//THE POWER OF BERJAMA’AH

THE POWER OF BERJAMA’AH

Saudaraku…..
Apa Alasanmu untuk tidak sholat berjama’ah???
Kesibukan apa yang melalaikanmu dari meninggalkan berjama’ah???
Padahal sholat berjama’ah adalah amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Juga tidak pernah ditinggalkan oleh para sahabatnya, yang menjadi idola kita semua.

Amalan yang menjadikan karakter mukmin sejati.

Saudaraku,……..
Kita bercita-cita untuk kejayaan islam dan kemenangan islam

Sejarah mencatat Kejayaan dan kemenangan dimulai dari mesjid…

Saudaraku…

Para pendahulu kita telah mengingatkan kita untuk senantiasa memakmurkan masjid

Dibuktikan dengan butir janji (ba’iat ) point pertama.

Saudaraku…..

Mesjid sekarang sudah mulai kosong dari para pemuda.

Berjajar shaf pertama diisi oleh para orang tua kita…

Kemana para pemuda…..

Kemana pelanjut perjuangan kami….

Itulah mungkin yang terbesit di hati mereka…..

Saudaraku…..

Apakah kita tidak mau pahala yang amat sangat banyak

Padahal, dosa kita begitu banyak,…..

Rosul bersabda “setiap kaki yang kita langkahkan untuk melaksanakan shalat berjama’ah Alloh akan menghapus setiap dosanya”.

Untuk para sahabatku, pada kesempatan kali ini saya akan mencoba “menulis” (lebih tepatnya mengulang) apa yang telah kita ketahui bersama mengenai keutamaan / pahala sholat berjama’ah, diharapkan ketika kita mengetahui keutamannya (pahala besar) maka kita lebih termotivasi untuk melaksanakan ibadah tersebut.

Diantara keutamaan-keutaman tersebut adalah :

  1. Terhindar dari sifat Kemunafikan

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ الْعَبْدِيُّ، حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ أَبِي زَائِدَةَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ، عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ، قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللهِ: «لَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنِ الصَّلَاةِ إِلَّا مُنَافِقٌ قَدْ عُلِمَ نِفَاقُهُ، أَوْ مَرِيضٌ، إِنْ كَانَ الْمَرِيضُ لَيَمْشِي بَيْنَ رَجُلَيْنِ حَتَّى يَأْتِيَ الصَّلَاةِ»، وَقَالَ: «إِنْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَنَا سُنَنَ الْهُدَى، وَإِنَّ مِنْ سُنَنَ الْهُدَى الصَّلَاةَ فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي يُؤَذَّنُ فِيهِ

“Sungguh saya melihat diri-diri kami dan tidaklah seseorang meninggalkan shalat (jama’ah) melainkan dia adalah : Orang munafiq yang telah jelas kemunafikannya atau karena sakit. Jika dia sakit, maka dia akan berjalan dengan dipapah di antara dua orang hingga dia bisa mendatangi shalat berjamaah. Beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kami sunah-sunah terpetunjuk dan di antara sunah terpetunjuk itu adalah :  “Shalat di masjid yang dikumandangkan adzan padanya.” [Shahih Muslim, no. 654]

  1. Perbandingan pahala 27 : 1 dan lebih dicintai Alloh

 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَصَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً 

Telah menceritakan kepada kami Abdullah ibn Yusuf yang berkata: Telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Nafi’, dari Abdullah ibn Umar ra, bahwa Rasulullah saw bersabda : Shalat berjama’ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat. (HR. Bukhori)

‎إِنَّ صَلَاةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ وَصَلَاتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى

Sesungguhnya shalat seseorang lelaki bersama dengan satu orang, lebih baik daripada shalatnya secara sendirian. Dan shalatnya bersama dua orang, adalah lebih baik daripada shalatnya bersama seorang jamaah. Semakin banyak jamaa’ahnya, maka semakin dicintai oleh Allah Ta’ala.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya,

  1. Allah Menjadi Saksi bagi yang memakmurkan mesjid

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat.” (At Taubah: 18)

Al Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan : “Allah subhanahu wata’ala bersaksi atas keimanan orang-orang yang mau memakmurkan masjid.” (Al Mishbahul Munir tafsir At Taubah: 18)

Memakmurkan masjid disini Termasuk menuntut ilmu, shalat berjamaa’ah, dan amalan shalih lainnya.

