//Trinitas dalam Perspektif Al-Quran dan Al-Kitab (Bagian 1)

Trinitas dalam Perspektif Al-Quran dan Al-Kitab (Bagian 1)

PENDAHULUAN (Bagian 1)

Al-quran menjelaskan, bahwa para nabi dan rasul, semenjak nabi Adam as sampai rasul terkahir, Muhammad saw, semuanya mengajarkan tauhid atau monotheisme, yaitu bahwa Tuhan yang wajib disembah hanya Alloh satu-satunya, tidak ada Tuhan selain-Nya. Dan tak ada satupun ayat yang membawa ajaran trinitas.

Namun dalam realita yang kita saksikan, bahwa ajaran trinitas ini telah menjadi “aqidah yang kuat” bagi sebagian besar penganut kristiani di muka bumi ini. Mereka tak peduli dengan berbagai kerancuan dalam ajarannya. Termasuk berbagai kepalsuan yang telah dibuktikan oleh para pakar Alkitab dari kalangan mereka sendiri.

Doktrin trinitas tersebut seakan-akan menjadi semakin kuat legalitasnya ketika didukung oleh berbagai ayat dalam Alkitab (perjanjian lama dan perjanjian baru). Mereka semakin yakin, kalau ajaran trinitas ini adalah yang diajarkan oleh Yesus kepada umatnya.

Melalui naskah ini, penulis mencoba membuktikan kebenaran doktrin tersebut melalui pendekatan kitab suci al-Quran, sebagai kitab samawi terakhir yang diturunkan dari langit. Karena dalam al-Quran sendiri Allah swt berfirman :

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain.” (QS. Al-Maidah [5] : 48)

Untuk melengkapi legalitas kebenaran ayat-ayat al-Quran tersebut, penulis bawakan pula ayat-ayat pendukung dari Alkitab, sebagai kitab suci umat Kristen sendiri yang menganut ajaran trinitas. Karena Rasulullah saw pernah bersabda : “Janganlah kamu mempercayai ahli kitab dan jangan mendustakannya, dan katakanlah, kami hanya beriman kepada Allah dan kepada apa-apa yang diturunkan kepada kami.” (HR. Bukhari, Shahih al-Bukhari, tahqiq Syaikh Abd al-‘Aziz bin Abdillah bin Baz [Bairut : Dar al-Fikr. 1994], juz IV, hal. 217)

Tidak boleh percaya seluruhnya karena memang tidak benar semuanya, tidak boleh didustakan semuanya, karena mungkin masih ada nilai-nilai yang benar. Untuk mengukurnya tentu saja dengan al-Quran. Karena sebagaimana dijelaskan dalam ayat di atas, salah satu fungsi al-Quran adalah sebagai barometer bagi kitab yang turun sebelumnya. Dan alkitab berbahasa Indonesia yang digunakan dalam naskah ini adalah Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta,1994.

Kemudian dalam naskah ini penulis menyebut Yesus yang artinya sama dengan Nabi Isa as. Ini dimaksudkan untuk menghindari kesan seakan-akan kedua istilah tersebut berbeda.

PENGERTIAN TRINITAS

Trinitas berarti kesatuan dari tiga. Trinitas dalam Kristen adalah Tiga Tuhan yakni Tuhan Allah, Tuhan Yesus dan Tuhan Roh Kudus dan ketiganya adalah satu.

Athanasian Creed (abad VI) mendefinisikan Trinitas sebagai: “The Father is God, the Son is God, and the Holy Ghost is God. And yet there Gods but one God”. (Bapak adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan. Namun bukan tiga Tuhan melainkan satu Tuhan.)

The Orthodox Christianity kemudian mendefinisikan lagi Trinitas sebagai: “The Father is God, the Son is God, and the Holy Spirit is God, and toqether, not exclusively, the form one God”.(Bapak adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan, dan bersama-sama, bukan sendiri-sendiri, membentuk satu Tuhan). (Dinukil Dari : H.S. Munir,SKM. MPH., 2005, Dialog Seputar Trinitas Menapaktilasi Asal-Usul Dogma Ketuhanan Kristen, pakdenono@yahoo.com)

TRINITAS BERSUMBER DARI PAGANISME

Sejarah mencatat bahwa doktrin yang menyatakan Yesus adalah Tuhan berwujud manusia, baru muncul pada abad ke-4, artinya lebih kurang 300 tahun sepeninggal Yesus. Doktrin ini terbentuk melalui sebuah proses yang panjang dan berliku, serta diwarnai oleh perdebatan yang berkepanjangan.

