari’at yang bersebrangan dengan kebiasaan-kebiasaan yahudi dan nashrani yang diantaranya bertujuan agar dapat diketahui siapa yang benar-benar beriman kepada nabi dan  siapa saja yang mengingkarinya (Al Baqoroh : 143) juga mewanti-wanti kepada Rasulullah saw agar mewaspadai gerak-gerik yahudi dan nashrani, jangan sampai terbawa oleh ajaran-ajaran mereka. Allah swt berfirman:

{وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ } [البقرة: 120]

“selamanya yahudi dan nashrani tidak akan pernah merasa senang terhadapmu sampai kamu mengikuti millah (ajaran) mereka”(Al Baqoroh : 120).

Rasulullah saw dan para sahabat berusaha sekuat tenaga untuk selalu berbeda dengan yahudi dan nashrani, diantaranya diterangkan dalam beberapa keterangan sebagai berikut:

  1. Ketika Rasulullah saw dan para sahabat shalat menghadap baitul maqdis menyerupai yahudi dan nashrani, beliau senantiasa berdo’a dan menunggu-nunggu turunnya wahyu yang memerintah untuk menghadap baitullah, sehingga turunlah ayat yang memerintahkan beliau dan semua kaum muslimin untuk menghadap ke baitullah (Al Baqarah : 144)
  2. Ibnu Umar menerangkan, bahwa orang-orang muslim ketika datang ke madinah mereka berkumpul mengukur-ukur waktu shalat, karena pada waktu itu belum ada pemanggil untuk tanda sudah datangnya waktu shalat. Sebagian dari mereka ada yang mengusulkan dengan lonceng seperti nashrani dan sebagian lagi ada yang dengan buq (terompet) seperti yahudi, sedangkan umar mengusulkan agar menyuruh seseorang menyeru untuk shalat. Maka Rasulullah saw memerintah bilal untuk adzan. (Al Bukhari No.569)
  3. Ibnu ‘Abbas menerangkan, ketika Nabi saw melaksanakan shaum ‘Asyura (10 Muharram) dan memerintah orang-orang untuk melaksanakannya, para sahabat berkata,”Ya Rasulullah saw sesungguhnya ‘Asyura itu adalah hari yang biasa diagungkan oleh yahudi dan nashrani”. Rasulullah saw bersabda,”Tahun depan kita laksanakan dengan shaum tasu’a (9 Muharram)”. (Abu Dawud). Ibnu ‘Abbas berkata,” Shaumlah pada tanggal 9 dan 10 muharram dan janganlah menyerupai yahudi. (At Tirmidzi No. 696)
  4. Rasulullah saw pernah menyuruh para sahabat untuk mengecat uban karena pada saat itu yahudi dan nashrani membiarkan ubannya tidak dicat. (Al Bukhary)
  5. Rasulullah saw pernah memerintah agar memakai alas kaki ketika shalat karena pada waktu itu yahudi  jika shalat (beribadah) tidak memakai alas kaki. (Abu Dawud)
  6. Rasulullah saw pernah menyuruh para sahabat untuk mencukur kumis dan membiarkan jenggot, karena pada saat itu yahudi dan nashrani melakukan sebaliknya. (Ahmad)
  7. Rasulullah saw berangkat dengan para sahabat menuju hunain untuk berperang. Di antara para shabat ada yang baru masuk islam sehingga ketika mereka lewat pada sebuah pohon bidara yang hijau dan sangat besar, berkata: Ya Rasulullah saw buatlah dzatu anwat (sebuah pohon yang biasa dipakai oleh orang-orang kafir untuk menggantungkan senjata-senjata mereka dengan tujuan agar mendapat berkah darinya) untuk kita sebagaimana yang dimiliki oleh orang-orang musyrik. Rasulullah saw bersabda,”Allahu Akbar! Demi Allah yang menguasai diriku, kalian telah mengatakan seperti yang pernah dikatakan oleh bani israil kepada nabi musa ( “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang bodoh”. Al a’raf : 138) sungguh kalian akan mengikuti ajaran-ajaran orang sebelummu (yahudi dan nashrani). (At Tirmidzi)

Yahudi dan nashrani mempunyai kebiasaan apabila menemukan hari yang dipandang oleh mereka penting, maka dijadikanlah ‘ied (hari raya/peringatan). Pernah datang seorang pendeta kepada sahabat umar bin Al Khattab dan berkata,”Ya Amirul Mu’minin ada satu ayat pada kitab kalian yang biasa dibaca dan kalaulah ayat itu turun kepada kami masyarakat yahudi, maka pada hari turunnya ayat itu akan kami jadikan sebagai ‘ied. Umar bertanya: Ayat yang mana? Dia menjawab “ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”(Al Maidah:3). Umar berkata: Sungguh kami telah mengetahui  hari dan tempat turunnya ayat itu kepada nabi saw yaitu ketika beliau sedang berdiri di ‘Arafah pada hari jum’at (Al Bukhari) tetapi pada waktu itu para sahabat tidak menjadikannya sebagai ‘ied karena tidak pernah dicontohkan oleh nabi saw.

Oleh karena itu kita pun harus selalu mewaspadai setiap hari yang diperingati oleh orang-orang, karena bisa saja kita termasuk  kepada apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw, bahwa barang siapa yang menyeupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka. (HR. abu dawud dan ahmad). Imam ibnu katsir dalam tafsirnya menerangkan” hadits ini menjadi dalil atas larangan yang keras, peringatan, dan ancaman dari perbuatan tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir dalam ucapan, perbuatan, pakaian, hari-hari besar, ibadah, dan sebagainya yang tidak disyari’atkan kepada kita”. (Tafsir quranul adzim)

Sungguh ironis bila di zaman sekarang ada seorang muslim yang mengaku sebagai pengikut setia Rasulullah saw dan para sahabatnya tetapi keluar dari lidah mereka ucapan,”mereka merayakan tahun baru, kenapa kita tidak ikut merayakannya?, mereka memperingati hari kelahiran yesus, kenapa kita pun tidak ikut memberinya selamat, yesus itu kan nabi Isa? Juga perayaan-perayaan lainnya yang tidak pernah dicontohkan oleh nabi juga para sahabatnya. Shahabat Anas menerangkan bahwa penduduk madinah ketika belum tersentuh oleh islam (jahiliyah) mempunyai beberapa hari raya. Kemudian datanglah Rasulullah saw dan meraka memeluk islam, beliau menyuruh mereka meninggalkan hari raya-hari raya tersebut dan menggantinya dengan dua hari raya yaitu ‘idul fitri dan ‘idul adha. (Abu Dawud)

Editor: Zaenal Mutaqin