//Untaian Nasihat Sebelum Pilkada 2017

Untaian Nasihat Sebelum Pilkada 2017

LEMBANG (Hayaatunaa.com) –

Untaian Nasihat Sebelum Pilkada 2017

 

  1. Sesungguhnya sistem demokrasi bertentangan dengan hukum Islam, karena:
  2. Hukum dan undang-undang adalah hak mutlak Allah. Manusia boleh membuat peraturan dan undang-undang selama tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.
  3. Sistem demokrasi, standarnya adalah suara dan aspirasi mayoritas rakyat, standarnya bukanlah kebenaran al-Qur’an dan as-Sunnah sekalipun minoritas.
  4. Sistem demokrasi menyetarakan antara pria dan wanita, orang alim dan jahil, orang baik dan fasik, muslim dan kafir, padahal tentu tidak sama hukumnya.
  5. Namun, karena kebanyakan negeri Islam saat ini—termasuk Indonesia—menggunakan sistem demokrasi yang kepemimpinan negeri ditentukan melalui pemilu, maka dalam kondisi seperti ini timbul pertanyaan apakah kita ikut mencoblos ataukah tidak? Masalah ini diperselisihkan para ulama’ yang mu’tabar tentang boleh tidaknya, karena mempertimbangkan kaidah mashlahat dan mafsadat. Sebagian ulama’ berpendapat tidak boleh berpartisipasi secara mutlak seperti pendapat mayoritas ulama’ Yaman karena tidak ada mashlahatnya bahkan ada mudharatnya. Dan sebagian ulama’ lainnya berpendapat boleh untuk menempuh mudharat yang lebih ringan seperti pendapat asy-Syaikh Abdul Aziz ibn Baz, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, dan lain-lain, karena “Apa yang tidak bisa didapatkan seluruhnya maka jangan ditinggalkan sebagiannya” dan “Rabun itu lebih baik daripada buta”.

Maka seyogianya kita semua bersikap arif dan bijaksana serta berlapang dada dalam menyikapinya. Marilah kita menjaga ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan sesama umat Islam) serta menghindari segala perpecahan, perselisihan, dan percekcokan karena masalah ijtihadiyyah seperti ini. Alangkah indahnya ungkapan al-Imam asy-Syafi’i kepada Yunus ash-Shadafi:

يَا أَبَا مُوْسَى ، أَلَا يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ

“Wahai Abu Musa, Apakah kita tidak bisa untuk tetap bersahabat sekalipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?!”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu Ta’ala juga pernah mengatakan:

وَأَمَّا الِاخْتِلَافُ فِي ” الْأَحْكَامِ ” فَأَكْثَرُ مِنْ أَنْ يَنْضَبِطَ وَلَوْ كَانَ كُلَّمَا اخْتَلَفَ مُسْلِمَانِ فِي شَيْءٍ تَهَاجَرَا لَمْ يَبْقَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ عِصْمَةٌ وَلَا أُخُوَّةٌ وَلَقَدْ كَانَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا سَيِّدَا الْمُسْلِمِينَ يَتَنَازَعَانِ فِي أَشْيَاءَ لَا يَقْصِدَانِ إلَّا الْخَيْرَ

“Adapun perselisihan dalam masalah hukum maka banyak sekali jumlahnya. Seandainya setiap dua orang muslim yang berbeda pendapat dalam suatu masalah harus saling bermusuhan, maka tidak akan ada persaudaraan pada setiap muslim. Abu Bakar Radiallahu’anhu dan Umar Radiallahu’anhu saja—kedua orang yang paling mulia setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam—mereka berdua berbeda pendapat dalam beberapa masalah, tetapi keduanya tidak menginginkan kecuali kebaikan.”

  1. Bagi siapa yang memilih karena mempertimbangkan kaidah: « يُخْتَارُ أَهْوَنُ الشَّرَّيْنِ » “Menempuh mafsadat yang lebih ringan” maka hendaknya bertaqwa kepada Allah dan memilih partai yang paling mendingan daripada lainnya atau memilih pemimpin yang lebih mendekati kepada kriteria pemimpin yang ideal dalam Islam yaitu al-Qawwiyyu al-Amin (memiliki skill lagi amanah), juga tentunya yang memiliki perhatian agama Islam yang baik dan memberikan kemudahan bagi dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah.
  2. Kami mengingatkan kepada segenap kaum muslimin di mana pun berada, bahwa islam agama kita mengharamkan memilih pemimpin kafir, apalagi orang kafir yang jelas-jelas membenci kepada islam, al-Qur’an, ulama dan simbol-simbol islam.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang penghinaan yang mereka ucapkan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Tidak usah kalian minta maaf karena kalian telah kafir sesudah beriman.” (QS At-Taubah 65-66).

 

Al-Mawardi dalam Al-Ahkam Al-Sultoniyah, hlm. 5, menyatakan:

الإمامة موضوعةٌ لِخلافة النُّبوة في حراسة الدِّين وسياسة الدُّنيا، وعقدها لِمن يقوم بها في الأُمَّة واجب

 

Imamah atau kepemimpinan itu diletakkan sebagai ganti kenabian dalam menjaga agama dan politik dunia, mengangkat pemimpin dari individu yang dapat melaksanakan tujuan itu adalah wajib.

Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Syarat pemimpin haruslah seorang muslim, karena Allah ta’ala berfirman, ‘Dan Allah sekali-kali tidak memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.’ (An-Nisa: 141). Dan kepemimpinan adalah sebesar-besarnya jalan (untuk menguasai kaum muslimin).” [Al-Fishol, 4/128]

Majelis Ulama telah memberikan panduan terkait Pemilu, melalui fatwanya , sebagai hasil Ijtima Ulama di Padang Panjang 24-26 Januari 2009, di point 4 disebutkan : Memilih pemimpin yang beriman, bertaqwa, jujur (shiddiq), terpercaya (amanah), aktif-aspiratif (tabligh), memiliki kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam, hukumnya adalah wajib. Kalaupun sulit mencari  calon yang memenuhi syarat-syarat tersebut, tentu dicari minimal yang paling mendekati persyaratan tersebut.

  1. Kami pun mengajak kepada segenap kaum muslimin di mana pun untuk menyibukkan diri dengan amal shalih di saat-saat seperti ini serta memperbaiki amal perbuatan kita. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الْعِبَادَةُ فِى الْهَرَجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ

          “Ibadah di saat fitnah ibarat hijrah kepadaku.” (HR Muslim: 2948)

Marilah kita memperbaiki diri dengan menuntut ilmu syar’i, meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena pemimpin sejati itu lahir dari rakyat yang sejati. Dahulu, dikatakan para ulama’:

كَمَا تَكُوْنُوْنَ يُوَلَّى عَلَيْكُمْ

“Keadaan pemimpin kalian adalah sebagaimana keadaan kalian (rakyat).”

Alkisah, ada seorang berpemahaman Khawarij datang menemui Ali ibn Abi Thalib Radhiallahu’anhu seraya berkata: “Wahai Khalifah Ali, mengapa pemerintahanmu banyak dikritik oleh orang, tidak sebagaimana pemerintahannya Abu Bakr dan Umar?!” Shahabat Ali Radiallahu’anhu menjawab: “Karena pada zaman Abu Bakr dan Umar yang menjadi rakyat adalah aku dan orang-orang yang semisalku, sedangkan rakyatku adalah kamu dan orang-orang yang semisalmu!!”

  1. Hendaknya kita semua tidak meremehkan peran dan kekuatan sebuah do’a kepada Allah pada saat seperti ini. Marilah kita semua bersimpuh dan bermunajat kepada Allah agar Allah memilihkan kepada kita pemimpin yang ideal dambaan Islam yang bersemangat membela agama dan peduli kepada rakyat, bukan para pemimpin yang hanya berambisi dengan jabatan dan tidak bertaqwa kepada Allah.

Dahulu, Fudhail ibn Iyadh Rahimahullahu Ta’ala mengatakan:

لَوْ كَانَتْ لِيْ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا جَعَلْتُهَا إِلَّا فِي السُّلْطَانِ

“Seandainya saya memiliki do’a yang mustajab maka saya tidak akan peruntukkan kecuali bagi pemimpin.”

Sebagaimana kita berdo’a kepada Allah agar menyelamatkan kita semua dari fitnah yang menyambar agama dan akal pada saat-saat seperti ini. Abdullah ibn Amir ibn Rabi’ah Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Tatkala manusia banyak mencela Utsman Radiallahu’anhu, maka ayahku (Shahabat Amir ibn Rabi’ah Radhiallahu’anhu) melakukan shalat malam seraya berdo’a: “Ya Allah, jagalah diriku dari fitnah sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang shalih.” Maka ayahku tidak keluar (karena sakit) kecuali ketika meninggal dunia.”

  1. Hendaknya kita mewaspadai dan menjauhi percikan-percikan pilkada dan pelanggaran-pelanggaran terhadap agama; baik berupa perpecahan, fanatik partai dan golongan, menerima uang suap/sogok terutama “serangan fajar” karena hal itu diharamkan dalam agama dan pelakunya terlaknat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَعَنَ اللهُ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

“Allah melaknat pemberi suap dan yang disuap.”

Demikian juga segala bentuk permusuhan dan perpecahan, sangat bertentangan dengan dalil-dalil agama Islam. Al-Imam asy-Syaukani Rahimahullahu Ta’ala mengatakan: “Persatuan hati dan persatuan barisan kaum muslimin serta membendung segala celah perpecahan merupakan tujuan syari’at yang sangat agung dan pokok di antara pokok-pokok besar agama Islam. Hal ini diketahui oleh setiap orang yang mempelajari petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mulia dan dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah.”

  1. Apa pun hasilnya pilkada nanti dan siapa pun yang menang dan terpilih sebagai pemimpin muslim, maka marilah kita laksanakan kewajiban kita sebagai rakyat yaitu mendengar dan taat kepadanya sebagaimana ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah selagi tidak memerintahkan kepada maksiat.

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَ اْلسَّمْعِ وَ اْلطَّاعَةِ وَ إِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا

“Aku wasiatkan kepada kalian dengan taqwa kepada Allah serta mendengar dan taat (kepada pemimpin) sekalipun dia adalah budak Habsyi (orang berkulit hitam).”

عَلىَ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أَمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

“Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah untuk melakukan kemaksiatan. Apabila diperintah melakukan kemaksiatan maka tidak perlu mendengar dan taat.” (HR al-Bukhari 13/121 dan Muslim 3/1469)

Demikianlah beberapa nasihat penting menjelang pilkada serentak 2017. Semoga Allah menjaga kita semua dari segala fitnah dan membimbing kita semua ke jalan yang diridhai-Nya. Ya Allah, berikanlah kepada kami pemimpin yang Engkau cintai dan ridhai untuk menegakkan agama-Mu dan membela hamba-hamba-Mu dari segala bentuk kezhaliman. Aamiin.

 

By, Ahmad Wandi