  1. Mendapat naungan dari Allah subhanahu wata’ala pada hari kiamat

Begitu banyak ayat maupun hadits yang menjelaskan bagaimana kondisi di akhirat kelak, salah satunya dimana ketika matahari didekatkan, yang menjadikan kondisi tersebut sangat panas, akan tetapi, Rosululloh Saw menjanjikan naungan salah satunya adalah seorang pemuda yang terikat hatinya dengan masjid.  Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ

“Tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka pada suatu hari (kiamat) yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya;

… وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ …

(diantaranya) … dan seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, ….” (Muttafaqun alaihi)

  1. Dihapus dosa-dosanya

Sebagai manusia kita sadar bahwa kita pernah melakukan kesalahan, melakukan dosa baik itu karena lupa atau kesalahan maka tidak ada cara selain menghapus dosa-dosa itu dengan memperbanyak amal sholeh salah satunya adalah dengan cara pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat berjma’ah.

dari ‘Utsmaan bin ‘Affaan dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ فَصَلَّاهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَهُ

“Barangsiapa berwudhu untuk shalat dan menyempurnakan wudhunya, kemudian ia berangkat untuk shalat wajib dan ia mengerjakannya bersama manusia atau bersama jamaah, atau shalat di masjid, Allah mengampuni dosa-dosanya.” (Shahiih an Nasaa-iy; dishahiihkan oleh syaikh al-albaniy)

  1. Langkah-langkah kaki menuju mesjid akan ditulis (sebagai amalan kebaikan) dan Diangkat derajat, serta dihapuskan dosa dengan langkah kaki ke masjid

Allah berfirman:

وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ

dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan (Yaasiin: 12)

Rasuulullaah bersabda:

إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ

Jika seseorang berwudhu, kemudian menyempurnakan wudhunya; kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid (HR Muslim)

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

‎مَنْ رَاحَ إِلَى مَسْجِدِ الْجَمَاعَةِ فَخَطْوَةٌ تَمْحُو سَيِّئَةً وَخَطْوَةٌ تُكْتَبُ لَهُ حَسَنَةٌ ذَاهِبًاوَرَاجِعًا

Barangsiapa berangkat ke masjid, maka satu langkah menghapus satu keburukan, dan satu langkah ditulis satu kebaikan, di saat pergi dan pulang.

(HR. Ahmad, no: 6599, 10/103, dari Abdulloh bin Amr bin Al-Ash, dishohihkan syaikh Ahmad Syakir)

Saudaraku,….

Mari kita mengambil inspirasi dari kisah sahabat yang sangat dimuliakan oleh Allah dan Rasulullah SAW, yang karenanya Alqur’an turun, seorang sahabat senior/sepuh  yang secara Fisik beliau tidak bisa melihat. Suatu hari beliau mengajukan permohonan keringanan kepada Rasulullah untuk tidak melaksanakan sholat subuh berjama’ah karena kondisi fisiknya (buta), rumahnya jauh dari masjid dan tidak ada yang menuntun. Maka Rosululloh bersabda “selama engkau mendengar suara adzan maka tunaikanlah”. Kemudian  Sahabat Abdulloh bin Abi Umi maktum berpikir jika Rosululloh meminta saya untuk tetap datang ke masjid berarti hal tersebut menunjukan ada pahala besar disana. Maka setelah itu beliau datang lebih awal dari sahabat yang lainnya dan menjadi mu’adzin (Adzan Awal).

Saudaraku,……
Lalu, siapakah kita yang kesholehannya sangat jauh sekali dengan para sahabat. Dan kondisi kita sangat jauh berbeda dengan para  sahabat pada waktu itu, segala fasilitas telah kita miliki ; masjid bagus, jalan ke masjid bagus, secara pisik kita pun masih muda, kalua pun jauh kita punya kendaraan (sepeda, sepeda motor dll) apakah  kita tidak tergiur dengan pahala yang sangat besar?

Wallohu ‘alam.

by: Andri Saefuddin (Asatidz Pesantren Persatuan Islam 50 Lembang)