//Trinitas Dalam Perspektif Al-Quran dan Al-Kitab (Bagian 2)

Trinitas Dalam Perspektif Al-Quran dan Al-Kitab (Bagian 2)

TRINITAS DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN (bagian 2)

a. Para nabi diutus untuk menyerukan tauhid

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An-Nahl [16] : 36)

b. Yesus diutus dengan membawa ajaran tauhid

إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” (Qs. Ali Imron [3] : 51)

إِنَّ اللَّهَ هُوَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus. (Qs. Az-Zukhruf [43] : 64)

Menurut As’ad Humad, “Kemudian Nabi Isa memerintah kepada kaumnya untuk bertauhid, ibadah hanya kepada Alloh semata, tiada sekutu baginya, dengan senantiasa ta’at melaksanakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang, ini adalah jalan yang lurus dan terang, yang seluruh rasul diutus kepadanya, dan ini yang mengantarkan kepada kebaikan di dunia dan di akhirat.” (As’ad Humad, Aisar At-Tafasir, dari : http://www.altafsir.com, juz 1, hlm. 345)

c. Yesus hanya mengajarkan tauhid kepada umatnya

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maidah [5] : 72)

Sungguh telah kafir dari kalangan Nashara, yang mengatakan sesungguhnya Allah itu adalah gabungan dari tiga sesuatu, yakni bapak, anak, dan Ruhul Qudus. (Abdullah bin abd al-muhsin, at-tafsir al-muyasar, dari : http://www.qurancomplex.com, juz 2, hlm. 247)

d. Yesus hanya menyatakan sebagai Rasul di hadapan kaumnya.

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (Qs. Ash-Shaf [61] : 6)

Dan katakanlah –Wahai Rasul kepada umatmu- ketika isa berkata kepada kaumnya : sesungguhnya aku adalah rasul yang diutus oleh allah kepada kalian, membenarkan kitab taurat yang dating sebelumku, dan sebagai saksi kepada kebenaran rasul yang diutus setelahku yang bernama ahmad, yaitu Muhammad saw, dan aku menyeru untuk membenarkan kepadanya. (Abdullah bin abd al-muhsin, ibid., juz 10, hlm. 119)

e. Yesus tidak pernah mengajarkan trinitas kepada umatnya

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ . مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?.” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (QS. Al-Maidah [5] : 116-117)

Menurut al-Alusi, ayat ini menunjukkan bahwa pada hari kiamat nabi isa akan ditanya seperti itu. Ayat ini sebagai peringatan dan ancaman terhadap orang kafir dalam persoalan ubudiyah dan memerintah kepada mereka untuk beribadah hanya kepada alloh. (Ruh al-Ma’ani fi at-Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim Wa as-Sab’u al-Matsani, juz 5 hlm. 195)

f. Menyatakan yesus sebagai allah adalah suatu kekufuran

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam.” Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?.” Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Qs. Al-Maidah [5] : 17)

Menurut Ibnu Jazy, “Ayat ini merupakan bentuk penolakan terhadap orang-orang yang mangatakan sesungguhnya allah itu adalah isa, dan mereka adalah firqoh (golongan) dari nashara. Dan lafazh “ia menciptakan sesuai kehendak-Nya” merupakan isyarat kepada penciptaan isa yang lahir tanpa bapak.” (at-tasyhil li ‘ulum at-tanzil, juz 1, hlm. 340)

g. Trinitas adalah suatu kekufuran

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya kafirlah orang0orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Qs. Al-Maidah [5] : 73)

Sungguh telah kafir dari kalangan nashara yang menyatakan sesungguhnya Allah itu gabungan dari tiga sesuatu, yakni bapak, anak, dan ruhul qudus. (at-tafsir al-muyasar, juz 2 hlm. 247)

Menurut al-Baghawi, “maksud ayat ini adalah al-markusiyah, artinya tuhan itu tiga, karena sesungguhnya mereka mengatakan : tuhan itu berserikat antara allah ta’ala, maryam, dan isa, dan masing-masing mereka adalah tuhan, jadi tuhan itu tiga.” (mu’alim at-tanzil, juz 3 hlm. 82)

h. Trinitas merupakan perbuatan ghulu (melampaui batas) ahli kitab terhadap agamanya yang dilarang

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. (QS. An-Nisa [4] : 171)

Wahai ahli injil, janganlah kalian melampaui batas dalam berkeyakinan benar terhadap agama kalian, dan janganlah mengatakan kepada allah kecuali yang benar, maka janganlah menjadikan bagi allah sahabat dan anak, sesungguhnya al-masih isa bin maryam adalah rasul allah yang diutus dengan haq. Kemudian dijelaskan proses penciptaan isa yang lahir tanpa bapak. (at-tafsir al-muyasar, juz 2 hlm. 169)

i. Yesus adalah manusia biasa seperti para rasul yang lainnya

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآَيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). (Qs. Al-Maidah [5] : 75)

Menurut As’ad bin Humad, “Al-Masih adalah salah satu hamba dari hamba-hamba Allah, Allah telah memberi nikmat berupa risalah kepadanya, dan mendahuluinya rasul-rasul dari Allah, dan padanya uswatun hasanah bagi mereka, dan ibunya mukminah yang suci, al-masih dan ibunya membutuhkan kepada makanan dan minuman, karena keduanya adalah manusia biasa, maka tidak mungkin untuk menjadikannya sebagai tuhan yang menciptakan, tuhan yang disembah. Maka perhatikanlah olehmu Muhammad, bagaimana menjelaskan dan menampakkan ayat-ayat ini kepada mereka, kemudian lihatlah setelah itu semua jelas, ke mana mereka pergi, ucapan mana yang mereka pegang, dan bagaimana mereka bisa berpaling dari kebenaran ?” (As’ad Humad, juz 1 hlm. 745)

Insya Allah bersambung … PERNYATAAN AL-KITAB YANG MENDUKUNG KEBENARAN AL-QURAN DALAM HAL TRINITAS

By Ahmad Wandi, hayaatunaa.com, Ketua PC Pemuda Persis Lembang
Lembang, 05 Desember 2016