Yesus sendiri semasa hidupnya tidak pernah mendakwakan dirinya sebagai Tuhan. Distorsi ajaran baru terjadi ketika Paulus (Paus pertama) memperkenalkan ide “anak Tuhan” bagi Yesus, karena Yesus lahir dari “firman” Allah. Ide dan ajaran ini bersumber dari paham Platonis yang diajarkan oleh Plato. Edward Gibbon dalam bukunya The Decline and fall of the Roman Empire, hal 388, mengatakan : “Plato consider the divine nature under the thee fold modification: of the first cause, the reason, or Logos; and the soul or spirit of the universe…the Platonic system as three Gods, united with each other by a mysterious and ineffable qeneration; and the Logos was particularly considered under the more accessible character of the Son of an eternal Father and the Creator and Governor of the world”.(Plato menganggap keilahian alami terdiri dari atas tiga bagian: Penyebab awal, Firman (Logos), dan Roh alam semesta….Sistem Platonis sebagai tiga Tuhan, bersatu antara satu dengan lainnya melalui kehidupan yang baka dan misterius ; dan Firman (Logos) secara khusus dianggap yang paling tepat sebagai Anak Bapak yang baka dan sebagai pencipta dan penguasa alam semesta). (Ibid.)

Filsafat platonis tentang logos di atas menjadi tali penghubung untuk mempertuhankan Yesus menuju konsep trinitas yang dinanti-nantikan oleh kalangan penyembah berhala untuk dikawinkan dengan ajaran Kristen. Ajaran “tiga tuhan dalam satu” yang dianut para penyembah berhala telah memberikan inspirasi kepada para pemimpin gereja untuk mengembangkannya dalam agama Kristen.

Umat kristen memiliki Yesus yang diambil dari Yahudi dan para pengikut ajaran Platonis memiliki Logos yang diambil dari Plato. Hasil akhir dari perkawinan keduanya, yang diterima oleh umat kristiani adalah lahirnya Logos Yesus. Dengan demikian Yesus bukan lagi seorang nabi yang diutus bagi bangsa Israel, tetapi telah berubah menjadi Yesus adalah anak Allah, Tuhan dan juru selamat. Kesempurnaan ajaran Platonis ini menganai tiga Tuhan dalam satu akhirnya diberi nama trinitas oleh Tertulian. (Achya Nuddin, Runtuhnya Ketuhanan Yesus, (Bandung: Media Qalbu.2004), cet. Ke-1, hlm. 26)

Ajaran Triadic (tiga Tuhan) yang banyak dianut masyarakat pagan telah memacu pertumbuhan trinitas sehingga dapat diterima oleh banyak kalangan saat itu. Triad Babilonia memiliki tiga oknum Tuhan, yaitu : Anu, Enlil dan Enki. Romawi, tempat terbentuknya doktrin trininas juga telah menganut kepercayaan kepada tiga dewa, yaitu : Yupiter, Yuno dan Minena. Triad Semit yang terdiri dari bapak, anak dan ibu. Dewa Trilikat Persia terdiri dari Arhmazd, Mithia, dan Ahriman ; Mesir, yang juga merupakan tempat kelahiran Athanasius memiliki Triad yang terdiri dari Osiris, Isis dan Horus. Agama Brahma di India memiliki trimurti yang terdiri dari Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Tidak ketinggalan agama Budha dengan triratna yang terdiri dari Budha, Dharma, dan Shangha. Seluruh ajaran Triad ini tanpa diragukan lagi adalah merupakan cikal bakal bagi lahirnya trinitas Kristen. Trimurti dari bharmaisme dan triratna dalam budhaisme adalah yang paling mirip dengan trinitas. Oleh karena itu, sebagian ahli filsafat menduga Plato pernah mendalami filsafat India. (Achya Nuddin, Runtuhnya Ketuhanan Yesus, hlm. 28-29)

Insya Allah bersambung … TRINITAS DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN

By Ahmad Wandi, hayaatunaa.com, Ketua PC Pemuda Persis Lembang
Lembang, 05 Desember 2016